
HILANGNYA JASAD KEMBARANKU
Bab 2
Tok! Tok! Tok!
“Ca, bangun, ini aku, Boy!” teriak pria berbadan atletis di balik pintu.
“Mecca! Ca! Mecca! Kamu enggak mati 'kan?” Boy berteriak kembali.
Sudah cukup lama Boy berada di depan pintu kamar Mecca, tetapi belum mendapatkan jawaban dari dalam sana. Bahkan, sempat Boy ditegur oleh salah satu tetangga Mecca, sebab dia begitu berisik dan mengganggu.
“Astaga, jauh-jauh datang ke sini, yang disamperin malah molor,” gerundel Boy Kesal.
Mendapati dirinya seperti orang setengah waras yang terus menggedor pintu tanpa mendapat jawaban, Boy pun memilih menyerah, lalu dia duduk di depan pintu kamar Mecca dan menyandarkan punggung lebar itu pada daun pintu yang masih tertutup rapat.
“Belum puas kamu ngerjain aku, Ca? Bukankah ini keterlaluan?” gerutu Boy, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba membangunkan Mecca dengan panggilan telepon.
Setelah beberapa kali pria berlesung mata itu melakukan panggilan. Terdengar langkah malas yang diseret di lantai di ruangan tujuh kali lima meter persegi tersebut.
Ceklek!
Suara kunci dibuka dari dalam, gagang pintu pun ditarik Mecca sekuat tenaga. Tanpa dia sadari, hal tersebut membuat Boy yang sedang bersandar di daun pintu terjengkang. Sontak hal tersebut membuat Boy semakin kesal.
“Aish! Enggak bisa, ya, kalau gak bikin masalah?” Seraya bangkit Boy mengomeli Mecca.
Dengan polos Mecca mengucek mata yang masih lengket dan seolah enggan terbuka itu.
“Kenapa kamu rebahan di lantai? Apa perjalanannya cukup melelahkan?” tanya Mecca, tanpa merasa berdosa.
“Waaah, lihat si biang kerok ini, pertanyaan macam apa yang dilontarkannya,” omel Boy.
Boy pun menerobos masuk dan mencari sesuatu untuk diminum. Lagi-lagi dia kecewa saat membuka lemari es mini yang ada di kamar itu, ternyata kosong. Hanya gumpalan bunga es yang sudah lama tidak dibersihkan.
“Yang benar saja? Manusia macam apa kamu ini, Ca?” cercanya.
“Berhentilah menggerutu, kau benar-benar seperti kakek tua, Boy!” protes Mecca seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.
Sejurus kemudian, gadis bermata bulat itu kembali menghempaskan diri ke kasur dan membungkus tubuh dengan selimut.
Melihat tingkah sahabatnya, Boy pun hanya bisa menghela napas panjang beberapa kali. Dia benar-benar tidak habis pikir. Gadis itu menjadi hancur. Seolah tidak memiliki semangat hidup. Hingga membuat keadaannya berantakan.
Tak tinggal diam, Boy pun memilih untuk keluar dan pergi berbelanja. Namun, sesaat sebelum dia keluar, pria tampan itu menyempatkan diri untuk melihat wajah Mecca yang saat ini sudah tertidur pulas kembali.
Boy duduk di tepi ranjang, kemudian membenarkan selimut Mecca. Lalu, dia menatap Mecca lekat-lekat. Terdengar dengkuran halus dari gadis itu. Boy terlihat sangat menikmati pemandangan di depannya. Hingga sekelebat bayangan tiba-tiba melintas, yang membuat fokusnya terbagi.
“Siapa di sana?” Boy yang merasakan kehadiran seseorang selain dirinya dan Mecca pun mencoba mencari tahu.
Boy mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu. Akan tetapi, tidak didapatinya siapa pun. Terlebih ruangan itu kecil, mustahil seseorang untuk bersembunyi di tempat itu.
Prang!
Tiba-tiba sebuah bingkai poto jatuh ke lantai. Sontak hal itu membuat Boy merasa kaget. Gegas dia menghampiri benda yang terjatuh itu. Berharap di menemukan seseorang. Namun, sayang, Boy tidak menemukan siapa-siapa. Herannya, Mecca sama sekali tak terganggu. Padahal, suara itu cukup kencang.
Boy mengambil bingkai yang terjatuh itu. Dilihatnya poto tersebut. Ternyata itu poto Mecca dan adiknya Micail. Lebih tepatnya saudara kembar. Micail telah wafat tiga tahun yang lalu, hal itulah yang membuat Mecca hidup berantakan seperti ini.
“Jika memang itu kamu, katakanlah pada Mecca agar bisa hidup normal seperti dulu, jelaskanlah jika semua itu bukan salahnya,” gumam Boy, seraya memindai seluruh ruangan seolah mencari seseorang.
Boy meletakkan kembali bingkai itu, lalu membereskan pecahan kaca yang berserakan. Tak lama setelah itu, Boy pun melakukan rencananya yang sempat tertunda. Namun, sebelumnya Boy pun memeriksa semua kebutuhan Mecca yang telah habis. Setelah itu, Boy mengunci pintu dari luar dan membawa kunci agar tak kesulitan untuk masuk lagi.
Boy pergi berbelanja bahan makanan dan kebutuhan lainnya di toserba terdekat. Akan tetapi, pikirannya terus melayang jauh. Hingga tanpa sadar dia menabrak seseorang dengan troli yang sedang didorongnya.
“Aw, hati-hati, dong! Jalan kok sambil melamun!” bentak seseorang yang Boy tabrak.
“Maaf, Mbak, gak sengaja!” sesal Boy.
“Untung kamu cakep, kalau enggak, aku mau minta ganti rugi,” rengek si gadis yang tertabrak itu.
“Maaf, Mbak, sekali lagi, saya nyesel,” ucap Boy, benar-benar penuh penyesalan.
Tanpa menimpali ucapan Boy, gadis itu pun berlalu begitu saja. Boy pun pergi menuju kasir untuk membayar.
Sejurus kemudian, saat dia mengantre di kasir. Dia melihat sosok seorang pemuda berlumuran darah, dengan kemeja planel kotak merah dan berpadu hitam tepat di sebelahnya. Boy pun termangu.
“Ka–Ka–mu–”
Boy masih menatap kaget ke arah pria misterius yang berlumuran darah itu. Perasaannya mengatakan, sosok itu tidak asing. Akan tetapi, Boy tidak mampu mengingatnya.
Mata itu semakin menatap tajam ke arah Boy, lalu pria berwajah hancur itu menyeringai menampakkan deretan gigi yang penuh dengan darah.
Boy semakin terpaku, dia mencoba berteriak, tetapi lidahnya kelu, bibir pun membeku. Bahkan, sulit rasanya untuk memalingkan pandangan dari tatapan si pria berwajah hancur itu. Keringat dingin mulai membasahi pelipis pria berahang tegas tersebut.
“Lindungi Mecca, lindungi Mecca, lindungi Mecca,” gumam pria berlumuran darah itu.
Sontak Boy tersentak mendengar ucapan si pria yang masih belum Boy ingat. Saat Boy tersita oleh rasa heran tentang ucapan itu. Pria itu menghilang begitu saja. Tentu saja hal itu membuat Boy celingukan dan mencari keberadaan pria itu, untuk menanyakan maksud dari ucapannya.
Namun, niatnya terhalang oleh seseorang yang mengantre di belakangnya. Sejak tadi Boy hanya melongo tidak jelas dan membuat orang-orang dalam antrean itu merasa kesal. Menyadari diri telah membuat keributan, Boy pun meminta maaf. Lantas, bergegas menuju kasir yang telah kosong sejak beberapa saat tadi.
Terlihat sesekali Boy pun masih kehilangan fokusnya dan memikirkan ucapan pria itu. Untuk mengobati rasa penasaran Boy pun mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada kasir di hadapannya.
“Mbak, maaf, Mbak lihat pria yang penuh darah, enggak? Tadi dia berdiri di sini," tanya Boy sedikit ragu seraya menunjuk tempat pria tadi berdiri.
“Enggak, Mas,” jawab si kasir sekenanya.
“Oh, gitu, ya, emh, anu–" Boy masih penasaran.
“Apa, Mas?” sela si kasir.
“Di sini ada cctv kan, Mbak? Kalo saya lihat, boleh enggak, ya?” pinta Boy dengan ragu.
“Silakan Mas bicara sama atasan saya saja, ya, karena saya cuma kasir,” jawab perempuan muda yang masih fokus menghitung belanjaan milik Boy.
Boy menemui petugas keamanan setelah selesai membayar, lalu dia diantar untuk menemui atasan yang dimaksud si kasir. Kini, dia sampai di sebuah ruang sempit di bagian terdalam toserba. Di sana ada seorang pria paruh baya yang tengah sibuk dengan berkas di meja kerjanya.
“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” sapanya pada Boy.
“ Begini, Pak, apa boleh saya melihat cctv?” ucap Boy.
“Memangnya ada masalah apa? Apa Mas ini kehilangan sesuatu?” selidik pri paruh baya itu.
“Tidak, tapi saya harus memastikan sesuatu, Pak,” tutur Boy.
“Bisa dijelaskan, apa yang akan dipastikan tersebut?” Ternyata untuk menlihat rekaman tersebut begitu sulit.
“Begini, tadi saya lihat seseorang yang enggak dilihat orang lain. Dia benar-benar nyata, tapi sayangnya enggak ada yang percaya sama saya. Jadi, saya hanya ingin membuktikan keberadaan orang tersebut dari cctv,” jelas Boy.
“Maaf, Mas, cctv itu kamera keamanan, bukan untuk main-main!” tegas si pria menolak permintaan Boy.
Boy merengek dan memohon, tetapi pria itu justru menganggap Boy aneh dan meminta petugas keamanan yang mengantarnya untuk membawa Boy dan menyuruhnya pulang. Boy menolak dan bersikeras. Namun, tak berhasil, dia tidak bisa menonton rekaman itu.
“Sial!” umpatnya.
*
Anda Mungkin Juga Suka





