
Gairah Sang Pemuas
Bab 2
"Di kamarku ada cewek, Maan!" ungkap Gusti yang sesekali melihat ke arah kamarnya. Namun perempuan yang dia maksud tak terlihat sama sekali.
Mendengar Gusti menyebut perempuan, kelopak mata Aman langsung terbuka lebar. "Apa? Cewek?!" tanyanya tak percaya.
"Iya! Dia tadi tiba-tiba masuk ke kamarku," jelas Gusti.
"Rambut panjang dan pakai baju putih nggak?" tebak Aman. Takut kalau perempuan yang mendatangi Gusti bukanlah manusia.
"Kau pikir kuntilanak apa? Jelas dia manusia. tapi Itu lebih menakutkan, Maan!" sahut Gusti.
Aman yang meragu, segera mendatangi kamar Gusti. Pupil matanya membesar, tatkala benar-benar melihat seorang perempuan di kamar temannya tersebut.
"Edan kau, Gus! Baru beberapa jam di sini sudah dapat aja cewek cantik." imbuh Aman sambil menelan ludah sendiri, Dia melihat Ana telentang dalam keadaan hanya mengenakan bra dan rok mini. Lelaki mana yang tidak panas dingin melihatnya.
"Kalian sempat melakukan apa tadi, Gus? Kenapa dia setengah telanjang begini?" tanya Aman.
"Enak aja. Aku sentuh dia sedikit aja enggak, Tapi nih cewek kayaknya mabuk. Dia tadi jalan sempoyongan gitu," tanggap Gusti. "Kita panggil ibu kost aja deh," usulnya.
"Bawa ke kamar aku aja nggak apa-apa," kata Aman.
"Edan kau! Kalau digrebek masa nanti gimana?" balas Gusti.
"Ah! Ini kota, Gus. Bukan kampung, Manusianya rata-rata individualis. Nggak peduli sama urusan orang," Aman melambaikan tangan ke depan wajah.
"Tetap aja. Mana hp-mu? Biar aku saja yang telepon Tante Hesti," pinta Gusti.
"Udah! Aku aja." Aman terpaksa menghubungi ibu kost untuk mengadukan yang terjadi.
Hesti segera datang bersama suaminya, Dia tampak cemberut. Wanita paruh baya itu juga menggerutu, perihal kebiasaan Ana yang sering mengganggu penghuni kost lain.
"Aku minta maaf sebelumnya sama kalian, Wanita ini memang kadang-kadang begini. Aku sudah berusaha memberitahunya berkali-kali untuk pindah, tapi dia tetap ngeyel. Jadi aku sarankan, kalian agar selalu mengunci pintu kalau sedang di kamar atau pergi," ucap Hesti panjang lebar.
Gusti mengangguk mengerti. Sedangkan Aman tampak senyum-senyum sendiri.
"Sekarang ayo bantu aku memindahkan dia ke kamarnya. Kalian kuat menggendongnya kan? Soalnya kalau dibangunkan, malah merepotkan," ungkap Hesti.
"Kami--"
"Bisa banget, Tante! Aku gendong sendiri pun bisa. Lagian Gusti juga kayaknya kecapekan." Aman dengan cepat memotong ucapan Gusti. Lelaki sepertinya memang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan, Aman lantas menggendong Ana dengan gaya bridal.
"Ya udah, aku akan bukakan pintu kamarnya," sahut Hesti yang segera beranjak keluar lebih dulu.
"Wah... Mantul, Gus!" ungkap Aman yang cengengesan sambil geleng-geleng kepala.
Gusti menarik sudut bibirnya ke atas. Sebagai lelaki, dia tentu paham dengan apa yang ada di pikiran Aman.
"Hati-hati ngaccueng tuh!" tegur Gusti, ketika Aman berjalan melewatinya, Kini dia bisa tenang kembali.
Usai Ana dipindahkan ke kamar seharusnya. Gusti beristirahat kembali, Ia kali ini tidak lupa mengunci pintu kamarnya.
...***...
Hari pertama ospek dimulai. Kegiatan yang seringkali juga disebut orientasi studi dan pengenalan kampus itu, harus dilalui mahasiswa baru. Tak terkecuali Gusti dan Aman.
Saat waktu menunjukkan jam enam pagi, Gusti dan Aman berangkat. Mereka pergi dengan menaiki bus.
"Nanti aku mau beli motor, Gus. Tapi sekarang masih di urus sama bapakku," imbuh Aman. Ia dan Gusti sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu. Semua itu tentu berdasarkan arahan dari pihak kampus. Terutama pihak mahasiswa BEM yang kebetulan berwenang mengurus kegiatan ospek.
"Kalau udah punya motor, jangan lupa boncengin aku," tanggap Gusti.
"Ganteng-ganteng maunya diboncengin," komentar Aman. Dia dan Gusti lantas tergelak bersama.
Tak lama kemudian Gusti dan Aman tiba di kampus. Mereka harus berpisah, karena mengambil program studi yang berbeda. Gusti mengambil program studi Arsitektur, sedangkan Aman mengambil program studi Ekonomi.
Gusti segera bergabung ke dalam barisannya. Jujur saja, sejak pertama kali muncul, dia sudah menarik perhatian banyak pasang mata. Baik itu senior dan mahasiswa baru lain. Mengingat ketampanan yang dimiliki Gusti memang sulit untuk diabaikan, Terutama bagi para kaum hawa.
Karena tinggal di kampung yang dekat dengan pegunungan, Gusti memiliki kulit putih bersih. Dia juga terbiasa hidup bersih karena kebiasaan yang ditanamkan oleh keluarganya.
Gusti mengembangkan senyuman, ketika sudah bergabung dengan mahasiswa baru program studi Arsitektur. Para gadis yang ada di program studi itu, diam-diam kegirangan karena mempunyai teman sejurusan berparas tampan.
"Hai! Anak mana?" seorang lelaki dengan rambut cepak bertanya seraya tersenyum, Dia kebetulan berdiri di sebelah Gusti. Lelaki tersebut juga memiliki paras tampan. Namun ketampanannya masih belum bisa mengalahkan aura yang dimiliki Gusti.
"Aku dari Jawa Tengah, Tepatnya di kampung dengan nama Pesenja. Kalau kau?" tanggap Gusti, Dia berbalik tanya.
"Aku Elang! Sejak lahir tinggal di kota ini," sahut lelaki berambut cepak tersebut.
"Wah! Nanti bisa ajarin aku jadi anak kota dong," balas Gusti berbasa-basi.
"Siap!" Elang menjawab dengan mengacungkan jempol.
Pengarahan dilakukan oleh ketua BEM. Seluruh mahasiswa melakukan beberapa kegiatan bermanfaat, dan dilanjutkan dengan pengenalan kampus. Mereka dipersilahkan untuk menjelajahi area kampus. Saat itulah, semua orang memanfaatkan waktu saling berkenalan.
Gusti menemukan banyak orang yang mengajaknya bicara. Hal serupa juga dialami oleh Elang, Mereka juga tak lupa saling berbagi nomor telepon.
Dari banyaknya orang. ada satu gadis yang mencuri perhatian Gusti, Yaitu gadis bernama Widy. Alasan Gusti hanya satu saat melihatnya, yaitu karena Widy adalah yang tercantik. Tidak seperti gadis lainnya, Widy hanya menyapa Gusti dengan senyuman.
Memang tadi malam, Gusti sudah menemui perempuan cantik di kamar. Namun gadis yang dilihatnya sangat berbeda dengan Ana. Widy memiliki kharisma yang sangat berkesan, Gadis itu memiliki nada bicara lembut dan tatapan meneduhkan.
"Apa dia aktris?" bisik Gusti pada Elang.
"Kenapa? Baru lihat cewek kota?" tanggap Elang yang berusaha menahan tawa.
"Nggak semua cewek kota begitu kan?" balas Gusti santai.
"Kau benar! Nggak semua cewek kota seperti Widy," sahut Elang sambil meletakkan siku ke pundak Gusti. "Nanti kita ajak dia ngobrol pas lihat-lihat area kampus," usulnya enteng.
"Eh, aku nggak bermaksud begitu kok. Cuman pengen tahu aja," Gusti buru-buru membantah.
Elang terkekeh, Ia mencoba memahami sisi lugu Gusti. "Ya udah, Ayo kita jalan," ajaknya. Dia dan Gusti segera memasuki area kampus, Begitu pun mahasiswa baru lainnya.
Banyak orang yang bergabung bersama Gusti dan Elang, Mengingat sosok Elang yang begitu supel. Orang yang agak pendiam seperti Gusti, merasa nyaman berteman dengannya.
Ospek dilakukan selama seharian penuh. Di akhir, ketua BEM memanggil nama-nama mahasiswa baru yang menarik perhatian. Tentu saja, Gusti menjadi salah satu mahasiswa, yang disebutkan untuk maju ke depan. Dia dan Widy menjadi perwakilan program studi Arsitektur. Hal yang lebih mengejutkan, Elang juga menjadi salah satu mahasiswa terpilih untuk maju ke depan.
Selain karena paras rupawannya, Gusti, Elang, dan Widy, juga diketahui sering bertanya serta menjawab saat kegiatan ospek berlangsung. Semua orang bersorak nyaring saat mereka maju ke depan. Saat itulah, Gusti bisa berinteraksi dengan Widy untuk pertama kalinya.
"Malu-maluin banget ya," Diam-diam Widy berbisik ke telinga Gusti.
"Iya, Semua orang pada ngelihatin kita," tanggap Gusti. Dia menatap Widy selintas karena masih enggan.
"Rasanya aku pengen sembunyiin wajahku," keluh Widy yang malu-malu melihat ke depan.
"Apa yang harus disembunyikan? Wajahmu cantik begitu kok," celetuk Elang yang sejak tadi berdiri di sisi kiri Widy.
"Apaan sih." Widy terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
"Kenapa? Udah sering dapat pujian begitu ya?" timpal Elang nyungir.
"Iya, Basi tahu nggak!" balas Widy, Dia kesulitan menahan senyuman.
"Yang bisa basi itu nasi, Neng!" canda Elang. Dia memang tipe lelaki yang mudah sekali akrab dengan seseorang.
Gusti yang sejak tadi mendengarkan, hanya bisa sesekali tersenyum. Dia merasa harus beradaptasi lebih baik lagi, Terlebih suasana kota masih sangat baru baginya.
Hal yang membahagiakan saat itu, Gusti mendapatkan hadiah dari pihak penyelenggara ospek. Dia mendapat hadiah berupa peralatan tulis dan uang.
Sekarang Gusti dan Aman sudah berada di bus, Mereka dalam perjalanan untuk pulang.
"Gimana, Gus? Hari pertamamu?" cetus Aman memulai percakapan.
"Lumayan, Kalau kau?" Gusti berbalik tanya.
"Ya begitulah, Kan baru hari pertama. Oh iya, cewek yang namanya Widy itu cantik banget. Kau punya nomornya nggak?" tanya Aman antusias.
"Punya, Tapi aku nggak bisa kasih ke kamu begitu aja!"
"Kenapa gitu? Aku ini kancamu loh." Aman menatap malas, Namun tatapannya segera berubah menjadi penuh selidik. "Oh... Atau jangan-jangan kau juga suka sama Widy? Mawar mau dikemanain dong?" tebaknya sinis.
Plak!
Gusti langsung menggeplak jidat Aman, Mengingat temannya itu asal bicara semaunya.
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





