Sampul Novel Hold My Hand

Hold My Hand

8.0 / 10.0
Pasca kepergian orang tua angkat mereka, Khanza menyadari adanya getaran asmara yang tak biasa terhadap kakaknya, Barra. Meski tidak memiliki ikatan darah, status sebagai saudara membuat batin Khanza tersiksa oleh kebimbangan yang mendalam. Hubungan rumit ini semakin diuji saat mereka terjebak dalam pusaran konflik besar. Situasi kian mencekam ketika Barra terseret dalam sebuah kasus pembunuhan yang mengancam masa depan dan rahasia hati mereka berdua.

Hold My Hand Bab 1

      Usianya masih menginjak lima tahun. Saat keluarga gadis kecil itu mengalami kecelakaan mobil parah hingga menyebabkan kedua orang tuanya meninggal dunia.

Orang tua Khanza yang pada saat itu baru saja pindah pekerjaan ke Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, tidak memiliki banyak kerabat, kecuali hanya beberapa rekan di tempat kerja baru ayahnya. Oleh sebab itu akhirnya seorang kepala kepolisian setempat, memutuskan untuk mengadopsi Khanza, gadis cilik yang kini sudah tidak memiliki siapapun lagi di dalam hidupnya.

"Siapa namamu?"

"Khanza."

"Kalau begitu panggil aku kakak. Aku ... Kakakmu sekarang!"

Saat ayahnya memberitahukan bahwa kini ia memiliki seorang adik perempuan, Barra begitu merasa senang. Mungkin karena Barra tahu, ibunya selalu sedih di beberapa tahun terakhir akibat operasi pengangkatan rahim yang telah wanita itu jalani.

Jadi, kehadiran Khanza kecil bagi keluarga kecil mereka tentunya merupakan sebuah hadiah luar biasa.

Oleh sebab itu mereka berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi Khanza dalam seumur hidup yang mereka miliki.

.

         Tahun-tahun berlalu. Barra semakin tumbuh menjadi pemuda kuat, pemberani dan begitu penyayang. Terutama pada adik satu-satunya. Khanza. Yang saat ini sudah duduk di bangku kelas tujuh SMP.

"Bagaimana hasil hari ini?" tanya Barra. Pada Khanza, yang baru saja keluar dari gerbang sekolah dan menghampiri Barra yang tengah menunggunya sejak beberapa saat lalu.

"Khanza dapat nilai sembilan puluh, kakak!" ucap Khanza senang, memperlihatkan nilai ujian. Dimana hal itu membuat Barra tersenyum kemudian mengusap kepala Khanza secara perlahan.

"Hebat! Kau memang adik kakak yang sangat cerdas!" puji Barra dan langsung mendapat senyuman antusias dari Khanza.

"Kalau begitu kakak jadi memberikan tiket konser pada Khanza?"

"Ya."

Sesuai yang telah Barra janjikan sebelumnya, pemuda itu langsung mengeluarkan dua buah tiket konser yang Khanza inginkan dari saku jaket jeans yang Barra kenakan.

Saat Barra menyerahkan salah satu tiketnya pada Khanza, gadis itu terlihat begitu senang. Kedua matanya berbinar-binar. Seolah ada magnet yang langsung membuat Khanza menyambar tiket itu dari tangan Barra.

"Kakak juga ikut menonton konser dengan Khanza?" tanya gadis itu sumringah, menyadari Barra memegang tiket yang sama sepertinya.

Anggukan pelan di wajah Barra, semakin menyenangkan hati gadis yang mulai tumbuh remaja itu. Ia menatap Barra dengan tatapan penuh cinta.

"Asyik! Terima kasih, kakak!" Gadis itu tersenyum begitu tulus. Membuat Barra ikut membalas senyumannya.

"Tiket itu kakak berikan bukan hanya karena Khanza mendapat nilai yang bagus. Jika nilai Khanza tidak seperti itu pun. Khanza tetap berhak mendapatkan nya. Karena sudah berusaha sangat baik dalam ujian kali ini."

Khanza menanggapi ucapan itu dengan senyum mengembang.

"Khanza mengerti. Kakak, Ayah dan Ibu selalu mengajarkannya. Jika kita hanya fokus ingin mendapat hasil yang bagus, seringkali usaha yang dilakukan kurang maksimal karena terlalu terpaku dengan hasil yang belum keluar. Namun, jika kita menikmati prosesnya sedari awal, maka apapun hasilnya tetap akan membuat bangga. Iya, kan?"

Barra tersenyum. "Benar."

Lalu dua kakak beradik yang terpaut usia delapan tahun itu berjalan bersisian menuju motor yang terparkir liar di sisi jalan. Mereka berbincang-bincang tentang beberapa hal. Yang membuat Khanza sering kali tertawa lalu menaiki motor hingga kendaraan roda dua itu membawa pergi mereka dari kawasan sekolah.

.

      Malam beranjak larut. Hujan deras membasahi kota Palangka Raya dengan gelugur kecil yang sesekali terdengar dari atas langit.

Desau angin bersahutan di luar. Hembusannya terkadang membawa rintik-rintik kecil masuk melalui jendela kamar. Sementara pohon-pohon di pekarangan rumah mereka berderit tak beraturan.

Barra menutup jendela kamar yang sedikit basah. Ayah dan ibunya baru saja pergi melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Sementara sang adik telah terlelap tak lama setelah orang tua mereka berpamitan meninggalkan keduanya.

Dering ponsel di atas nakas yang terdengar berulang kali, membuat Barra meraih benda pipih tersebut.

Pemuda itu menatapi nomor tak asing yang masih berusaha menghubunginya sejak beberapa waktu lalu. Ibu Barra. Meski merasa heran karena tak biasanya sang ibu menelpon ketika sedang berada dalam perjalanan, namun, Barra tetap mengangkat panggilan itu. Menempelkan ponsel ke telinganya hingga sebuah suara berat kemudian terdengar nyaring di telinga.

"Hallo, selamat malam?" Suara bariton yang terdengar dari seberang sana jelas bukan suara Ayah Barra. Meski sedikit mirip, namun, Barra yakin dapat membedakan.

"Ya. Dengan siapa ini?" Barra bertanya.

Dan benar saja. Suatu hal buruk telah terjadi sehingga pemuda itu diperintah untuk segera datang ke lokasi kejadian. Di mana ayah dan Ibunya ditemukan sudah meninggal akibat meneguk racun bersama di dalam mobil.

Bersama hujan deras juga kilatan petir yang terlihat jelas di langit, Barra bergegas memasuki kendaraan. Menjelajah jalanan malam menuju tempat dimana orang tuanya berada.

Lutut pemuda itu lemas. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri para perawat memasukkan tubuh ayah dan ibunya yang sudah terbujur kaku ke dalam mobil ambulans. Sementara garis polisi mulai membentang di sekitar mobil orang tua Barra.

Rasanya seperti seluruh tubuh Barra hancur, yang menyebabkan ia tidak sanggup menopang berat dirinya sendiri.

Bibir pemuda itu memucat dengan gemetar luar biasa. Kaki-kaki nya jatuh ke bawah menyaksikan ayah dan ibunya sudah tiada.

Bagaimana ini semua bisa terjadi? Barra berharap ini hanyalah mimpi.

      Tatapan pemuda itu terlihat tak biasa membaca surat peninggalan ayahnya yang baru saja Barra terima dari pihak kepolisian. Di dalam surat tersebut berisikan permintaan maaf karena mereka tidak bisa menemani putra dan putrinya hingga tumbuh dewasa. Dan permintaan maaf karena nyatanya orang tua Barra lebih memilih menyerah di banding menghadapi permasalahan yang ada. Yang kemudian baru Barra ketahui bahwa selama ini ayah dan ibunya memiliki banyak sekali hutang. Sehingga karena hal itu polisi menduga ayah dan ibu Barra memilih mengakhiri hidup mereka.

.

    Orang-orang berlalu lalang di hadapan. Upacara pemakaman baru saja selesai dilaksanakan.

Berbagai ungkapan belasungkawa juga papan bunga pertanda duka cita terus berdatangan kepada mereka. Beberapa dari rekan ayahnya, tak sungkan menawarkan bantuan, bila saja Barra merasa kesulitan.

Tentunya penyebab ayah dan ibu mereka memutuskan bunuh diri telah tersebar.

Di titik ini, selain harus menerima kepergian orang tuanya yang secara mendadak. Barra juga seolah harus menelan sebuah fakta lain, bahwa betapa pengecut orang tuanya. Yang memilih pergi meninggalkan anak-anak mereka. Hanya karena permasalahan hutang. Padahal mereka bisa mendiskusikan nya dengan Barra sebelum memilih keputusan pahit ini.

"Kakak, ayo pulang." Suara lirih Khanza terdengar. Membuat Barra menoleh dan menatapnya sejenak.

Gadis itu, entah sudah berapa kali jatuh pingsan saat kabar tentang orang tua mereka terdengar. Bahkan hingga saat ini air mata masih terus menetes dari netra Khanza. Menandakan adiknya masih belum menerima kepergian ayah dan ibu mereka.

Menarik napas dalam-dalam, Barra memejamkan mata. Kemudian melangkahkan kaki mengikuti Khanza. Dimana gadis itu berjalan gontai menuju mobil.

Sunyi. Keheningan memenuhi suasana hari ini.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Hold My Hand

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki tak mampu menyembunyikan kekesalannya setelah ditolak mentah-mentah oleh pria yang dijodohkan dengannya. Alasan pria itu sangat klise, ia merasa tidak mengenal Yuki sama sekali. Sambil mengumpat dalam hati, Yuki menjuluki calon suaminya itu sebagai pria tua yang menyebalkan. Namun, rasa dongkol itu segera berubah menjadi sebuah rencana licik. Sebuah seringai muncul di wajahnya saat sebuah ide brilian terlintas untuk memberi pelajaran bagi pria itu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan