Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Heavy Heart

Heavy Heart

Tiga belas tahun lamanya sebuah tragedi kelam di bawah guyuran hujan terus menghantui malam-malamku. Bayangan Sakala tak pernah benar-benar hilang, bagaikan bunga Smeraldo yang terasa nyata namun semu. Di tengah kerinduan mendalam, seseorang muncul membawa kabar mengejutkan bahwa dia mungkin masih hidup. Namun, kenyataan jauh lebih rumit saat sosok manis itu hadir. Siapa sebenarnya dirimu? Apakah kamu adalah Sakala yang aku kenang atau orang lain?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah pergi belanja dan juga menonton film. Aku dan Audrey sekarang berada di sebuah cafe, katanya dia sangat lapar. Padahal aku sedang tak ingin makan. Tapi, aku tak bisa menolaknya. Aku hanya menuruti keinginan Audrey dan pergi untuk makan bersamanya.

Aku sudah mulai bosan apalagi ketika Audrey sangat lama untuk datang ke sini. Entah pergi kemana dia sekarang. Aku melamun memandang kaca jendela yang menampilkan lampu-lampu malam. Pikiranku entah pergi kemana, hari ini aku sangat lelah dan ingin beristirahat mungkin karena sejak tadi aku belum menidurkan badanku di kasur kesayanganku karena ulah Audrey yang mengajakku berkeliling.

"Nala!"

Suara itu. Akhirnya, Audrey kembali. Aku sudah ingin cepat-cepat untuk pulang. Aku mengubah arah pandangku yang awalnya menatap kaca jendela sekarang melihat ke arah Audrey yang membawa makanan. Sekarang aku akan makan dan segera pulang menuju rumah. Aku sudah tidak sabar untuk beristirahat rasanya badanku sudah sakit semua. Apalagi kakiku yang memakai hig-heels yang menyebalkan ini.

"Kenapa lo lama? Gue udah mau tidur Drey."

"Tadi ngobrol sama cowok ganteng, kelupaan makannya," ucapnya sambil cengegesan. Aku benar-benar ingin memukul kepala Audrey dan menyadarkannya astaga.

Tanpa pikir panjang lagi. Aku dan Audrey makan tanpa bicara sepatah katapun, aku segera menarik Audrey untuk keluar dan segera pulang. Besok kita sekolah, apakah Audrey lupa? Apalagi jadwal besok guru yang sangat kejam akan mengajar!

***

Aku sudah sampai di rumahku. Sepertinya kedua orang tuaku masih sedang makan dan belum tertidur. Aku berjalan ke arah mereka dan segera duduk di salah satu meja, meski sudah makan aku tetap ingin memakan masakan Bunda. Itu sangat lezat, aku tak bisa menolak pesona setiap masakan yang di masak oleh Bundaku.

"Nak, kamu baru pulang yah? Habis dari mana jam segini baru pulang," ucap Bunda sudah pasti dia sangat khawatir terhadapku.

"Nggak papa Mah, wajar anak gadis jalan sama pacar," timpal Ayahku.

Aku menggeleng menanggapi ucapan mereka. "Nggak, Nala nggak jalan sama pacar ih Ayah. Tadi Audrey ngajak jalan."

Kedua orang tuaku malah terkekeh. Kedua mata mereka seolah menatap baju yang aku gunakan, ini semua gara-gara Audrey. Jadi semuanya mengira aku telah jalan bersama pacarku. Padahal punya pacar saja tidak, aku tak pernah tertarik untuk berpacaran. Tentu, aku selalu mengingat Sakala.

Nama itu, wajah itu dan kenangan yang ada bersama Sakala. Tak pernah bisa terhapus meskipun aku ingin melupakannya, seolah semuanya berjalan dengan sendirinya aku hanya bisa menerima dan terus mengingatnya. Aku tak pernah bisa melupakan bagaimana raut wajah senangnya saat bercerita tentang hal kecil, apalagi tentang bunga kesayangannya Smeraldo.

"Kamu cantik banget pake baju gitu sayang," ucap Ayahku sambil membelai rambutku. Ibuku menganguk  tanda dia juga setuju  dengan ucapan Ayahku mungkin.

"Audrey ngajak aku keliling mall, terus nyuruh pake baju ginian," ucapku sambil mengadu.

"Bagus dong, kamu jadi makin cantik. Nanti Bunda bakalan nyuruh Audrey milihin baju buat kamu aja biar nurut." Bundaku tertawa. Dia tahu setiap aku di belikan baju seperti ini aku akan menolaknya, tapi Audrey tak bisa di tolak. Aku sedikit tak enak menolaknya dan juga tak bisa melihatnya murung.

Berbeda dengan orang tuaku yang selalu mengikuti ucapan anaknya. Audrey tak ingin keinginanya di tolak, karena itu aku selalu menerima apa yang dia inginkan. Terlebih tentang mengubah penampilanku.

Aku segera mengambil makanan yang telah di sajikan di atas meja. Memakannya dengan lahap tanpa berbicara lagi, sekarang kami makan dalam keheningan. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang bertemu.

Perutku rasanya sudah sangat penuh. Aku sangat kenyang, masakan Bunda memang sangat lezat. Tak akan pernah ada yang mengalahkan masakan lezat Bunda, aku selalu menyukainya. Aku berpamitan kepada orang tuaku setelah selesai membersihkan piring kotor setelah makan.

Kaki ku berjalan menuju kamar yang sudah aku tunggu sejak tadi. Aku sangat mengantuk, sepertinya malam ini aku akan tertidur dengan lenyap. Mataku sudah sangat berat dan aku tertidur.

Seorang gadis menangis dengan sangat keras. Iyah, itu aku. Saat itu aku terjatuh karena berlari dan mengejar Sakala. Mataku menatap Kala yang terus meniupi luka di lututku. Itu membuatku berhenti menangis, seperti lututku telah mendapatkan obat dari bibir Kala.

"Kala. sakit banget aku takut di bawa ke dokter," ucapku mengadu. Entah mengapa, aku sangat suka ketika aku mengadu pada Kala. Dia akan dengan tenang membuatku tidak takut.

"Nggak akan Sea, lagian ini udah hampir sembuh sama aku."

Aku terkekeh melihat ucapan Kala. Dia sangat menggemaskan ketika mengucapkan kata itu. Aku menyukainya, aku sangat menyukai senyumannya.

Seperti sebuah perjalanan DVD, semuanya berputar dengan cepat. Aku hanya bisa terus menikmati mimpi yang datang ke dalam malam hariku. Selalu indah, namun terkadang berubah mengerikan.

Aku menikmati hari dimana aku selalu bersama Sakala. Aku sangat merindukannya. Ketika mimpi indah menghampiriku, mimpi itu kembali datang. Darah berada di sekitar badanku dan Sakala. Semuanya menjadi gelap dan aku terbangun.

Mimpi itu lagi. Aku merasakan keringat terus berjatuhan dari keningku. Rasanya aku akan sulit untuk tertidur lagi, aku takut. Sakala, aku benar-benar membutuhkanmu. Tanganku memeluk diriku sendiri, mimpi ini selalu datang dan datang lagi ke dalam tidur nyenyak ku.

Aku memang ingin jika Kala datang ke dalam malam heningku. Datang dengan indahnya dan memberikan perjalanan waktu masa lalu yang sangat menyenangkan. Bukan, bukan di mana hari kita terluka. Bukan di mana hari aku kehilangannya. Itu bukan kenangan manis, itu menyakitkan bagiku.

Tanpa aku sadari. Aku sedang terisak sejak tadi, air mataku mengalir dengan hebatnya. Malam hari yang sepi selalu membuatku menangis dengan hebat, apalagi ketika aku telah merindukan Sakala di dalam hidupku. Bukan satu atau dua kali mimpi itu selalu datang setiap saat aku merindukan Sakala di dalam hidupku.

"Kala. Sea rindu Kala, Sea ingin di peluk sama Kala," ucapku terisak sambil memandang ke depan. Berharap ada sosok itu datang dan memelukku.

Entah mimpi atau tidak. Sekarang seolah nyata, seseorang datang menghampiriku. Wajahnya, senyumnya itu Sakala. Apakah ini nyata? Mengapa Sakala ada di dalam kamarku sekarang? Aku berlari menghampirinya. Memeluknya dengan sangat keras dan sesekali memukul pelan dadanya karena sangat merindukannya.

"Kala, aku beneran kangen kamu. Kamu kemana aja?"

Tangan besarnya mengelus puncak kepalaku. Membuat tangisanku semakin tak kuasa ku tahan, aku terisak dan memeluknya semakin erat. Telingaku mendengar kekehan dia yang sangat candu. Sakala, terus tersenyum aku sangat senang mendengar suara tawa dari dirimu.

"Sea, aku nggak kemana-mana. Aku ada sama kamu."

Sial. Sakala kenapa berbohong? Sudah belasan tahun dia meninggalkanku. Mengapa dia berkata bahwa dia selalu ada bersamaku? Jika iyah, ada dimana dia selama aku selalu mencarinya. Sakala pasti sedang bercanda.

"Bohong! Kala kenapa bohong. Selama ini Kala kemana aja? Aku nyari Kala nggak pernah ketemu semua orang bilang Kala mati. Tapi, aku masih nggak percaya kamu pergi. Katanya janji bakalan sama aku terus, buktinya mana Kala?" teriakku histeris sambil memukul pelan dadanya.

Aku masih belum melepaskan pelukannya. Sekarang aju tak mau kehilangan dirinya lagi tak peduli apa yang terjadi. Sakala akan selalu bersamaku, tidak akan pergi kemana-mana lagi. Namun, tangan kekarnya melepaskan pelukanku. Aku berusaha keras untuk tetap memeluknya namun sayang tenaga ku selalu kalah jika berurusan dengan Sakala. Dia berlari menuju luar jendela dan melompatkan dirinya dari atas jendela. Aku berteriak memanggil namanya.

Aku terbangun dengan kedua orang tuaku yang sudah berada di sampingku. Bunda menangis dengan sangat keras. Tunggu, jadi sedari tadi aku hanya bermimpi? Mengapa semuanya seolah sangat nyata? Apakah karena aku terlalu merindukan Sakala?

Aku memeluk erat Bundaku. Aku juga takut, takut ketika Sakala pergi dan meloncat dari jendela kamarku. Tangisanku seolah bersambung dari mimpi menjadi kenyataan. Aku menangis dengan sangat kuat. Tidak, aku sangat merindukan Sakala.

"Bunda, Kala tadi datang ke Sea. Tapi dia loncat dari jendela sana," ucapku mengadu sambil menunjuk jendela di dekat kamarku.

Mataku menangkap cairan bening yang semakin turun dari mata bundaku seperti air hujan. Aku tak tahu mengapa Bunda menangis, aku benar-benar bertemu dengan Sakal tadi. Bukan, semuanya bukan mimpi. Ini pasti nyata. Aku tahu Sakal masih hidup, bahkan dia datang tadi.

"Bunda, Ayah... Sakala beneran masih ada kan?"

Ayahku duduk di sampingku. Mencium keningku dengan sangat sayang. Tangannya mengelus rambutku, aku menatap wajahnya yang tersenyum sangat tulus kepadaku.

"Sea, Kala udah pergi ikhlasin yah?" ucapnya membuatku memberontak.

"Ayah, jangan bohong nggak lucu. Terus tadi siapa yang  Sea peluk? Pasti dia ada kan Ayah?" Aku memukul dadaku karena menangis. Tanganku di pegang oleh Bunda, dan di tahan agar tak melukai diriku sendiri.

"Udah nak, tidur yah."

Bunda berbicara sambil memeluk dan mengelus rambutku. Seolah aku adalah bayi, tangannya yang menari-nari di atas kepalaku membuatku sedikit mengantuk. Tangisan ku sedikit mereda mungkin karena Bunda menenangkanku. Mataku menjadi sangat berat dan rasa mengantuk sudah mulai menguasai diriku. Perlahan mataku tertutup dan aku tertidur. Entah apa yang terjadi selanjutnya.

Namun, sebelum mataku benar-benar tertidur. Aku sempat mendengar ucapan dari ibuku, dia mengkhawatirkanku. Aku tak pernah menginginkan ibuku merasakan kesedihan. Namun, mengapa aku selalu membuatnya ada di dalam jurang kesedihan?

Terkadang aku membenci kenangan yang masih terus tersimpan apik di dalam otakku. Karena itu semua aku selalu membuat Bundaku menangis dan mengkhawatirkanku. Aku selalu ingin melupakan kejadian itu, semuanya salahku. Andai saja aku tak pernah mengejar kupu-kupu itu, aku tak akan pernah kehilangan Sakala.

Jika aku yang membuat semuanya terjadi. Lantas kenapa aku masih tetap hidup? Mengapa pada saat itu bukan aku yang meninggalkan dunia saja? Mengapa harus Sakala. Andai Sakala tidak pernah berlari dan menolongku, mungkin hanya aku yang terluka dan meninggal semuanya tidak akan menjadi serumit ini.

Sakala. Nama yang selalu membuatku merasakan cinta dan benci sekaligus. Aku mencintai bagaimana dia yang sangat baik dalam semua hal dan aku membenci bagaimana Sakala yang menolongku saat itu. Namunn, daripada membenci dirinya aku lebih membenci diriku sendiri.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Adik Ipar
9.5
Nara yang sedang hamil tua mendadak hancur saat menemukan tumpukan alat tes kehamilan misterius yang jatuh dari tas suaminya, Juan. Kecurigaan mendalam muncul karena setiap benda itu ditandai dengan angka unik, padahal Nara merasa tidak pernah memilikinya. Di tengah usia kandungan tiga puluh delapan minggu, hatinya bergejolak hebat antara rasa kecewa dan gelisah. Mungkinkah Juan selama ini menyembunyikan pengkhianatan besar di balik punggungnya?
Sampul Novel Bukan Takdirku Mati Dalam Api
9.7
Dunia Gita hancur saat mengetahui kekasihnya, Dzaki, hanya memanfaatkannya demi Rosa. Tak hanya mencuri desainnya, mereka meracuni Gita dan menjebaknya dalam kebakaran villa yang mematikan. Namun, Gita berhasil memalsukan kematiannya dan melarikan diri ke Milan. Tiga tahun berlalu, ia kembali ke Jakarta sebagai desainer elit bernama Gia. Saat Dzaki yang terkejut melihat sosoknya yang serupa, Gita bersiap membalas dendam pada monster yang mengkhianatinya.
Sampul Novel Kafan Hitam
9.6
Desa Ciboeh mencekam usai Mbah Atim, sang penjaga makam, ditemukan tewas tanpa kepala. Tragedi ini memicu serangkaian teror mistis yang mengusik ketenangan warga. Rojali, seorang pemuda lulusan pesantren, bertekad membongkar misteri kematian tersebut. Penyelidikannya justru menyeretnya ke rahasia kelam masa lalu tentang warga yang hilang, kelompok misterius Kalong Hideung, dan takdir hidupnya sendiri. Di tengah kegelapan, sebuah tawaran bantuan gaib datang menghampiri.
Sampul Novel Kisah tak Terduga: Back to You
8.3
Tujuh tahun berlalu, Samuel masih berjuang menghapus kenangan Nindy yang telah pergi selamanya. Kehadiran Elvira Maharani membawa angin segar yang perlahan menyembuhkan luka hatinya. Namun, di balik sosok Elvira yang tampak lugu dan polos, tersimpan rangkaian misteri serta rahasia besar yang bahkan tidak disadari oleh gadis itu sendiri. Akankah cinta baru ini mengungkap kebenaran yang terkubur atau justru menghadirkan teka-teki yang jauh lebih rumit?
Sampul Novel my first love is paman
8.5
Heira Attaya, siswi SMA yang menderita kepribadian ganda akibat kematian tragis orang tuanya, harus tinggal serumah dengan pria yang ia cintai. Namun, rahasia kelam mulai terungkap saat Heira menemukan keterkaitan antara sosok pujaan hatinya dengan tragedi berdarah keluarganya. Mampukah ia bertahan menghadapi kenyataan pahit ini? Sebuah peristiwa besar akhirnya mengubah segalanya, hingga Heira menghilang secara misterius tanpa jejak.
Sampul Novel Pemburu Darah Perawan
9.7
Demi mengubah nasib, Japri nekat melakukan ritual pesugihan di Karang Nini. Kekayaan melimpah berhasil diraihnya, namun ada harga mahal yang harus dibayar berupa tumbal darah perawan setiap malam Selasa Legi. Sesuai perjanjian gaib tersebut, Indra sebagai putra tunggal wajib meneruskan tradisi kelam ini. Kini, Indra terjebak dalam lingkaran setan yang mengerikan, bahkan ia nyaris melanggar pantangan keramat yang mengancam nyawa serta seluruh kekayaannya.