
Gairah Sang Pemuas
Bab 3
"Asal aja lambemu itu, Maan! Lagian aku sama Mawar itu cuman teman," geram Gusti.
"Memang begitu? Sebelum pergi dari kampung aja pelukan dulu," sahut Aman yang enggan percaya.
"Terserahmu lah!" balas Gusti kesal.
Tak lama kemudian, bus berhenti. Gusti dan Aman hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk tiba di kost-kostan.
Kini Gusti baru saja tiba di depan pintu kamar kostnya, Saat itulah Ana menghampiri.
"Hei!" tegur Ana.
Pupil mata Gusti membesar, Dia reflek menghindari Ana.
"Maaf mengejutkanmu. Aku hanya ingin meminta maaf tentang yang terjadi tadi malam, Aku harap kau bisa memakluminya," ujar Ana.
"Ah, itu... Tidak apa-apa. Aku harap itu tidak terjadi lagi," Gusti menanggapi dengan senyuman kecut.
"Aku janji itu tidak akan terjadi lagi. Kenalkan aku Ana,. Kau pasti mahasiswa baru ya?" kata Ana seraya mengulurkan tangan.
"Iya, Namaku Gusti." Gusti menyambut uluran tangan Ana. Perempuan tersebut menggenggam tangannya cukup erat, Memasang tatapan lekat yang justru membuat Gusti agak takut.
"A-aku mau istirahat," imbuh Gusti karena tangannya tak kunjung dilepaskan Ana.
"Ah, maaf! Wajahmu bikin aku nggak fokus," ungkap Ana. Ia segera melepas tangan Gusti, Membiarkan lelaki itu masuk ke kamar.
Ketika sudah di kamar. Gusti langsung mengunci pintu, Dia merasa perempuan seperti Ana agak mencurigakan.
Sebelum istirahat, Gusti mandi terlebih dahulu. Selanjutnya dia tiduran di ranjang, Gusti tertidur dengan cepat karena kelelahan.
...*** ...
Dug! Dug! Akh! Akh!
Suara berisik membangunkan Gusti dari tidur, Dia mengerjapkan mata dan duduk. Mencoba menemukan sumber suara yang mengganggu tidurnya.
Setelah didengar dengan seksama, ternyata suara tubrukan serta erangan perempuan tersebut berasal dari kamar sebelah.
"Apaan tuh?" gumam Gusti, Dia mulai curiga dan mengira-ngira. Perlahan dirinya tempelkan telinga ke dinding. Maka, semakin terdengar jelas suara erangan perempuan itu. Gusti bahkan juga mendengar samar-samar suara erangan lelaki.
Wajah Gusti memerah. Dia merasa, kalau erangan yang didengarnya adalah suara orang sedang dinas kenikmatan.
Tok, Tok, Tok!
Suara ketukan pintu membuat Gusti kaget sampai tersentak, Dia pun bergegas membuka pintu.
Ternyata orang yang datang adalah Aman. Lelaki itu langsung masuk ke kamar saat Gusti membuka pintu.
"Kau kenapa?" tanya Gusti heran.
Aman tak menjawab, Dia malah meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. "Wah! Sudah kuduga di sini suaranya terdengar lebih jelas," bisiknya. Dia jelas membicarakan perihal pemilik kamar kost di sebelah Gusti.
"Menurutmu mereka..." Gusti enggak mengakhiri kalimatnya, Dia yakin Aman pasti mengerti.
"Bukankah sudah jelas kalau mereka sedang ngebreh, Gus!" ucap Aman penuh keyakinan.
"Itu kamar Ana kan ya?" Gusti memastikan.
"Seratus persen! Kan tadi malam kau lihat sendiri, ibu kost buka kamar yang itu buat pindahin dia," tanggap Aman. Dia duduk menghempas ke tepi ranjang.
"Aku tadi sempat lihat Ana ngobrol sama cowok loh. Kayaknya itu cowok yang sekarang main sama dia," lanjut Aman.
Bertepatan dengan itu, Gusti dan Aman dibuat terkejut bersama. Sebab suara hentakan dan erangan di kamar sebelah semakin menjadi-jadi.
"Anjir! Padahal Ana tadi baru saja minta maaf sama aku loh. Aku sepertinya harus cari kost-kostan lain, Maan!" seru Gusti. "Kau juga kan?" tanyanya.
"Kita sepertinya nggak sepemikiran, Gus." Aman berdiri dan memegang pundak Gusti, Perlahan dia mendekatkan mulut ke telinga Gusti. "Kau nggak tertarik? Aku dengar Ana itu wanita bayaran," bisiknya.
Mata Gusti terbelalak, Ternyata benar ada sesuatu yang mencurigakan dari sosok Ana.
"Awalnya aku mengira itu hanya gosip. Tapi setelah mendengar suara nikmat dari kamarnya, aku yakin itu benar!" ungkap Aman.
"Edan kau, Maan!" Gusti langsung mendorong Aman. "Aku mau keluar aja, Dengar orang begituan bikin aku nggak bisa tidur!" keluhnya sembari mengenakan jaket.
"Aku di sini aja nggak apa-apa kan?" tanya Aman.
"Iya. Awas aja kalau kau berani ngajak Ana masuk ke sini, Aku tempeleng kau!" timpal Gusti sambil mengarahkan kepalan tinju kepada Aman. Namun temannya tersebut malah rebahan keranjang seraya memainkan gawai.
"Woy! Dengar nggak apa yang aku bilang tadi?" tegur Gusti yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Iya iya... Dengar kok aku," tanggap Aman santai. "Hati-hati, Gus! dikota Banyak cowok yang doyan cowok ganteng!" serunya nyungir.
Gusti mendengus kasar. Lalu barulah dia keluar kamar dengan ekspresi cemberut, Dirinya melangkah tak tentu arah keluar dari area kost-kostan.
Di malam yang gelap, Gusti menyusuri pinggiran jalan sembari memasukkan dua tangan ke kantong jaket. Saat hampir mendekati lampu merah, dia melihat dua wanita bergaun kerlap-kerlip dan seksi. Parahnya, kedua wanita tersebut terus menatap Gusti sejak pertama kali muncul, Padahal posisi mereka masih jauh.
Gusti berhenti melangkah. Firasatnya tidak enak, ketika menyaksikan dua wanita itu berjalan mendekat.
"Apa di kota ini banyak wanita kerja begituan ya?" gumam Gusti. Meski merasa terancam, dia merasa penasaran. Sebab dirinya merasa ada yang aneh dengan tampilan dua wanita itu.
"Tapi... Kenapa wanita badannya besar begitu ya?" Gusti memicingkan mata, Dua wanita tersebut kini berani melambaikan tangan kepadanya. Mereka bahkan berlari kecil agar bisa lebih cepat menghampiri. Keduanya juga terkesan seperti ingin berdahuluan.
Saat kian mendekat, Gusti bisa mendengar suara dua wanita tersebut saling beradu. Ia juga bisa melihat mereka secara lebih jelas.
"Astaga naga! Dia ganteng banget, cin!"
"Parah! Dia milikku! Aku yang pertama kali lihat!"
"Enggak! Dia milikku!"
Dua wanita itu terdengar berdebat. Suara mereka jelas bukan wanita tulen, Alias suara pria yang terdengar dibuat-buat seperti wanita. Ya, mereka tidak lain adalah dua bonceng jalanan yang sedang mencari mangsa.
"Anjir! Ternyata siluman!" rutuk Gusti yang baru sadar. Dia langsung berbalik arah dan berlari secepat mungkin, Dirinya bahkan tak berani menengok ke belakang lagi.
Sementara di belakang, dua bonceng tampak berlari terseok-seok karena sama-sama mengenakan gaun ketat. Mereka terpaksa melepas sandal selop, agar bisa mengejar Gusti.
Karena mendesak, Gusti berbelok memasuki gang. Dia keluar ke jalan raya lain, dan memilih masuk ke sebuah super market.
Usaha Gusti sukses besar lari dari kejaran dua siluman tersebut. Kini dia sibuk mengatur nafas akibat kelelahan berlari, Gusti berdiri sambil memegangi lutut. Ia berjongkok sembilan puluh derajat.
"Gusti?" suara tidak asing menegur, Membuat Gusti langsung menengadahkan kepala.
Setelah dilihat, orang yang memanggil ternyata Elang. Gusti segera berdiri tegak, Ia terpana pada sosok Elang. Bagaimana tidak? Lelaki itu tampak sangat berbeda ketika mengenakan pakaian biasa.
Dari ujung kaki sampai kepala, Elang mengenakan pakaian bermerek. Dia terlihat benar-benar seperti orang kota tulen. Tato yang ada di lengan Elang juga tak luput dari atensi Gusti.
"Elang?" Gusti menyapa balik.
"Ngapain kau keringatan gitu? Habis olahraga malam?" tanya Elang heran.
"Enggak. Cuman kecapekan aja. Soalnya aku jalan kaki dari kost-kostan," jawab Gusti.
"Yang benar? Kau nggak punya motor sendiri? Kenapa nggak naik angkot aja?" cecar Elang.
"Aku nggak punya motor. Terus nggak kepikiran juga naik angkot, Lumayan bisa ngirit uang."
"Oh begitu. Aku antar pulang gimana? Tapi setelah aku bayar barang belanjaan ke kasir," tawar Elang.
Gusti mengangguk. "Iya, boleh!"
Usai menunggu, Gusti ikut ke parkiran bersama Elang. Di sana Gusti dibuat semakin kaget, saat melihat mobil sport keren milik Elang.
"Anjir! Ini mobilmu, El?" tanya Gusti melongo.
"Iya. Ayo naik!" ajak Elang.
Gusti sekarang ada di mobil Elang, Tampilan di dalam mobil Elang kembali membuat Gusti berdecak kagum.
"Gila! Mobilmu pasti mahal," komentar Gusti.
"Aku nggak bisa membantah," tanggap Elang seraya menjalankan mobil.
Gusti menatap Elang. Dia mencoba memberanikan diri, untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran.
"Aku yakin kau bukan orang biasa di kota ini. Apa kau anak--"
"Anak konglomerat? Itu kan yang ingin kau tanyakan?" potong Elang dengan tebakannya. "Kau salah, Gus. Aku tinggal sendirian semenjak umur 16 tahun. Aku nggak punya orang tua. Semua yang kumiliki adalah hasil jerih payahku sendiri," sambungnya.
"Benarkah? Kau hebat sekali." Untuk yang kesekian kalinya Elang membuat Gusti terkesan. "Kau kerja apa?" tanyanya penasaran.
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





