
Hancur Karena Cinta yang Berkhianat
Bab 3
Aluna menarik napas panjang saat memarkir mobil di depan taman kota. Perutnya sudah semakin besar, setiap langkah terasa berat. Ia menatap gadis-gadis kecil yang sedang bermain, senyum polos mereka membuat hatinya hangat. Tapi ada rasa waswas yang selalu menempel-bayangan Raka, wanita itu, dan gadis kecil yang dulu ia lihat di kantor Raka.
Ia berjalan perlahan menuju bangku di tepi taman. Tangan menempel di perut, merasakan tendangan kecil yang lebih kuat dari biasanya. "Ibu tahu, Nak... ibu akan selalu ada untukmu," bisiknya.
Dina datang menyusul, membawa tas belanja. "Aluna, kamu harus istirahat lebih sering. Jangan terlalu memaksakan diri."
Aluna tersenyum tipis. "Aku... aku bisa, Din. Lagipula, anak ini... ia butuh ibu yang kuat."
Dina menepuk bahu Aluna dengan lembut. "Kamu tidak sendiri. Aku akan selalu ada."
Sementara itu, Raka duduk di mobilnya, menatap taman dari jauh. Ia melihat Aluna berjalan perlahan, senyum tipis di wajahnya. Ada rasa cemburu yang menusuk hatinya, bercampur dengan penyesalan. Ia menekan tangan di kemudi. "Kenapa aku merasa sakit melihatnya bahagia tanpa aku?" gumamnya.
Hari berikutnya, Aluna menghadapi tantangan fisik baru. Saat menyiapkan makanan di dapur, rasa mual tiba-tiba muncul disertai kontraksi ringan. Ia menahan napas, tangan menekan perutnya. Dina yang datang tepat waktu segera membantunya duduk.
"Aluna, kamu harus ke dokter. Ini tidak normal," kata Dina dengan panik.
Aluna menggenggam tangan sahabatnya. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah."
Dina menatap Aluna dengan mata berkaca-kaca. "Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri. Anakmu butuh ibu yang sehat, bukan ibu yang sakit."
Malam harinya, Aluna duduk di balkon apartemennya, menatap langit gelap. Suara mobil dan lampu kota mengalir seperti gelombang, tapi pikirannya tetap fokus pada janinnya. "Ibu akan melindungi kamu, Nak. Tidak ada yang akan memisahkan kita," bisiknya.
Di sisi lain kota, Raka tidak bisa berhenti memikirkan Aluna. Ia melihat foto-foto taman tadi yang dikirim seorang teman. Senyum tipis Aluna, langkah perlahan, tangan menempel di perutnya... semuanya membuat hatinya berdebar.
Raka akhirnya memutuskan untuk mendekati wanita misterius dan gadis kecil itu. Ia mengatur pertemuan di sebuah kafe. Saat melihat mereka, perasaan campur aduk muncul. Ia ingin tahu siapa gadis kecil itu, tapi juga takut kebenaran akan menyakitinya lebih dalam.
"Raka..." suara wanita itu terdengar lembut tapi tegas. "Aku tahu kamu ingin tahu. Tapi ini bukan waktunya untuk semua pertanyaan. Biarkan semuanya berjalan alami."
Raka menelan ludah. "Kenapa hatiku begitu terganggu melihatnya bersama kalian? Ini bukan anakku... tapi aku merasa... kehilangan sesuatu."
Wanita itu tersenyum samar. "Kadang yang kita pikir bukan milik kita, justru mengikat hati lebih dalam daripada yang kita sadari. Tapi jangan khawatir, waktu akan memberi jawaban."
Malam itu, Raka pulang ke apartemennya, gelisah. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Aluna dan anaknya yang belum lahir. Setiap napas, setiap detik, bayangan itu menghantui pikirannya. Ia merasa ada sesuatu yang hilang-sesuatu yang tidak bisa ia raih, tapi selalu menempel.
Sementara itu, Aluna menghadapi masalah lain. Kehamilan memasuki trimester ketiga, tubuhnya mulai terasa berat, punggung pegal, dan mual sering muncul tanpa peringatan. Setiap gerakan janin membuatnya tersenyum, tapi juga mengingatkannya akan tanggung jawab besar yang harus ia pikul.
Suatu sore, Aluna duduk di taman, mencoba menenangkan diri. Gadis kecil yang ia lihat beberapa minggu lalu muncul, bermain di dekatnya bersama ibunya. Aluna menatap mereka, tersenyum tipis. Ada rasa familiar yang tidak bisa dijelaskan, tapi ia menahan diri untuk tidak terlalu mendekat.
Tiba-tiba, Raka muncul dari kejauhan. Jantungnya berdebar melihat Aluna. Ia ingin menghampiri, ingin bicara, tapi langkahnya terhenti. Ia melihat gadis kecil itu, wanita misterius, dan Aluna... hatinya remuk.
Aluna menoleh, melihat Raka dari jauh. Senyum tipisnya menghilang, digantikan ketegangan. Ia menunduk sejenak, menarik napas. "Jangan... jangan ganggu kami," bisiknya pada dirinya sendiri.
Raka berjalan pelan, hatinya bergetar. "Aluna... aku... aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
Aluna menatapnya, mata berkaca-kaca tapi tegas. "Aku baik, Raka. Anakku baik, aku baik. Itu yang penting."
Raka menunduk. "Aku... salah meninggalkanmu. Aku... aku menyesal."
Aluna menarik napas panjang, menahan amarah. "Penyesalanmu datang terlambat, Raka. Anak ini akan tetap aman, dan aku akan menjaganya sendiri."
Raka merasa sakit di dadanya. Ia sadar bahwa Aluna kini berdiri lebih kuat dari sebelumnya, bahwa ia bukan lagi orang yang sama yang dulu ia tinggalkan. Namun hatinya tetap terpaut. Ia tidak bisa berhenti memikirkan senyum tipis Aluna, langkah perlahan yang begitu anggun, dan tangan yang menempel di perutnya.
Hari-hari berikutnya, Aluna mulai merasakan kontraksi lebih sering. Dokter menyarankan istirahat total beberapa hari, dan Dina segera membantunya menyiapkan apartemen agar lebih nyaman. Aluna menatap perutnya, tersenyum. "Ibu tahu ini sulit, Nak. Tapi ibu akan melewati semuanya. Kita akan baik-baik saja."
Di sisi lain kota, Raka memutuskan untuk menghubungi gadis kecil itu dan wanita misterius. Ia ingin memahami siapa mereka, meski hatinya bergejolak. Saat mereka bertemu, gadis kecil itu menatapnya dengan mata polos. Raka merasa sesuatu yang hangat dan aneh, seperti benang pengikat hati yang tidak bisa ia lepaskan.
Wanita itu berbicara lembut. "Raka, jangan salah langkah. Semua ini bukan soal siapa yang menang atau kalah. Biarkan Aluna menjalani hidupnya, tapi jangan menutup mata dari perasaanmu sendiri."
Raka menatap gadis kecil itu, hatinya berdebar. Ia tahu, perasaan ini berbeda, lebih dalam dari yang pernah ia rasakan. Ia merasa harus bertindak, tapi takut mengganggu Aluna.
Malam itu, Aluna duduk di balkon apartemennya, menatap bulan. "Ibu dan kamu... kita akan melewati semuanya, Nak. Tidak peduli apa pun yang terjadi."
Raka di kota lain menatap lampu-lampu jalan dari kantornya. Rasa bersalah, cemburu, dan penyesalan bercampur. Ia tahu, hidup telah bergerak maju tanpa dirinya, dan Aluna kini memiliki kekuatan yang bahkan ia sendiri tidak bisa sentuh.
Hari demi hari, minggu demi minggu, konflik mulai terasa lebih tegang. Aluna menghadapi kehamilan yang berat, tetapi tetap tegar. Raka mulai menyadari rasa cemburu dan penyesalannya semakin mendalam, dan gadis kecil serta wanita misterius semakin memperumit perasaan dan keputusan yang harus ia ambil.
Dan Aluna, dengan setiap tendangan janin, setiap senyum yang ia lemparkan pada dunia, menunjukkan bahwa kekuatan sejati datang dari kemampuan berdiri sendiri, menghadapi ketakutan, dan menjaga yang dicintai-meski harus melawan orang yang pernah ia cintai.
Kalau mau, Bab 6 bisa dibuat lebih dramatis:Raka mulai mendekat secara diam-diam, tapi Aluna tetap menjaga jarak.
Gadis kecil dan wanita misterius mulai menimbulkan konflik langsung.
Ketegangan fisik Aluna semakin tinggi karena kehamilan memasuki masa kritis.
Aluna menatap keluar jendela apartemennya, hujan turun pelan di kota. Suara tetes air di kaca seolah menenangkan, tapi hatinya tetap gelisah. Perutnya semakin berat, gerakan janin makin terasa jelas, kadang membuatnya tersenyum, kadang membuatnya cemas.
Dina mengetuk pintu sebelum masuk. "Aluna, jangan terlalu lama menatap hujan. Kamu harus makan dan istirahat."
Aluna tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Din. Hanya ingin menikmati tenang sebentar."
Dina duduk di sofa, menatap sahabatnya. "Aku khawatir, Al. Tubuhmu sudah sangat lelah. Anakmu butuh ibu yang kuat, tapi kamu juga manusia."
Aluna mengangguk, tapi hatinya menolak untuk terlihat lemah. Ia menepuk perutnya. "Ibu harus kuat, Nak. Tidak peduli apa pun."
Di sisi lain kota, Raka duduk di mobilnya, memandangi apartemen Aluna dari kejauhan. Hujan membuat suasana hatinya semakin berat. Ia ingin mendekat, ingin berbicara, tapi takut akan menambah luka. Hatinya bergejolak antara rasa cemburu, bersalah, dan kerinduan.
"Kenapa aku masih merasa ini begitu penting?" gumamnya pelan. "Dia... anaknya... dan aku... tidak punya hak. Tapi hatiku tetap terikat."
Ia menyalakan mobil, lalu perlahan mengikuti Aluna dari kejauhan. Setiap langkahnya membuat jantungnya berdebar. Ia ingin memastikan Aluna baik-baik saja, meski harus diam-diam.
Hari itu, Aluna memutuskan berjalan ke taman meskipun hujan ringan. Ia membawa payung, melangkah perlahan. Setiap langkah terasa berat, tapi hatinya ingin melihat dunia di luar apartemen.
Di taman, gadis kecil misterius yang sering ia lihat muncul lagi, bermain di dekatnya. Wanita yang menemaninya berdiri di samping, mengawasi dengan senyum tenang. Aluna menatap mereka, merasa ada sesuatu yang familiar, tapi ia menahan diri untuk tidak mendekat.
Raka muncul dari kejauhan, menatap Aluna, gadis kecil, dan wanita itu. Hatinya berdebar. Ia ingin menghampiri, tapi langkahnya terhenti. Ia tahu, setiap gerakannya bisa membuat Aluna merasa terganggu.
Gadis kecil itu menoleh ke arah Raka. Matanya yang polos menatapnya sejenak, lalu kembali tertawa riang. Raka merasa ada benang aneh yang mengikat hatinya. Ia ingin bicara, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Aluna duduk di bangku, menatap hujan. Gadis kecil itu bermain di dekat wanita misterius, tertawa. Aluna menarik napas panjang. Ia tahu, keduanya akan selalu ada sebagai pengingat-pengingat bahwa dunia ini penuh tantangan, dan ia harus tetap tegar.
Raka akhirnya mendekat, hati berdebar. "Aluna..." suaranya pelan, hampir tak terdengar.
Aluna menoleh, matanya tajam. "Raka. Jangan."
Raka menelan ludah, menunduk. "Aku... hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
Aluna menggeleng, wajahnya tegas. "Aku baik. Anakku baik. Itu yang penting. Jangan ganggu kami."
Raka diam, hatinya remuk. Ia melihat gadis kecil itu, tersenyum pada Aluna, dan merasa sesuatu yang tidak bisa ia raih lagi. Ia ingin mendekat, tapi tidak bisa. Wanita misterius menatapnya, senyum tipis di wajahnya. "Biarkan mereka. Semua ini bukan soal siapa yang menang atau kalah," bisik wanita itu.
Aluna menarik napas panjang, menahan amarah. "Raka... anak ini akan tetap aman. Aku akan menjaganya sendiri."
Raka menunduk, rasa bersalah dan cemburu bercampur. Ia menyadari, Aluna kini berdiri lebih kuat dari sebelumnya, lebih dari yang ia pernah bayangkan. Namun hatinya tetap terpaut. Ia ingin menjadi bagian dari hidup mereka, tapi tidak tahu bagaimana caranya.
Hari-hari berikutnya, kehamilan Aluna semakin kritis. Kontraksi datang lebih sering, punggungnya pegal, dan mual tak henti-hentinya menyerang. Dina membantunya menyiapkan apartemen agar lebih nyaman. Aluna menatap perutnya, tersenyum kecil. "Ibu tahu ini sulit, Nak. Tapi ibu akan melewati semuanya."
Sore itu, Aluna duduk di balkon, menatap hujan turun pelan. Gadis kecil itu muncul lagi di taman, bermain di dekat wanita misterius. Aluna menatap mereka, hati campur aduk. Ia merasa ada sesuatu yang mengancam, tapi ia menolak untuk merasa takut. Ia harus tetap tegar.
Raka menatap dari kejauhan, hatinya bergejolak. Ia ingin menghampiri, ingin bicara, tapi takut menambah luka. Ia melihat Aluna tersenyum pada gadis kecil itu, dan rasa cemburu menusuk hatinya.
Beberapa hari kemudian, Aluna merasakan kontraksi lebih kuat. Dina segera menelpon dokter, dan Aluna dibawa ke rumah sakit. Raka, tanpa sengaja mengetahui kabar itu, berlari ke rumah sakit. Hatinya penuh rasa panik dan bersalah.
Di ruang tunggu, Raka melihat Aluna terbaring di ranjang, wajahnya pucat tapi tenang. Dina menggenggam tangan Aluna, menenangkan sahabatnya. Raka menunduk, tidak berani masuk. Ia tahu, ini bukan waktunya untuk menghadapi emosi sendiri.
Dokter keluar, menatap Raka sejenak. "Ini bukan urusan Anda," kata dokter tegas. Raka mengangguk, menahan diri.
Di dalam kamar, Aluna menatap perutnya, merasakan tendangan janin. "Ibu di sini, Nak. Kita akan baik-baik saja."
Malam itu, setelah pemeriksaan, Aluna tidur dengan rasa lelah yang mendalam. Dina duduk di samping, memastikan sahabatnya aman. "Kamu kuat, Aluna. Benar-benar kuat."
Di sisi lain kota, Raka menatap langit malam dari balkon kantornya. Hujan mulai reda, tapi hatinya tetap gelisah. Ia menyadari, kehilangan Aluna bukan hanya tentang dirinya sendiri, tapi juga tentang anak yang belum lahir. Ia tahu, suatu saat nanti, jalannya akan bertemu kembali dengan Aluna, dan saat itu semua perasaan yang tertahan akan meledak.
Hari demi hari, konflik terus meningkat. Aluna menghadapi kehamilan yang berat, tetapi tetap tegar. Raka semakin terguncang oleh perasaan cemburu dan penyesalannya. Gadis kecil dan wanita misterius terus muncul sebagai pengingat bahwa hidup tidak selalu adil, dan setiap langkah harus diambil dengan hati-hati.
Aluna menutup mata, tersenyum tipis, dan berbisik pada janinnya, "Kita akan kuat, Nak. Tidak ada yang bisa memisahkan kita."
Raka menatap lampu kota, menyadari bahwa meski ia jauh, hatinya tetap terikat pada Aluna dan anaknya. Ia tahu, suatu saat ia harus menghadapi semua perasaan ini-tapi bukan sekarang.
Dan di apartemen kecil itu, Aluna menatap hujan yang turun di jendela, memeluk perutnya, dan merasakan tendangan janin. Ia tahu, tantangan masih panjang, tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan melindungi anaknya, menghadapi Raka, dan menghadapi dunia yang terkadang kejam, dengan kekuatan yang hanya bisa dimiliki oleh seorang ibu yang siap menghadapi segalanya.
Anda Mungkin Juga Suka





