Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kumpulan Cerita Pendek dengan Alur Ringan dengan Akhir yang Bahagia

Kumpulan Cerita Pendek dengan Alur Ringan dengan Akhir yang Bahagia

Antologi ini menyajikan deretan kisah cinta modern dengan narasi yang menenangkan. Setiap bab menghadirkan judul serta plot unik yang berdiri sendiri, memberikan kesegaran cerita yang berbeda di setiap bagiannya. Di tengah kerumitan realitas kehidupan yang penuh ketidakpastian, koleksi cerita pendek ini sengaja dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi pembaca. Fokus utama dari setiap narasinya adalah memastikan akhir yang bahagia bagi setiap karakter di dalamnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hujan turun tanpa suara malam itu. Bukan hujan biasa tetesannya jatuh perlahan, seolah enggan menyentuh tanah.

Di jalanan kota Etherne yang nyaris kosong, lampu-lampu kuning berkelip lembut, memantulkan bayangan seseorang yang berjalan tanpa payung.

Namanya Ryn. Ia tidak tahu dari mana ia datang atau kenapa jam tangannya selalu berhenti di pukul 11:11 setiap malam.

Yang ia tahu hanyalah satu hal aneh: Setiap kali hujan turun, dunia terasa sedikit berubah.

Langit jadi terlalu rendah.

Suara langkahnya bergema dua kali seakan ada seseorang berjalan bersamanya, tapi tak terlihat. Dan di genangan air di trotoar, bayangannya bukan dirinya sendiri.

Bayangan itu... punya sayap hitam samar.

Ryn berhenti di bawah lampu jalan, memandangi refleksi itu dengan napas tertahan: "Kau siapa?" Bisiknya.

Tapi bayangan itu hanya menatap balik, senyumnya kabur oleh riak air.

Tiba-tiba, suara perempuan terdengar dari balik hujan. Lembut, seperti gema dari masa yang jauh: "Kau pernah berjanji... akan menemuiku di dunia berikutnya."

Ryn menoleh cepat.

Tak ada siapa-siapa. Hanya udara yang bergetar pelan dan tetesan hujan yang mulai membeku di udara-sungguh, membeku, menggantung seperti butiran kaca bening.

Waktu berhenti. Seluruh kota membeku.

Dan dari tengah jalan, seseorang muncul perlahan dari pusaran cahaya putih.

Seorang gadis muda, rambutnya panjang berwarna perak, matanya bening namun tampak kosong.

Ia menatap Ryn lama sekali, seolah berusaha mengingat sesuatu yang hilang.

Namamu..." Bisiknya: Kael?"

Ryn tersentak mundur: Aku tidak kenal nama itu."

Gadis itu tersenyum samar, matanya berkilat air mata: "Tapi jiwamu mengingatku." Ia mendekat dan tiba-tiba cahaya kecil muncul di antara mereka-sebuah bulu hitam, berputar pelan, berkilau di udara beku.

"Kael dan Liora telah lenyap." Gumam gadis itu: "Tapi serpihan mereka hidup dalam waktu ini. Kau adalah separuh yang tertinggal."

Ryn menatap bulu itu, dan untuk sesaat, ia melihat sekilas bayangan dua sosok lelaki berambut gelap dan gadis bersayap cahaya terperangkap dalam pusaran putih.

Jantungnya berdetak keras: "Siapa kau sebenarnya?"

Gadis itu tersenyum lembut: "Aku? Aku hanya penjaga waktu. Tapi dulu... mungkin aku adalah sesuatu yang lebih." Ia mengulurkan tangan ke arah Ryn: "Kalau kau ingin tahu kebenaranmu, datanglah ke Menara Jam di Tengah Hujan sebelum jarum berhenti."

Dan begitu ia menyentuh Ryn seluruh dunia kembali bergerak. Hujan jatuh, lampu padam, suara mobil terdengar lagi.

Tapi gadis itu telah lenyap. Yang tertinggal hanya bulu hitam di tangan Ryn hangat, berdenyut pelan, seolah hidup.

Ia menatap jam tangannya.

11:10.

Satu menit lagi menuju waktu yang selalu berhenti.

Ryn mengangkat kepala, hujan menetes di wajahnya: "Menara Jam di Tengah Hujan, ya..." Katanya pelan. Ia memasukkan bulu itu ke sakunya dan mulai berjalan menuju pusat kota, langkahnya berat tapi pasti.

Di belakangnya, genangan air memantulkan dua bayangan yang berjalan berdampingan satu dengan mata biru, satu lagi dengan sayap hitam samar.

Dan di kejauhan, lonceng waktu mulai berdentang.

Dong...

Dong...

Dong...

Setiap dentang menggema seperti napas dunia yang terhenti.

Hujan tak kunjung berhenti malam itu.

Ryn berjalan sendirian di trotoar yang basah, langkahnya bergema di antara suara gemericik air dan desau angin yang membawa aroma logam. Ia sudah pernah melewati kota ini ratusan kali, tapi malam ini terasa berbeda.

Gedung-gedung tampak lebih tinggi, jalanan lebih sepi dan langit seperti menatap balik.

Setiap kali kilat menyambar, bayangan hitam melintas di atas atap-sayap raksasa, samar namun nyata. Dan setiap kali ia mengedip, dunia terasa sedikit bergeser, seperti film tua yang melompati satu frame.

Jam tangannya menunjukkan 11:44. Empat belas menit sebelum waktu berhenti.

Di saku jasnya, bulu hitam yang ia temukan masih berdenyut pelan, seperti jantung kecil. Kadang bergetar, kadang berbisik tidak dengan suara, tapi dengan sensasi hangat yang merayap ke nadinya.

"Kau tak sendiri" Bisik sesuatu di dalam pikirannya.

"Aku bersamamu."

Ryn terhenti: "Siapa kau?" Tanyanya pelan.

"Aku? Aku... dulu Liora memanggilku Kael."

Ryn membeku. Nama itu- Nama yang disebut gadis perak itu di tengah hujan beku.

"Kael?"

"Bukan Kael yang kau pikirkan." Lanjut suara itu lembut. "Aku hanyalah gema. Bayangan dari jiwa yang pernah hidup. Tapi darah yang mengalir di tubuhmu-itu milikku."

Ryn menggenggam bulu itu lebih erat: "Jadi aku... reinkarnasimu?"

"Tidak juga. Kau dirimu sendiri, tapi ada sesuatu dariku yang tak pernah pergi. Aku tersesat dalam waktu ketika dunia runtuh... dan kini, kita berbagi satu tubuh."

Ryn menatap langit yang berwarna abu-abu keunguan: "Kalau begitu, siapa Liora?"

Suara itu terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada getir: "Ia adalah cahaya yang tak bisa aku raih. Ia menyeberangi waktu lebih dulu. Dan mungkin... malam ini, dia akan datang mencarimu."

---

Jalan menuju pusat kota semakin sunyi.

Ryn akhirnya tiba di depan Menara Jam di Tengah Hujan, bangunan tua dari batu hitam, menjulang setinggi mata langit.

Jarumnya menunjukkan 11:56 dan dentang jam berikutnya terasa seperti suara jantung dunia.

Gerbang besinya terbuka sendiri, berderit panjang. Di dalamnya, tangga spiral melingkar ke atas, tak berujung.

Ia mulai mendaki, langkahnya berat, napasnya membentuk kabut. Setiap anak tangga yang dilewati membuat dunia di bawahnya makin kabur, seolah waktu terurai menjadi kabut hitam.

Di dinding, ukiran-ukiran aneh bergerak pelan-lukisan perang antara manusia dan iblis, antara cahaya dan kegelapan. Di tengah ukiran itu, Ryn melihat dua wajah: Seorang pria bersayap hitam dan wanita bermata perak.

Ia mengenal mereka. Meski tak pernah melihat sebelumnya, hatinya tahu, mereka adalah Kael dan Liora.

Tiba-tiba seluruh menara bergetar. Cahaya merah mengalir dari celah lantai, lalu wujud seorang perempuan muncul di ujung tangga, mengenakan jubah putih yang basah oleh hujan.

"Ryn..." Suaranya lirih tapi jelas, menggema di udara beku: "Waktu hampir habis."

Ryn memandangnya tajam: "Kau... Liora?"

Gadis itu menundu: "Bukan. Aku hanya serpihan darinya. Tapi jiwanya... menunggu di atas."

Ia mengulurkan tangan: "Kalau kau naik sebelum jarum ke-12 berdentang, kau bisa menemuinya. Tapi jika terlambat-waktu akan menelanmu."

Ryn mengangguk dan mulai berlari menaiki tangga. Langkahnya berpacu dengan detak jam di atas kepalanya.

Setiap langkah terasa menembus dimensi, lantai-lantai menara berganti warna, dari batu, menjadi kaca, menjadi cahaya.

11:58.

Suara Kael bergema dalam pikirannya: "Cepat. Di puncak menara, dunia akan terbelah. Di sanalah semua waktu bersatu."

11:59.

Ryn menendang pintu kayu di ujung tangga dan angin berputar kencang, menyapu tubuhnya. Ia tiba di ruang puncak-sebuah langit terbuka, dengan roda jam raksasa berputar di langit.

Setiap gigi roda jam adalah bintang, dan di tengahnya berdiri sosok wanita berambut perak, memegang payung hitam.

Wajahnya lembut. Tapi matanya memancarkan kesedihan abadi.

"Kael." Bisiknya pelan: "Kau akhirnya datang."

Ryn berdiri terpaku: "Aku bukan Kael."

Wanita itu tersenyum tipis: "Tapi jiwamu tahu siapa aku." Ia mendekat dan menatap Ryn dengan tatapan yang membuat dunia seolah berhenti. Di balik iris matanya, ada langit yang runtuh, ada hujan yang berjalan mundur, ada kenangan yang tak ingin padam: "Aku telah melintasi seribu waktu hanya untuk menemukannya lagi..." Katanya pelan: "Dan kini, aku berdiri di hadapanmu, yang bukan dia, tapi masih dia."

Ryn menelan ludah: "Apa maksudmu?"

Wanita itu menyentuh dada Ryn perlahan dan cahaya hitam keluar dari tubuhnya, membentuk siluet sayap yang terbuka lebar.

"Karena sebagian Kael hidup di dalammu." Katanya dengan air mata mengalir:"Dan sebagian diriku... telah menjadi hujan yang kau hirup setiap malam."

12:00.

Jam berdentang.

Dunia membeku lagi.

Roda waktu berhenti.

Dan di antara tetes hujan yang membeku di udara, mereka berdua berdiri berhadapan antara yang hidup dan yang pernah hidup.

Dentang ke-12 menggema seperti napas terakhir dunia.

Semua suara berhenti.

Ryn berdiri di hadapan wanita berambut perak itu, tubuhnya kaku, matanya menatap ke arah roda jam yang kini berhenti berputar di langit.

Tetes-tetes hujan membeku di udara, berubah menjadi butiran cahaya yang melayang pelan di antara mereka.

Waktu telah mati.

"Jadi... ini akhirnya?" Tanya Ryn, suaranya serak.

Wanita itu tersenyum samar: "Tidak ada akhir, Ryn. Hanya lingkaran yang belum selesai." Ia melangkah mendekat, jemarinya menyentuh bulu hitam di tangan Ryn dan bulu itu langsung menyala lembut, memancarkan cahaya biru keunguan.

"Bulu ini... adalah pecahan Kael." Katanya: "Sisa dari dunia yang sudah runtuh. Tapi aku tidak tahu kenapa ia memilihmu."

Ryn menatap bulu itu lama sekali: "Mungkin karena aku-aku tidak punya masa lalu. Aku hanya... tiba-tiba hidup di kota ini."

Wanita itu memejamkan mata: "Tidak ada yang tiba-tiba hidup, Ryn. Kau lahir dari keinginan waktu yang belum terselesaikan."

Dunia di sekitar mereka mulai bergetar pelan. Langit berubah warna menjadi ungu gelap dan roda jam di atas kepala mereka mulai berputar mundur.

Dong...

Dong...

Setiap dentang bergerak mundur, memutar waktu ke masa sebelum hujan turun.

Ryn menatap wanita itu: "Kalau aku Kael... dan kau Liora... apakah kita akan bertemu lagi setelah ini?"

Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan mata penuh air mata, lalu menunduk dan berkata: "Kita selalu bertemu, di setiap hujan yang jatuh."

Ia melepaskan bulu itu dan bulu itu melayang naik ke langit, berputar di antara tetesan hujan yang membeku.

Cahaya hitam dan putih berpadu, membentuk pusaran besar di atas kepala mereka.

"Ryn..." Suaranya perlahan memudar: "Jika suatu hari kau mendengar jam berdetak tanpa arah-itu artinya aku masih menunggumu."

Angin berputar kencang.

Lantai menara retak dan tubuh Ryn terseret ke dalam pusaran cahaya. Ia berusaha meraih tangan wanita itu, tapi hanya ujung jarinya yang tersentuh.

Lalu semuanya lenyap.

Hening.

Ryn terbangun di bangku taman.

Langit cerah, matahari bersinar dan suara burung terdengar jelas. Tidak ada hujan. Tidak ada menara. Tidak ada waktu yang membeku.

Hanya sebuah bulu hitam kecil di pangkuannya, diam dan mati.

Ia memandang sekeliling-orang-orang berjalan seperti biasa, mobil lewat, kehidupan normal.

Namun, sesuatu terasa aneh: Semua jam yang ia lihat menunjukkan waktu 11:11. Tidak ada yang bergerak satu detik pun setelah itu.

Ia berdiri perlahan, menatap ke langit.

Di antara awan, ia pikir ia melihat bayangan seseorang berdiri di atas jam raksasa transparan, rambutnya berwarna perak, memegang payung hitam.

Lalu kilat menyambar dan bayangan itu menghilang.

Hujan turun lagi, pelan-pelan. Setiap tetesnya berbisik seperti suara dari masa lalu: "Kau janji akan menemuiku di dunia berikutnya, bukan?"

Ryn tersenyum samar, memasukkan bulu itu ke saku jasnya, lalu berjalan di bawah hujan: "Kalau begitu." Katanya pelan: "Sampai jumpa di antara dua waktu."

Bab 3 Tamat

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Masih Bocil, Om
9.5
Ulang tahun ke-18 yang seharusnya indah berubah menjadi kenyataan pahit bagi seorang gadis muda. Ia terpaksa menikah dengan David, pria dewasa yang asing baginya. Alih-alih romantis, interaksi mereka justru diwarnai perdebatan konyol soal kartu kredit versus uang tunai untuk membeli jajanan. Di tengah ketidakpastian masa depan pernikahannya, sosok Dinar muncul dan terang-terangan menanti status jandanya. Akankah ia menemukan bahagia atau justru terjebak sengsara?
Sampul Novel (Bukan) Pernikahan Impian
9.8
Dara terjebak dalam dilema besar saat keluarganya terus menuntut agar ia segera mengakhiri masa lajangnya. Demi menghindari perjodohan paksa yang diatur orang tuanya, ia harus segera menemukan solusi instan. Di sisi lain, Alfan adalah seorang duda yang berjuang membesarkan putri kecilnya sendirian setelah kepergian sang istri. Demi memberikan sosok ibu bagi anaknya, Alfan pun mengajak Dara memulai pernikahan yang berawal dari sebuah kebutuhan mendesak.
Sampul Novel Cintaku Bersemi Di Sekolah
9.7
Dodo, pemuda asal pinggiran Garut, merasa dirinya jauh lebih menawan dibanding aktor terkenal meski namanya serupa. Sebagai remaja, ia mendambakan kisah cinta sekolah yang indah layaknya lirik lagu legendaris. Fokus utamanya adalah memenangkan hati Mitha. Meski sadar wajahnya tak setampan Donnie dan tergolong biasa saja, Dodo tetap membulatkan tekad. Ia siap menempuh segala cara demi menjalin kenangan romantis bersama gadis pujaannya tersebut.
Sampul Novel Kalung Pengkhianatan, Selma Pemenangnya
9.0
Dua belas kali rencana pernikahanku dengan Zaki hancur karena dia selalu memprioritaskan Selma, adik angkatnya. Saat Zaki kembali meninggalkanku di altar untuk kesekian kalinya, aku menyadari pengabdianku selama delapan tahun sia-sia, terutama setelah melihat Selma memakai kalung simbol cinta kami. Aku pun pergi ke Bali untuk bangkit menjadi arsitek sukses. Kini, Zaki muncul kembali bukan sebagai kekasih, melainkan pelamar kerja di bawah pimpinanku.
Sampul Novel Kelakuan Papa Mertua
9.6
Kehidupan Riana mendadak kacau saat ia dipaksa menanggung konsekuensi atas tindakan sembrono papa mertuanya. Di tengah tekanan tersebut, ia mulai mencium gelagat aneh dari orang tuanya sendiri yang seolah mendukung situasi ini. Riana pun terjebak dalam teka-teki besar mengenai niat terselubung di balik sikap mereka. Apakah ada persekongkolan rahasia yang sengaja dirancang untuk menjebaknya? Kini ia harus mencari tahu kebenaran di balik drama ini.
Sampul Novel Luka Kakiku, Tawa Mereka
8.8
Demi menyelamatkan Yudha, suamiku yang politisi, aku kehilangan kaki dan karier balet. Namun, pengorbanannya sia-sia saat aku memergoki Yudha berselingkuh dengan terapisku, Selvia. Mereka tega menertawakan kecacatanku, sementara ibu mertuaku terus mencaci sebagai beban keluarga. Meski Yudha memujiku di depan publik untuk citra politiknya, kenyataan pahit ini memicu dendam. Tanpa air mata lagi, aku bertekad menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.