Sampul Novel Gairah Perempuan Bergaun Merah

Gairah Perempuan Bergaun Merah

8.8 / 10.0
Dalam Gairah Perempuan Bergaun Merah, Ruby terjebak dalam obsesi terlarang yang menguji kewarasannya. Modern novel ini mengisahkan konsekuensi cinta buta terhadap sosok tabu demi ambisinya. Temukan kisah intens ini di platform web novel kami bagi pencinta romance stories dewasa.
Ringkasan Gairah Perempuan Bergaun Merah
Ruby adalah wanita berusia pertengahan tiga puluh tahun yang tetap menjaga bentuk tubuh indahnya dengan sempurna. Meski telah mengenyam beragam pengalaman asmara dan kehidupan ranjang, ia akhirnya terjebak dalam sebuah obsesi cinta yang membutakan nuraninya. Perasaan ini menjungkirbalikkan logika dan kewarasan Ruby karena sosok yang ia kejar adalah orang yang sangat terlarang. Ia nekat menerjang batasan tabu demi meraih cinta yang seharusnya tidak pernah ia miliki.
Baca Selengkapnya

Gairah Perempuan Bergaun Merah Bab 1

If love is blind... I'll find my way with you...Cause I can see myself, not in love with you...

Suara mendayu manja melantunkan lagu dari Tiffany terus saja membelai pendengaran semua orang di ruangan seluas 20 x 30 meter berpenerangan remang-remang. Hanya bagian panggung saja yang terang benderang.

Memang itu di sebuah kafe yang mengusung live music di setiap penghujung minggu. Jum'at, Sabtu, dan Minggu adalah jadwal tetap bagi para penyanyi lokal.

Sabtu malam ini telah tampil biduanita ternama kafe tersebut. Dia biasa mengisi jadwal malam Minggu, momen paling ramai di kafe itu.

"Ruby! Ayo, nyanyikan yang lebih hot!" teriak salah satu pengunjung sembari acungkan gelas bir di tangan kanan ke arah panggung.

Biduan bernama Ruby pun tersenyum usai menuntaskan lagu mellow tadi. "Baiklah, saya akan coba bawakan lagu apik yang saya harap disuka semua di sini."

Ruby berbisik sebentar ke pianis di dekatnya. Sang pianis mengangguk, lalu main mata memberi kode pada pemain drum di belakang, tak jauh darinya.

Tak lama lagu Toxic milik Britney Spears mulai dibawakan mengambil versi jazz. Suara Ruby terdengar manja merayu. Para pria bertepuk dan bersorak senang.

Apalagi ketika tubuh ramping Ruby bergerak menggeliat menawan, terkadang memamerkan paha indah dia di balik gaun terusan warna merah yang berbelahan paha tinggi.

Gadis itu bernama panggung Ruby. Tak ada seorangpun yang mengetahui nama aslinya, pun pemilik kafe atau bahkan para pemain musik yang kerap mengiringi dia di panggung.

Tidak, kalian tidak perlu meliarkan imajinasi kalian membayangkan Ruby adalah gadis muda berumur awal dua puluh, bertubuh sangat sintal dengan payudara memenuhi pakaiannya.

Tidak, jauhkan angan-angan mesum kalian,

Ruby hanyalah gadis di pertengahan tiga puluh tahun. Meski begitu, tubuhnya masih terawat dengan baik. Pinggangnya masih ramping tersambung oleh lengkungan indah pinggul yang tidak berlebihan meski kentara jelas.

Ukuran dada? Dia bukan wanita yang menyimpan melon atau semangka di kantung dadanya. Payudara dia berukuran normal dan tidak berlebihan. Walaupun begitu, takkan ada yang tega dan keji mengatakan payudara Ruby tidak menarik.

Tentu saja masih menarik meski bukan seukuran semangka. Dadanya masih mencuat kencang dan pasti akan terasa pas jika ditangkup oleh telapak tangan.

Urusan kecantikan, kalian bisa membayangkan siapapun yang kalian anggap cantik, karena memang dia rupawan serta mempesona dengan segenap garis wajah yang ia miliki. Tak mungkin ada orang mengatakan dia wanita berwajah buruk kecuali kalian dengki atau buta.

Ruby adalah wanita yang ingin kalian ajak mengobrol akrab sembari berpautan tangan di atas ranjang. Dia menyenangkan, sekaligus menggairahkan dalam aspek yang unik.

Keindahan Ruby menjadikan dia sebagai biduanita paling dinanti-nanti penampilannya di kafe tersebut.

Malam ini pun demikian adanya. Kafe sudah berjejal dipenuhi para pengunjung yang sebagian besar adalah lelaki yang datang dan terkadang rela berdiri hanya untuk menatap Ruby saja, persetan seperti apa suara dia.

Sungguh amat beruntung bahwa disamping penampilan aduhai dari sang biduanita, suara Ruby juga bersaing indah dengan performa dia sendiri.

Ia fasih membawakan lagu-lagu berjenis pop dan jazz. Ia cukup meliukkan sedikit pinggulnya, maka para penonton pria akan mengerang meski itu ada di sudut-sudut gelap kafe yang dipenuhi asap rokok hingga kita akan bergumam, ini kafe atau lembah mistis berkabut?

Semua karena Ruby. Itu gara-gara dia. Anggap saja itu dosa dia jika para pengunjung terancam akan memiliki penyakit paru-paru pada dekade mendatang.

Tak terasa jam sudah hampir menunjuk ke jarum 2. Waktunya pertunjukan disudahi. Pemilik kafe memang tegas agar kafe selesai jam 2 pagi setelah buka dari jam 8 malam.

Ruby sudah merampungkan 10 lagu. Sebelum dia naik panggung, ada band anak muda terlebih dahulu yang mengisi acara. Kemudian sang biduanita naik panggung mulai jam 10.

Di panggung, biasanya Ruby beramah-tamah dengan pengunjung. Mengobrol disela-sela lagu. Hingga terkadang maksimal ada 20 lagu dia dendangkan secara santai diiringi piano, petikan gitar, serta drum yang dimainkan ala jazz pop.

Jam 1 malam biasanya pihak kafe sudah mulai berbenah. Pengunjung paham dan berangsur pulang.

"Ruby, sepertinya kau punya fans baru." Manajer kafe setengah berbisik padanya sambil dagu menunjuk ke sebuah meja. Mereka sedang berkumpul di meja bartender. Lampu kafe juga mulai dinyalakan walau tidak semuanya.

Sang biduan turutkan pandangan ke meja tersebut. Mata besarnya mendapati sesosok pria yang duduk tenang menikmati bir yang hampir habis.

"Jangan beri nomerku lagi, Bos." Ruby menyentuh punggung tangan bosnya. "Yang dulu sudah cukup merepotkan hingga aku musti berganti kontrakan 2 kali."

Si Bos terkekeh. "Iya, maaf. Aku terlalu teledor waktu itu. Baiklah, tenang saja. Identitas dan alamatmu aman."

"Oke, aku pulang dulu, Bos." Ruby menepuk bahu bosnya, dan berpamitan pada musisi pengiringnya. Ia sempatkan melirik lelaki di meja tak jauh dari bartender. Tersenyum sekilas, kemudian melenggang pergi.

Ia keluar dari kafe lewat jalan belakang dimana mobilnya terparkir. Riasan sudah dihapus, sehingga dia bisa sedikit menyamar agar tidak dikuntit penggemar.

Tak perlu terheran akan kebiasaan para penggemar yang terkadang tidak rasional dan berbuat di luar harapan para idolanya.

Dulu, di awal-awal Ruby mulai menjadi biduanita, banyak lelaki yang bertingkah bagaikan anak sekolah baru mengenal cinta. Menguntit, menempel, serba ingin tau, dan bahkan mengintip Ruby dengan berbagai metode yang memalukan.

Namun, itu semua sudah menjadi sejarah yang akan membuat wanita pertengahan tiga puluh itu akan tergelak kecil jika mengingatnya.

Bisa dikatakan, akhir-akhir ini para penggemarnya sudah lebih tertib dan menghargai privasi Ruby jika di luar kafe. Wanita lajang itu sekarang bisa lebih nyaman menjalani hari-hari dibanding tahun lalu.

Sesampai di apartemen sederhana, ia hempaskan tubuh ke sofa sebelum beranjak ke kamar nantinya.

Membuka tas kecil, mengeluarkan dompet, dan menghitung lembaran uang yang menjejali di sana sebagai bayaran hari ini, Ruby tersenyum puas. Bos kafe selalu baik, melebihkan bayarannya jika kafe penuh sesak.

Hampir 2 tahun dia menggantungkan hidup dari kafe tersebut. Tadinya dia menyanyi di kafe lain yang lebih kecil, namun dia merasa seperti sapi perah saja, seminggu 4 kali, namun bayaran minim. Untung saja dia bertemu dengan pemilik kafe yang sekarang yang menawarinya penghasilan lebih banyak dengan jam lebih sedikit.

Setelah memasukkan kembali dompet ke tas kecil, dia teringat pria tampan yang tadi duduk sendiri di meja depan panggung. Dia sadar pria itu mengaguminya meski tak banyak bicara. Tapi dari tatapannya yang lekat memandangi Ruby, ia tau pria itu terpesona.

Tergelak kecil, Ruby pun bangkit dari sofa untuk berjalan ke kamarnya. Ia ingin bermalas-malasan di hari Minggu seperti biasanya.

Bersambung

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Gairah Perempuan Bergaun Merah

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Baru Dicintai Suami Setelah Meninggal
8.3
Sheny tewas bersama janin di kandungannya setelah dipaksa sang suami mendonorkan sumsum tulang demi menyelamatkan kekasih lamanya. Tujuh hari pascakematiannya, sang suami justru membawa wanita itu ke ranjang pernikahan mereka dengan penuh kepuasan. Namun, kelegaan itu segera berubah menjadi duka mendalam. Pria itu kini menangis histeris memeluk barang peninggalan Sheny, memohonnya untuk pulang, seolah lupa bahwa kekejamannya sendirilah yang telah merenggut nyawa istri dan calon anaknya.
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Seorang pemuda desa terpaksa merantau ke kota besar demi menyambung hidup. Dengan tekad sederhana, ia bercita-cita menjadi seorang pengawal profesional. Namun, takdir justru menyeretnya ke dalam gelapnya dunia kriminal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tanpa disadari, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang menuntunnya menjadi sosok gangster. Kini ia terjebak dalam pusaran konflik bawah tanah yang menguji prinsip serta keberaniannya.
Sampul Novel Melody Cinta Tuan Muda
8.9
Niat tulus Melody menyelamatkan seorang kakek dari aksi bunuh diri justru menyeretnya ke lingkaran keluarga konglomerat pemilik perusahaan raksasa. Di sana, ia menyaksikan persaingan licik antaranggota keluarga yang haus kekuasaan. Sagara, sang cucu yang merupakan pewaris sah, justru menjadi sasaran manipulasi karena sifatnya yang terlalu lugu. Melody kini terperangkap dalam intrik perebutan harta dan siasat kejam demi takhta tertinggi perusahaan tersebut.
Sampul Novel Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua
8.3
Keputusan menampung ibu mertua tiri dan ipar yang baru kembali dari luar negeri membawa petaka besar bagi rumah tangga sang protagonis. Alih-alih hanya menjadi beban finansial biasa, kehadiran mereka justru mengacaukan segalanya dengan menuntut hak yang seharusnya menjadi milik sang istri. Di tengah situasi yang kian kalut dan penuh tekanan, sebuah kiriman foto tak dikenal tiba di ponselnya, memperlihatkan sosok yang sangat mirip dengan istrinya dalam kondisi tanpa busana bersama pria lain.
Sampul Novel Pesona Menantu Eksklusif
9.5
Dalam sebuah kisah romansa dewasa yang ditujukan bagi pembaca berusia 21 tahun ke atas, narasi ini menyoroti momen intens di malam pertama sepasang kekuasaan. Fokus utama cerita terletak pada pengalaman mendalam seorang mempelai wanita yang memiliki gairah seksual sangat tinggi. Suasana malam pengantin yang penuh gejolak emosi dan sensasi fisik tersebut digambarkan secara gamblang melalui jeritan ekspresif yang memenuhi seluruh ruangan.
Sampul Novel Sang Perempuan Duplikasi
9.2
Anne terjebak dalam kebingungan saat gejala aneh dan ingatan asing mulai menghantui kesehariannya. Di tengah krisis identitas ini, ia harus menghadapi Henry, suaminya yang merupakan CEO perhiasan arogan dengan perangai kasar serta obsesi gelap. Anne pun merasa terasing dalam rumah tangganya sendiri. Satu-satunya pelipur lara hanyalah Ben, asisten pribadi yang menawarkan kehangatan. Akankah Anne menemukan jati dirinya di antara kekejaman Henry dan kenyamanan dari Ben?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan