Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel GALERI CERPEN PANAS 21+

GALERI CERPEN PANAS 21+

Hadir khusus untuk pembaca dewasa, karya ini menyajikan koleksi cerita pendek romansa modern yang menggugah gairah. Setiap kisahnya dirancang secara menarik untuk menemani waktu luang Anda di malam hari, memberikan pelarian sempurna dari rasa sepi. Telusuri setiap bab yang penuh dengan narasi intens dan memuaskan. Koleksi ini menjanjikan pengalaman membaca yang seru serta mendalam bagi Anda yang mencari hiburan berani dalam balutan romansa yang hangat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam kembali turun, dan Jakarta kembali menjadi kota yang menyembunyikan rindu-rindu yang tak sempat pulang.

Raka sudah menunggu di depan kos Ara, motor menderu pelan di bawah lampu jalan yang kuning redup. Sejak siang, pesan-pesan dari Ara sudah membuatnya gelisah.

"Pakai jaket itu lagi, Mas."

"Jangan pake daleman, ya."

"Nanti dudukku agak beda."

Sekarang gadis itu muncul dari gerbang. Rambutnya digerai, memakai jaket kampus yang kebesaran, dan celana rok panjang hitam. Sepintas, seperti mahasiswi pada umumnya. Tapi tatapan matanya saat menatap Raka adalah milik perempuan yang tahu betul bagaimana membuat pria kehilangan akal.

"Ara, kamu ngapain minta dijemput malam-malam gini?" tanya Raka, mencoba terdengar wajar.

"Tiba-tiba pengen naik motor, duduk di belakang kamu," katanya ringan. "Dan pengen kamu ngerasain sesuatu."

Begitu naik, Ara tidak duduk seperti biasa. Ia duduk sangat dekat-bukan hanya sekadar memeluk, tapi merekat. Tubuhnya menempel dari dada hingga paha. Tangannya masuk ke dalam jaket Raka dari belakang, menyentuh kulit langsung.

Motor mulai melaju perlahan. Raka bawa motor menyusuri jalan-jalan sepi, malam semakin larut. Tapi di antara jalan kosong dan lampu jalan, napas Raka mulai tak teratur.

Karena di belakang, tangan Ara bergerak. Pelan. Penuh siasat.

"Ara, kita di jalan," desis Raka.

"Justru itu yang bikin enak," jawabnya, suaranya menempel di telinga Raka. "Kamu bisa ngerasain aku... tapi nggak bisa lihat. Dan nggak bisa ngapa-ngapain."

Tangan gadis itu makin nekat, bergerak dari perut ke dada, turun lagi ke paha, lalu kembali ke pinggang. Seolah menguji seberapa jauh Raka bisa tahan.

"Mas tahu kan aku nggak pake daleman?" Ara berbisik.

Raka hampir kehilangan kendali setang.

"Dan aku duduk nempel banget begini... bukan karena dingin."

Motor berhenti di lampu merah. Senyap. Sunyi. Hanya ada satu mobil di depan, dan dua motor lain di seberang. Ara makin merapat, dan saat itu juga, ia mendorong tubuhnya ke punggung Raka, menggoyang ringan seperti sedang menggoda dari atas pangkuan.

"Aku udah basah, Mas. Dari tadi."

Lampu hijau menyala. Raka memacu motor pelan, tapi pikirannya sudah kabur. Jalanan di depannya kabur. Hanya ada desakan tubuh dari belakang dan napas hangat Ara di lehernya.

Mereka sampai di pinggiran kota. Jalan sepi, hanya satu-dua mobil lalu-lalang.

"Ara, kita berhenti dulu ya, bentar..." suara Raka serak.

"Jangan," potong Ara cepat. "Terusin jalan. Tapi buka resleting jaketnya..."

Raka menelan ludah. Dengan tangan kiri, ia menarik turun resleting jaket sambil tetap menjaga kemudi. Udara malam langsung menyentuh dadanya yang telanjang di balik kaos tipis.

Ara langsung menyelipkan tangan ke dalam, menyentuh kulit hangatnya, menggaruk dada dengan pelan, kemudian mencubit kecil di dekat tulang rusuk.

"Mas Raka deg-degan ya?" bisiknya nakal. "Aku bisa rasain jantungnya..."

Motor mulai oleng sedikit.

"Mas pengen aku duduk ngangkang nggak, biar kerasa lebih jelas lagi?" tantangnya.

"Gila kamu, Ra..."

Ara tertawa kecil. "Iya. Dan kamu suka itu."

Motor mereka akhirnya sampai di tepi jembatan layang yang jarang dilewati. Di situ Raka berhenti, lampu motor masih menyala, sorotnya mengarah ke jalan kosong. Angin malam menderu. Tapi tubuh mereka berdua hangat, lebih dari cukup untuk membuat udara jadi sesak.

Raka melepas helmnya. "Sini," katanya sambil menoleh setengah.

Ara langsung menyusup ke depan, duduk menghadap Raka, satu kakinya naik ke sisi kiri motor, satu lagi ke kanan. Posisi mereka seperti pasangan dalam tarian yang tidak diajarkan di sekolah.

"Pegang pinggangku," katanya. "Terusin jalan. Tapi aku di depan."

"Kamu mau naik begini?!"

"Cuma pelan. Biar deg-degannya lebih kerasa."

Dan Raka menuruti.

Motor bergerak lambat, pelan, menyusuri jalan sepi dengan Ara duduk menghadapnya, menggoyang pelan tubuhnya sambil menatap mata Raka lurus-lurus. Roknya tersingkap, rambutnya berkibar, dan bibirnya terbuka sedikit-seolah menunggu ciuman yang belum datang.

"Mau aku bisikin hal kotor lagi?" katanya, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Raka.

"Jangan. Nanti aku nabrak."

Ara tertawa. "Kalau kamu nabrak, kita jatuh. Kalau kita jatuh, bajuku kebuka. Kalau kebuka, kamu harus tanggung jawab."

"Lalu?"

"Kamu harus nikahin aku."

Raka terdiam. Motor tetap melaju pelan.

"Ara..."

"Iya?" katanya, masih menatap tajam.

"Kamu mau aku tanggung jawab karena bajumu kebuka, atau karena aku udah jatuh duluan?"

Ara tersenyum. Manis. Tapi juga menggoda seperti racun yang enak ditelan.

"Dua-duanya, Mas."

Dan di tengah jalan sepi, motor berhenti. Mereka saling menatap, napas menyatu, dan untuk pertama kalinya di tempat terbuka, bibir mereka bertemu. Dalam. Panjang. Liar. Dan penuh janji baru yang tidak hanya basah... tapi juga dalam.

***

Pagi itu, Raka bangun bukan karena alarm.

Tapi karena wangi rambut Ara yang menempel di bantal, dan kaki telanjangnya yang melingkar seperti akar yang menuntut terus dipeluk. Di balik selimut tipis yang menjuntai, tubuh mungil itu tak memakai sehelai benang pun, masih tertidur dengan napas berat dan bekas-bekas semalam yang belum sepenuhnya kering.

Kontrakan Raka kini tidak lagi terasa miliknya sendiri.

Gelas kopi ada dua. Handuk di kamar mandi jadi rebutan. Di atas meja, ada pembalut, parfum semprot, dan laptop pink kecil. Bahkan colokan sudah dikuasai charger HP Ara.

Dan yang paling gila-ada celana dalam Ara yang digantung di atas kipas angin.

Raka bangkit pelan, hanya mengenakan celana pendek, lalu duduk di pinggir ranjang. Ia menatap sekeliling. Semua berubah.

Tapi anehnya... ia tidak merasa kehilangan. Justru sebaliknya-kontrakan ini hidup.

Dari belakang, lengan kecil itu melingkar di pinggangnya. "Mas, mau ke mana?"

"Ke dapur. Ngopi."

"Enggak boleh. Belum cium aku."

Raka menoleh, Ara sudah duduk bersila, tubuhnya masih telanjang, mata masih separuh mengantuk. Tapi senyumnya penuh kemenangan. Ia menarik leher Raka mendekat dan mencium bibirnya. Pelan. Dalam. Lalu menggigit sedikit bawah bibirnya.

"Sekarang boleh pergi," katanya, lalu merebah lagi seperti ratu yang baru saja memberi izin kepada prajuritnya.

Pagi itu mereka tidak mandi. Tapi mereka mandi keringat.

Meja dapur jadi saksi. Kursi plastik nyaris patah. Bahkan cucian bersih jadi korban. Dan ketika siang tiba, mereka hanya memakai celana pendek dan kaos longgar-berjalan di dalam kontrakan seperti sepasang kekasih liar yang tak punya alasan untuk berpura-pura sopan.

***

Siangnya, Raka duduk di lantai, laptop di pangkuan, mencoba menyusun rute kerja. Tapi konsentrasinya terus buyar karena Ara berkeliaran di kamar dengan handuk saja. Handuk pendek. Yang terlalu sering nyaris jatuh.

"Mas, aku pinjam baju kamu ya. Aku udah dua hari belum pulang kos."

"Lah, emang kamu nggak mau balik?"

Ara hanya menjawab dengan masuk ke lemari, mengambil kaos Raka, memakainya tanpa daleman, lalu duduk di pangkuannya.

"Aku udah mutusin. Mulai sekarang aku tinggal sini."

Raka tertawa kecil. "Ara, ini kontrakan cowok. Sempit. Pengap. Nggak ada ruang buat hidup santai."

"Tapi ada kamu. Dan tubuh kamu." Ia menyandarkan kepala ke dada Raka. "Itu cukup."

Mata Raka menatapnya serius. "Kalau kamu beneran tinggal, ini bukan cuma tempat main-main lagi."

Ara mengangguk. "Aku tahu. Aku udah milih. Aku nggak main-main, Mas."

Hening sesaat. Lalu tangan Ara mulai bergerak ke bawah, seperti biasa. Tapi kali ini bukan hanya godaan. Kali ini penuh rasa memiliki.

"Ini punyaku sekarang, kan?" bisiknya, sambil menggenggam kemaluan Raka dengan lembut namun mantap. "Nggak ada cewek lain yang bisa sentuh ini."

Raka menahan napas. Tapi tak menjawab.

Ara mencubitnya.

"Jawab, Mas."

"Iya, iya. Punya kamu."

Ara tersenyum puas. Tapi belum selesai.

"Kalau gitu, aku mau bikin tanda."

Ia menarik celana Raka ke bawah, dan kali ini, ia tidak hanya menyentuh. Ia menguasai. Perlahan, penuh kendali. Tapi tidak tergesa. Ia ingin setiap inci tubuh Raka mengingatnya.

Dan ketika hari beranjak sore, Raka sudah terkapar, kelelahan, sementara Ara duduk di tepi ranjang sambil mengecek pesan masuk di HP-nya, memakai kaos yang terlalu besar dan celana yang terlalu pendek.

"Mas," katanya tanpa menoleh. "Besok aku pengen kamu jemput siang. Kita ke kosanku. Aku harus ambil beberapa barang."

"Oke. Kita sekalian pulang?"

Ara menoleh, matanya tajam. "Enggak. Kita cuma mampir. Pulangnya tetap ke sini."

Raka diam sebentar. Lalu tersenyum.

Kontrakan ini bukan miliknya lagi. Bukan sepenuhnya.

Tapi di situlah justru hidupnya terasa mulai berarti.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LHK" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LHK
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Kakak Pembunuh
8.6
Malam pernikahan berubah maut saat Carlos Fowler membiarkan aku tewas di tangan penculik demi wanita lain. Di saat terakhir, kakak laki-lakinya yang lumpuh, Vincent, datang membalaskan dendamku. Kini aku terlahir kembali untuk memperbaiki takdir. Di depan altar, kubatalkan pernikahan dengan Carlos secara mengejutkan. Aku justru melamar Vincent yang terabaikan di kursi rodanya. Carlos mengira ini hanya gertakan, namun ia akan segera kehilangan segalanya.
Sampul Novel Habis Manis Sepah Dibuang
8.8
Setelah dipermalukan oleh seorang klien yang menyiramnya dengan air, Jocelyn tidak mendapatkan pembelaan dari Michael. Pria itu justru memeluk asistennya dengan mesra dan mencaci ketidakmampuan Jocelyn di depan umum, bahkan mengancam akan memecatnya. Merasa muak dengan perlakuan tidak adil tersebut, Jocelyn menyeka wajahnya, menenggak segelas alkohol, lalu membalas dengan menyiramkan minuman keras itu tepat ke wajah Michael sebelum akhirnya menyatakan mundur dari perusahaan.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Sampul Novel Istriku, bukan Jodohku
9.3
Akibat pengaruh obat perangsang, Calvin terjebak dalam hubungan terlarang dengan kakak iparnya. Kondisi medis yang mengancamnya dengan impoten parsial memaksa interaksi ini terjadi berulang kali hingga benih cinta mulai tumbuh. Kini, Calvin terjepit dalam pusara kebohongan. Ia harus menyembunyikan kenyataan pahit ini dari kakaknya yang menderita sakit jantung kronis. Akankah sang kakak sanggup bertahan, atau justru pengkhianatan ini adalah rahasia yang ia harapkan?
Sampul Novel Ketika Hati Yang Tulus Dibalas Dengan Luka Yang Dalam
9.8
Rania terjebak dalam pernikahan penuh dusta demi melindungi kakeknya yang renta. Namun, jiwanya hancur saat menyaksikan pengkhianatan Arkana, suaminya sendiri. Di tengah luka mendalam tersebut, terungkaplah rahasia masa lalu dan perasaan yang selama ini terpendam. Ini adalah kisah tentang pengorbanan yang tak terlihat dan perjuangan seorang wanita untuk bangkit dari puing-puing kehancuran hatinya demi menemukan kekuatan baru yang sejati.
Sampul Novel Love Escape
8.4
Harapan Ghena untuk dilamar saat anniversary hancur ketika Bastian justru memutuskan hubungan 15 tahun mereka demi perjodohan orang tua. Berusaha bangkit, Ghena pindah ke Singapura untuk bekerja sebagai pemandu wisata. Namun, setahun kemudian Bastian muncul kembali bersama tunangannya dan mengaku masih mencintai Ghena. Kini Ghena terjebak dalam dilema besar: tetap tegar menolak atau menyerah pada perasaan lama dan menjadi orang ketiga.