
Godaan Mas Duda Posesif
Bab 3
Beban pikiran semakin menumpuk, membuat hati Kaluna terasa semakin berat. Ia kembali dilanda kesedihan mendalam. Selama ini, ia yakin aibnya telah terkubur rapat. Namun kini, kenyataan pahit mulai mengusik. Gosip itu perlahan menyebar, mengancam ketenangannya.
Bayangan buruk mulai memenuhi pikirannya. Bagaimana jika ia dikeluarkan dari kampus di saat ia hanya tinggal selangkah lagi untuk lulus? Semua kerja kerasnya akan hancur begitu saja.
Tok tok tok...
Lamunannya terhenti saat mendengar suara ketukan pintu.
"Apakah sudah selesai?" suara Liam terdengar dari luar kamar, membuat Kaluna tertegun sejenak. Ia buru-buru merapikan bajunya dan menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"Sudah!" sahutnya dengan suara yang cukup keras.
Pintu kamar perlahan terbuka. Liam melangkah masuk dan berjalan mendekati Kaluna.
"Sudah tidur?" tanya Liam, suaranya terdengar lembut saat ia menatap bayi yang terlelap di pelukan Kaluna.
Kaluna hanya mengangguk pelan, kemudian menyerahkan bayi itu kepada Liam dengan hati-hati.
Liam mengambil alih dengan cekatan, menggendong bayinya dengan penuh perhatian.
"Saya boleh pulang sekarang?" tanya Kaluna tanpa basa-basi.
Liam memandangnya sejenak, lalu mengajukan pertanyaan balasan. "Kalau kamu pulang, siapa yang akan menyusui anak saya nanti?"
"Sebentar saja. Ada yang harus saya selesaikan di rumah."
Liam menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil. "Baiklah, tapi jangan lama-lama. Nanti kalau kembali ke sini, bawa bajumu sekalian. Mulai hari ini, kamu tinggal di rumah ini bersama saya."
Kaluna tertegun mendengar ucapan itu. "Nggak usah, Pak. Saya masih punya tempat tinggal," tolaknya dengan nada sopan.
"Terus kalau anak saya nangis malam-malam, saya harus pergi ke rumah kamu dulu gitu?" balas Liam dengan nada tajam.
Kaluna menghela napas. Bingung juga kalau dipikir-pikir. Ia bukan tidak mau tinggal di rumah orang, hanya saja ia merasa sedikit canggung, meskipun statusnya di sini adalah bekerja.
"Saya nggak keberatan kalau kamu membawa anak kamu ke sini. Bawa saja," ujar Liam tiba-tiba.
Kaluna tersenyum kecut. Boro-boro membawa anak, ia bahkan tidak tahu di mana anaknya berada sekarang. Yang ia tahu hanyalah, anaknya dibawa ke panti asuhan oleh bidan yang menolongnya waktu itu. Miris sekali, bukan? Namun, inilah kenyataan pahit yang harus dijalani oleh Kaluna.
"Simpan nomormu di sini. Kalau ada apa-apa, saya tinggal menghubungi kamu," ujar Liam sambil menyerahkan ponselnya pada Kaluna.
Kaluna menerima ponsel Liam dengan ragu, menatap layar ponsel yang ada di tangannya sejenak. Tanpa berlama-lama, ia segera mengetikkan nomor ponselnya dan menyerahkan ponsel itu kembali kepada Liam.
"Siapa namanya?" tanya Liam.
"Kaluna," jawabnya.
Liam mengangguk pelan. "Nama yang bagus," pujinya, disertai senyuman tipis.
Kaluna hanya tersenyum kecil, merasa sedikit canggung. "Terima kasih," ucapnya pelan, lalu menunduk.
"Silakan jika ingin pergi. Nanti saya hubungi kalau anak saya nangis," ujar Liam.
Kaluna mengangguk pelan, lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar.
*****
Tempat yang menjadi tujuan Kaluna selanjutnya bukanlah rumah, melainkan kedai kopi. Ia sudah ada janji dengan Tata, temannya, untuk bertemu dan membicarakan beberapa hal penting mengenai gosip yang sedang beredar di kampus.
Sesampainya di kedai kopi, Kaluna langsung menghampiri Tata yang sudah menunggunya di salah satu meja pojok dekat jendela.
Tata tersenyum ketika melihat Kaluna mendekat. "Akhirnya datang juga," ucapnya.
Kaluna duduk dengan wajah gelisah. Tanpa berlama-lama lagi, ia langsung bertanya, "Gimana?"
"Sabar dulu. Minum ini dulu," ujar Tata seraya mendorong satu gelas minuman ke depan Kaluna.
Kaluna menghela napas, lalu mengambil gelas itu dan meneguknya perlahan. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Tata dengan penuh harap.
Tata menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai berbicara. "Gue dikasih tahu sama Vinda, anak-anak Ekonomi semester lima banyak yang ngomongin lo di kampus."
Kaluna langsung terdiam, hatinya terasa berat mendengar kabar itu. "Soal hamil di luar nikah?" tanyanya, suaranya terdengar datar meski ada kekhawatiran yang mendalam.
Tata mengangguk pelan. "Iya. Kata Vinda, yang nyebarin gosipnya itu adek sepupunya Bela," jawabnya.
Kaluna menghela napas panjang, wajahnya seketika berubah murung. Bela. Nama itu mengingatkannya pada banyak hal buruk. Bela adalah mantan teman baiknya sekaligus pacar dari mantan pacarnya yang sekarang menjadi suami orang lain. Kaluna tak merasa heran jika wanita itu yang menyebarkan gosip ini. Dari awal mereka bertengkar, Bela memang pernah mengancam untuk membuat hidup Kaluna sengsara dengan cara apa pun, dan sekarang ancaman itu sepertinya mulai menjadi kenyataan.
"Manusia kalau udah kerasukan iblis emang kayak gitu," gumam Kaluna dengan pandangan kosong.
"Perasaan lo diam aja. Kenapa diusik mulu sama Bela, ya?" tanya Tata heran. Namun Kaluna masih melamun sambil meremas struk pembayaran dengan kesal.
"Dakjal emang gitu. Dia yang salah, dia yang banyak tingkah," lanjut Tata.
Kaluna menatap Tata. "Terus gimana? Banyak yang percaya?" tanyanya.
"Katanya sih, iya. Bahkan ada juga yang mau lapor Dekan," jawab Tata.
Kaluna tertawa pahit. "Kurang sengsara apa hidup gue ini? Hamil di luar nikah, tapi nggak ada yang mau tanggung jawab. Di saat gue lagi terpuruk, teman baik gue malah tega ngerebut pacar gue. Tapi gue berontak nggak? Enggak, kan? Gue cuma marah doang. Mereka aja yang kepanasan sampai sekarang, padahal gue nggak nuntut tanggung jawab," ucapnya panjang lebar.
Tata menghela napas panjang. "Herannya, padahal mereka udah kerja, udah punya kesibukan, tapi masih sempat-sempatnya ngusik lo. Kelihatan banget nggak bahagia hidupnya," timpalnya.
Kaluna tersenyum tipis. "Emang mereka kerja di mana?" tanyanya penasaran.
"Katanya sih, masih magang di Zenith Insurance," jawab Tata.
Dulunya, Kaluna, Tata, Amar dan Bela adalah teman seangkatan. Namun, Kaluna terpaksa cuti hampir setahun karena hamil, sementara Tata cuti karena sakit. Akibatnya, mereka lulus lebih lambat dari teman-teman seangkatan lainnya.
"Menurut lo, kalau berita gue udah sampai ke Dosen sama Rektor, gue bakal di-DO nggak?" tanya Kaluna.
"Kata gue sih enggak, Lun. Lo kan bentar lagi lulus. Masa iya, mereka tega?" jawab Tata, mencoba meyakinkan Kaluna. Namun, ada sedikit kekhawatiran yang tersirat dari suaranya.
Kaluna menghela napas berat, tatapannya kembali kosong.
"Oh iya, lo udah nggak kerja di Crispy Kingdom lagi?" tanya Tata.
Kaluna menggeleng pelan. "Enggak," jawabnya singkat.
Tata melanjutkan, "Terus sekarang lo ngapain di rumah? Jadi pengangguran?"
Kaluna tertawa sinis. "Seorang Kaluna dibilang pengangguran? Sehari nggak kerja aja, tangan rasanya gatel."
"Terus kenapa resign?"
Kaluna menatapnya sejenak, lalu menjawab, "Karena ada pekerjaan dengan gaji yang lebih menggiurkan."
Tata mengerutkan keningnya bingung. "Masa? Nggak percaya gue. Lo aja belum dapat gelar, masa udah dapat pekerjaan yang lebih mapan?" tanyanya tak percaya.
Kaluna tertawa kecil. "Tapi kenyataannya emang gitu. Gue dibayar 50 juta per bulan, dan kerjanya nggak berat, cuma duduk doang di kamar," ucapnya santai.
Mata Tata langsung membulat lebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. "Sumpah lo?! Ajak gue, anjir! Lo kerja di mana? Jangan bilang jadi simpanan om-om pejabat?" tuduh Tata, membuat Kaluna langsung memukulnya pelan.
"Sembarangan banget kalau ngomong!" sentak Kaluna dengan tatapan tajam.
Tata menyengir lebar. "Terus kerjanya ngapain sampai bisa dapat uang sebanyak itu?" tanyanya penasaran. "Ajak gue, please... gue capek jadi rakyat kismin."
"Lo harus hamil dulu kalau mau pekerjaan ini," celetuk Kaluna, yang berhasil membuat mata Tata kembali melotot dengan bibir yang menganga lebar.
"Stres lo! Gue hamil sama siapa, anjir? Sama kucing? Pacar aja nggak punya!" balas Tata sewot.
Kaluna tertawa kecil. "Orang gue kerjanya nyusuin bayi. Emang lo mau?" tanyanya.
"Ya kagak kalau itu. Mau disusuin pakai apa? ASI-nya aja belum keluar."
Kaluna kembali tertawa. Di saat mereka sedang asik bersenda gurau, tiba-tiba ponsel Kaluna bergetar. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan.
085704******
[Selamat siang, Mahasiswa atas nama Kaluna Pranatha besok disuruh menghadap ke Dekan Fakultas]
Kaluna berhenti tertawa seketika. Wajahnya yang ceria mendadak berubah jadi murung. Ia tersenyum kecut, sepertinya kehancuran sudah terlihat di depan mata.
Anda Mungkin Juga Suka





