
HILANGNYA JASAD KEMBARANKU
Bab 3
Mecca kali ini sudah terbangun, dia celingukan menyadari Boy sudah tidak ada di kamarnya. Beberapa kali Mecca memanggil Boy untuk memastikan.
“Boy! Boy! Kamu pulang?” teriak Mecca.
Menyadari tidak mendapat jawaban, Mecca pun menyimpulkan jika Boy telah kembali ke rumahnya. Tak mau mengambil pusing, gadis berambut hitam panjang itu memilih untuk membersihkan diri. Kali ini mandinya berlangsung cepat dan tak mengalami gangguan apa pun.
Mecca kemudian duduk di depan meja tempatnya menulis. Merasa diri sudah cukup mendapatkan energi, Mecca berusaha meneruskan tulisannya. Namun, kali ini dia tidak mampu mengetik kata apa pun. Dia benar-benar kehilangan ide untuk menulis.
“Aish!” desis Mecca seraya mengacak rambutnya yang memang belum disisir.
Lalu dia menoleh ke arah lain, dilihatnya bingkai poto yang sudah tanpa kaca itu. Dia menatap beberapa saat potret diri dan Micail. Cukup lama dia dalam posisi seperti itu, seolah sedang menerawang sesuatu yang begitu jauh dalam pikirannya. Sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan Boy kembali.
“Ca!” tegur Boy.
Mecca tersentak, kemudian menjawab, “Boy?”
"Hmm, udah sadar kamu?” ledek Boy, seraya meletakkan belanjaan di meja.
“Kapan kamu datang?” Tanpa menjawab pertanyaan Boy, Mecca balik bertanya.
“Mikirin apa sih kamu? Dari tadi aku panggil-panggil, gak denger? Gimana kalo yang masuk itu maling?” gerutu Boy.
”Hehehe.” Mecca terkekeh, “aku hanya sedang ingat seseorang,” lanjut Mecca.
“Micail? Sudah dong, jangan terus begitu, biarin dia tenang,” ucap Boy seraya menghampiri Mecca dengan dua cangkir sereal instan.
“Kamu tahu sendiri, bagaimana keadaan keluargaku setelah kematiannya,” keluh Mecca.
Boy duduk di dekat Mecca dan menyodorkan satu cangkir sereal rasa kacang hijau kesukaan Mecca, lalu berkata, “Aku tahu pasti, Ca. Hidupmu jadi begini juga, karena itu 'kan? Tapi ... apa kamu yakin Micail tenang melihat saudarinya menyiksa diri seperti ini?”
Mecca meraih cangkir putih dengan gambar hati berwarna pink, lalu menyeruput sereal tersebut.
“Aku enggak berhak bahagia, itu yang ibuku katakan. Jadi, mana mungkin aku bisa bahagia, Boy,” seloroh Mecca.
“Selalu seperti ini, aku rindu Mecca yang dulu, tau gak sih!” protes Boy.
“Anggap saja dia udah mati, Boy,” celetuk Mecca.
Sontak jawaban itu membuat Boy kesal, “Ca, aku paham loh, orang tua itu gak boleh dilawan, tapi enggak harus membenarkan semua yang mereka bilang, kamu bukan pembunuh, Ca. Itu hanya sebuah tragedi.”
Mecca membisu seolah tak memiliki kata untuk membantah atau menyetujui pernyataan dari Boy.
“Kumohon, berhenti menyalahkan diri,” pinta Boy.
Mecca tetap membisu, dan masih tidak memiliki kata untuk menjawab Boy.
“Ca,” lirih Boy seraya menggenggam jemari Mecca.
Sontak Mecca menoleh ke arah Boy, menatap Boy lekat-lekat, senyum getir pun terukir.
“Hanya saja, semua kejadian berawal dari aku yang mengajak dia ke tempat itu,” ucap Mecca dengan nada tertahan, dan begitu berat.
Mata bermanik cokelat muda itu mengembun, menahan luapan air yang sebentar lagi akan menetes.
"Nangis aja, jika emang itu masih terasa berat,” ucap Boy seraya mengeratkan genggamannya.
Mendengar hal tersebut, Mecca justru memalingkan pandangannya dari Boy, lantas dia menarik jemarinya yang sedari tadi digenggam.
“Ah, maafkan aku, jadi emosional seperti ini,” elak Mecca.
Boy menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya kasar. Pandangannya masih lekat pada gadis di hadapannya. Boy benar-benar ingin Mecca kembali seperti dulu, tetapi dia tidak bisa berbuat apa pun.
“Lindungi Mecca,”
Saat Boy termenung memikirkan Mecca, bisikan itu kembali terdengar. Ucapan dari pria berlumuran darah tersebut mengusiknya dan membuat pria berahang tegas itu terperanjat.
”Kenapa Boy?”
“Boy!”
Mecca merasa sedikit khawatir karena tatapan Boy tiba-tiba menjadi kosong dan kehilangan fokus.
“Ca!"
“Ya, ya, kenapa?” tanya Mecca khawatir.
Mecca menggeserkan kursi yang diduduki ke arah Boy, lantas menatapnya dengan saksama.
“Aku kayak denger bisikan halus gitu, suaranya jelas banget, tapi aku gak tahu itu suara siapa,” terang Boy.
Pupil matanya membesar, serta berfokus pada Mecca lekat-lekat.
“Bisikan apa maksud kamu?” Mecca keherananan.
“Ya, kayak suara-suara asing gitu, tapi suara itu nyuruh aku lindungin kamu, apa aku punya indera ke enam, ya?” jelas Boy.
”Hahaha.” Sontak tawa Mecca pecah, dia mengira ucapan Boy adalah sebuah lelucon.
“Ca, aku serius!” sentak Boy.
“Jangan ngaco kamu, aku saja yang hobi nulis horor gak pernah ngerasain hal-hal aneh,” ledek Mecca.
Mendengar kata-kata Mecca, Boy sedikit menyesal telah berusaha memberi tahukan semua hal aneh yang terjadi padanya hari ini.
“Mungkin kamunya aja yang kurang peka, Ca. Padahal, selama ini mereka ada di sekitar kamu, makanya kamu gak waras,” gerundel Boy.
Lalu dia beringsut dari duduk dan dengan kasar mendorong kursi dengan kaki bagian belakangnya. Dia hendak meninggalkan Mecca yang masih termangu di hadapannya tersebut.
Sesaat sebelum Boy melangkah, Mecca memanggilnya, “Boy!”
Dengan malas Boy pun menoleh.
Mecca menatap Boy penuh keheranan, lalu bertanya, “Apa kamu serius? Tadi itu bukan bercanda?”
“Memangnya aku terlihat sedang bercanda?” Bukannya menjawab Boy justru membalikkan pertanyaan dengan sedikit tekanan pada suaranya.
Mecca termenung beberapa saat, menyadari sahabatnya tampak tidak baik-baik saja, dengan raut wajah masam yang tampak jelas. Mecca pun memilih berpaling dari tatapan tajam Boy yang seolah menghunus ke dalam jantungnya.
“Baiklah, aku minta maaf,” sesalnya.
Rasa bersalah pun menghantui hingga membuat suasana semakin kikuk. Boy yang terlanjur kesal memilih untuk duduk di sofa dekat jendela untuk menghabiskan sereal.
“Selalu saja seperti ini, kapan sih kamu mau ngertiin aku, Ca?” keluh Boy.
Mecca terperangah, gadis yang mengenakan kaus oblong kedodoran itu sejak tadi terpaku pada kesalahan dan penyesalannya. Lantas, kini pertanyaan yang dilontarkan Boy semakin membuatnya tidak tahu harus berkata apa. Napas berat beberapa kali terdengar dihembuskan. Tatapan sendu yang seolah sedang meratapi nasib terlihat jelas dari gadis berkulit kuning langsat itu.
Pandangan Boy yang tadinya menatap langit di balik jendela yang begitu cerah, teralihkan pada bingkai poto yang pecah pagi tadi. Lagi-lagi bingkai poto itu selalu berhasil menyita fokusnya.
“Ca, bukankah Micail sudah tenang di sana?” celetuk Boy.
Lagi-lagi pertanyaan Boy yang tidak terduga itu membuat Mecca kebingungan untuk menjawab.
“Jawab, Ca! Kamu masih manusia, kan? Bukan patung?” protes Boy yang mendapati diri bagai diabaikan.
Mecca yang sedikit merasa tertekan pun, balik bertanya, “Kenapa kamu tiba-tiba bahas Micail?”
“Kalau ada orang nanya itu, dijawab dulu, jangan malah balik nanya, itu gak beretika,” sindir Boy.
Mecca mendengkus, semakin kesal saja oleh kata-kata tajam dari Boy. Dia mendelik ke arah Boy, sinar laser dari kedua bola mata bulat itu seolah terpancar dan menembak tepat pada mata Boy.
“Oke baiklah, Micail mungkin tenang, atau dia masih gentayangan nyari siapa yang bunuh dia,” jawab Mecca sekenanya.
“Bukan pembunuh yang bikin dia gentayangan, tapi kamu yang belum menerima kepergian dia, yang selalu nyari tahu informasi-informasi gak jelas. Kamu mau ke Kuningan, kan? Mau pergi ke desa terkutuk itu? Buat cari penyebab kematian Micail? Iya, kan?” cecar Boy.
Mecca terdiam, mendapati niatnya sudah terbaca oleh Boy—orang yang sudah pasti menentang niatnya itu.
“Ca, ayoklah cukup orang tuamu yang menyalahkan semua itu padamu, jangan sakiti dirimu juga, dengan terus menggali sebuah tragedi, lagipula polisi kan sudah menyatakan kesimpulan penyelidikan, kalo Micail itu meninggal karena kecelakaan jatuh dari tebing,” ungkap Boy.
Kali ini wajah muram berpindah pada gadis cantik itu, dia menggaruk kepala yang tidak gatal kemudian mengusap wajah dengan kasar. Tiba-tiba tangannya menjadi gemetar karena menahan emosi, Mecca menggoyangkan kedua paha yang masih bertumpu di kursi kayu di depan meja kerjanya. Semakin lama getaran kaki semakin cepat, napas Mecca pun memburu seolah kehilangan jiwanya.
Anda Mungkin Juga Suka





