
Gairah Cinta
Bab 3
Mita adalah gadis yatim piatu berparas cantik, di usia yang baru tujuh belas tahun, ia harus bekerja paruh waktu di toko untuk memenuhi kebutuhan nya sendiri.
Mita juga diam diam sangat menyukai teman kelasnya yang bernama Billie. Apapun akan Mita lakukan untuk menggapai cita citanya dan mendapatkan keinginannya termasuk menjadi pacar simpanan seseorang.
***
Senin adalah hari yang sangat di benci oleh Mita, ia sangat malas dengan upacara bendera. Dengan malas ia bangun dan menuju kamar mandi yang berada di area dapur rumahnya, ia kemudian masuk ke kamar mandi dan mulai menyirami badannya dengan air yang terasa sangat sejuk pagi itu.
Tak sampai sepuluh menit Mita pun selesai dan segera memakai seragam putih abu nya kemudian langsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
Di perjalan menuju halte tiba-tiba ia teringat jika ponselnya tertinggal dan ia harus kembali lagi ke rumah untuk mengambilnya.
Alhasil dia ketinggalan angkot dan berujung terkena hukuman karna terlambat.
"Kenapa terlambat?" suara dingin menginterupsi telinga Mita.
Mita hanya diam dan menundukkan kepalanya, tapi sekali lagi suara dingin itu menyapa telinganya dengan sedikit bentakan.
"Gak punya telinga ya kamu!" bentak guru itu dengan kasar. "Saya di depan kamu, bukan di bawah kaki kamu."
Perlahan Mita mengangkat kepala nya dan langsung menatap mata guru yang membentaknya tadi.
Mata mereka saling beradu tatap, dan jangan katakan bagaimana jantung guru nya itu.
"Ma-maaf Pak Bagus, saya telat karna nungguin angkot jadi sampai ke sekolah terlambat." Jawab Mita yang sudah berlinangan air mata.
Ingin sekali rasanya Bagus mendekap tubuh gadis yang sudah ia cap sendiri sebagai gadisnya ini, mengusap air mata yang sebentar lagi akan jatuh. Tapi dia harus menahannya dulu, nanti baru ia akan beraksi.
Bagus memutuskan tatapannya pada Mita dan menyuruh muridnya untuk membersihkan halaman yang berada di belakang gudang, Mita yang tak terima pun memberanikan dirinya untuk protes.
"Yang lain bersihin halaman yang di depan sekolah, kok saya bersihin yang di belakang gudang pak?"
"Kenapa? Kok kamu yang ngatur?" Bagus balik memarahinya.
"Saya takut Pak, di sana sepi, gak ada orang yang pernah kesana," ucap Mita.
Memang ini tujuan Bagus, ingin berduaan dengan gadisnya.
"Saya yang awasi kamu, sekarang ambil peralatannya dan langsung ke halaman belakang gudang, jangan banyak alasan," titah Bagus padanya.
Mita segera pergi dari hadapan Bagus dengan menghentak-hentakkan kakinya dan mulut yang komat Kamit ngedumel tak karuan.
Bagus semakin gemas melihat tingkah Mita yang sangat lucu dimatanya.
"Akhirnya, bisa berduaan juga sama kamu," Bagus membatin kegirangan dan memegang area selangkangannya yang entah kenapa selalu berdenyut jika melihat atau berada di dekat Mita.
Sudah lima belas menit Mita asik menyapu dedaunan kering dengan perasaan takut, karna gudangnya terletak jauh di belakang area sekolah, mulutnya sibuk memaki Bagus yang tak kunjung datang.
Karena terlalu asik memaki sang guru sambil menyapu sampah ia sampai tak sadar jika di depannya terdapat lubang dan akhirnya kakinya pun termasuk ke dalam lubang itu.
"Awwhhh ... sssshhh ... aduuh sakit banget," Mita mengaduh kesakitan sambil mengangkat keluar kakinya dari lubang dengan suara isakan yang keluar dari mulutnya.
Bagus yang baru datang dengan membawa minuman dingin pun terkejut melihat Mita yang terduduk dengan kaki lecet dan bengkak sambil menangis.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Bagus khawatir.
"Bapak ke mana aja sih, katanya mau nemenin saya, saya dari tadi nungguin karna takut sampe sampe kaki saya masuk ke lubang." Jawab Mita sambil sesegukan.
Bagus yang tak tahan pun langsung mendekap tubuh Mita yang bergetar karna menangis, ia mengusap punggung gadisnya dan mengecup pucuk kepala Mita.
"Maaf ya, saya tadi di panggil sama kepala sekolah sebentar, terus beliin kamu minuman." Sahut Bagus dan mencoba untuk menenangkannya.
Mita masih menangis dalam pelukan Bagus, Bagus pun semakin mengeratkan pelukannya pada Mita.
"Udah yaa, saya minta maaf," ucap Bagus.
Mita langsung melepaskan dirinya dari pelukan Bagus.
"Ma ... maaf pak,"
"Maaf kenapa? Hmm ... ?" tanya Rama sambil menyelipkan rambut di belakang telinga Aulia.
"Udah Pak, jangan kayak gitu nanti ada yang liat," sergah Mita.
"Kalo gak ada yang liat gimana?"
"Hah?"
Mita yang terkejut mendapati perlakuan Bagus itu pun langsung ingin berdiri dan pergi dari sana, tapi ia melupakan kakinya yang sedang sakit.
"Awkkhhh ... "
"Kamu ngapain sih pakai berdiri? Udah tau kaki nya lagi sakit". Ujar Bagus.
"Awas, gak usah pegang-pegang." Mita marah padanya.
Bagus tak mendengarkan Mita, ia tetap memegang pergelangan Mita.
"Kamu kenapa?"
"Ada juga Bapak yang kenapa?"
"Loh, kok saya? Saya kenapa?"
"Kenapa Bapak pegang-pegang saya!!!" teriak Mita pada Bagus.
Mita semakin memberontak saat Bagus memegang tangannya dan ingin memeluknya lagi.
"Hey, tenang Mita," Bagus mencoba menenangkan Mita sambil memeluk tubuhnya.
"Bapak jahat," ucap Mita dengan tangan memukul dada Bagus.
"Iya saya jahat, maaf lagi yaa .... "
"Gak mau maafin, saya mau ke kelas aja."
Bagus langsung melepaskan pelukannya pada Mita dan menangkup wajah Mita.
"Masih mau ke kelas dengan muka berantakan gini? Mata sembab, hidung merah, kaki juga luka sama bengkak, hm ... ?" tanya Bagus.
"Ini semua kan gara-gara Bapak, Bapak bentak saya tadi pagi, terus biarin saya sendirian bersihin halaman gudang, kaki saya masuk ke lubang juga gara-gara Bapak, terus tadi Bapak malah pegang dan peluk saya," Mita terus ngedumel.
Bagus tersenyum melihat Mita masih mengomel, tangannya terangkat untuk mencubit pipi chubby Mita.
"Kenapa gemes gini kalo ngomel,"
"Bapak ih, gak usah pegang-pegang saya teruss, bukan muhrim tau!"
"Ya, udah,"
Bagus pergi meninggalkan Mita sendirian lagi di sana, baru beberapa langkah ia mendengar isakan tangis yang keluar dari mulut gadisnya.
Bagus berbalik lagi menuju ke arah Mita.
"Hiks ... hiks ..."
Mita menangis dengan wajah tertutup telapak tangan, tanpa aba-aba Billie datang dan langsung mengendong Mita.
Bagus merasa jengkel kepada Billie, gadis incarannya malah di sambar oleh Billie.
"Bil, kenapa gue di gendong sama lu! Turunin ih, Pak Bagus liatin tuh!" seru Mita terkejut karena tubuhnya di gendong oleh pria yang ia cintai.
"Diem Mit, atau gue cium bibir lu yang manis itu," ancam Billie.
Mita langsung terdiam dan kembali menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, ia takut menjadi bahan omongan semua murid dan guru karena sekarang dia berada dalam gendongan Billie dengan hot di sekolah ini, tapi ia tidak mendengar apa pun.
"Kenapa sunyi sekali," batinnya Mita berkata.
Ternyata semua orang sedang melakukan proses belajar mengajar, tidak ada satu pun yang berada di luar kelas.
Hanya beberapa menit saja tiba-tiba tubuhnya seperti melayang dan merasakan seperti berbaring di atas kasur.
Mita membuka matanya dan benar saja, ia memang sedang berbaring di atas kasur yang berada di UKS.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





