
GADIS TAWANAN SANG MAFIA
Bab 2
Tangis Selena masih mengalir. Tubuhnya sangat sakit terutama pada bagian bawah. Entah sudah berapa kali Jeno memperkosanya hari ini. Dia bahkan tak bisa mendapatkan kesempatan untuk istirahat dan menjelaskan kondisi dirinya pada Jeno.
Seorang pembantu berumur 45 tahun mendekatinya. Perempuan itu memicingkan tatapan kejam dan galak pada Selena.
Selena tersentak kaget saat perempuan tua itu menarik kasar selimut yang menutupi tubuh telanjang Selena. Perempuan itu menarik tangan kiri Selena dengan kasar.
“Jangan menangis terus! Anak pencuri sepertimu tidak pantas menangis di sini!” bentak pembantu itu dengan kasar.
Tubuh Selena yang sakit dan lemah begitu mudah terjatuh di lantai. Rasa sakit semakin lekat menyelubungi seluruh tubuhnya. Dia berharap ada seseorang yang mau membantunya. Sayangnya, semua itu hanyalah khayalan Selena.
“Bangun! Sana mandi! Isi sendiri bak mandimu! Jangan menyusahkan Tuan Jeno!” hardik pembantu itu dengan pandangan jijik dan jengah.
Mulut pembantu itu terus melontarkan ucapan kasar pada Selena. Tentu saja Selena tak mengerti alasannya.
Hati kecilnya ingin membalas ucapan perempuan itu. Namun, dia terlalu malu bertelanjang bulat di depan perempuan tua itu. Daripada beradu mulut, Selena memilih bangkit dari posisi terjatuhnya dan melangkah tertatih-tatih masuk ke dalam kamar mandi.
Dia berusaha menahan isak tangisnya agar tak lagi terdengar. Tangannya bergerak menarik setekan kunci pintu kamar mandi. Setelah yakin pintu kamar mandi tertutup, dia memutuskan untuk mengisi bak mandi dan berendam di sana.
Selena bersyukur air hangat membantu memulihkan rasa sakit pada sekujur tubuhnya. Dia mengambil sabun cair sebanyak mungkin dan membersihkan tubuhnya.
Tangisannya kembali mengalir membasahi pipinya. Dia merasa dirinya sangatlah kotor. Dia bukanlah Selena yang lugu seperti dulu lagi. Kini dia sudah ternoda dan tak bisa melepaskan diri dari pria yang memiliki panggilan Tuan Jeno itu.
“Kenapa dia sejahat itu padaku,” ratap Selena. Dia masih tak paham dengan perilaku Jeno yang keji padanya. “Apa orang tuaku berutang padanya? Ayah ….”
Tangisan Selena semakin deras. Dia memang sudah satu minggu ini tak menghubungi ayahnya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan paruh waktu dan persiapan kuliah.
“Apa yang terjadi pada Ayah?” gumam Selena. Pandangannya yang memerah dan masih dipenuhi air mata menengadah menatap langit-langit kamar. Dia memejamkan matanya. Hatinya berdoa semoga ayahnya baik-baik saja.
Tak terasa, Selena malah jatuh tertidur di dalam bak mandi. Sebuah keberuntungan karena wajahnya terjatuh di bagian tepian datar bak mandi sehingga wajahnya tak tenggelam di dalam air. Namun, Selena tetap berendam di sana semalaman.
Jeno yang baru pulang kediamannya saat dini hari menyadari ada kejanggalannya. Dia sama sekali tak melihat keberadaan Selena di dalam kamarnya. Padahal, dia sudah memberitahu Dewi, pimpinan pembantu yang dia percaya mengatur rumahnya.
“DEWI!” teriak Jeno garang. Pria itu tak bisa bersabar sedetik pun.
Dewi yang baru saja bangun dan berniat ke dapur untuk membuat sarapan langsung terkejut kaget. Dia segera berlari menaiki tangga untuk menghadap pada Jeno.
“Ada apa, Tuan Jeno?” tanya Dewi, si perempuan tua yang ditemui Selena kemarin sebelum berendam mandi.
“Mana perempuan itu?” balas Jeno menghardik. “Bukannya aku sudah memerintahmu untuk menjaganya? Kenapa dia hilang?”
Dewi terkesiap kaget dan takut. Seingatnya, Selena masuk ke kamar mandi. Karena tak kunjung keluar kamar mandi, Dewi menaruh makanan di meja dan mengunci pintu agar Selena tak kabur.
“Seharusnya tidur, kan, Tuan?” timpal Dewi takut.
Jeno memukul pintu dengan kasar hingga suaranya terdengar menggema di seluruh ruang rumah. “Kau pikir aku buta? Kalau dia tidur, aku sudah tahu dia ada di kasur!”
Pandangan Jeno berapi-api. Dia tak suka dengan orang yang bekerja dengan teledor.
Keringat dingin langsung membanjiri sekujur tubuh Dewi. Dia memeras otaknya agar Jeno tak marah dan memecat dirinya. Menjadi bawahan Jeno sangatlah menakutkan. Jeno lebih galak dan perfeksionis dibanding sang almarhum papa.
“Co-coba saya cari di kamar mandi,” ujar Dewi.
Jeno berdecak. Dia mengizinkan Dewi memeriksa kamar mandi dan tetap mengawasinya dengan pandangan mata yang tajam.
Dewi mencoba membuka pintu kamar mandi. Namun, pintu terkunci dari dalam.
Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar itu. “Buka! Buka!” teriak Dewi. Dia ingin memaki Selena yang sudah dipastikan ada di dalam kamar mandi dan tak mau menjawab panggilannya. Namun, dia mengurungkan keinginannya itu karena Jeno ada di hadapannya.
Jeno tak sabar dengan yang Dewi lakukan. Pria itu langsung mendorong Dewi menyingkir dari depan pintu dan mendobrak kasar pintu kamar mandi.
Dalam tiga kali dobrakan, pintu kamar mandi berhasil dibobol. Jeno melangkah ke kamar mandi. Pandangannya membulat kaget ketika dia melihat Selena tak sadarkan diri di bak mandi.
Langkah Jeno langsung berlari ke bak mandi. Dia menyentuh air dalam bak yang sudah dingin beku. Selena juga tampak tak sadarkan diri. Namun, suhu tubuhnya begitu tinggi.
“Panggilkan dokter!” teriak Jeno pada Dewi.
“I-iya, Tuan,” sahut Dewi. Dia bingung tapi tetap berlari keluar kamar Jeno dan menelepon dokter keluarga.
Jeno menggendong tubuh telanjang Selena keluar dari bak mandi. Dia membawanya dan membaringkannya di kasur.
Tangan Jeno mengambil selimut dan menutupi tubuh Selena dengan selimut itu. Dia memanggil pembantu perempuan lainnya untuk memakaikan pakaian pada tubuh Selena.
Selena tak sadarkan diri hingga sore hari. Dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Bahkan, saat terbangun, tubuhnya masih terasa sulit digerakkan dan rasa panas menyengat tubuhnya.
“Haus … air ….” rintih Selena pelan. Dia tak bisa bersuara banyak. Semua energinya seperti tersedot ke ruang hampa dan sulit untuk dikembalikan.
Jeno yang menunggui Selena sambil bekerja segera menoleh. Telinga pria itu setajam telinga elang. Sedikit bunyi saja, dia mampu mendengarkannya.
Jeno melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di meja. Pria itu bangkit dari duduknya dan mendekati Selena.
“Air ….” pinta Selena. “Haus ….”
Jeno segera membantu Selena duduk. Dia menaruh dua lapis bantal sebagai penyangga tubuh punggung dan kepala Selena saat tertidur.
Dia mengambilkan air hangat yang ada di teko. Sebuah sedotan stainless steel dia taruh di dalam gelas itu. “Minumlah,” Jeno mendekatkan sedotan itu ke mulut Selena.
Selena meminum perlahan air hangat itu dari sedotan. Sedikit demi sedikit, rasa hausnya terobati.
Pandangan Selena masih buram. Dia berusaha mengumpulkan kesadarannya dengan mengerjap-ngerjapkan pandangannya.
Perlahan dia menaikkan pandangannya dan menatap ke depan. Dia ingin tahu siapa yang menolongnya.
Hati Selena berhenti berdetak saat dia melihat Jeno ada di depannya. Pria yang sudah memperkosanya itu telah menolongnya. Rasanya begitu menyesakkan dan membuatnya begitu benci.
Dengan segenap tenaga, tangan Selena bergerak menepis gelas itu hingga jatuh ke lantai. “Pergi! Biarkan aku mati!” teriak Selena dengan suara parau dan pelannya.
Anda Mungkin Juga Suka





