Sampul Novel Wanita Simpanan Tuan Presdir

Wanita Simpanan Tuan Presdir

9.1 / 10.0
Demi biaya rumah sakit ibu dan membalas dendam pada saudara tirinya, Camelia Wiguna terpaksa menjadi wanita simpanan Kenan Putra Abimana. Kenan adalah CEO kaya sekaligus tunangan adik tiri Lia yang menderita gangguan gairah misterius. Hanya setelah satu malam bersama Lia, penyakit Kenan mendadak sirna. Kenan pun bersedia membayar mahal agar Lia membantunya sembuh sebelum pernikahan resminya tiba. Akankah cinta tumbuh di tengah pengkhianatan ini?

Wanita Simpanan Tuan Presdir Bab 1

"Halo. Apakah ini benar dengan Bapak Kenan Putra Abimana?" tanya seorang wanita melalui ponsel pintar dengan brand ternama milik seorang CEO Muda A&G Groups yang memiliki gurita bisnis terbesar di negeri ini. Meskipun usianya baru genap tiga puluh tahun. Kenan sudah berhasil mengembangkan bisnis keluarganya hingga memiliki berbagai cabang bisnis yang berbeda. Mulai dari real estate, departemen store, restoran hingga penginapan kelas bintang lima yang tersebar dimana-mana.

"Ya. Benar. Siapa ini? Kenapa anda menggunakan ponsel Jovanya?" tanyanya cepat.

"Saya pelayan di One Night Club hanya ingin mengabarkan jika tunangan anda sedang berada disini dalam kondisi yang sangat mabuk. Dia ditinggal sendirian oleh teman-temannya yang sudah dijemput oleh pacar masing-masing," balas wanita itu.

"Apa? Baiklah. Nanti saya kirim orang untuk menjemputnya," timpal Kenan enteng. Namun, sebelum dia menutup sambungan teleponnya wanita itu kembali berkata.

"Dia hanya ingin dijemput olehmu, Tuan. Makanya sejak tadi dia menolak pulang bersama teman-temannya."

"Ish. Menyusahkan sekali wanita ini. Baiklah. Aku akan datang," timpal Kenan dengan nada sedikit marah.

"Terima kasih, Tuan." Tut. Sambungan terputus.

"Bagaimana? Dia mau kan datang kesini?" tanya Jovanya antusias. Pelayan itu pun tersenyum lalu mengangguk mantap.

"Yeeee," sorak Jovanya dan teman-temannya.

"Kalau begitu sekarang kamu harus siap-siap. Cepat pura-pura mabuk! Biar dia tidak curiga," ujar temannya.

"Iya. Kita pergi dulu ya! Inget kamar hotelnya, kan? Jangan lupa kasih Kenan minuman itu juga!" tambah yang lain.

"Iya-iya. Aku masih ingat semuanya kok. Udah sana kalian pergi. Nanti keburu Kenan datang malah hancur semua rencanaku," usir Jovanya.

"Iya-iya. Kita pergi dulu ya. Bye!"

"Bye!" Setelah cipika-cipiki kedua teman Jovanya pun segera meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan pelayan tadi. Tak lama berselang Kenan datang. Seperti rencananya Jovanya pun langsung pura-pura teler.

"Ayo, kita pulang!" ajak Kenan sambil meraih tangan Jovanya untuk dipapah meninggalkan tempat itu. Namun, Jovanya malah menggeleng sambil meraih gelas wine yang ada di meja itu.

"Kau harus mencoba minuman ini, Ken. Kau pasti akan menyukainya," kata Jovanya sambil pura-pura mabuk.

"Nggak-nggak! Aku lagi nggak ingin minum," tolak Kenan sambil mendorong gelas kecil itu. "Lebih baik kita pulang saja!"

"No. No. No. Aku tidak akan kemana-mana sebelum kau mencicipi minuman ini. Ayo, Kenan sekali saja!" ujar Jovanya. Dia menyodorkan gelas itu ke depan mulut Kenan.

"Aku nggak mau mabuk, Jo? Aku harus nganterin kamu pulang."

"Ini cuma segelas kecil, Ken. Kamu nggak akan mabuk. Ayolah, Ken!" bujuk Jovanya sambil pura-pura tidak sadar. Awalnya Kenan terus menolak, tapi akhirnya dia menenggak minuman itu. "Yeee. Enak, kan?" seru Jovanya. Kenan tak menjawab. Mendadak kepalanya terasa sangat berat.

"Ayo, kita pulang sekarang!" ajak Kenan. Sambil memapah tubuh Jovanya yang pura-pura lemas. Kenan berjalan keluar. Namun, baru saja melewati pintu masuk ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.

"Ken. Kamu tidak apa-apa?" tanya Jovanya berakting polos.

"Kenapa mendadak udara sangat panas sekali?" gumam Kenan. Sambil mengibaskan bagian depan kemejanya.

"Mungkin kau merasa tidak enak badan. Lebih baik kita cari hotel terdekat saja. Ayo!"

Hingga detik ini rencana Jovanya terbilang sukses. Apalagi obat perangsang itu bekerja semakin baik saat mereka sudah sampai di kamar hotel. Jovanya meletakkan tubuh Kenan ke atas ranjang yang empuk. Lelaki itu tanpa sadar langsung membuka kancing kemejanya yang paling atas. Jovanya tersenyum penuh kemenangan.

"Malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya, Ken," gumam Jovanya. Dia melepaskan dress ketatnya hingga menyisakan pakaian dalamnya saja. Kemudian dengan gerakan yang sangat menggoda iman. Pelan-pelan Jovanya naik ke atas ranjang. Mendekati Kenan yang sedang keblingsatan sendiri. "Ken. Malam ini akan menjadi malam terindah untuk kita berdua," gumam Jovanya tepat di depan telinga Kenan. Tangannya dengan nakal sudah merayap turun. Mengekspor dada bidang Kenan yang berotot.

Mendengar ucapan itu Kenan seakan tersadarkan. Ia langsung mencegah tangan Jovanya yang ingin merambat lebih turun.

"Maaf, Jo. Aku tidak bisa melakukan ini!" kata Kenan sambil mendorong tubuh Jovanya hingga jatuh ke ranjang. Dengan cepat Kenan segera pergi dari tempat itu.

"Kenan! Kenan tunggu!" teriak Jovanya kesal. Karena rencananya gagal total.

Keesokan harinya Kenan pergi berkonsultasi dengan dokter spesialis Seksologi andalannya. Sebenarnya, dia mengidap kelainan aneh. Dimana Kenan belum pernah bisa merasakan bergairah meskipun ada gadis cantik dan seksi menggoda di depannya. Seperti halnya semalam. Saat dia mendapatkan pengaruh dari obat perangsang. Dia sudah menyadarinya sejak awal. Namun, dia sengaja pura-pura tidak tahu. Untuk mencari tau reaksi tubuhnya setelah dirangsang oleh obat itu. Akan tetapi, hingga saat-saat terakhir Jovanya menggodanya. Dia tetap saja tak bisa merasakan apapun. Makanya, Kenan segera menolak permintaan sang tunangan malam itu. Sebelum dia menyadari kelainan bagian pusaka pada tubuh Kenan.

"Bagaimana?" tanya Dokter sambil menunjukkan gambar wanita seksi dari layar laptopnya.

"Tidak menarik," balas Kenan dengan ekspresi datar.

"Baiklah. Kita coba selanjutnya!" Dokter memindah gambar ke slide selanjutnya. Gambar wanita yang lebih seksi dari yang tadi. "Bagaimana sekarang?"

"Tidak menarik," kata Kenan datar. Dokter mulai gelisah. Begitu juga dengan asisten pribadi Kenan yang mengantarnya. Mereka saling berpandangan dengan wajah bingung.

"Baiklah. Ini gambar kita yang terakhir," ujar sang Dokter sambil mengubah tampilan gambar pada layar. Jantung si asisten pun berdebar kencang. Saat Kenan menatap gambar di depannya dengan seksama. Di layar itu tampak seorang lelaki tampan yang tersenyum manis selayaknya anggota kaum pelangi. "Bagaimana?" tanya Dokter dengan nada bergetar. Kenan masih menatapnya dengan cermat. Hingga akhirnya tak lama kemudian ia menggeleng perlahan.

"Tak menarik juga," ujar Kenan yang membuat asistennya yang merupakan seorang lelaki tulen bernafas lega.

"Ya. Mungkin hanya itu terapi yang bisa kita lakukan sekarang. Kita bisa lanjutkan lagi di pertemuan selanjutnya," ujar Dokter. Kenan menghembuskan nafas beratnya.

"Sejak awal aku juga sudah menduga jika ini tidak akan berhasil. Buang-buang waktu saja!" ujar Kenan kemudian beranjak. "Ayo, pergi! Kita masih ada agenda meninjau kemajuan hotel baru kita, bukan!" tambahnya kemudian pergi dari tempat itu.

"Kami permisi dulu, Dok. Terima kasih," ujar sang asisten pribadi.

"Sama-sama. Jangan lupa untuk ingatkan dia meminum obat yang sudah saya resepkan."

"Baik."

Di tempat lain seorang gadis cantik berpakaian khas seorang pelayan di sebuah restoran kecil sedang terburu-buru membereskan meja pelanggan yang baru saja selesai dipakai. Setelah ini dia akan menjalani tes wawancara kerja di tempat lain untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Maklum ibunya yang sakit-sakitan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk bisa mendapatkan perawatan medis yang tepat. Sementara, gadis itu sudah tidak ingin merepotkan orang lain dalam hal pembiayaan ibunya. Meskipun itu berasal dari kekasihnya sendiri ataupun ibu tirinya yang pelit.

"Lia! Kau masih ada waktu? Bisa bersihkan meja itu juga?" ujar temannya sambil membawa tumpukan nampan di tangannya. Gadis itu pun menoleh ke arah meja yang ditunjuk oleh rekan kerjanya itu.

'Tidak terlalu kotor. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat,' pikir Lia.

"Baiklah. Aku akan melakukannya," timpal Lia sambil kembali fokus dengan pekerjaannya.

Setelah semua pekerjaannya selesai. Dengan terburu-buru Lia pergi ke hotel tempat ia akan menjalani interview. Karena tak sempat berganti pakaian di restoran tadi. Lia yang baru saja sampai di area parkir pun mencari tempat sepi. Mata Lia pun terpaku pada sebuah ruang tersendiri yang menjorok lebih ke dalam dan hanya diisi oleh satu mobil mewah. Mobil itu tak bergerak sedikitpun. Sehingga Lia yakin jika mobil itu sudah ditinggal oleh pemiliknya. Dengan bergegas, Lia mendekati mobil itu.

Kemudian di samping mobil itu dia segera melepaskan seragam restorannya dan diganti dengan kemeja putih yang sudah dia bawa dari rumah. Tak hanya kemeja, Lia juga mengganti roknya yang berwarna merah dengan rok span hitam yang cukup ketat. Setelah itu, tak lupa Lia merias wajahnya agar terlihat segar dan tampak menarik. Kaca mobil tak bersalah itu pun menjadi pengganti cermin yang lupa ia bawa untuk mengoreksi penampilannya. Setelah memoles bibirnya dengan lipstik murahan yang dia beli di pinggir jalan. Lia merasa penampilannya sudah maksimal. Makanya, dia memonyongkan bibirnya seakan-akan ingin mengecup kaca film itu. Tiba-tiba kaca mobil itu pun terbuka perlahan dari dalam. Tentu saja hal itu membuat Lia terkejut.

"Apa yang akan kau lakukan dengan mobilku?" tanya Kenan dari dalam mobilnya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Wanita Simpanan Tuan Presdir

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Hidup Kayra hancur setelah suaminya menghilang tanpa jejak pasca panggilan video terakhir mereka. Kini, ia berjuang sendirian membesarkan dua anaknya. Di tengah kesulitan, ia bertemu Damar, ipar yang membencinya karena skandal masa lalu terkait rahasia saudari kembarnya. Meski awalnya Damar menolak mengakui anak hasil hubungan tersebut, kemiripan sang bayi meluluhkan hatinya. Akankah pertemuan ini membawa Kayra menuju kebahagiaan yang selama ini hilang?
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Rheina, gadis lugu yang terjebak dalam lingkungan beracun, awalnya berniat membebaskan sahabatnya dari cengkeraman tuan tanah. Namun, situasi memburuk saat ayahnya justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat. Konflik keluarga yang kelam ini akhirnya menyeret Rheina ke dalam lembah kenistaan. Ikuti liku perjalanan hidup Rheina saat ia terjerat dalam cinta segitiga rumit bersama dua pria di tengah tekanan hidup yang penuh kata kasar dan adegan dewasa.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika dan mentornya, Charli, mengelola ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali. Di sana, Randika jatuh hati pada Andini Wijaya, seorang wanita mandiri pemilik sekolah. Namun, asmara mereka terancam saat Junot, mantan Andini, mendadak kembali. Di sisi lain, adik Andini yang bernama Lily berambisi merebut Randika demi mendapat pengakuan sang ayah, Sigit Wijaya. Terjebak dalam dilema masa lalu dan ambisi keluarga, mampukah cinta Randika dan Andini bertahan?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan asmara Raka kini berada di ambang kehancuran akibat kehadiran Nadia. Sebagai kekasih, Raka merasa diabaikan karena Cherry selalu memprioritaskan sahabatnya yang berkacamata tebal itu. Amarahnya meledak saat ia menyadari posisinya hanya menjadi yang kedua bagi Cherry. Namun, kecemburuan buta ini justru membawa Raka menuju sebuah titik balik yang tak terduga dalam hidupnya. Akankah perasaan mereka bertahan saat prioritas Cherry terbagi?
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian pernah bersumpah takkan menikah karena menganggap wanita hanya teman tidur. Namun, prinsip itu goyah sejak ia bertemu sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang sama sekali tidak tertarik menggodanya. Xavier merasa pertemuan ini adalah anugerah terindah, sementara Adeeva sempat menganggap Xavier sebagai hal terburuk dalam hidupnya. Kini, kebencian itu berubah menjadi hari-hari penuh keindahan bagi mereka berdua.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan