Sampul Novel Hasrat Terlarang dengan Atasan

Hasrat Terlarang dengan Atasan

8.8 / 10.0
Dalam novel modern Hasrat Terlarang dengan Atasan, Venina terjebak skandal usai malam terlarang bersama Erlangga. Di balik kemewahan billionaire romance novels ini, Venina harus menghadapi konsekuensi saat Erlangga bimbang memilihnya atau masa lalu. Baca kisah lengkapnya di web novel ini.
Ringkasan Hasrat Terlarang dengan Atasan
Hidup Venina Anastasya berubah drastis setelah satu malam terlarang dengan atasannya, Erlangga Krisdiantoro. Terjebak dalam pesona pria itu, Venina mengabaikan kenyataan bahwa Erlangga telah memiliki wanita lain. Hubungan penuh gairah ini mengancamnya dengan skandal besar, namun ia tak berdaya melepaskan diri. Di sisi lain, Erlangga bimbang memilih Venina atau kekasih lamanya yang kembali. Apakah Venina hanya pelarian sementara tanpa ada cinta sejati bagi Erlangga?
Baca Selengkapnya

Hasrat Terlarang dengan Atasan Bab 1

"Jangan, Pak...," bisik Venina dengan suara gemetar, tetapi suaranya tenggelam dalam keheningan ketika bibirnya dipagut kasar oleh Erlangga. Seolah mematikan segala keberatan yang hendak diutarakan.

Tubuh Venina bergetar, tak hanya oleh sentuhan kasar atasannya itu, tetapi juga oleh rasa takut yang melumpuhkannya. Aroma alkohol semakin terasa menusuk, merayap ke dalam setiap pori-porinya. "Maafkan aku, Lia," bisik Erlangga di tengah-tengah serangkaian ciuman yang ganas.

Tapi aku bukan Lia, teriak Venina dalam hatinya. Tenaganya terasa habis saat itu juga. Sementara lututnya lemas, seperti tak bertulang. 

Tiba-tiba dia menyesali keputusannya untuk memeriksa ruang atasannya sebelum pergi tadi. Seharusnya dia langsung pulang ketika sudah mengambil ponselnya yang tertinggal. Bukannya malah sibuk mencari tahu kenapa lampu di ruangan pria itu masih menyala.

"Jangan tinggalkan aku, Lia," gumam Erlangga dengan suara yang hampir putus asa, namun dipenuhi oleh hasrat yang meluap-luap.

"S-saya… saya… Venina, Pak," suara gemetar itu terdengar lirih, hampir tenggelam oleh deru nafas Erlangga yang bergelora. Entah atasannya itu bisa mendengarnya atau tidak. Yang bisa Venina lakukan hanyalah memejamkan matanya, berharap pria itu menyadari siapa dirinya. 

Namun, harapannya pupus ketika Erlangga mendorongnya ke dinding, membelenggu pergelangan tangannya ke atas. Satu tangannya yang bebas dengan gegabah melemparkan kacamatanya dan mengurai rambutnya.

Venina menggelengkan kepalanya, menolak keras saat merasakan tangan Erlangga menyelinap di balik blusnya yang longgar. “Saya mohon, Pak. Tolong jangan lakukan ini,” pintanya dengan susah payah. Namun, semuanya sia-sia, karena pria itu tak menghiraukannya.

Dengan gerakan yang cepat dan kasar, Erlangga melucuti pakaian Venina, menelanjangi tubuhnya tanpa ampun. Dipandanginya tubuh wanita itu dengan penuh kekaguman. “Tubuhmu semakin indah, Lia,” bisiknya sebelum melepas pakaiannya sendiri. 

"Pak Angga—" Venina mencoba memanggil namanya, membuat Erlangga menoleh sejenak. Namun, pandangannya buram, dan dia kembali menyerbu bibir wanita itu dengan ciuman liar.

"Sabarlah, Sayang," desah Erlangga, mencoba meredakan kegugupan yang melanda Venina. Bibir Erlangga kembali merengkuh bibirnya, sementara tangannya menjelajahi setiap lekuk tubuhnya. 

Venina terkesiap, kilatan petir dan hujan deras di luar seolah membingungkan pikirannya, meredakan suara lenguhannya. Seharusnya dia melawan lebih keras, bukan malah terbius pesona atasannya yang sejak lama dikaguminya.

Ketika Erlangga menuntunnya ke sofa, Venina hanya bisa menggantungkan kaki dan tangannya di tubuh pria itu. Dalam keadaan pengap dan panas yang mengaburkan pikirannya, dia hanya mampu mengucapkan nama pria itu.

“Oh, Lia…!” Erangan kenikmatan yang keluar dari bibir Erlangga menyadarkan Venina dari lamunan buruknya. Kesadaran pahit melanda saat menyadari bahwa bukan dirinya yang ada dalam benak pria itu. Dan sekarang, semuanya sudah terlambat. Dia sudah menyerahkan sesuatu yang paling berharga tanpa perlawanan yang berarti.

***

Venina terbangun keesokan paginya dan menemukan dirinya sudah berada di dalam kamarnya dengan rasa sakit yang terasa asing di sekujur tubuhnya. 

Dia sudah tidak mau mengingat bagaimana caranya pulang semalam. Karena bayangan percintaan yang panas dengan atasannya itu lebih dulu menyeruak dalam benaknya. Membuat wajahnya panas seketika. 

“Dasar bodoh! Kenapa harus menggali lubang kubur sendiri, sih?” umpatnya pada dirinya sendiri. Diremasnya rambutnya dengan kasar. Berharap ingatan itu segera hilang. 

Venina memaklumi bahwa keadaan Erlangga yang mabuk berat pada malam itu bisa menjadi alasan sebagian besar untuk apa yang terjadi. Tetapi rasa bersalah yang merayap di dalam dirinya tidak bisa diabaikan begitu saja. Dia tahu, bahkan dalam keadaan seperti itu, tidak seharusnya dia menikmati percintaan itu.

Dia tahu perasaan itu sangatlah keliru. Erlangga adalah atasannya. Dan Venina harus melupakannya.

Bodoh, bodoh, bodoh!

Venina turun dari ranjangnya dengan lemah. Dia melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. 

Beberapa saat kemudian, Venina keluar setelah selesai bersiap. Butuh waktu lebih lama baginya untuk menyiapkan diri. Terlebih dia harus menyamarkan beberapa tanda percintaan di lehernya. “Nina pergi ya, Bu,” pamitnya ketika ibunya muncul dari arah dapur.

“Loh, kamu nggak sarapan dulu, Nina?” Nadia menghampiri putrinya dengan kerutan di keningnya. 

“Nggak sempat, Bu. Nina kesiangan bangunnya,” sahutnya sambil mencium pipi ibunya.

“Lembur lagi semalam?” tanya Nadia dengan penuh perhatian. 

Venina hanya bisa menggigit bibirnya sambil menganggukan kepalanya pelan. Dia tidak berani menatap mata ibunya. 

Nadia menghela napas berat sembari mengusap rambut putrinya dengan lembut. “Maafkan Ibu ya, Nina. Ibu nggak bisa bantu apa-apa untuk meringankan bebanmu.”

Mata Venina berembun, tetapi dia menahan diri agar air matanya tidak menetes. Dia berharap agar ibunya tidak mengetahui apa yang telah terjadi semalam. Kesalahannya akan menjadi beban yang terlalu berat bagi Nadia.

"Sudahlah, Bu. Sudah tugas Nina untuk membahagiakan Ibu dan Gina," kata Venina setelah beberapa saat hening.

Namun, bayangan malam sebelumnya terus menghantui pikirannya. Ketika Nadia mencoba memperpanjang percakapan, Venina memotongnya dengan cepat.

"Maaf, Bu, Nina harus buru-buru. Takut telat kalau kelamaan ngobrol," ujarnya sambil memeriksa jam tangannya dengan cepat. "Ibu tenang aja. Nanti Nina sarapan di kantor."

Secepat kilat Venina berlalu dari hadapan ibunya. Dia takut wanita itu menyadari kesalahannya jika tidak segera menyingkir. 

Sepanjang perjalanan ke kantor, Venina terus merapalkan doa-doa kecil, berharap agar hari ini tidak ada yang mengingatkan Erlangga pada malam sebelumnya. Namun, ketika disadari ada sesuatu yang berbeda, jantungnya berpacu lebih cepat. 

Kacamatanya. Bagaimana mungkin dia bisa begitu ceroboh melupakannya?

“Tamatlah sudah riwayatmu, Nina! Kau memang bodoh!” umpatnya lagi sambil mempercepat langkahnya. 

Namun, semuanya sudah terlambat. Ketika dia sedang menggeledah ruangan Erlangga. Tiba-tiba pria itu muncul di ambang pintu dan Venina tersentak dengan napas terengah-engah. Sudah tidak ada lagi harapan baginya untuk lolos.

"Sedang mencari sesuatu?" suara dingin Erlangga membuyarkan keheningan. Venina menoleh, menemukan pria itu menatapnya dengan tajam.

“Saya… saya….” Venina kesulitan bicara, menatap Erlangga dengan perut terlilit. Pria itu tampil segar dan menawan, membuatnya sulit berkonsentrasi. Dia berusaha fokus, mengusir bayangan tubuh pria itu yang sangat menggoda dari benaknya.

Erlangga mendekatinya dengan langkah pasti, menimbulkan rasa ketidaknyamanan yang semakin menggelayuti Venina. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin mengambil dokumen ini," ujarnya gemetar, mengangkat sebuah file dari atas meja atasannya itu.

Erlangga menatapnya dengan tajam. "Kamu yakin?"

Venina mengangguk, merasa semakin takut dengan setiap detik yang berlalu. Dia ingin pergi dari situ secepat mungkin.

“Kenapa harus terburu-buru?” Venina tercengang mendengar pertanyaan itu. Langkahnya terhenti sebelum mencapai pintu.

“Saya… saya harus bekerja, Pak.” Venina berusaha menyudahi percakapan, memalingkan wajahnya saat merasakan tatapan intens Erlangga.

Erlangga terdiam sejenak, lalu tiba-tiba menariknya dan mendorongnya ke dinding. Venina menahan napas, menggenggam erat berkas di tangannya. 

“Bagaimana kamu bisa bekerja tanpa menggunakan ini?” Venina membuka mata saat merasakan kacamatanya kembali di wajahnya. 

Venina menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mengalihkan pandangannya, mencoba menenangkan diri saat menyadari betapa dekatnya Erlangga padanya.

Namun, Erlangga tidak berhenti di situ. Dia semakin merapatkan tubuhnya ke arah sekretarisnya itu. “Bisa kamu jelaskan kenapa benda itu ada di ruangan saya?” suara itu terdengar dingin. 

Venina hanya bisa menggelengkan kepalanya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya ketika  Erlangga mendekat lagi sampai wajah mereka sangat dekat. 

“Ada sesuatu yang mau kamu jelaskan pada saya, Nina?” 

Keheningan langsung menyelimuti ruangan itu. Dan Venina merasakan pandangan Erlangga tidak terlepas dari wajahnya sedetik pun. Membuatnya semakin sulit bernapas. Terlebih setelah mendengar pertanyaannya.

“Kalau begitu biar saya yang bertanya?” Venina merasakan napas Erlangga di wajahnya, menyadari bahwa dia tidak akan bisa melarikan diri dari kenyataan yang membelenggunya. “Apa kamu wanita itu?” desis pria itu dengan tegas.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Hasrat Terlarang dengan Atasan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Calon tunanganku yang direbut adik angkatku
8.2
Setelah bereinkarnasi, aku tidak lagi menjadi gadis lemah yang bisa ditindas. Saat Maudy, anak angkat di keluargaku, mencoba merebut Felix dan mempermalukanku di hari pemotretan pernikahan, aku memilih untuk melawan. Dengan keberanian baru, aku menamparnya dan mempertanyakan haknya atas calon tunanganku serta posisinya di Grup Setiawan. Kisah pengkhianatan, cinta, dan pembalasan dendam ini penuh dengan intrik keluarga kaya yang menuntut keadilan.
Sampul Novel Empat Puluh Sembilan Buku, Satu Perhitungan
9.2
Baskara menukar perselingkuhannya dengan buku langka. Empat puluh sembilan kali ia berkhianat, dan sebanyak itu pula aku bungkam. Namun, saat ia mengabaikan ayahku demi membelikan Jelita apartemen dan membiarkan selingkuhannya menodai taman kenangan ibuku, segalanya berakhir. Baskara bahkan membocorkan duka keguguranku pada wanita itu. Kini, sebagai ahli strategi politik, aku memasang penyadap. Buku kelima puluh bukan lagi permintaan maaf, melainkan kehancuran kariernya.
Sampul Novel Jatuh Dalam Pesona Playboy
8.0
Claire Wilson ingin mengejar karier setelah lulus kuliah, namun sang ayah justru menjodohkannya dengan anak rekan bisnis. Menolak rencana itu, Claire bertemu Jayden Kim, model tampan asal Korea yang dikenal sebagai playboy kelas kakap. Mereka pun menjalin hubungan tanpa status yang singkat namun mendalam bagi Claire. Saat kontrak kerja Jayden di New York berakhir, ia memilih pergi demi prinsipnya yang anti cinta. Mampukah Claire meluluhkan hati pria yang alergi komitmen itu?
Sampul Novel Last Twilight
8.5
Senja Aluna tidak pernah mengerti alasan orang tuanya bersikap dingin dan mengabaikannya. Kondisi sang adik yang sakit parah justru membuat Senja menjadi sasaran kemarahan Bunda. Tanpa kasih sayang keluarga, hanya Dilan sang sahabat yang setia melindunginya. Namun, saat takdir mengancam menjauhkan Dilan, Senja kehilangan arah. Ia hanya mendambakan pelukan dan perhatian tulus dari Bunda sebelum segalanya terlambat. Mampukah keinginan sederhana itu terwujud?
Sampul Novel Nelangsa TAKDIR
8.7
Pertemuan kembali setelah belasan tahun memicu obsesi gelap bagi Caleb. Saat Eddith gagal mengingat masa lalu mereka, kebahagiaan Caleb berubah menjadi kekejaman yang tak terduga. Pria tanpa belas kasihan itu kini menguasai hidup Eddith sepenuhnya. Meski Eddith berusaha melawan dan menolak, hasrat Caleb justru semakin membara. Di bawah ancaman rasa sakit yang lebih hebat, Eddith terjebak dalam cengkeraman takdir pria yang kini ia sebut sebagai seorang bajingan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan