Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hati yang Kau Hancurkan Tak Bisa Kembali

Hati yang Kau Hancurkan Tak Bisa Kembali

Pasca penembakan kekasihnya, Rafael Von Ardent berambisi menghancurkan dinasti Elmore. Pemimpin organisasi gelap ini mengincar Lyra Elmore sebagai alat balas dendam. Dijadikan tawanan di The Black Fortress, Lyra ternyata tidak sombong seperti dugaannya. Ketegangan berubah menjadi ketertarikan berbahaya saat benih cinta mulai tumbuh di tengah dendam. Rafael kini terjebak antara amarah dan obsesi mematikan terhadap putri musuhnya yang seharusnya ia musnahkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, The Black Fortress terasa lebih sunyi dari biasanya.

Hujan turun deras, menampar kaca jendela besar yang menatap langsung ke halaman belakang tempat Lyra sering disuruh menjemur linen atau membersihkan taman batu. Namun malam ini, tak ada tugas yang menunggunya-karena Rafael belum memberi perintah.

Lyra duduk di lantai kamar kecilnya yang dingin, menatap secarik kertas lusuh yang baru saja ia temukan di dapur, di balik laci yang jarang dibuka. Surat tua, bertuliskan nama Amara.

Nama itu membuat dadanya sesak. Ia tahu dari percakapan para penjaga bahwa Amara adalah kekasih Rafael-perempuan yang kini koma di rumah sakit akibat peluru yang ditembakkan oleh anak buah keluarga Elmore.

"Dia menyimpan surat ini di sini..." gumam Lyra, jemarinya gemetar. Tulisan tangan di surat itu halus, lembut, tapi menyiratkan cinta yang dalam.

"Untuk Rafael, satu-satunya pria yang aku percaya bahkan ketika dunia memusuhimu."

Lyra menelan ludah. Entah kenapa, membaca itu membuat hatinya bergetar.

"Apakah aku sedang tinggal di rumah seorang pria yang masih mencintai bayangan perempuan lain?" katanya lirih.

Suara pintu terbuka tiba-tiba membuatnya terlonjak.

Rafael berdiri di ambang pintu, bersandar santai, dengan satu tangan menyelip di saku celana. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan kemeja hitamnya basah sebagian oleh hujan.

Ia menatap Lyra yang memegang surat itu.

"Lucu," ucapnya datar. "Bahkan ketika aku tidak memintamu melakukan apa pun, kau tetap mencari masalah."

Lyra refleks berdiri, menyembunyikan surat itu di balik punggungnya. "Aku... aku tidak bermaksud-"

"Letakkan," potong Rafael. Suaranya tenang, tapi tajam seperti bilah baja.

Dengan gemetar, Lyra menyerahkan surat itu. Rafael mengambilnya, menatap sekilas tulisan tangan di atasnya, lalu menyimpannya kembali ke dalam sakunya.

Beberapa detik hening berlalu. Hanya suara hujan dan detak jantung Lyra yang terdengar di telinganya sendiri.

"Kenapa kau membacanya?" tanya Rafael pelan.

"Aku... penasaran," jawab Lyra jujur. "Aku ingin tahu kenapa seseorang sekuat dirimu masih menyimpan sesuatu seperti ini."

Tatapan Rafael berubah dingin lagi. "Karena tidak semua luka bisa sembuh dengan kekuasaan."

Ia berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi menggetarkan lantai.

"Kau pikir aku ini monster tanpa hati? Kau salah, Lyra. Aku punya hati-dan keluarga kecilmu yang hancur dulu adalah alasan kenapa hatiku ini berubah menjadi besi."

Lyra menatapnya, menahan napas. "Jadi... balas dendam ini benar-benar tentang dia?"

Rafael tersenyum miring. "Kau ingin jawaban jujur? Ya. Setiap malam, aku berharap bisa menembak kepala ayahmu sendiri."

Kata-kata itu seperti pisau yang menembus jantung Lyra.

Namun yang lebih aneh, bukan hanya rasa takut yang ia rasakan, tapi juga rasa iba. Tatapan Rafael, meski penuh kebencian, tampak kosong-seperti seseorang yang kehilangan arah terlalu lama.

"Ayahku memang bukan orang suci," kata Lyra perlahan. "Tapi aku juga bukan dia. Kalau kau ingin menghancurkan keluarga Elmore, lakukan padanya. Bukan padaku."

Rafael menatapnya lama. Wajahnya mendekat, napasnya terasa di wajah Lyra. "Sayangnya, dunia tidak sesederhana itu. Kau adalah nama yang masih membawa darah Elmore. Itu cukup."

Lyra memalingkan wajah, menahan air mata.

"Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan padaku sekarang?" tanyanya pelan.

Rafael menatap lekat-lekat, lalu berkata dengan nada rendah, "Membiarkanmu merasakan apa artinya menjadi bagian dari dunia yang dulu keluargamu injak-injak."

Keesokan paginya, Lyra diseret ke ruang makan utama oleh dua pengawal. Ia mengenakan gaun abu-abu polos yang diberikan oleh salah satu pelayan tua. Meja panjang di tengah ruangan dipenuhi makanan mewah-buah-buahan segar, daging panggang, wine mahal.

Namun hanya Rafael yang duduk di ujung meja.

"Duduk," perintahnya tanpa menatap.

Lyra menunduk dan duduk di kursi terdekat. Ia tidak menyentuh makanan apa pun.

"Kenapa kau tidak makan?" tanya Rafael setelah beberapa menit.

"Aku tidak lapar," jawabnya pelan.

"Berarti kau lebih suka kelaparan?" Rafael menatapnya tajam. "Jangan berpura-pura bangga. Dunia luar tidak akan memujimu karena menolak makananku."

"Kalau aku makan dari tangan orang yang menghancurkan hidupku, apa itu tidak menjijikkan?" balas Lyra tanpa sadar.

Rafael tersenyum tipis. "Kau mulai berani bicara."

Ia meletakkan pisau dan garpu, lalu mencondongkan tubuh. "Aku suka gadis yang tidak selalu tunduk. Tapi ingat, keberanianmu hanya indah sampai aku bosan."

Lyra menatapnya balik, dengan mata merah yang penuh tekad. "Mungkin kau bisa menahanku di tempat ini, tapi kau tidak bisa menahan kebencian yang tumbuh di hatiku setiap kali melihat wajahmu."

Hening.

Tatapan mereka saling mengunci seperti dua pedang yang siap menebas.

Akhirnya Rafael berdiri. "Kebencian itu, Lyra, adalah bagian dari permainan. Peliharalah. Karena tanpa itu, aku tak akan tahu seberapa jauh batasmu sebelum kau hancur."

Ia berjalan pergi, meninggalkan Lyra dengan rasa campur aduk di dadanya. Antara ingin menampar pria itu, atau menangis karena entah kenapa-ia ingin tahu siapa Rafael Von Ardent sebelum ia menjadi iblis seperti sekarang.

Hari-hari berikutnya berjalan dalam ketegangan. Rafael tidak lagi memerintah Lyra dengan kekerasan, tapi ia membuat gadis itu sibuk dengan pekerjaan yang melelahkan: mencuci mobil, mengatur arsip di ruang bawah tanah, bahkan menyiapkan kopi untuk rapat tengah malamnya dengan anak buah.

Namun di balik semua itu, Lyra mulai memperhatikan sesuatu yang berbeda.

Setiap kali Rafael menerima laporan tentang Amara, matanya kehilangan cahaya. Ia tak pernah bicara tentang perempuan itu, tapi Lyra tahu-ada rasa bersalah yang ia pendam.

Suatu malam, Lyra mendengar teriakan dari kamar utama. Ia segera berlari, melupakan rasa takutnya.

Ketika membuka pintu, ia menemukan Rafael duduk di lantai, napasnya berat, keringat dingin membasahi pelipis. Botol whiskey pecah di dekatnya.

"Rafael!" seru Lyra, mendekat.

"Pergi!" bentaknya keras. Tapi Lyra tidak bergerak.

Ia memegang wajah Rafael, menatap mata pria itu yang penuh luka batin. "Kau bermimpi buruk, ya?"

Rafael menepis tangannya, tapi genggamannya lemah. "Aku melihatnya lagi. Amara. Ia berdiri di depan rumah sakit, dan setiap kali aku mendekat... darah muncul di dadanya."

Lyra terdiam.

Untuk pertama kalinya, Rafael tampak seperti manusia-bukan monster.

Ia menghela napas panjang. "Aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa berhenti berpikir tentang malam itu. Tentang bagaimana dia jatuh di pelukanku dengan peluru dari orang-orang ayahmu."

Suara Rafael serak, matanya merah.

"Rafael..." Lyra berbisik.

"Aku harus membalasnya," ucapnya pelan. "Tapi semakin aku melihatmu, semakin aku bingung... karena kau bukan dia, bukan mereka. Kau hanya... seseorang yang seharusnya kubenci tapi entah kenapa justru membuatku ingin berhenti."

Kata-kata itu menampar hati Lyra. Ia mematung, tidak tahu harus menjawab apa.

Rafael berdiri, berjalan ke jendela, menatap hujan.

"Pergi tidur," katanya akhirnya. "Sebelum aku berubah pikiran dan kembali menjadi iblis yang kau kenal."

Lyra mengangguk pelan, tapi langkahnya berat. Ia berhenti di ambang pintu, berbisik, "Kau sudah jadi iblis, Rafael. Tapi aku rasa, di dalam dirimu masih tersisa manusia yang berjuang melawan dirinya sendiri."

Rafael tidak menoleh. Tapi saat pintu tertutup, matanya memejam.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa takut-bukan pada musuh, tapi pada dirinya sendiri.

Malam berikutnya, Lyra mendengar kabar dari salah satu penjaga bahwa keluarga Elmore akan mengadakan konferensi pers besar-besaran untuk membersihkan nama mereka dari tuduhan Rafael.

Kabar itu membuat darah Rafael mendidih. Ia menghancurkan meja kerja dengan satu pukulan.

"Bersihkan mobil," perintahnya pada Lyra tanpa menatap. "Kita akan pergi ke London."

Lyra menatapnya, kaget. "Kita?"

"Ya," jawabnya dingin. "Aku ingin mereka melihat bahwa aku masih hidup. Dan aku ingin mereka melihat kau di sisiku-bukti bahwa balas dendamku belum selesai."

Lyra ingin menolak, tapi tatapan Rafael terlalu tegas.

Dan saat mobil hitam itu melaju menembus malam menuju London, Lyra tahu satu hal pasti-perjalanan ini akan mengubah segalanya.

Antara kebencian dan ketertarikan, antara dendam dan pengampunan-seseorang akan kalah, dan seseorang akan hancur.

Lampu-lampu kota berpendar seperti bintang-bintang yang jatuh saat mobil hitam meluncur meninggalkan tebing kastil. Jalanan basah memantulkan sorot lampu, membuat langit malam semakin berat. Rafael duduk di kursi belakang, merapat ke jendela, wajahnya tertutup bayangan—seperti biasanya. Di sampingnya, Lyra menatap keluar, rambutnya terurai, mata merah karena kurang tidur dan ketegangan. Di dalam mobil itu ada keheningan yang sama menyesakkan seperti ruang-ruang The Black Fortress.

“Kita akan tiba dini hari nanti di Heathrow,” ucap salah satu anak buah Rafael saat menundukkan kepalanya pada pria itu. “Rencana sudah tertata: kau akan hadir di konferensi pers keluarga Elmore sebagai bukti kalau mereka tak bisa mengendalikan situasi, dan kemudian kita akan… menunjukkan sisi lain dari permainan.”

Rafael mengangguk pelan. “Kita akan membuat mereka melihat apa yang telah mereka lakukan.” Suaranya datar, namun setiap kata seperti paku yang dipalu keras ke papan. “Dan aku ingin mereka takut, bukan hanya marah.”

Lyra menelan ludah. Ia tidak suka menjadi alat. Namun ada sesuatu yang lebih menekan dari perasaan itu: rasa malu. Berkeley, Kew, lalu Westminster—keduanya, keluarganya dan pria yang menculiknya, akan segera berkolaborasi di depan kamera global.

“Aku tidak ingin tampil,” bisiknya pelan. “Kau tahu itu akan jadi ajang hinaan untukku. Mereka akan memandangku seperti benda yang hilang, lalu menilai setiap gerakanku.”

Rafael menoleh, matanya menebak tajam di bawah tulang alis yang tegas. “Kau akan duduk di sampingku dan akan berperan. Kau tidak punya pilihan.”

“Kau pikir membuatku duduk di sampingmu di panggung adalah kekuasaan?” Lyra menyudutkan bibir, mencoba menyingkap argumen yang dalam. “Itu malah menunjukkan betapa putus asanya kau.”

Rafael memutar setengah senyum—senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. “Kau salah. Ini strategi. Mereka akan melihatmu, raut wajahmu, dan mengetahui betapa rapuhnya mereka karena telah menciptakan kebencian yang kini kuhidupi. Kau adalah simbol.”

Lyra menatapnya seperti ingin melemparkan cangkir kopinya ke kaca. “Aku simbol? Aku manusia, Rafael. Bukan simbol untuk dendammu!”

Anak buah yang duduk di kursi sopir hanya menunduk, tidak berani bersuara. Jalan tol melebar, mobil menempel pada kecepatan tinggi. Di dalam hati Lyra, rasa tercekik semakin kuat—sebuah kombinasi antara marah, malu, dan ketakutan nyata. Ia mengingat wajah ayahnya yang dulu, satu-satunya sosok yang pernah membuatnya merasa aman meski tak sempurna. Ia membayangkan bagaimana orang-orang akan berbisik saat melihatnya di panggung itu.

“Tuan Rafael,” ujar anak buah lain pelan, “mohon pilih pakaian yang sopan untuk Nona Elmore. Kita tidak mau ada penilaian lain selain inti pesan yang ingin Tuan sampaikan.”

Rafael mengangguk. “Biarkan dia tahu—keanggunan yang diselimuti kepahitan.”

Bandara London diselimuti kabut, dan kecemerlangan lampu reklamanya seperti mata-mata kota tak pernah tidur. Para awak media sudah menunggu: wartawan televisi, fotografer, dan beberapa pemburu gosip yang haus skandal. Di antara kerumunan, wajah-wajah haus itu menyala seperti obor.

Ketika mobil hitam berhenti, didahului dua mobil pengawal, orang-orang langsung mendekat. “Mr. Von Ardent! Mr. Von Ardent! Apakah benar Anda yang menculik putri Elmore?” teriak seorang reporter sambil mengangkat mikrofon. Kamera merekam setiap detik: langkah kaki, tatapan, bisik-bisik.

Rafael turun pertama, jasnya menutupi tubuh tegapnya. Ia berjalan tenang seperti raja yang berkeliling pada ajang eksekusi publik. Lyra mengikuti, langkahnya kaku; gaun abu-abu gelap yang dikenakannya disesuaikan agar terlihat netral—tidak terlalu kaya, tidak terlalu murahan. Rambutnya diikat rapi namun ada bekas coretan debu dan serat dari perjalanan yang membuatnya tampak lelah.

“Kau tidak perlu takut,” kata Rafael lirih saat mereka berjalan menuju area konferensi. Suaranya tersamar karena kebisingan, tapi Lyra menangkapnya. Ia menggigit bibirnya, tidak menjawab.

Di atas panggung, kursi-kursi telah disusun: keluarga Elmore berdiri di satu sisi, dengan senyum dingin yang dicapai melalui tata rias profesional. Mereka terlihat seperti patung-patung yang dilatih untuk menatap kamera. Di depan, podium dengan logo keluarga dan beberapa micro stand menunggu. Pembawa acara—seorang pria paruh baya—membuka salam, suaranya dirancang untuk menenangkan massa.

“Selamat malam, hadirin. Hari ini, keluarga Elmore mengundang Anda untuk mendengar klarifikasi...”

Waktu seakan melambat ketika Rafael dan Lyra melangkah ke panggung. Sorak kamera menyala, kilatan lampu memotret setiap kerut di dahi dan tiap bulu mata yang bergoyang. Lyra merasakan sejumlah bisik—seperti suara belati yang mengiris kulit malamnya.

Keluarga Elmore menyapa dengan senyum serbaguna. Ayahnya, Marcus Elmore, berdiri dengan postur yang menunjukkan pengalaman; wajahnya dipoles oleh kalkulasi, bukan emosi. Di sampingnya, saudara-saudaranya menatap Lyra dengan campuran rasa iri dan kepedulian yang dibuat-buat. Mata publik menilai, menimbang, dan memberikan hukuman sejak detik pertama.

Moderator mempersilakan Marcus bicara. Suaranya syahdu, penuh latihan: “Kami menghargai kehadiran semua pihak. Ada tuduhan berat yang dialamatkan—kita akan membahasnya demi nama baik keluarga.”

Rafael menatap Marcus seperti kuda pemburu menatap mangsanya. Ia melangkah ke depan ketika giliran untuk berkomentar datang. “Saya Rafael Von Ardent,” suaranya tegas. “Dua tahun lalu, kekasih saya terluka parah—oleh anak buah keluarga Elmore. Saya tidak di sini untuk menuntut uang. Saya di sini untuk menuntut keadilan.”

Sorak penonton seketika terbelah: sebagian bersorak, sebagian mencemooh. Marcus menunduk, ekspresi tak berubah. “Itu tuduhan serius,” katanya. “Jika ada bukti, laporkanlah ke pihak berwenang—tidak perlu pembalasan jalanan.”

Rafael mengangkat satu tangan, menggenggam mikrofon seperti senjata. “Hukum tidak selalu menegakkan keadilan ketika nama besar dan uang berbicara. Jadi saya hadir di sini sebagai pengingat: ketika hukum diam, kita harus mencari cara lain.”

Lyra berdiri di sampingnya, merasa seperti boneka di tangan pria yang wajahnya mengeras. Para jurnalis menyorotinya seperti ingin memeriksa tiap reaksi. Ia menatap Marcus—ayahnya bukan hanya di panggung, mata itu pun mengalirkan amarah yang berlapis-lapis. Ada sesuatu di sorot matanya yang membuat darah Lyra membeku: campuran rasa malu, malu karena dipertontonkan, dan amarah pada diri sendiri karena berada di sana.

“Lyra,” panggil seseorang dari barisan keluarga Elmore, suaranya memecah—semacam desahan yang bermasker empati. “Apa kau baik-baik?”

Lyra mengangkat kepalanya, menatap orang itu; bibirnya kering. Ia memaksakan senyum yang patah, suaranya kecil tapi jelas: “Aku baik-baik saja.”

Lampu-lampu menyala, kamera menyala. Rafael mengarahkan kata-katanya kepada publik, namun suaranya menembus benaknya sendiri: “Ini bukan hanya tentang satu insiden. Ini tentang sistem yang melindungi mereka. Dan sebagai tanda, aku membawa seseorang yang menjadi bukti nyata betapa rapuhnya citra mereka—seseorang yang mereka sakiti: Lyra Elmore.”

Bisik-bisik berubah menjadi sorot intens. Marcus menelan ludah, bibirnya menegang. Di luar, beberapa orang di kerumunan mulai berteriak sanggahan, memprotes tindakan Rafael sebagai dramatisasi. Tetapi ada pula yang menatap dengan rasa ingin tahu mengerikan—bagaimana bisa seorang pria berani menentang keluarga berpengaruh seperti itu di hadapan kamera?

Lyra merasakan tatapan jutaan mata seperti tusukan. Ia berdiri kaku, lututnya lemas, namun matanya tetap menatap Rafael—bulu roma di lengannya merinding karena campuran rasa takut dan sesuatu yang lebih rumit menyelinap di dalamnya: rasa hormat, atau mungkin pemahaman akan beratnya beban yang dipegang pria itu.

Moderator mencoba mengembalikan kendali. “Baik, kita akan membuka sesi tanya-jawab. Namun mohon tenang—”

Seorang wartawan melontarkan pertanyaan tajam: “Apakah ini sandiwara? Apakah ini bukan penculikan, melainkan kerja sama di balik layar untuk skandal?”

Suara tawa kecil menggema di sebelah panggung; beberapa orang menyindir. Rafael menatap pewawancara dengan dingin. “Sandiwara? Anda menilai dari sudut yang salah. Jika ini sandiwara, mengapa aku harus membunuh nyawanya? Jika aku ingin sandiwara, aku bisa melakukan hal lain yang lebih menguntungkan.”

Seorang perempuan di barisan belakang tiba-tiba berdiri—seorang aktivis yang beberapa tahun lalu pernah berbicara tentang kasus-kasus yang melibatkan keluarga besar. “Bagaimana Anda bisa memastikan kebenaran tanpa proses hukum?” tanyanya lantang, suaranya penuh semangat.

Rafael menatapnya sejenak, lalu mencondongkan kepala. “Kebenaran tidak hanya ada dalam berkas pengadilan. Terkadang kebenaran muncul melalui mata-wajah yang kita lukai. Saya hanya mempercepat proses itu.”

Kekisruhan meningkat. Para keluarga Elmore berbisik intens, tamu-tamu mencoba mematikan kamera, dan beberapa tamu VIP memberi isyarat pada pengawal untuk membawa acaranya keluar dari kendali publik. Marcus menutup wajahnya sejenak—tanda takut terhadap apa yang bisa dilakukan pria itu di depan publik.

Di tengah tumpukan suara itu, Lyra merasa seperti mendengar detak jarum jam yang mengukur detik-detik terakhir kebebasannya. Ia berbisik pada Rafael, hampir tanpa suara, “Kau tidak perlu melakukan ini.”

Rafael menoleh, matanya lembut sekali—sekali saja. “Kau sudah menjadi bagian dari permainan ini sejak kutarik kau keluar dari rumahmu. Sekarang, kau adalah suara yang akan membantuku menambatkan kebenaran.”

Lyra menutup mata. Ia tahu apa yang akan terjadi ketika konferensi ini usai: invasi kampanye pengacara, rumor, bahkan kemungkinan aksi hukum terhadap Rafael. Namun lebih menakutkan lagi adalah perasaan bahwa ia semakin terperangkap di dua dunia—dunia keluarganya yang rapuh dan dunia pria yang menuntut keadilan dengan caranya sendiri.

Saat acara ditutup dengan nada ketegangan, Rafael mengambil Lyra dari panggung dengan langkah tenang. Di lorong, jauh dari kamera, ia menarik napas panjang dan berkata pelan, “Kau sudah melakukannya dengan baik.”

Lyra menatapnya, memahami ada pujian tersembunyi, namun suaranya tetap dingin. “Aku tidak melakukannya karena kau memintaku. Aku melakukannya karena aku lelah dianggap tak punya pendapat.”

Rafael tersenyum samar. “Kau punya pendapat—itu berbahaya untuk mereka.”

Malam itu, ketika mereka turun kembali ke mobil yang menunggu, Lyra melihat sekilas kerumunan yang berpisah. Di antara mereka, seorang pria tua berwajah keras menatapnya panjang, matanya seperti menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa ingin tahu—sebuah rahasia yang seolah hendak ia sampaikan namun ditahan. Lyra merasakan sensasi dingin di tulang punggungnya; ia merasa bahwa aksi malam ini bukanlah titik akhir—melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Di dalam mobil, Rafael menghela napas panjang, memegang setengah gelas yang diberikan anak buahnya. “Mereka takut,” katanya pelan. “Itu sudah cukup untuk saat ini.”

Lyra menatap ke luar jendela, lalu menatap Rafael di balik bayangan. Di antara gedung-gedung London yang berkabut, dua jiwa yang bertolak belakang itu duduk berhadapan: satu memegang bara dendam, satunya lagi memendam luka dan kebimbangan. Dan di tengah gemuruh kota besar, jaringan drama yang rumit mulai menenun benang-benang yang tak mudah putus.

Malam itu, ketika mobil hitam menghilang dalam kabut, Lyra tahu satu hal—permainan ini belum selesai. Dan di ujung jalan, sesuatu yang tak terduga sedang menunggu: bukan hanya balas dendam, tapi juga pilihan yang akan menentukan siapa yang menang—dendam atau kemanusiaan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Pernikahan Sang Mafia
8.6
Gabriel Alaric menjadikan Aveline Harper alat balas dendam terhadap ayahnya, Leonard. Gadis berusia 21 tahun itu dipaksa menikah demi menebus dosa masa lalu keluarganya. Di tengah kebencian Gabriel yang dingin, terdapat rahasia kelam yang menyiksa batinnya. Aveline pun berusaha bertahan sambil memahami luka suaminya. Akankah dendam ini berakhir dengan kehancuran, atau justru cinta yang tak terduga muncul menyatukan mereka di tengah badai emosi?
Sampul Novel Istri kecil tuan mafia
8.9
Hidup Yui Miura hancur saat ia terjebak prostitusi daring dan bertemu pemimpin Yakuza yang bengis. Pria itu mengklaim Yui sebagai budak demi melunasi hutang nyawa sang ayah, Matsumoto. Meski hancur, Yui mencoba bernegosiasi dengan menawarkan rahimnya demi imbalan uang. Kesepakatan gelap ini dimulai dengan tawa sinis sang mafia, membawa mereka ke dalam malam penuh gairah yang justru menjadi awal penyesalan mendalam bagi kehidupan Yui selanjutnya.
Sampul Novel Jeratan Cinta Wanita Pendendam
9.3
Hidup Clarissa hancur sejak usia tujuh tahun setelah pamannya membantai ibu dan adiknya demi merampas harta warisan. Tak hanya kehilangan segalanya, ia pun harus menyaksikan ayahnya disiksa tanpa henti. Didorong dendam membara, Clarissa tumbuh menjadi anggota mafia demi membalas penderitaan keluarganya. Bersama pria yang dicintainya, ia menyusun rencana untuk menghancurkan sang paman. Akankah Clarissa berhasil membebaskan ayahnya dan menuntaskan misi balas dendamnya?
Sampul Novel Keturunan Terakhir!
9.5
Zha, ketua mafia Legion Of Death yang dijuluki Gadis Pecinta Asap, berambisi memburu keturunan terakhir Klan Jangkar Perak demi membalas dendam kematian ayahnya. Pencariannya hanya berbekal petunjuk tato jangkar misterius. Namun, sebuah insiden peluru mengungkap keberadaan chip manipulasi yang tertanam di tubuhnya sejak bayi. Saat chip itu diangkat, tato jangkar justru muncul di kulit Zha sendiri. Siapakah pewaris sejati yang ia cari? Zha kini harus menghadapi kenyataan pahit.
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.
Sampul Novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua
9.2
Kehilangan suami dan calon bayinya memaksa Nadira Arsyad menjadi ibu pengganti bagi anak bos mafia kejam, Rafhael Satrio. Di balik ketakutan, benih cinta muncul meski terhalang dendam. Terungkap bahwa mendiang suaminya terlibat kematian istri Rafhael, sementara Rafhael gagal menolong sang suami di saat kritis karena konflik bisnis. Kini, Nadira terjebak antara pengkhianatan masa lalu dan perasaan rumit. Akankah cinta menyatukan mereka atau justru menjadi musuh abadi?