Sampul Novel Heavy Heart

Heavy Heart

8.4 / 10.0
Dalam Heavy Heart, upaya melupakan tragedi 13 tahun silam terhambat oleh mimpi buruk. Saat sosok Sakala muncul, misteri identitas aslinya memicu konflik batin mendalam. Ikuti romance novel penuh teka-teki ini di web novel pilihan bagi pembaca young adult fiction romance books.
Ringkasan Heavy Heart
Tiga belas tahun lamanya sebuah tragedi kelam di bawah guyuran hujan terus menghantui malam-malamku. Bayangan Sakala tak pernah benar-benar hilang, bagaikan bunga Smeraldo yang terasa nyata namun semu. Di tengah kerinduan mendalam, seseorang muncul membawa kabar mengejutkan bahwa dia mungkin masih hidup. Namun, kenyataan jauh lebih rumit saat sosok manis itu hadir. Siapa sebenarnya dirimu? Apakah kamu adalah Sakala yang aku kenang atau orang lain?
Baca Selengkapnya

Heavy Heart Bab 1

Aku menangis kala itu. Saat alam bawah sadarku baru menguasai diriku setelah koma beberapa bulan yang lalu, aku menangis dengan sangat hebatnya. Aku kehilangan dia, aksara dalam kisahku. Aku kehilangan dia, diksi dalam puisi milikku. Bagaimana aku bisa menemukannya? Bahkan ketika semuanya terjadi tepat bersama denganku.

Saat itu, aku berlari dengan langkah kecilku yang baru sembuh dari rumah sakit yang selama ini menjadi tempatku untuk tertidur dan beristirahat. Namun, seseorang menahanku dan memelukku dengan erat.

"Nala, kamu jangan nangis. Udah, biarin dia tenang di sana yah nak?"

Dia Ayahku. Tapi, aku tetap tak bisa menengkan diriku. Seolah separuh duniaku telah menghilang ikut pergi bersama dirinya, Sakala. Laki-laki yang selalu bersamaku. Aku tak mau kehilangan dia, andai saat itu aku tak mengejar kupu-kupu indah sampai membuat kejadian menyeramkan ini terjadi.

Saat itu aku dan Sakala sedang bermain di taman. Seperti biasanya kami selalu bahagia setiap kali bertemu. Saat sedang asik bermain kami menendang bola nya terlalu jauh sehingga Sakala berlari untuk membawanya.

"Nala, kamu tungguin dulu ya? aku mau bawa bolana dulu," ucapnya sebelum pergi meninggalkanku yang hanya menganguk.

Benar namaku dan namanya hampir sama. Dia Sakala dan aku Shanala. Entah mengapa bisa sama, aku pun bahkan tak tahu alasannya. Namun, kedua orang tua kita memang sangat dekat karena itu juga kita berdua sering bermain dan tertawa.

Ada satu hal yang sangat istimewa, dia selalu memanggilku Sea. Katanya aku terlihat seperti lautan, aku seluas dan seindah lautan. Entah mengapa juga aku menyukai nama itu, Sea nama yang indah dari seseorang yang berada pada masa lalu yang indah juga.

Sakala belum juga kembali mengambil bola yang sedari tadi menjauh karena tendanganku. Awalnya aku yang akan mengambil bola itu, tapi Sakala melarangku. Katanya dia tak mau aku terluka sedikitpun, sehingga dia yang berlari dan mengambil bola yang pergi jauh tersebut.

Karena sangat lama, rasa bosan mulai menguasai diriku. Pada saat itu juga ada seekor kupu-kupu yang sangat cantik terbang dengan bebasnya. Awalnya aku hanya diam dan memperhatikan,  namun semuanya berubah ketika aku ikut mengikuti arah terbang kupu-kupu cantik itu. Mataku hanya menatap sayap indah yang menempel, tanpa memperhatikan sekeliling dan tempat yang aku pijak.

Sampai saat itu, aku tak mengingat apapun. Selain teriakan Sakal yang memanggil namaku dan juga darah yang ada di sekitar tubuh kita berdua. Seolah cahaya datang entah dari mananya. Semuanya menjadi putih dan aku terbangun hari ini.

Saat mendengar bahwa Sakala telah pergi jauh dariku, aku takut. Aku tak pernah membayangkan sosok itu pergi jauh dari hidupku, sejak saat itu aku tak pernah terbuka kepada siapapun. Meski aku masih sangat kecil, namun rasanya seperti aku memang telah jatuh cinta kepadanya. Aku tak bisa melupakan sedikitpun kenangan masa kecil bersamanya.

***

Hari ini hujan sangat lebat. Aku melamun sambil menatap air hujan yang turun dan membuat embun di sekitar kaca yang berada tepat di sebelahku.

"Nala!" teriak Audrey membuatku terkejut kaget.

"Ishh... Drey. Gue di deket lo, kenapa teriak?" ucapku kesal. Audrey sering kali menganggu sesi melamunku.

"Temenin ngantin yuk, gue bosen. Lo nggak bosen natap hujan mulu?" gerutunya. Mungkin dia kesal, karena setiap hujan turun aku akan berdiam diri dan menatap air hujan.

Sebenarnya, bukan tanpa alasan jika aku sering menatap air hujan. Hanya saja, dia dan kenangannya tersimpan juga dalam rintikan hujan. Setiap melihat hujan, aku merasa melihat dia juga datang ke dalam hidupku yang telah lama merindukannya.

"Nala!! Ihh gue sebel sama lo yah, di ajak ngobrol malah melamun lagi." Audrey menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya yang membuat aku tak tahan untuk melihat kegemasan.

"Iyah Drey, ayo."

Audrey menarik tanganku, mengapitnya dengan tangan milik dia. Kita berjalan menelurusi koridor yang sepi, mungkin karena hujan semuanya tidak pergi untuk keluar? Ah, aku juga tak tahu. Hanya menebaknya saja.

Kita telah sampai di kantin. Aku dan Audrey selalu duduk di bangku dekat mba Yati. Supaya lebih mudah ketika akan memesan, apalagi perut Audrey tak pernah cukup untuk satu porsi makanan saja.

"Nal, Nala..." panggil Audrey membuatku menoleh menatap wajahnya.

"Temenin gue beli makanan yah ke supermarket nanti pulang sekolah?" pintanya sambil memegang tanganku erat.

"Gue mau ke toko buku Drey, apa lo lupa?"

Audrey cengengesan. Senyumnya yang aneh membuatku mengerutkan keningku aneh. Sekarang apa lagi yang akan di lakukan Audrey.

"Nala pliss... temenin gue yah yah? nanti gue temenin ke toko buku deh," bujuknya sambil menatapku dengan wajah imutnya.

"Iyah, terserah."

Audrey berteriak kegirangan. Membuatku malu seketika, sekarang semua orang telah berkumpul di kantin dan karena ulah Audrey semua pasang mata menatap kita aneh. Ya tuhan... mengapa Shanala harus berteman dengan Audrey.

Kantin yang berisik tambah berisik ketika kedatangan seseorang. Aku tak tahu dia siapa, namun sepertinya semua orang menyukai laki-laki itu. Aku hanya mengangkat bahuku acuh, jujur saja aku tak pernah peduli pada lingkungan sekitar apalagi terhadap hal seperti ini.

"Nala nala! Itu kak Kevan ganteng banget ya tuhan," teriak Audrey histeris.

Aku mengacuhkan Audrey yang berteriak dan melanjutkan sesi makanku yang terganggu oleh kebisingan kantin yang membuatku ingin mengumpat. Siapa sih Kevan itu, mengapa semua orang menyukainya? Shanala rasa Kevan biasa-biasa saja. Tapi, kenapa semua orang berteriak setiap kali bertemu dengannya?

"Drey," panggilku.

Audrey menoleh. "Hah? Kenapa lo?"

"Dia siapa? Kenapa pas dateng semua orang teriak? Berisik," ucapku menekankan kata berisik pada kalimat yang baru saja keluar dari bibirku.

"Hah? Lo nggak becanda kan Nala. Lo beneran nggak tahu kak Kevan? Astaga, lo kenapa nggak tahu gini sih? Lo kemana aja Nala."

"Apa sih Drey, gue beneran nggak tahu. Lagian dia nggak penting," ucapku cuek.

Audrey terdengar menghela nafasnya beberapa kali. "Kak Kevan itu cowok paling ganteng di sini, asal lo tahu dia kesayangan guru meski kadang yah sering ribut sana-sini."

"Gue baru tahu."

Audrey yang mendengar ucapanku mungkin terkejut saat mendengar apa yang aku katakan. Ku lihat dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Namun, aku tetap tak peduli dengan apa yang terjadi.

***

Setelah makan dari kantin. Sekarang aku berada di perpustakaan. Tempat paling nyaman yang pernah aku temui. Tapi, berbeda dari biasanya Audrey ikut bersamaku. Entah apa yang dia inginkan sekarang, tapi mereka berdua sedang tenang dan membaca beberapa buku yang ada di perpustakaan. Rasanya sangat tenang, apalagi perpustakaan adalah tempat paling sepi dan nyaman untuk menghibur diri atau mengisi jam istirahat yang masih tersisa.

Rasanya kepalaku mendadak pusing. Bayangan ketika hari kelam terjadi kembali datang dan itu membuatku sangat ketakutan. Aku takut, Sakala pergi meninggalkanku karena diriku. Aku meremas rok dengan kepala yang mulai memberat.

Sejak itu, aku tak tahu apa yang aku rasakan. Selain kegelapan yang meliputiku dan juga teriakan namaku, aku yakin dia adalah Audrey.

"Sea, kamu mau jadi pacar aku nggak" tanya dia sambil tersenyum dengan manisnya.

Kau tahu? Senyumnya sangat manis dan umur kita berbeda 2 tahun. Saat itu umurku 5 tahun, aku tak mengerti memang apa yang dia ucapkan saat itu. Pacar? Apakah itu sebuah makanan? Atau permainan yang mengasikan?

"Pacar itu apa, Kala?" tanyaku sambil menatap dia yang sedang memegang bunga.

"Aku juga nggak tahu Sea, tapi katanya pacar itu teman yang baik!" ungkapnya sambil memberikan bunga yang dia pegang.

Tanganku dengan langsung menerimanya tanpa berpikir panjang.

"Jangan pernah pergi yah, Sea."

Jantungku berdetak lebih cepat. Rasanya andrenalin ku berpacu sangat cepat. Mimpi itu lagi, mengapa aku terus memimpikan Sakala. Aku merindukannya, aku sangat-sangat merindukannya. Aku tak tahu bagaimana caranya aku bertemu dengan Sakala, selain berkunjung menuju pemakaman dirinya.

Mataku belum sepenuhnya tersadar. Samar-samar cahaya masuk ke dalam mataku, aku mengerjap beberapa kali dan melihat Audrey yang langsung berjalan dengan wajah khawatirnya.

"Lo nggak papa? Kenapa lo nggak bilang lo sakit Shanala Arkasea," ucap Audrey sambil memanggil nama panjangku.

Aku menggeleng melihat tingkahnya. Aku tahu dia mencemaskan diriku tapi, aku tidak apa-apa. Hanya saja tadi entah mengapa perutku dan kepalaku mendadak sakit. Meskipun sekarang perutku masih sedikit sakit, tapi tak separah saat tadi.

"Ya ampun Nala! Gue nanya bukannya di jawab malah bengong lagi."

"Gue nggak papa Drey, tadi kepala gue mendadak pusing. Maaf yah bikin lo khawatir, gantinya gue temenin lo pulang sekolah seharian."

Aku tahu itu hal sederhana. Tapi, Audrey selalu suka saat aku menawarkan diri untuk berjalan seharian dengannya. Mungkin dia sangat menyukai bagaimana dia mengganggu ku dan membuatku kesal.

"Hah? Beneran Nala? Fix nanti gue mau keliling mall! Ya ampun sayang Nala banget." Dia memelukku dengan sangat erat. Aku hanya terkekeh geli melihat reaksi nya yang berlebihan.

Sudah aku bilang, Audrey akan membuatku berjalan dan pastinya mengubah cara berpakaianku. Dia akan dengan senang hati mengajakku pergi menuju salon bersamanya.

"Jam berapa sekarang?" tanyaku tiba-tiba. Aku merasa harus menuju kelas hari ini.

"Masih jam 11 Nal," jawabnya.

Aku berusaha berdiri. Namun, Audrey menghalangiku. Kedua keningku berkerut.

"Jangan ke kelas plis, gue males pelajaran bapak itu. Dia kejam ih nggak nggak!"

Aku hanya menghela nafas dan kembali menidurkan badanku di atas ranjang UKS. Baiklah aku akan terdiam dulu dan yah menatap Audrey yang sedang memegang ponsel sambil tersenyum sesekali. Pasti Audrey sedang melayani para buaya yang menggodanya.

Aku merasa lapar sekarang. Untung saja di dekatku ada semangkuk bubur, tanganku mengambil mangkuk bubur itu dan memakannya perlahan. Melihatku yang sedang makan Audrey berdiri dari duduk nya dan berjalan menuju arahku.

Dia merebut mangkuk bubur dan sendok yang sedang ku pegang. Lalu menyuapinya padaku. Astaga, aku kira aku salah memakan bubur! Aku bahkan mengira ini bubur miliknya.

"Audrey?"

"Makan aja, gue suapin. Biar makin sembuh sayang nya gue," ujar Audrey sambil terus menyuapiku dengan sesendok bubur.

Aku sedang memutuskan sesuatu. Hal yang tak pernah aku lakukan pada siapapun, bahkan ini kali pertamanya dia melakukan ini. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran Shanala. Dia hanya ingin menceritakan sebagian kisah masa lalunya kepada temannya Audrey.

"Drey, gue mau ngajak lo ke ke tempat dimana dia ada. Lo mau ikut?"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Heavy Heart

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Alya terjebak dalam keputusasaan saat ibunya, Kartika, butuh biaya medis besar dan donor organ langka. Di tengah krisis ini, Niko, pengusaha kaya yang mendambakan anak, menawarkan kesepakatan menjadi ibu pengganti demi kesembuhan Kartika. Meski ragu, Alya setuju demi nyawa ibunya. Namun, benih cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, memicu dilema emosional. Saat rahasia besar terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela mengambil risiko besar dengan mengandung anak Jeremy secara rahasia, meski ia tahu dirinya hanya dimanfaatkan. Sadar akan kekejaman Jeremy, Angela sengaja memancing amarah pria itu agar ia dilepaskan. Namun, pelariannya berakhir saat Jeremy berhasil melacak posisinya. Di ambang keputusasaan, Angela memohon kebebasan. Tak disangka, kehadiran sang buah hati justru mengubah segalanya. Jeremy yang dulu dingin kini menawarkan diri untuk melayani Angela dan bayi mereka.
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan yang hancur karena dikhianati calon istrinya nekat memaksa Zahra menikahinya demi melampiaskan rasa kecewa. Zahra pun terkejut dan menolak mentah-mentah tawaran gila tersebut. Namun, Rayhan tak menyerah dan menjanjikan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra mau menggantikan posisi mempelai wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima kesepakatan ini dan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri pengganti bagi pria dingin seperti Rayhan?
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota adalah pemuda dua puluh tahun yang sangat malas dan pengangguran. Meski cerdas dalam kelicikan, ia hanya menghabiskan waktu dengan gawainya. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam bagi ibunya, Artisa. Sebagai wanita pekerja keras yang juga memiliki sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat buruk putranya secara total. Ia menempuh metode ekstrem dengan mentransformasi fisik Sota. Berhasilkah rencana Artisa mengubah jati diri Sota melalui perubahan tubuh tersebut?
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.7
Disiksa kejam oleh penculik demi melindungi sang ayah, seorang gadis meregang nyawa dalam kesendirian. Di momen terakhirnya, panggilan teleponnya justru ditolak dengan penuh kebencian oleh ayahnya yang sedang merayakan ulang tahun putri adopsinya. Sang ayah mengutuk kelahirannya yang merenggut nyawa ibunya. Jasadnya kemudian ditemukan tragis di depan kantor polisi. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli otopsi memimpin penyelidikan tanpa menyadari bahwa korban mutilasi keji tersebut adalah putri kandung yang sangat ia benci.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan