Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Cinta

Gairah Cinta

Billie dikenal sebagai sosok pria yang memiliki kehidupan harmonis dan terlihat sempurna. Namun, di balik itu semua, ia justru merasa hampa. Ia terus terbayang masa lalu yang liar dan penuh gairah bersama para mantan kekasihnya. Saat Celine mendadak muncul kembali, Billie terjebak dalam dilema besar. Ia harus memilih antara menjaga kestabilan hidupnya saat ini atau mengejar kembali api asmara masa lalu yang tak pernah benar-benar padam dari ingatannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Billie hanya bisa mengangguk dan segera bangun dari duduknya sambil berkata pelan kepada Tia.

"Permisi..." ucapnya dan segera keluar dari ruangan guru dengan wajah lesu.

Kedua kakinya segera melangkah menuju kantin, namun telinganya masih terasa panas setelah terkena omelan dari Tia masalah tidur di kelas. Dia menerima ocehan yang keluar dari mulut Tia. Karena memang itu kesalahannya sendiri.

"Cantik sih! Tapi galak," gerutu Billie kesal sambil berjalan menuju kantin untuk mencari temannya.

Di kantin Billie tak melihat batang hidung temannya, kakinya segera belok untuk menemui Clara terlebih dulu, karena dia sudah janji akan menambahkan uang jajan kepadanya jika jam istirahat.

Clara betolak pinggang saat Billie berjalan ke arahnya, lalu mulutnya langsung nyerocos.

"Kak, lama banget sih datangnya! Aku udah laper tau!" seru Clara berwajah jutek.

"Gitu aja ngambek. Tadi Kakak di panggil ke ruangan guru dulu. Nih Kakak tambahin." Billie mengeluarkan uang dua puluh ribu untuk adiknya itu.

Clara segera menyambar uang dari kakaknya dan ia memberikan senyum termanis untuk Billie.

"Makasih ya Kak. Aku mau beli bakso! Bye..." ucap Clara dan kembali ke gedung Es Em P.

"Dasaaar... giliran udah dapet duitnya langsung pergi gitu aja," Billie gelengkan kepala.

Cristine segera melangkah ke kantin bersama kedua temannya. Temannya itu berkata kepada Clara.

"Clara, enak ya punya Kakak kayak Kak Billie, tiap istirahat suka ditambahin uang jajan. Udah gitu paling T.O.P di sekolahan ini. Mana ganteng lagi. Andai aja dia jadi Kakak gue."

"Ah lu Venti, lu bilang gitu pasti ada maunya, ya kan!" tegur Clara dan menyenggol bokong Venti yang tipis.

"Tau nih Venti, kalau lu suka sama Kak Billie tinggal bilang aja, gak usah berandai-andai jadi Kakak lu! Bener kan omongan gue, Clara."

"Lu juga samanya Cindy. Gue yakin Kak Billie pasti nolak lu berdua." Ujar Clara penuh keyakinan.

"Masa sih!" seru Venti dan Cindy bersamaan dengan tatapan yang mengherankan.

"Gue cuma ngasih tau. Lu berdua malah ngeyel di bilanginnya sama gue," kata Clara dan ia segera mencari tempat duduk yang nyaman di kantin.

Clara dan kedua temannya segera pesan bakso, sambil menunggu pesanan, Venti mengutarakan isi hati tentang Billie kepada Clara.

"Jujur aja nih, gue emang suka sama Kakak lu, Clara. Gimana dong?" tanya Venti dengan serius.

"Kan tadi gue udah bilang sama lu! Itu sih terserah lu aja, kalau lu yakin gak bakal di tolak sama Kakak gue, tinggal bilang aja, apa susahnya." Kata Clara kepada temannya yang bernama Venti.

"Gak berani gue ngomongnya, Clara." Ungkap Venti, lalu ia menoleh ke arah Cindy. "Cindy! Kan lu juga suka sama Kak Billie!" seru Venti.

"Enak aja lu Ven, jangan asal ceplos ya. Lu tuh yang suka sama Kakaknya Clara, bukan gue." Cindy tak terima atas ucapan dari Venti.

Tak lama kemudian, pesanan bakso telah datang, pelayan itu segera menyimpan mangkuk bakso di meja mereka.

"Silahkan neng." Ucap pelayan kantin.

"Makasih mang," kata Clara dan ia mengambil mangkuk bakso miliknya.

Mereka bertiga segera terdiam, karena sedang menikmati bakso setan yang sangat populer di kantin sekolahnya itu.

Billie berjalan ke kantin Es Em A. Kantin untuk Es Em P dan Es Em A memang sengaja di pisah oleh kepala sekolah dan itu sudah aturannya.

Billie masih mencari batang hidung si Usep, namun sejak tadi belum juga terlihat batang hidungnya, dan tanpa sengaja lengannya menyenggol lengan gadis yang baru saja masuk saja masuk ke dalam kantin dengan membawa buku yang sedang berada dalam pelukannya.

Bruaaak...!

Buku yang di hempit gadis itu jatuh ke lantai hingga berantakan. Billie dengan sigap segera berjongkok untuk mengambil buku tersebut, dan gadis itu melakukan hal yang sama. Hingga keduanya sama-sama jongkok dan kedua tangan saling ingin mengambil buku yang jatuh itu dan tanpa sengaja jari jemari Billie bersentuhan dengan jari jemari gadis itu.

Billie dan gadis itu saling pandang, saling tatap, namun pandangan gadis tak lama, kepala si gadis langsung tertunduk malu dan melepas sentuhan tangan Billie.

"Maaf ya. Aku gak sengaja." Billie meminta maaf terlebih dulu pada gadis itu. "Ini bukumu yang jatuh." Dia mengembalikan buku kepada pemiliknya.

Gadis itu dengan malu-malu mengambil buku yang sudah terususn rapih dari tangan Miki,

"Terima kasih." Dan gadis itu pergi begitu saja keluar dari kantin tanpa melihat wajah Billie.

Billie mengejar gadis itu sambil memanggilnya.

"Hey, tunggu! Aku belum tau siapa namamu!" teriaknya dan dia terus mengejar gadis yang semakin jauh dari pandangannya.

Gadis itu terus mempercepat langkah kaki dan tak menoleh sedikitpun ke belakang, ia langsung masuk ke dalam kelas dan duduk manis sambil menundukan kepala agar tidak teelihat oleh si pengejar.

Billie pantang menyerang dan terus mengikuti kemana gadis itu melangkah, tanpa di sengaja, Usep melihat Billie sedang berjalan dengan tergesa, hingga tangannya menarik lengan Billie sambil berkata padanya.

"Bil, lu mau kemana? Gue cariin daritadi!" seru Usep memanggil temannya.

Billie kehilangan arah gadis itu pergi. "Ah sial, dia udah ilang. Lu sih Sep, pake narik tangan gue segala." Gerutu Billie dengan kesal.

"Siapa yang ilang Bil?" Usep begitu penasaran dan ia ingin tahu apa yang sedang di cari oleh temannya itu.

"Nenek lu ilang Sep," sahut Billie masih geram padanya dan mata masih mencari keberadaan gadis itu dengan melihat kesana kemari sampai ke pelosok sekolah.

"Lu suka ngaco Bil. Nenek gue gak ilang! Nenek gue ada kok di rumah gak kemana-mana. Lagian, lu tau sendiri kan kalau nenek gue gak bisa jalan." Usep ngedumel padanya.

"Gue gak butuh ocehan lu. Yang gue butuh dari lu, cuma traktiran makan. Lu tadi di kelas udah ledek gue dan sebagai gantinya, lu harus traktir gue! Buruan traktir gue!!!" Gertak Billie, meluapkan kekesalan terhadap temannya.

"Mati aku," ratap Usep dalam hati. "Lu pengen apa? Iya, gue yang traktir." Akhirnya Usep menuruti apa keinginan Billie, agar apa yang di lontarkan Billie segera berhenti tanpa mengoceh lagi dan Usep segera mengajaknya untuk kembali ke kantin.

"Seperti biasa Sep, gue pengen mie ayam bakso di tambah pangsitnya lima ribu aja," pinta Billie dan dia mengikuti tarikan tangan Usep untuk ke kantin.

"Oke Bil."

Mereka berdua kini sudah di dalam kantin, Usep segera pesan mie ayam bakso dua mangkok, di tambah pangsit untuk Billie lima ribu. Setelah pesan makan Usep langsung duduk di sebelah temannya.

Untuk mereda kekesalan Billie, Usep segera bercerita tentang anak baru yang baru saja ia lihat.

"Bil, lu udah tau belum, di kelas tiga B ada anak baru loh! Dia cantik, body seksi. Tapi sayang banget Bil, dia susah di deketin, jangankan di pegang tangannya, di ajak ngobrol aja langsung pergi."

Billie sudah bisa menebak dari cerita yang Usep lontarkan dan ada kemungkinan gadis yang dia tabrak tadi mungkin adalah gadis yang Usep ceritakan.

Billie langsung bertanya pada temannya itu. "Sep! Cewek itu pakai pita merah ya? Terus rambut di ikat pakai pita itu?" Billie seakan menginterogasi temannya, karena dia yakin pasti gadis tadi yang di maksud oleh temannya.

"Kok lu tau sih Bil?" Usep semakin penasaran dan memegang tangan Billie.

"Lu tau nama cewek itu gak?" Billie berganti tanya pada temannya.

"Tuh kan! Lu emang jagonya Bil kalau masalah cewek. Pasti lu udah ketemu sama cewek itu! Kapan, di mana? Kok gak ajak-ajak gue Bil." Usep terus mencecar dengan berbagai pertanyaan.

"Mulut lu bawel banget sih Sep, kayak mulut cewek aja, terus nyerocos! Gue tadi tanya sama lu, lu tau gak nama cewek itu? Jawab dulu pertanyaan gue!" tegur Billie sambil memasukan bakso yang terakhir ke dalam mulutnya.

"Kagak. Gue gak tau namanya Bil, kan tadi gue udah bilang, cewek itu gak bisa di ajak ngobrol."

Billie kecewa, ternyata temannya itu tidak tahu nama gadis tersebut. "Gue duluan Sep, makasih traktirannya,"

Billie segera bangun dari kursi dan dia menghampiri Ibu kantin. "Bu yang bayar si Usep ya." Miki segera keluar dan menuju kelas tiga B, untuk membenarkan informasi dari temannya itu.

Billie berdiam diri dari balik kaca jendela, matanya terus mencari keberadaan gadis itu.

"Jangan-jangan bukan dari kelas tiga B lagi!" gerutunya mencari gadis itu dari balik jendela kelas di luar.

Tak lama kemudian muncul guru bahasa yang akan mengajar di kelas tiga B, ia melihat Billie dan langsung menegurnya.

"Billie ... kamu lagi ngapain di sini! Sebentar lagi istirahat selesai. Ayo segera kembali ke kelas," titah Tia pada Billie yang masih lirik sana sini dari luar kelas tiga B.

"Nah, kebetulan ada Bu Tia. Ibu nanti yang akan mengajar di kelas ini kan?" tanya Billie sedikit senang dan dia langsung menunjuk ke arah dalam kelas tiga B.

"Iya! Memang kenapa?" Tia malah berbalik tanya padanya.

"Anu Bu, Billie dengar, katanya ada murid cewek baru di kelas ini," ucap Billie dengan tampang wajahnya merasa malu.

"Kalau ada memang kenapa?"

"Cuma pengen tau namanya aja kok, boleh gak Bu! Siapa namanya," pinta Billie pada guru bahasa itu.

"Kamu kenalan sendiri dong, masa harus Ibu yang kasih tau. Kamu kan cowok, jadi harus berusaha sendiri," timpal Tia.

Billie terus memohon pada guru bahasanya dan tak lama gadis yang sedang di bicarakan lewat di depan mata dan masuk ke dalam kelasnya.

"Hey, tunggu...!" teriak Billie memanggil gadis itu.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka
7.9
Brama Wijaya memenjarakanku selama lima tahun atas fitnah pembunuhan Kania. Setelah bebas, ia menyiksaku di kandang anjing dan memaksaku meminum obat mandul. Saat Kania terungkap masih hidup, Brama membiarkan adikku tewas di tangan Kania. Aku pun mengakhiri hidup demi membalas dendam. Kini, aku terbangun tepat di hari kebebasanku. Dengan kesempatan kedua ini, aku bersumpah akan menyeret Brama dan Kania ke neraka atas segala penderitaan yang telah mereka perbuat.
Sampul Novel Ciuman Ular Berbisa: Balas Dendam Seorang Istri
8.6
Leo nyaris tewas terpanggang di mobil, namun Bramantyo justru lebih peduli pada kendaraan klasiknya daripada nyawa putranya. Pengkhianatan terungkap saat sang istri tahu dirinya hanya alat untuk memicu kecemburuan Saskia. Meski telah menggugat cerai, ia terus disiksa hingga perusahaan dicuri dan nyawanya terancam oleh gigitan ular berbisa. Kini, amarahnya meluap. Ia bangkit dari ambang maut untuk menuntut balas atas segala kekejaman suami dan saudara tirinya.
Sampul Novel Hello Love Sign
8.7
Sandhya Sheina Aninditha sangat membenci keluarga Levanchois, namun terpaksa bertahan demi sebuah misi rahasia di tengah intrik kantor yang toksik. Saat ingin balas dendam dan mengundurkan diri, ia justru bertemu Samuel Clark Levanchois, pria paling berkuasa di keluarga itu. Samuel menawarkan kontrak bisnis yang menggiurkan demi membebaskan Sheina dari bos lamanya. Terjebak dalam persaingan dominasi, mampukah Sheina lepas dari jerat cinta pria yang sangat ia benci tersebut?
Sampul Novel Jangan salahkan aku minta cerai
8.1
Elsa menyadari Thomas memiliki keluarga rahasia dengan mantan kekasihnya. Meski berjuang keras menjaga pernikahan dari pihak ketiga, Elsa akhirnya sadar bahwa cinta yang pudar tak bisa dipaksakan. Ia pun memilih mundur dan melepaskan suaminya demi ketenangan batin. Di tengah kesendirian, seorang pria baru hadir mengusik hatinya. Kini Elsa bimbang, haruskah ia memulai lembaran baru atau menerima kembali suaminya yang tiba-tiba menyesal dan ingin bertobat?
Sampul Novel JERAT CINTA TUAN MAFIA
8.8
Akibat hancur oleh pengkhianatan sang kekasih, Louisa terjebak dalam masalah besar hingga nyawanya terancam. Beruntung, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya. Namun, dalam kondisi emosional, Louisa justru menawarkan sebuah 'hadiah' berani sebagai tanda terima kasih atas pertolongan tersebut. Tanpa ia sadari, keputusan impulsif itu menjeratnya ke dalam kehidupan sang penyelamat yang berbahaya, mengubah takdirnya selamanya.
Sampul Novel Kehancuran Yang Direncanakan
8.9
Nayla hancur saat memergoki tunangannya berselingkuh dengan sepupunya sendiri. Di hari yang sama, orang tuanya tewas dibunuh secara keji. Sebagai saksi kunci yang kini diburu, ia melarikan diri hingga nyaris tertabrak mobil milik pria asing bernama Reza. Demi bertahan hidup, Nayla menyembunyikan identitas aslinya dari Reza saat berlindung bersamanya. Namun, ia tak menyadari bahwa pria penolongnya itu juga menyimpan rahasia gelap yang sangat berbahaya.