Sampul Novel Kafan Hitam

Kafan Hitam

9.6 / 10.0
Dalam novel Kafan Hitam, Rojali menyelidiki kematian tragis penjaga makam Desa Ciboeh. Penemuan jasad tanpa kepala membawanya menghadapi kelompok Kalong Hideung dan misteri masa lalu. Simak horror novel penuh aksi ini sebagai pilihan fiction books terbaik untuk mengungkap fakta kelam.
Ringkasan Kafan Hitam
Desa Ciboeh mencekam usai Mbah Atim, sang penjaga makam, ditemukan tewas tanpa kepala. Tragedi ini memicu serangkaian teror mistis yang mengusik ketenangan warga. Rojali, seorang pemuda lulusan pesantren, bertekad membongkar misteri kematian tersebut. Penyelidikannya justru menyeretnya ke rahasia kelam masa lalu tentang warga yang hilang, kelompok misterius Kalong Hideung, dan takdir hidupnya sendiri. Di tengah kegelapan, sebuah tawaran bantuan gaib datang menghampiri.
Baca Selengkapnya

Kafan Hitam Bab 1

Desa Ciboeh, 1985

“Apa saya harus benar-benar pergi?” ujar Ujang begitu sepedanya menepi ke sisi jalan. Tangannya segera menyeka peluh di dahi dengan kain sarung yang tersampir di bahu.

Ujang menoleh ke belakang, tepatnya pada cahaya dari perkampungan yang kian meredup seiring sepeda menggerus jarak. Di sisi kiri dan kanan, terhampar persawahan yang berselimut gelap karena tengah dicumbu malam. Kakinya kembali bersiap di pedal sepeda, tetapi pikiran dan hatinya masih terkunci pada nyaman dan hangatnya kediaman.

Tatapan Ujang teralih pada pekatnya kegelapan di depan. Pria itu cukup beruntung karena petromaks yang berada di keranjang sepeda masih memberikan cahaya, berbanding terbalik dengan rembulan yang hanya mengintip di balik awan tanpa sudi membagi sinar.

“Apa saya harus benar-benar pergi?” ulang Ujang. Tubuh dan jiwanya mendambakan kasur empuk di rumah, sedang sang mertua dan istri menuntutnya agar tak pulang sebelum melaksanakan permintaan.

Ujang hanya memiliki dua pilihan malam ini. Pertama, pria itu kembali ke rumah dan langsung dihadiahi amukan mertua dan wajah masam sang istri. Kedua, ia akan selamat dari amarah penghuni rumah, tetapi harus berdamai dengan rasa takut ketika dihadapkan kengerian Mak Lilin.

Setelah menimbang, Ujang mengambil pilihan kedua. Dengan wajah setengah pucat, ia kembali mengayuh sepeda menuju kegelapan jalan di depan. Sebenarnya, Ujang tak keberatan bila Mak Lilin yang dimaksud adalah seorang wanita tua renta. Akan tetapi, realita berkata bila sebutan itu tak lain ditujukan untuk sebuah pemakaman di utara desa.

Semakin dekat ke arah tujuan, Ujang kian dibuat terengah-engah. Dadanya kembang kempis seiring bahu yang naik-turun. Pria itu berhenti tepat di depan gapura kuburan untuk menstabilkan napas. Tatapannya lantas mendongak, tepatnya pada setitik cahaya di gubuk milik penjaga makam, dan di sanalah tempat tujuannya.

“Sepertinya saya harus benar-benar pergi,” gumam Ujang sembari turun dari sepeda, kemudian menyimpan benda beroda dua itu di bawah pohon. Tak perlu takut akan dicuri, Ujang sadar kalau hanya orang bodoh yang akan menginjak tanah Mak Lilin di malam hari. Pencuri akan berpikir ribuan kali sebelum melakukan aksi.

Untuk sampai ke gubuk milik penjaga makam, Ujang harus melewati jembatan, hamparan pusara, kemudian menaiki tangga. Jaraknya tak begitu jauh dari gapura, hanya saja tekanan kawasan ini benar-benar membuat langkah melambat, berbanding terbalik dengan degup jantungnya yang kian cepat.

Bau kamboja seketika tercium ketika Ujang melumat kegelapan. Sisi kanan dan kiri dipenuhi dengan pepohonan bambu liar. Saat angin menerobos celah-celah tanaman itu, suara memekakkan akan langsung bertamu ke pendengaran.

Ujang seketika terpejam saat pekikan gagak dan dehaman burung hantu hadir menemani perjalanan. Ia bisa merasakan burung-burung itu mengamatinya di suatu tempat. Ujang tak punya nyali untuk sekadar mencari tahu. Ia hanya tak ingin saat sinar petromaks terangkat lebih tinggi, sesuatu yang tak ingin ditemuinya akan menampakkan diri.

“Mbah Atim,” ucap Ujang saat melihat siluet manusia bergerak menuju jembatan. Bukannya ketakutan, pria itu malah mempercepat langkah. Ketegangan di wajahnya sedikit mencair.

Kegelapan memudar saat Ujang sudah berada di depan jembatan. Empat buah obor menyala di tiap sisi jembatan. “Mbah, saya ingin ... minta buah delima untuk istri saya yang sedang ngidam, boleh?” tanyanya.

Pria berpakaian serba hitam itu terus berjalan, tetapi Ujang menerjemahkan sebagai anggukan persetujuan. Untuk itu, ia segera berjalan di jembatan dengan penuh kehati-hatian. Rasa takutnya tak sekentara tadi.

“Mbah,” panggil ujang saat berada di tengah jembatan. Begitu mengangkat petromaks lebih tinggi, ia sama sekali tak menemukan Mbah Atim. Namun, ia dengan jelas masih mendengar suara langkah kaki.

Begitu Ujang berhasil melewati jembatan, ia dengan tergesa-gesa menaiki gundukan tanah yang disusun menyerupai tangga. Sepintas, Ujang merasa bila ada seseorang yang tengah menatapnya. Namun, saat ia memastikan lebih jeli, nyatanya tak ada siapa pun di sana. Pemandangan yang tampak justru hamparan makam. Sialnya, tanah kuburan malah disiram cahaya rembulan yang kian memperjelas bentuk gundukan tanah dan batu nisan.

Ujang refleks menutup mulut begitu bau kamboja menyengat hidung. Sepanjang melumat tanah kuburan, ia tak berani mendongak, memilih mengikuti cahaya petromaks.

“Mbah,” panggil Ujang.

Kali ini, Ujang memberanikan diri mendongak. Ia melihat orang yang dipanggilnya sudah lenyap ditelan kegelapan begitu melewati ujung pekuburan. Pria itu mengambil napas panjang, kemudian meneruskan perjalanan.

Cahaya bulan kini terhalang oleh rimbunnya pepohonan. Suara burung dan serangga tak terdengar lagi saat Ujang mulai menaiki tangga. Suasananya teramat hening. Ujang bahkan bisa mendengar suara langkah kaki dan embusan napas sendiri. Namun, ada sesuatu yang ganjil menurut Ujang. Meski ia tengah berdiri di anak tangga terakhir dengan posisi tak bergerak, tetapi entah mengapa ia masih mendengar suara langkah kaki.

Apa mungkin ada seseorang di belakangnya?

Nyatanya tidak. Ujang hanya melihat kunang-kunang yang tiba-tiba muncul dari ujung tangga.

“Mbah.” Panggilan Ujang berbalas dehaman seseorang.

Ujang sudah berada di depan gubuk. Delima yang diminta istrinya hanya berjarak beberapa jengkal darinya. Ia lantas masuk, kemudian mulai memetik buah.

“Mbah, saya ambil tiga buah,” kata Ujang sembari menyimpan sebungkus rokok yang berisi empat batang ke atas batu di depan gubuk, “nuhun.”

Ujang menutup pintu pagar perlahan, lalu mengaitkan talinya pada paku. “Mbah—”

Mendadak wajah Ujang tertutup sarung saat angin tiba-tiba menerjang. Dedaunan ikut bergoyang karena aliran udara tadi. Pria itu kemudian melirik tempat terakhir ia melihat rokoknya. Rupanya batangan tembakau itu sudah tak berada di sana.

“Nuhun, Mbah,” ujar Ujang sekali lagi.

Ujang kembali berjalan. Namun, baru saja ia menuruni dua buah anak tangga, pintu gubuk tiba-tiba terbuka kencang. Pria itu seketika meneguk saliva, menoleh ke arah suara, lalu memilih meninggalkan bangunan itu dengan segera.

Kunang-kunang menyambut Ujang saat dirinya menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Lolongan anjing tiba-tiba terdengar entah dari mana. Tangannya menghempas kerlipan cahaya milik kumpulan kunang-kunang tersebut dengan gerakan asal. Ujang benci makhluk itu. Kata orang tua dahulu, serangga itu adalah kuku orang mati, pertanda hal buruk akan terjadi.

Ujang kembali berada di area kuburan. Tubuhnya seketika menegang ketika mendengar suara raungan yang tiba-tiba. Sontak bulu kuduknya meremang dan jantungnya berdetak cepat seperti akan meledak.

Ujang dengan gemetar mengamati sekeliling, mencari pemilik suara raungan barusan. Ia dengan cepat menutup mulut dengan sarung ketika bau bangkai menyingkirkan aroma kamboja. Perutnya serasa diaduk-aduk dan ususnya laksana diluruskan paksa.

Ujang tak peduli lagi dengan lolongan anjing atau suara raungan itu. Ia hanya ingin cepat keluar dari area pemakaman. Saat berada di pertengahan arena kuburan, Ujang akhirnya memuntahkan isi perut. Ia sampai harus berjongkok untuk lebih mudah mengosongkan perut. Ia cukup terbantu berkat pijatan seseorang di lehernya.

“Nuhun, Mbah,” ucapnya.

Saat menyadari hal yang tak semestinya terjadi, mata Ujang seketika terbelalak. Keringat dingin tiba-tiba mengucur deras. Lehernya terasa basah karena cairan kental. Ujang yakin itu bukan balsem seperti dugaan sebelumnya, tetapi ia tak sudi untuk sekadar menerka jawaban. Ia lebih memilih berdiri dan segera enyah dari kawasan ini.

Saking tergesa-gesa, Ujang tak sengaja menjatuhkan keresek yang berisi buah delima hingga isinya menggelinding ke tanah. Dua buah delima tergelatak tak jauh darinya, tetapi sisanya terlempar agak jauh. Saat akan mengambilnya, lolongan anjing kembali terdengar.

Ujang merasakan lehernya kembali basah. Namun, ia memilih untuk mengambil buah delima terakhir. Di luar dugaan, rasa mual mengocok perutnya lagi. Bau busuk kian menyengat bersamaan dengan langkahnya yang semakin dekat dengan buah delima ketiga. Rasanya seperti ada ratusan ulat bulu yang berkumpul di tenggorokan.

Napas Ujang mendadak berhenti saat buah delima itu tiba-tiba terbang ke atas. Mau tak mau matanya mengikuti pergerakan benda itu. Ia terpaksa menggigit bibir saat melihat sesosok makhluk hitam berdiri di depannya. Pria itu dengan segara menahan teriakan yang akan meledak. Di saat seperti ini, entah mengapa kakinya malah mendadak tak bisa digerakan. Sekujur tubuhnya laksana batu yang tertancap kuat. Buah delima yang lebih dahulu ia pungut malah terjatuh kembali.

Dengan sisa tenaga dan kesadaran yang ada, Ujang memunguti kembali delima dan memasukkannya ke dalam keresek. Ia berharap bila apa yang dilihatnya barusan hanyalah bayangan. Namun, saat tubuhnya sudah setengah berdiri, makhluk hitam penuh borok itu malah menyodorkan buah delima terakhir ke arahnya. Bersamaan dengan itu, nanah dan darah menetes saat sosok itu tersenyum. Hanya manusia yang sangat bodoh saja yang mau menerima pemberian dari makhluk hitam itu, pikir Ujang.

“Ju-jurig!”

Ujang seketika pontang-panting di tengah area pemakaman. Lampu petromaksnya terombang-ambing hingga nyaris padam. Sekilas, ia menengok ke belakang. Makhluk itu masih berada di tempatnya semula, memelotot dengan mata merah menyala. Saking takutnya, Ujang tak sadar menangis. Ia tak peduli lagi dengan delima yang diminta istrinya.

Ujang yang dilanda panik tak menyadari jika kain sarungnya melilit kaki. Alhasil, ia terjatuh dari atas anak tangga hingga tersungkur ke bawah. Petromaksnya mati seketika. Ujang menggeliat bak cacing kepanasan, mengaduh di sisi jembatan.

Ujang mengelus kakinya yang terkilir. Berbekal pencahayaan dua lampu minyak dan paksaan kuat, ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju jembatan. Langkahnya terkesan diseret.

Namun, kesialan Ujang nyatanya tak berhenti di sana. Jembatan kayu yang tengah ia pijak malah bergoyang-goyang karena diterjang angin. Ujang terombang-ambing di tengah jembatan.

“Ampun!” Ujang memegang kuat tali jembatan saat perantara dua jalan itu berguncang seakan hendak terbalik. Saat akan lari, kakinya malah terperosok. Berkali-kali ia berusaha menarik kaki. Namun, semakin kuat berusaha, kian dekat pula ia dengan makhluk hitam berbau busuk itu.

“Ampun!” Ujang tak berani melihat. Ia menangis sembari memeluk satu lutut, sedang satu tangannya berpegangan kuat pada tali jembatan. “Sa-saya tidak ada niatan ganggu. Jangan bunuh saya,” ucapnya gemetar.

Ujang kian menunduk dalam, sedang tangisnya semakin menjadi. Ia menyesali kepergiannya malam ini. Kalau saja kejadiannya akan seperti ini, ia lebih baik menerima wajah masam istri dan omelan mertua selama seminggu.

Ujang mendongak saat merasa bau busuk mulai menghilang. Rupanya makhluk hitam itu sudah pergi. Pria itu mencoba kembali berdiri. Namun, nahas, saat ia menarik kakinya kuat-kuat, pijakannya tiba-tiba ambruk. Dalam satu tarikan napas, tubuh Ujang terjatuh. Untungnya, ia masih mampu berpegangan pada pijakan jembatan.

“Tolong saya!” Ujang berteriak. Raganya terayun-ayun di tengah jembatan.

Namun, setelah sadar kalau ia berada di area pemakaman, Ujang hanya bisa pasrah. Dalam keputusaasaannya, pria itu melihat makhluk itu berlari ke arahnya.

Ujang sudah tak kuat untuk terus berpegangan. Tangannya mulai mati rasa. Dalam hitungan detik, jemarinya satu per satu terlepas dari pegangan hingga akhirnya raganya jatuh ke jurang yang dipenuhi tumpukan batu.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kafan Hitam

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
8.6
Pernikahan aliansi di kalangan elite memiliki aturan unik: suami boleh memiliki kekasih asal memberi kompensasi setara kepada istri sah. Dean Ramosh memegang teguh prinsip ini dengan memberi Calista Syahrina nafkah seratus kali lipat dari selingkuhannya, bahkan setelah keluarga Calista bangkrut. Saat sang kekasih mendapat rumah murah, Calista dihadiahi Vila Northcoast No. 1 yang mewah. Di tengah desakan sosial agar ia bersyukur, Calista justru meminta cerai karena merasa bosan.
Sampul Novel Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
9.3
Sepuluh tahun mencintai waliku, Bima Wijaya, berakhir tragis saat aku menyatakan perasaan di usia delapan belas. Alih-alih balasan cinta, dia justru murka dan merobek lukisan berhargaku. Keadaan kian perih ketika dia membawa Clara, tunangannya, ke rumah. Bima yang dulu melindungi kini menjadi sumber luka terdalam. Demi menyembuhkan hati yang hancur, aku memutuskan pergi ke Jakarta untuk tinggal bersama Ayah dan memulai hidup baru di Universitas Indonesia.
Sampul Novel Dibuang Suami Diratukan Boss
8.6
Delapan tahun menikah, Alya justru dikhianati suaminya sendiri karena dianggap mandul. Ia bahkan dijual kepada penguasa kota demi melepaskan beban tanggung jawab. Namun, takdir berkata lain saat Alya dinyatakan hamil setelah pertemuan malam itu. Kini ia terjebak di antara masa lalu yang menyakitkan atau memulai hidup baru dengan pria asing yang merupakan ayah biologis bayinya. Mampukah Alya menuntut keadilan atas segala penderitaan yang ia alami?
Sampul Novel Kembaran Obsesinya
8.5
Baskara Adinata menyewaku sebagai pendamping, namun cinta tulusku dibalas pengkhianatan keji. Ternyata, dia memakai teknologi deepfake untuk mengganti wajahku dengan Karininia, kakak tiriku yang ia puja. Saat Karininia memfitnahku, Baskara membiarkanku disiksa hingga tanganku hancur dan memenjarakanku. Demi warisan ibu, aku menerima tawaran ayah tiri untuk menikahi pria asing, Keenan Adiwijaya. Aku pergi menjauh demi memulihkan hidup dari pria yang menganggapku mainan.
Sampul Novel Kisah Heroik Sang Menantu
8.2
Baru sehari menikah, sang protagonis menyaksikan kekejaman di kediaman Keluarga Kuncoro saat ayah mertuanya menyiksa sang ibu mertua hanya karena persoalan makanan. Upayanya untuk melerai justru berujung pada makian, di mana ia dianggap tidak sopan dan diberi tahu bahwa kekerasan adalah cara keluarga tersebut menundukkan orang lain. Namun, saat suaminya sendiri mencoba melakukan kekerasan fisik terhadap dirinya, ia justru merasa gembira karena akhirnya bisa menunjukkan kekuatan supernya.
Sampul Novel Story On
7.8
Antologi cerita pendek ini menghadirkan beragam kisah romansa dewasa kategori 21 ke atas yang penuh gairah. Setiap bab dirancang dengan narasi intens yang mampu memicu debaran jantung pembacanya. Karena mengandung konten eksplisit yang sangat emosional dan berani, pembaca diharapkan bijak dalam menyesuaikan asupan bacaan dengan usia masing-masing. Nikmati rangkaian narasi modern yang memikat dan menggugah imajinasi dalam setiap lembaran kisahnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan