Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hati yang Kau Hancurkan Tak Bisa Kembali

Hati yang Kau Hancurkan Tak Bisa Kembali

Pasca penembakan kekasihnya, Rafael Von Ardent berambisi menghancurkan dinasti Elmore. Pemimpin organisasi gelap ini mengincar Lyra Elmore sebagai alat balas dendam. Dijadikan tawanan di The Black Fortress, Lyra ternyata tidak sombong seperti dugaannya. Ketegangan berubah menjadi ketertarikan berbahaya saat benih cinta mulai tumbuh di tengah dendam. Rafael kini terjebak antara amarah dan obsesi mematikan terhadap putri musuhnya yang seharusnya ia musnahkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hujan malam itu turun deras seperti amarah yang ditumpahkan langit. Dari balik jendela besar di ruang kerja Rafael Von Ardent, kilat sesekali menyambar, menerangi siluet tubuhnya yang berdiri kaku menatap gelapnya pekarangan The Black Fortress.

Punggungnya tegak, tangan kirinya menggenggam segelas bourbon, sementara tangan kanan memegang sebuah amplop cokelat yang sudah basah di ujungnya. Dokumen itu baru saja dikirim oleh anak buahnya dari rumah sakit tempat kekasihnya-Serena-masih terbaring koma.

Rafael membuka amplop itu dengan gerakan hati-hati. Dalamnya terdapat hasil investigasi tambahan tentang insiden penembakan dua tahun lalu. Ia menatap setiap kata dengan rahang mengeras. Namun tiba-tiba pandangannya membeku pada satu nama-sebuah tanda tangan di bawah laporan keuangan perusahaan Elmore Industries.

"Lucas Elmore," gumamnya lirih, matanya menyipit tajam.

Nama itu seperti duri yang ditancapkan lagi ke dalam jantungnya. Lucas Elmore, ayah dari Lyra Elmore, gadis yang kini menjadi tahanannya di lantai bawah.

Ada rasa getir dan puas yang bersamaan menyelinap ke dadanya. Dendam itu terasa hidup kembali. Tapi bersamaan dengan itu, bayangan wajah Lyra-yang kini tampak pucat dan ketakutan-tiba-tiba muncul di benaknya, membuat pikirannya berantakan.

"Kenapa harus dia?" gumamnya serak, lalu meneguk minuman keras itu hingga habis.

Sementara itu, di kamar bawah tanah yang dijaga ketat oleh dua orang anak buah Rafael, Lyra duduk di sudut ruangan, mengenakan baju tidur abu-abu lusuh. Tangannya menggenggam erat kain selimut yang sudah kusut, matanya menatap kosong ke lantai. Sudah beberapa hari ia tidak diajak bicara oleh Rafael.

Perlakuan pria itu berubah drastis sejak pertemuan terakhir mereka di perpustakaan-saat ia berani melawan, menatap mata Rafael tanpa takut. Sejak itu, Rafael seperti sengaja menjauh, tapi tak membiarkannya lepas.

"Dia bukan manusia... dia monster," bisik Lyra pelan, tapi dalam suaranya ada nada goyah.

Ia mengingat kembali tatapan dingin pria itu-mata abu-abu gelap yang seolah bisa membaca isi pikirannya. Setiap kali Rafael menatapnya, jantungnya berdetak terlalu cepat, bukan hanya karena takut... tapi karena sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Suara langkah kaki berat terdengar di luar. Lyra segera bangkit, menegakkan tubuhnya, mencoba tampak kuat. Ketika pintu besi dibuka, aroma parfum khas Rafael segera menyelinap masuk-wangi kayu dan asap tembakau yang tajam.

Rafael masuk perlahan, tanpa berkata apa-apa. Ia hanya berdiri beberapa langkah darinya, memandang dari atas kepala hingga ke ujung kaki.

"Kau tampak lebih kurus," katanya akhirnya, suaranya rendah namun menusuk.

Lyra menelan ludah, menegakkan dagunya. "Sulit makan dengan nyaman ketika seseorang memperlakukanmu seperti tawanan."

Sudut bibir Rafael terangkat sedikit. "Kau memang tawanan, Lyra. Aku tidak pernah menjanjikan kenyamanan."

"Lalu kenapa kau datang ke sini malam-malam?" tanya Lyra, nada suaranya terdengar lebih berani dari biasanya. "Ingin memastikan aku belum mati?"

Rafael tertawa pelan-tawa dingin tanpa sedikit pun kehangatan. "Kau terlalu berharga untuk mati cepat. Aku butuh kau hidup cukup lama untuk melihat keluargamu jatuh."

"Dan kau pikir aku akan diam saja?" Lyra melangkah maju, meski jantungnya berdetak kencang. "Kau boleh menahanku, tapi kau tidak akan pernah bisa membuatku tunduk."

Rafael tidak bergeming. Ia hanya menatapnya lama, lalu berkata pelan, "Kau tidak tahu apa pun tentang dunia ini, Lyra. Tentang ayahmu... tentang bagaimana kekasihku hampir mati karena dosa keluarga kalian."

"Dosa?" Lyra menatapnya tajam. "Kau menculik orang tak bersalah dan menyebutnya balas dendam? Itu hanya alasan pengecut untuk menutupi luka."

Kata-kata itu seperti tamparan bagi Rafael. Matanya berkilat tajam, tapi dalam hatinya ada sesuatu yang lain-rasa sakit yang lama terkubur. Ia melangkah maju, menarik dagu Lyra hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa inci.

"Berhati-hatilah, Lyra," bisiknya. "Aku bisa saja membuatmu menyesal berkata seperti itu."

Namun Lyra tidak mundur. "Lakukan. Aku sudah tidak takut."

Udara di antara mereka menegang. Hening hanya dipecahkan oleh suara hujan di luar. Tatapan mereka saling terkunci, dingin melawan berani, tapi juga... sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Rafael akhirnya melepas dagunya perlahan, menatapnya sebentar, lalu berbalik pergi tanpa sepatah kata lagi. Tapi saat pintu tertutup, Lyra bisa melihat jemari Rafael sempat bergetar-seolah ia menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari amarah.

Beberapa hari berikutnya berjalan dalam ketegangan yang aneh. Rafael tidak lagi menemuinya, tapi ia mulai memberikan perintah agar Lyra membantu staf rumah dalam urusan dapur dan kebun.

Bagi Lyra, itu seperti siksaan terselubung-bukan karena pekerjaannya, tapi karena setiap orang di rumah itu memandangnya dengan ketakutan dan iba. Tak seorang pun berani bicara lebih dari tiga kata padanya.

Hingga suatu sore, Lyra membawa nampan teh ke ruang baca utama. Ia tak tahu Rafael ada di sana-tengah duduk di kursi kulit hitam, membaca dokumen sambil menyalakan cerutu.

"Letakkan di meja," ujarnya tanpa menoleh.

Lyra menurut. Namun saat ia hendak pergi, Rafael tiba-tiba berkata, "Aku mendapat kabar dari rumah sakit. Serena membuka matanya."

Langkah Lyra terhenti. Ia menatap punggung pria itu, bingung.

"Serena?" tanyanya hati-hati.

"Wanita yang tertembak karena keluargamu," jawab Rafael dingin. "Tapi rupanya Tuhan belum ingin membiarkanku puas. Dia sadar... tapi tidak mengenal siapa pun. Ingatannya hilang."

Nada suaranya datar, tapi Lyra bisa merasakan getaran halus di dalamnya-antara kelegaan dan kesedihan yang disembunyikan.

"Aku... turut berduka," kata Lyra pelan, tulus meski ia tahu ucapannya takkan berarti apa-apa bagi pria itu.

Rafael mendongak perlahan, menatapnya dengan pandangan tajam. "Duka tidak mengubah apa pun, Lyra. Luka tetap luka. Dan setiap luka butuh darah untuk dibayar."

Ia bangkit dari kursinya, mendekat dengan langkah berat. Lyra mundur perlahan, tapi Rafael berhenti di depan meja, menatapnya dalam.

"Mulai malam ini," ucapnya pelan, "kau tidak lagi bekerja di dapur. Kau akan tetap di sini, di ruang pribadiku. Aku ingin tahu, apakah putri Elmore cukup kuat menghadapi dunia yang pernah ia hancurkan."

Lyra mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Rafael mendekat, begitu dekat hingga napasnya menyentuh kulit leher Lyra. "Kau akan melayaniku langsung. Setiap hari. Setiap malam jika aku mau."

Lyra menahan napas, tubuhnya menegang. Tapi ia menatap mata pria itu dengan keberanian yang aneh. "Kau pikir dengan menghinaku, dendammu akan terbalas? Kau lebih kejam dari yang kubayangkan."

Rafael tersenyum samar. "Mungkin. Tapi kejam adalah satu-satunya bahasa yang kau mengerti."

Ia berbalik, berjalan menuju pintu. "Persiapkan dirimu. Mulai besok, hidupmu tidak akan sama lagi."

Saat pintu tertutup di belakangnya, Lyra memejamkan mata, menahan napas yang berat. Di dalam dadanya, ada ketakutan yang bergulung bersama rasa penasaran yang mematikan. Siapa sebenarnya pria itu? Dan kenapa hatinya bergetar setiap kali Rafael menyebut namanya dengan nada rendah itu?

Malam turun lagi. The Black Fortress kembali diselimuti badai. Di kamar pribadinya, Rafael duduk di tepi ranjang, menatap foto Serena yang tersenyum dalam bingkai perak.

Ia mengusap permukaannya pelan, lalu berbisik lirih, "Aku akan pastikan mereka semua membayar... bahkan jika aku harus kehilangan diriku sendiri."

Tapi di balik kata-kata itu, pikirannya kembali pada sosok lain-gadis bermata hijau yang berani menatapnya seolah ia bukan iblis, tapi manusia yang tersesat.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Rafael merasa takut.

Bukan pada peluru, bukan pada kematian-melainkan pada dirinya sendiri. Pada kemungkinan bahwa Lyra Elmore perlahan-lahan sedang mengguncang dinding kebencian yang selama ini ia bangun di sekeliling hatinya.

Hujan terus turun di luar, menenggelamkan dunia dalam dingin dan sunyi. Tapi di dalam benteng itu, dua jiwa yang terikat oleh dendam mulai menapaki jalan yang jauh lebih berbahaya-jalan menuju perasaan yang tak seharusnya ada.

Dan Rafael tahu, begitu ia melangkah lebih jauh... tak akan ada jalan kembali.

Pagi di The Black Fortress selalu terasa kelabu. Matahari jarang benar-benar menembus jendela kaca tinggi yang diselimuti kabut tebal. Dinding batu hitam membuat seluruh tempat itu seolah menelan cahaya—dingin, sepi, dan memerangkap siapa pun yang tinggal di dalamnya.

Lyra berdiri di depan cermin besar di kamar barunya—ruang pribadi Rafael Von Ardent. Ia masih mengenakan pakaian pelayan yang sederhana, tapi kini setiap detail ruang di sekitarnya mengingatkan bahwa ia bukan lagi hanya “tawanan” biasa. Sejak semalam, Rafael menegaskan status barunya: pelayan pribadi sang tuan.

Artinya, ia harus selalu berada di sisi pria itu—membawakan minumannya, mengatur dokumennya, bahkan memastikan pakaiannya rapi sebelum rapat.

Namun di balik itu, Lyra tahu maksud sebenarnya jauh lebih dalam. Rafael sedang mengujinya—atau mungkin menyiksanya dengan cara yang lebih halus.

Ia menatap pantulan dirinya. Wajah pucat, mata sembab, tapi di balik itu, ada api kecil yang belum padam. Aku tidak akan tunduk, batinnya. Sekalipun dia mencoba menghancurkanku.

Suara ketukan pintu memecah lamunannya. Seorang pelayan muda bernama Elise masuk, membawa baki berisi sarapan.

“Nona Lyra,” katanya gugup. “Tuan Rafael meminta Anda ke ruang makan utama setelah ini. Katanya… Anda akan menemaninya sarapan.”

Lyra mengerutkan kening. “Sarapan? Bersama dia?”

Elise mengangguk, suaranya pelan, “Itu perintah langsung.”

Begitu Elise keluar, Lyra menarik napas dalam. Setiap kali harus berhadapan dengan Rafael, dadanya berdegup tak karuan—antara takut dan marah. Ia menunduk sejenak, lalu melangkah keluar, menapaki koridor panjang yang dikelilingi lukisan-lukisan tua dan patung mencekam.

Rafael sudah duduk di ujung meja makan panjang yang bisa menampung dua puluh orang. Ia mengenakan kemeja hitam yang digulung di lengan, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Di depannya, secangkir kopi mengepul, dan selembar koran terbuka di halaman ekonomi.

Tatapan mereka bertemu ketika Lyra masuk. Mata abu-abu gelap itu langsung menelusuri setiap gerakannya.

“Duduk,” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari koran.

Lyra duduk di seberang. Keheningan meregang di udara, hanya dipecahkan suara sendok mengenai piring.

Rafael membaca dengan tenang, sementara Lyra berusaha menahan diri untuk tidak menatapnya. Tapi diam-diam, matanya sempat menangkap luka samar di pergelangan tangan Rafael—bekas sayatan lama.

“Berhenti menatapku,” ucap Rafael tiba-tiba, tanpa menurunkan koran.

Lyra terkejut, pipinya memanas. “Aku tidak—”

“Bohong,” potongnya. Ia menutup koran, lalu menatap langsung ke matanya. “Kau memandangiku seperti seseorang yang mencoba memahami iblis. Jangan repot-repot, Lyra. Aku tidak bisa dipahami.”

Nada suaranya begitu datar, namun di baliknya ada sesuatu yang lebih dalam—lelah.

Lyra menggenggam sendok erat-erat. “Aku tidak berusaha memahamu. Aku hanya ingin tahu... kenapa seseorang yang katanya kuat, masih hidup dari amarah masa lalu?”

Rafael menatapnya lama. “Kau benar-benar tidak tahu kapan harus diam.”

“Kalau diam hanya membuatku makin hancur, aku memilih bicara,” balas Lyra dengan nada pelan tapi tegas. “Kau berpikir menahanku akan membuatmu tenang? Tidak. Kau hanya menggali kuburan baru untuk hatimu sendiri.”

Ucapan itu membuat Rafael membeku sesaat. Lalu ia tertawa pelan—dingin, tapi kali ini ada getirnya.

“Kau berani sekali,” katanya sambil berdiri. Ia berjalan mengitari meja, berhenti tepat di belakang Lyra. “Tapi aku suka keberanian itu. Karena semakin tinggi kau berdiri, semakin keras kau akan jatuh.”

Ia meletakkan tangannya di bahu Lyra, membuat gadis itu menegang.

“Kau tahu kenapa aku memilihmu?” bisiknya di telinga Lyra. “Karena kau adalah simbol dari keluarga yang merenggut segalanya dariku. Setiap napasmu adalah pengingat dari dosa mereka.”

“Tapi aku bukan mereka,” sahut Lyra cepat.

Rafael terdiam. Lalu dengan lirih ia berkata, “Tidak. Tapi wajahmu… selalu mengingatkanku pada Serena.”

Jantung Lyra berhenti sejenak. “Serena... kekasihmu?”

Rafael mundur, pandangannya kosong. “Dia satu-satunya hal yang kucintai. Dan dia hampir mati karena ayahmu.”

Lyra ingin mengatakan sesuatu, tapi Rafael sudah berbalik, meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata lagi.

Sepeninggal Rafael, Lyra menatap kursi kosong di seberangnya. Hatinya campur aduk—antara iba, takut, dan benci. Ia tahu pria itu menyimpan luka yang dalam, tapi mengapa harus menimpakan semuanya padanya?

Meski begitu, dalam hati kecilnya, ia mulai memahami sesuatu: Rafael Von Ardent bukan hanya iblis. Ia manusia yang sedang tenggelam dalam nerakanya sendiri.

Hari itu berlalu dengan cepat. Rafael mengurung diri di ruang kerja, sementara Lyra diperintahkan mengatur dokumen dan mengurus kebutuhan harian. Saat malam tiba, hujan turun deras, membasahi seluruh pekarangan.

Lyra tengah menyiapkan teh di dapur kecil saat Elise datang tergesa-gesa.

“Nona Lyra! Tuan Rafael—dia terluka!”

Lyra terkejut. “Apa? Di mana dia?”

“Di ruang pelatihan bawah! Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia menyuruh semua orang keluar. Darahnya banyak sekali!”

Tanpa pikir panjang, Lyra berlari. Jantungnya berdegup kencang. Ia menuruni tangga ke ruang bawah tanah tempat Rafael biasa berlatih menembak dan bertarung. Pintu besi besar terbuka sedikit, cahaya lampu temaram menerobos keluar.

Begitu masuk, Lyra terpaku. Rafael duduk di lantai, bertelanjang dada, bahunya berdarah, dan di tangannya masih tergenggam pistol. Di sekitarnya, botol bourbon pecah berserakan.

“Apa yang kau lakukan?!” seru Lyra, mendekat panik.

“Latihan,” jawabnya dingin, meski napasnya tersengal. “Sedikit meleset.”

“Kau butuh dokter!” Lyra berlutut, menekan luka di bahunya dengan kain. Darah hangat mengalir di tangannya.

Rafael menatapnya dengan mata kelam. “Kau takut melihat darah?”

“Tidak. Tapi aku takut kau mati dalam keadaan seperti ini—sendirian, penuh kebencian.”

Ucapan itu membuat Rafael terpaku. Tatapan matanya yang tajam sedikit melunak.

Lyra menatap wajahnya dekat-dekat, melihat keringat dan darah bercampur. “Kau tidak bisa terus hidup seperti ini, Rafael. Luka tidak akan sembuh jika kau terus menyiksanya.”

Untuk sesaat, Rafael hanya diam. Tapi kemudian ia menepis tangannya perlahan, menatap dengan sorot yang tak bisa dibaca.

“Kenapa kau peduli?”

Lyra menggigit bibir. “Karena aku bukan monster sepertimu.”

Hening kembali merayap. Namun kali ini, udara di antara mereka terasa berbeda—lebih berat, tapi juga lebih jujur.

Rafael menghela napas panjang, lalu berdiri perlahan. “Pergilah,” katanya akhirnya. “Aku tidak butuh belas kasihanmu.”

Lyra menatapnya sejenak, lalu bangkit, tapi sebelum keluar, ia menoleh. “Aku tidak mengasihanimu. Aku hanya tidak ingin membencimu lebih dari yang sudah kulakukan.”

Malam itu Lyra tidak bisa tidur. Setiap kali menutup mata, ia teringat tatapan Rafael saat terluka tadi—bukan tatapan iblis, tapi manusia yang remuk di dalam. Ia berguling di tempat tidur, menatap langit-langit gelap.

Kenapa aku mulai peduli? pikirnya. Dia menculikku, mempermalukanku… tapi kenapa setiap kali dia terluka, hatiku ikut sakit?

Di sisi lain benteng, Rafael juga terjaga. Bahunya diperban seadanya, tapi pikirannya jauh lebih sakit. Ia menatap foto Serena di meja kecil di samping tempat tidur.

“Aku tidak boleh lemah,” bisiknya. “Aku tidak boleh membiarkan dia mengguncangku.”

Tapi bayangan Lyra—mata hijaunya yang memantulkan kekhawatiran tulus—tak mau pergi. Ia menutup matanya dengan kasar, tapi semakin ia mencoba mengusir bayangan itu, semakin kuat wajah Lyra muncul.

Ia bangkit, menatap dirinya di cermin. “Kau mulai kehilangan arah, Rafael,” ujarnya pada pantulan sendiri. “Dia bukan Serena. Dia musuhmu.”

Namun hatinya menolak kalimat itu.

Beberapa hari berlalu. Rafael kembali pulih, tapi suasana di antara mereka berubah. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada kemarahan berlebih. Ia mulai berbicara dengan nada datar tapi tenang, bahkan sesekali meminta pendapat Lyra soal hal-hal sepele—kopi, tata letak dokumen, bahkan musik yang diputar di ruang kerja.

Suatu sore, saat mereka berdua berada di ruang perpustakaan, Lyra berdiri di tangga kecil, mencoba meraih buku di rak paling atas. Rafael, yang tengah membaca di kursi, memperhatikan dalam diam.

Tiba-tiba tangga itu goyah.

“Lyra!” serunya, berdiri cepat. Tapi terlambat—gadis itu kehilangan keseimbangan.

Dalam sepersekian detik, Rafael menangkap tubuhnya sebelum membentur lantai. Pelukan itu erat, napas mereka bertemu. Waktu seolah berhenti.

Lyra membuka mata, melihat wajah Rafael begitu dekat. Detak jantungnya berlari liar. Rafael menatap balik—tajam tapi juga bimbang. Tangannya masih memeluk pinggang Lyra, dan untuk pertama kali sejak mereka bertemu, tidak ada kebencian di mata itu—hanya keheningan yang membingungkan.

“Terima kasih,” bisik Lyra akhirnya.

Rafael tidak menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik lagi sebelum perlahan melepaskannya.

“Berhati-hatilah,” ucapnya singkat, lalu berbalik.

Namun saat ia melangkah pergi, Lyra tahu—ada sesuatu yang berubah.

Dinding dingin di antara mereka mulai retak.

Malam itu, Rafael berdiri di balkon kamarnya, menatap bulan setengah yang menggantung di langit kelam. Angin membawa aroma laut dan hujan yang baru reda.

Ia memejamkan mata, mengingat kata-kata Lyra, tatapannya, keberaniannya, bahkan kelembutannya.

“Serena… apa aku sudah mengkhianatimu?” bisiknya.

Namun di dalam hatinya, suara lain berbisik:

Mungkin bukan cinta yang mengkhianatimu, Rafael. Mungkin dendam yang telah membuatmu buta.

Ia menatap ke arah jendela kamar di seberang—tempat Lyra mungkin sedang tidur, atau mungkin juga tidak bisa memejamkan mata seperti dirinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rafael Von Ardent merasa hatinya berdebar bukan karena amarah... tapi karena rasa yang lebih menakutkan dari itu—rasa yang bisa menghancurkan seluruh pertahanannya.

Sementara di kamar seberang, Lyra memandangi hujan sisa yang menetes di kaca jendela. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang, lalu berbisik lirih pada dirinya sendiri.

“Aku benci dia… tapi kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya?”

Malam pun larut dalam diam.

Di benteng batu hitam itu, dua hati yang terikat oleh dendam kini mulai didekap oleh sesuatu yang jauh lebih rumit—perasaan yang, jika dibiarkan tumbuh, bisa menelan mereka berdua dalam api yang sama sekali berbeda dari amarah: api cinta yang terlarang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Pernikahan Sang Mafia
8.6
Gabriel Alaric menjadikan Aveline Harper alat balas dendam terhadap ayahnya, Leonard. Gadis berusia 21 tahun itu dipaksa menikah demi menebus dosa masa lalu keluarganya. Di tengah kebencian Gabriel yang dingin, terdapat rahasia kelam yang menyiksa batinnya. Aveline pun berusaha bertahan sambil memahami luka suaminya. Akankah dendam ini berakhir dengan kehancuran, atau justru cinta yang tak terduga muncul menyatukan mereka di tengah badai emosi?
Sampul Novel Istri kecil tuan mafia
8.9
Hidup Yui Miura hancur saat ia terjebak prostitusi daring dan bertemu pemimpin Yakuza yang bengis. Pria itu mengklaim Yui sebagai budak demi melunasi hutang nyawa sang ayah, Matsumoto. Meski hancur, Yui mencoba bernegosiasi dengan menawarkan rahimnya demi imbalan uang. Kesepakatan gelap ini dimulai dengan tawa sinis sang mafia, membawa mereka ke dalam malam penuh gairah yang justru menjadi awal penyesalan mendalam bagi kehidupan Yui selanjutnya.
Sampul Novel Jeratan Cinta Wanita Pendendam
9.3
Hidup Clarissa hancur sejak usia tujuh tahun setelah pamannya membantai ibu dan adiknya demi merampas harta warisan. Tak hanya kehilangan segalanya, ia pun harus menyaksikan ayahnya disiksa tanpa henti. Didorong dendam membara, Clarissa tumbuh menjadi anggota mafia demi membalas penderitaan keluarganya. Bersama pria yang dicintainya, ia menyusun rencana untuk menghancurkan sang paman. Akankah Clarissa berhasil membebaskan ayahnya dan menuntaskan misi balas dendamnya?
Sampul Novel Keturunan Terakhir!
9.5
Zha, ketua mafia Legion Of Death yang dijuluki Gadis Pecinta Asap, berambisi memburu keturunan terakhir Klan Jangkar Perak demi membalas dendam kematian ayahnya. Pencariannya hanya berbekal petunjuk tato jangkar misterius. Namun, sebuah insiden peluru mengungkap keberadaan chip manipulasi yang tertanam di tubuhnya sejak bayi. Saat chip itu diangkat, tato jangkar justru muncul di kulit Zha sendiri. Siapakah pewaris sejati yang ia cari? Zha kini harus menghadapi kenyataan pahit.
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.
Sampul Novel Pahitnya Menjadi Pilihan Kedua
9.2
Kehilangan suami dan calon bayinya memaksa Nadira Arsyad menjadi ibu pengganti bagi anak bos mafia kejam, Rafhael Satrio. Di balik ketakutan, benih cinta muncul meski terhalang dendam. Terungkap bahwa mendiang suaminya terlibat kematian istri Rafhael, sementara Rafhael gagal menolong sang suami di saat kritis karena konflik bisnis. Kini, Nadira terjebak antara pengkhianatan masa lalu dan perasaan rumit. Akankah cinta menyatukan mereka atau justru menjadi musuh abadi?