
Hancur Karena Cinta yang Berkhianat
Bab 2
Aluna menatap perutnya yang mulai membulat. Ia merasakan gerakan kecil dari dalam sana. "Hai, Nak... ibu di sini," bisiknya lembut sambil mengelus perutnya. Senyum tipis muncul di wajahnya, tapi matanya masih menyimpan kelelahan yang mendalam.
Dina mengetuk pintu apartemen sebelum masuk. "Aluna... kamu makan belum?" Suaranya terdengar khawatir.
"Sudah, Din. Tenang saja," jawab Aluna sambil menutup buku catatannya.
Dina melangkah lebih dekat, matanya menelusuri ekspresi Aluna. "Kamu benar-benar baik-baik saja, ya?"
Aluna menoleh dan tersenyum samar. "Aku... akan baik-baik saja. Lagipula, ini bukan cuma untukku."
Dina mengangguk. "Kalau begitu, aku mau bantu apa pun yang kamu butuhkan. Jangan sungkan, ya."
Aluna menepuk tangan Dina. "Terima kasih, Din. Aku senang kamu ada."
Sore itu, Aluna memutuskan berjalan-jalan ke taman dekat apartemen. Ia ingin udara segar, ingin mendengar suara anak-anak bermain. Sejak perpisahan dengan Raka, suasana hatinya seperti roller coaster.
Ia duduk di bangku kayu, menatap anak-anak yang tertawa dan berlari. Gerakan kecil di perutnya membuatnya tersenyum. "Ibu janji, Nak. Kita akan baik-baik saja."
Di sisi lain kota, Raka menatap layar ponselnya. Ia melihat foto-foto gadis kecil yang duduk di pangkuannya. Tawa kecil itu terus menghantui pikirannya.
"Kenapa aku merasa... bersalah?" gumamnya pelan.
Seorang asistennya mengetuk pintu. "Pak Raka, ada telepon dari Bu Aluna."
Raka mengangkat alis. "Telepon? Sekarang?"
Asisten itu mengangguk. "Ya, Pak. Sepertinya mendesak."
Raka menghela napas panjang. Ia menekan tombol angkat. "Halo, Aluna?"
"Halo... Raka," suara Aluna terdengar lembut tapi tegas. "Aku hanya ingin memastikan... kita sama-sama tahu batasnya."
Raka diam sejenak. "Batas apa, Aluna?"
Aluna menelan ludah. "Batas perasaan, Raka. Aku ingin anak ini lahir dalam ketenangan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada drama."
Raka menutup mata sejenak. "Aku mengerti..."
Namun perasaan bersalah tidak hilang. Ia menatap foto gadis kecil itu lagi, merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya-sesuatu yang tidak bisa ia sentuh, tapi selalu ada di pikirannya.
Hari berikutnya, Aluna mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin. Ia duduk di ruang tunggu, tangan menekan perutnya. Dokter memanggilnya masuk.
"Selamat, Aluna. Janin sehat," kata dokter sambil tersenyum.
Aluna mengangguk, senyum tipis di wajahnya. "Terima kasih, Dok."
Keluar dari klinik, ia menelpon Dina. "Din... janin sehat. Tidak ada masalah."
"Alhamdulillah... aku senang mendengarnya," jawab Dina. "Kamu kuat, Aluna. Benar-benar kuat."
Malam itu, Aluna menulis di jurnalnya. Ia menuliskan segala hal-ketakutan, kebahagiaan, harapan, dan rasa sakitnya terhadap Raka. Ia menutup buku, menarik napas dalam-dalam. "Aku akan melindungi anak ini, tidak peduli apa yang terjadi."
Di sisi lain kota, Raka memutuskan pergi ke sebuah kafe, duduk sendirian. Ia menatap gelas kopi yang hampir tak tersentuh. Gadis kecil itu, tawa dan senyumnya, terus menghantui pikirannya.
"Kenapa aku begitu terganggu?" gumamnya. "Ini bukan anakku... tapi aku merasa kehilangan sesuatu yang penting."
Seorang rekannya datang menghampiri. "Pak Raka, kenapa wajahnya kusut begitu? Ada masalah?"
Raka menggeleng. "Hanya... pikiranku kacau. Hal pribadi."
Rekan itu mengangguk, meninggalkannya sendiri. Raka menatap keluar jendela. Lampu kota mulai menyala, tapi hatinya gelap. Ia menyadari satu hal: ia tidak pernah berpikir konsekuensi dari keputusan perpisahan itu.
Hari-hari berikutnya, Aluna mulai menata kehidupan barunya. Ia membeli perlengkapan bayi, mempelajari cara merawat anak, dan menyesuaikan jadwal kerja agar lebih fleksibel. Setiap malam, ia berbicara pada perutnya, berbagi cerita tentang dunia luar, berharap anaknya tumbuh merasa dicintai.
Sementara itu, Raka diam-diam mulai memperhatikan Aluna dari jauh. Ia tahu ia salah, tapi ego dan ketakutannya menahan langkahnya untuk mengakui semuanya. Namun setiap kali melihat foto atau mendengar cerita tentang Aluna, hatinya sakit. Ia mulai menyadari, kehilangan Aluna bukan hanya tentang dirinya sendiri, tapi juga tentang anak yang belum lahir.
Pada suatu sore, Aluna bertemu dengan seorang ibu di taman yang sedang menggendong bayinya. Mereka berbicara sebentar, berbagi pengalaman, dan Aluna merasa sedikit lega. "Terima kasih, Bu. Ini sangat membantu," kata Aluna sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa, Nak. Menjadi ibu itu berat, tapi juga indah. Kamu akan mengerti nanti," jawab ibu itu ramah.
Aluna menatap perutnya, tersenyum kecil. "Iya... aku akan mengerti. Aku harus kuat."
Sementara itu, Raka tidak bisa lagi menahan diri. Ia menelepon asistennya. "Cari tahu jadwal Aluna. Aku... ingin memastikan dia baik-baik saja."
Asisten itu ragu. "Pak Raka, apa maksud Pak Raka?"
"Cukup... pastikan dia tidak ada masalah. Itu saja," jawab Raka dengan suara datar, tapi hatinya bergejolak.
Malam harinya, Aluna duduk di balkon apartemennya, menatap bulan. Ia merasa damai, tapi tetap waspada. "Ibu dan kamu... kita akan melalui semua ini bersama. Kita akan bahagia, Nak. Aku janji."
Di kota yang sama, Raka menatap lampu-lampu jalan. Ia menyadari, setiap keputusan yang ia ambil kini tidak bisa kembali. Anak Aluna, yang belum ia kenal, sudah mengikat hatinya dengan cara yang tak bisa ia abaikan.
Raka menutup mata, bergumam, "Apakah masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya? Atau aku memang sudah kehilangan segalanya?"
Di sisi lain, Aluna menutup jurnalnya, menarik selimut, dan menutup mata. Ia merasa lelah, tapi hatinya tenang. Ia tahu, apapun yang terjadi, ia akan melindungi anaknya dan menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi.
Kalau mau, Bab 4 bisa dibuat lebih dramatis, di mana:Aluna mulai menghadapi tantangan fisik dan emosional kehamilan yang lebih berat.
Raka mulai menyadari rasa cemburu dan bersalah ketika melihat Aluna bahagia tanpa dirinya.
Gadis kecil misterius dan wanita yang muncul di kantor mulai menjadi pemicu konflik lebih besar antara Aluna dan Raka.
Aluna menatap cermin di kamar tidurnya. Perutnya kini semakin membesar, gerakan janin semakin jelas terasa. Sesekali ia menahan napas ketika kontraksi ringan muncul, dan setiap kali itu terjadi, hatinya campur aduk antara rasa takut dan bahagia. "Tenang, Nak... ibu ada di sini," bisiknya sambil mengelus perutnya.
Dina mengetuk pintu dan masuk. "Aluna... kamu terlihat lelah. Sudah makan?"
Aluna tersenyum tipis. "Sudah, Din. Hanya saja... rasanya semakin berat."
Dina duduk di sampingnya, menatap wajah sahabatnya yang pucat tapi tegar. "Kamu harus istirahat lebih banyak. Jangan memaksakan diri."
Aluna menggeleng. "Aku harus tetap bergerak, Din. Anak ini butuh ibu yang kuat. Lagipula, aku sudah terbiasa menghadapi semuanya sendiri."
Dina menepuk bahu Aluna dengan lembut. "Sendirian bukan berarti harus menanggung semuanya tanpa bantuan. Kamu boleh minta tolong."
Aluna tersenyum kecil, tapi hatinya tetap tegar. Ia tahu, sekarang adalah waktunya untuk berdiri sendiri, menghadapi dunia, dan melindungi anaknya dari semua hal yang bisa mengancam.
Sore itu, Aluna pergi ke taman. Udara segar membantu meredakan rasa mual dan pegal di punggungnya. Ia duduk di bangku kayu, menatap anak-anak bermain. Ada satu gadis kecil yang menarik perhatiannya-tinggi kecil, rambut hitam ikal, tersenyum riang kepada ibunya. Senyum itu, begitu familiar, membuat Aluna menahan napas.
Di kota yang sama, Raka memandangi layar laptopnya. Foto Aluna dan gadis kecil itu muncul secara tidak sengaja melalui pesan teman kantor. Matanya membesar, jantungnya berdetak lebih cepat. Ada rasa cemburu yang menusuk, campur dengan penyesalan. Ia menutup laptop, berdiri, dan berjalan ke balkon kantornya.
"Kenapa aku merasa seperti ini?" gumamnya. "Ini bukan anakku... tapi hatiku... sakit melihatnya bersama dia."
Raka mengingat saat ia meninggalkan Aluna, begitu mudah mengatakan kata-kata perpisahan. Sekarang rasa bersalah itu menghantui setiap detik hidupnya. Ia mulai merindukan suara Aluna, tawa kecilnya, bahkan momen sederhana yang dulu dianggap sepele.
Keesokan harinya, Aluna menghadapi masalah baru. Saat sedang menyiapkan makanan, rasa pusing dan mual menyerangnya tiba-tiba. Ia jatuh terduduk di lantai, tangan menekan perutnya, napas tersengal. Dina yang datang tepat waktu, segera membantunya duduk di kursi.
"Aluna, kamu harus ke dokter. Ini tidak normal," kata Dina panik.
Aluna menenangkan sahabatnya. "Aku baik-baik saja, Din. Hanya sedikit pusing."
Dina menggeleng. "Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri. Anakmu butuh ibu yang sehat."
Malam itu, Aluna menulis di jurnalnya. Ia menuliskan ketakutan, rasa sakit, tapi juga tekadnya untuk tetap kuat. Setiap kata yang ditulis seolah menjadi kekuatan baru yang memberinya energi untuk melanjutkan.
Di sisi lain kota, Raka tidak bisa berhenti memikirkan Aluna. Ia melihat foto gadis kecil itu lagi, mencoba mengingat setiap gerakan yang pernah ia lihat di kantor. Ia merasa sesuatu yang besar hilang dari hidupnya-sesuatu yang tidak bisa ia sentuh, tapi selalu menghantui.
Hari berikutnya, Aluna pergi ke dokter untuk pemeriksaan rutin. Dokter memeriksa tekanan darah dan detak jantung janin. "Semua terlihat normal, Aluna. Tapi jangan terlalu memaksakan diri," kata dokter sambil tersenyum.
Aluna mengangguk, meski hatinya berat. Ia tahu, tantangan tidak akan berhenti. Ia harus terus belajar, menghadapi rasa sakit, dan tetap tegar.
Beberapa minggu kemudian, Raka memutuskan mengunjungi kantor gadis kecil itu dan wanita misterius yang selama ini sering ia lihat bersama. Ia ingin memahami lebih jelas siapa mereka, meski hatinya bergejolak antara rasa penasaran dan rasa bersalah.
Saat ia membuka pintu kantor, ia melihat wanita itu tersenyum pada gadis kecil yang duduk di pangkuannya. Gadis itu menoleh, menatap Raka sejenak, lalu kembali tertawa riang.
Raka merasa aneh. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba muncul. Ia ingin mengambil gadis itu, membawanya menjauh, tapi ia tahu itu tidak mungkin. Wanita itu menatapnya dengan tenang, seakan membaca semua perasaannya.
"Raka..." suara itu lembut tapi tegas. "Aku tahu kamu ingin tahu. Tapi ini bukan waktunya untuk pertanyaan. Biarkan semuanya berjalan alami."
Raka menghela napas panjang, menatap gadis kecil itu. "Kenapa... hatiku sakit melihatnya bahagia?" gumamnya.
Wanita itu tersenyum samar. "Karena apa yang hilang tidak bisa kembali begitu saja. Tapi kamu bisa belajar menghargai setiap momen."
Sementara itu, Aluna merasakan tendangan yang lebih kuat dari janinnya. Ia menepuk perutnya dan tersenyum. "Ibu tahu, Nak... kita akan melewati semua ini."
Hari-hari berlalu, dan Aluna semakin terbiasa menghadapi tantangan kehamilan. Ia belajar menata jadwal kerja, merawat diri sendiri, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ia mulai merasa sedikit lega, meski rasa sakit dari pengkhianatan Raka masih ada.
Suatu sore, Raka memutuskan menelepon Aluna. "Aluna... aku... hanya ingin tahu kabarmu."
Aluna menatap telepon, menahan amarah dan sakit hati. "Aku baik, Raka. Anakku baik, aku baik. Itu yang penting."
Raka diam sejenak. "Aku... aku ingin minta maaf. Aku salah meninggalkanmu."
Aluna menarik napas panjang. "Penyesalanmu datang terlambat, Raka. Tapi anak ini akan tetap aman, dan aku akan menjaga dia sendiri."
Raka menunduk, suara hati kecilnya berkata bahwa ia sudah melewatkan kesempatan yang tidak bisa kembali. Ia menyadari bahwa Aluna tidak lagi tergantung padanya, bahwa kekuatan yang dulu ia abaikan kini bersinar terang dalam diri wanita yang ia tinggalkan.
Malam itu, Aluna duduk di balkon, menatap bintang-bintang. "Ibu dan kamu... kita akan baik-baik saja, Nak. Tidak peduli apa pun yang terjadi."
Di kota yang sama, Raka menatap lampu-lampu jalan dari kantornya. Rasa bersalah, cemburu, dan penyesalan bercampur aduk. Ia tahu, hidup telah bergerak maju tanpa dirinya, dan Aluna kini memiliki kekuatan yang bahkan ia sendiri tidak bisa sentuh.
Hari demi hari, minggu demi minggu, keduanya menempuh jalan masing-masing. Aluna belajar bahwa kekuatan sejati datang dari kesendirian, dari kemampuan untuk berdiri tegak di tengah rasa sakit. Raka mulai menyadari bahwa kehilangan seseorang yang benar-benar mencintai, bukan sekadar meninggalkan, adalah pelajaran paling pahit dalam hidupnya.
Namun, ada satu hal yang pasti-gadis kecil itu, wanita misterius, dan masa depan anak Aluna akan menjadi pemicu konflik yang lebih besar. Suatu hari nanti, jalan mereka akan bertemu lagi, dengan semua rasa sakit, penyesalan, dan emosi yang belum terselesaikan. Dan saat itu terjadi, tidak ada yang bisa menahan gelombang perasaan yang selama ini terpendam.
Aluna menutup mata, tersenyum tipis, dan berbisik pada janinnya, "Kita akan kuat, Nak. Kita akan melewati semuanya... bersama."
Anda Mungkin Juga Suka





