Sampul Novel PEDANG HALILINTAR

PEDANG HALILINTAR

8.4 / 10.0
Dalam fantasy novel PEDANG HALILINTAR, Jalu sang pendekar aliran hitam harus memilih takdir baru. Setelah beralih ke aliran putih, ia kini mengemban misi adventure menghentikan gurunya yang abadi. Baca kisah seru ini di webnovel untuk melihat pertarungan epik antar kekuatan besar.
Ringkasan PEDANG HALILINTAR
Jalu tumbuh sebagai pejuang aliran hitam di bawah asuhan guru abadi yang terasing di Pulau Tengkorak. Sang guru mengutusnya menaklukkan dunia persilatan, namun perjumpaan dengan pertapa Gunung Pesagi mengubah haluan hidup Jalu menuju jalan kebenaran. Saat sang guru berhasil bebas berkat bantuan iblis, Jalu harus menghadapi sosok yang membesarkannya itu dalam pertempuran besar demi menjaga kedamaian dunia yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Baca Selengkapnya

PEDANG HALILINTAR Bab 1

"Cepat, Istriku, kapal sudah hendak berlayar!" seru seorang lelaki berparas tampan berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Di pundaknya tergantung sebilah pedang dan di tangannya sebuah kotak kayu berukuran sedang dibawanya sambil berlari.

Di sampingnya, sesosok wanita cantik berambut panjang sepunggung dan kurang lebih baru berusia dua puluh tiga tahun, tampak berlari ketakutan sambil menggendong seorang bayi mungil yang baru beberapa bulan terlahir ke dunia.

Keduanya tampak panik dan berekspresi sama seperti penumpang lain yang berlarian ketika kapal hendak berlayar. Sesekali si suami menoleh ke belakang ketakutan. Tidak ada satupun yang peduli dengan kepanikan keduanya, sebab kepanikan seperti itu adalah sesuatu yang biasa terlihat.

Dalam jarak cukup jauh di belakang, puluhan prajurit bergerak memasuki wilayah pelabuhan yang hari itu cukup ramai. Sorot mata mereka semua tertuju tajam kepada seluruh orang yang ada di pelabuhan.

"Itu mereka berdua! Cepat kejar dan tangkap atau kalian yang akan mendapat hukuman jika gagal!" teriak seorang prajurit kepala yang terlihat berat menggerakkan badannya untuk berlari.

Geladak kayu yang digunakan untuk naik ke badan kapal sudah mulai diangkat pekerja pelabuhan. Melihat itu sang suami pun berteriak sekeras mungkin agar para pekerja itu menunggu mereka berdua naik terlebih dahulu, Tunggu, kami ikut!"

"Cepat, Kisanak, Nisanak, kapal sudah harus berangkat!" seru pekerja yang melihat  sepasang suami istri tersebut.

"Nilam, ayo cepat naiklah ke atas!" kata lelaki berwajah tampan itu kepada Istrinya.

Tanpa berpikir panjang wanita berwajah cantik jelita itu meniti geladak diikuti si suami dari belakang. Setelah mereka berdua sudah berada di atas kapal, si suami meletakkan peti yang dibawanya. Dilihatnya prajurit sudah berjarak kurang dari seratus meter.

Pekerja pelabuhan langsung menarik geladak ke atas kapal dan perlahan kapal pun mulai bergerak.

"Berhenti!" teriak para prajurit yang melihat kapal tersebut mulai meninggalkan pelabuhan. Kepanikan turut melanda pikiran mereka yang jika gagal menangkap sepasang suami istri tersebut bakal mendapat hukuman.

"Sialan, jaraknya terlalu dekat!" keluh lelaki tampan itu dalam hati. Lirikan matanya tertuju kepada Istrinya yang duduk bersandar dengan mata terpejam menahan lelah.

"Duh, Gusti Maha Agung, berilah keselamatan kepada kami berdua dari kejaran para prajurit itu." Wanita cantik yang matanya terpejam itu tak berhenti untuk terus berdoa di dalam hati

Sekitar tiga puluh meter kapal meninggalkan pelabuhan, puluhan prajurit tersebut baru tiba di pinggir pantai.

"Sial, kita gagal lagi menangkap mereka berdua! Kalian memang tidak bisa diandalkan!" teriak keras prajurit kepala penuh emosi kepada bawahannya.

"Kita kejar saja mereka, Tuan!" Seorang prajurit memberi usulan.

Mendengar usulan tersebut, Prajurit kepala mendekati prajurit yang baru saja berbicara, tanpa banyak kata prajurit tersebut langsung dipegangnya dan dilemparkan  ke laut. "Cepat kejar mereka dengan berenang!"

Para prajurit hanya bisa mengulum senyum geli melihat temannya diceburkan ke laut. Sementara belasan prajurit lainnya bahkan sampai mengeluarkan suara tawa.

"Apa yang kalian tertawakan? Sudah gagal melaksanakan tugas masih saja kalian bisa tertawa!" bentak prajurit kepala penuh emosi. Pandangannya tajam mengintimidasi puluhan bawahannya

Seketika puluhan prajurit itu menutup mulutnya rapat-rapat, mereka tak berani sedikitpun bersuara dan hanya bisa menunduk ketakutan.

Prajurit kepala itu membalikkan badannya dan menatap kapal yang perlahan menjauh mengarungi lautan. Setelah itu dia berjalan mendekati pekerja pelabuhan yang sedang menggulung tali tambang seukuran lengan terbuat dari serat pohon Sisal.

"Kisanak, kemana kapal itu akan berlayar?"

Pekerja pelabuhan itu menghentikan kegiatannya menggulung tali tambang. "Menurut jadwal kapal ini akan menuju daratan Jawadwipa, Tuan Prajurit."  

Prajurit kepala itu hanya bisa mengangguk kecil seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selama empat puluh tahun hidup di dunia, tidak sekalipun dia meninggalkan Daratan Swarnadwipa. Kalaupun dia tahu, itu hanya sebatas mendengar saja.

"Terima kasih atas informasinya, Kisanak."

"Sama-sama, Tuan Prajurit," jawab pekerja pelabuhan sebelum melanjutkan aktifitasnya menggulung tali tambang yang biasa digunakan untuk mengikat kapal ketika sedang bersandar.

Prajurit kepala itu bergegas kembali kepada anak buahnya yang masih tetap di posisinya semula.

"Kapal itu menuju Daratan Swarnadwipa. Nanti aku akan meminta ijin kepada paduka raja untuk mengejar mereka. Panji harus ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!"

Puluhan prajurit itu hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa. Terbersit di dalam benak mereka tentang kisah cinta sepasang suami istri yang saat ini sedang dalam pengejaran itu sungguh berliku.

Sementara itu di atas kapal yang sudah menjauh ratusan meter dari pelabuhan, Panji_ suami Nilam_ mendapatkan informasi dari kru kapal bahwa perjalanan melalui laut dari daratan Swarnadwipa menuju  Jawadwipa diperkirakan kurang lebih tujuh hari lamanya, itupun jika tidak ada kendala di tengah perjalanan seperti badai yang sering terjadi di musim penghujan. Untuk itu Panji memutuskan menyewa kamar yang disediakan karena tidak mungkin istri dan anaknya tidur di luar selama perjalanan.

Memasuki hari ke empat perjalanan,  nahkoda yang sedang mengendalikan laju kapal agar tetap berada pada rutenya menuju daratan Swarnadwipa, dikejutkan dengan laporan dari pekerja yang mengatakan jika melihat dua buah kapal lain yang berada di belakang.

"Kau pegang kemudinya. Tetap arahkan lurus ke depan!" perintah Nahkoda sebelum berjalan cepat menuju bagian belakang kapal.

Sepasang mata juru mudi berusia empat puluh tahunan itu menyipit ketika memastikan bahwa laporan anak buahnya tadi benar adanya. Namun yang membuatnya terguncang dan panik, dia bisa memastikan jika dua kapal yang ukurannya lebih kecil dari kapalnya itu adalah para perompak Hantu Laut yang biasanya melakukan perampokan di tengah laut.

Lebih sialnya lagi, perompak yang sedang mengejar kapalnya saat ini terkenal kejam dan tak segan menghabisi para korbannya.

"Turunkan layar!" teriaknya kepada pekerja yang berada tidak jauh darinya.

Seketika nahkoda itu berlari ke depan dan mengambil alih kemudi. "Cepat beritahu para penumpang jika saat ini kita dalam bahaya! Bilang juga kepada pekerja lainnya untuk mendayung lebih cepat."

Terlihat jelas kepanikan dirasakannya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Perasaannya sudah tidak setenang seperti sebelumnya.

Sementara itu di dalam kamar, Panji dan Nilam tampak berbicara sambil duduk di bibir ranjang. Sesekali mata keduanya tertuju kepada putra mereka yang tidur lelap.

"Perjuangan kita sudah sejauh ini, Nilam. Kalaupun kita harus terpisah, aku harap hanya maut yang akan memisahkan kita," ujar Panji lirih sebelum memeluk istrinya dengan erat.

"Aku juga begitu, Kakang. Kita besarkan Jalu di daratan jawadwipa saja. Tidak perlu kita kita ke tempat asal kita. Aku sudah mengubur semua masa laluku dan ingin membuka lembaran baru di tanah yang baru," balas Nilam seraya menitikkan air mata.

Tiba-tiba suara pintu yang diketuk dari luar mengagetkan keduanya. Panji melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Seorang laki-laki pekerja kapal tampak berdiri di depan pintu kamar dengan raut wajah tegang.

"Ada apa, Kang?" tanya Panji penasaran setelah melihat raut wajah pekerja kapal yang menunjukkan kekuatiran teramat sangat.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi PEDANG HALILINTAR

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Anna : Liontin Karma
8.0
Anna, model cantik berdarah Perancis, nekat menikahi pria pilihannya meski terhalang perbedaan iman. Demi cinta, ia rela mengorbankan segalanya, termasuk berpindah keyakinan menjadi mualaf. Namun, pengorbanan itu justru membawanya pada penderitaan mental dan hidup yang hancur. Di tengah kepedihan, Anna mulai meragukan keputusan besarnya memeluk Islam. Mampukah ia bangkit dari keterpurukan dan menemukan kembali jati dirinya yang sempat hilang tertelan duka?
Sampul Novel Ketika Suami Membagi Cinta
7.9
Enam tahun menikah, Arunika Selvara harus menghadapi kenyataan pahit saat suaminya, Davin Albrecht, mencintai wanita lain bernama Selina. Pernikahan yang bermula dari kesalahan masa lalu ini kian retak, bahkan putri mereka, Mireya, mulai berpaling pada Selina. Meski hatinya untuk wanita lain, Davin enggan bercerai. Di tengah luka yang membisu, Arunika memilih diam dan menyerah. Namun saat Arunika menjauh, Davin justru tersadar bahwa ia tak sanggup kehilangan istrinya.
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ibu. Meski ayahnya, Tuan Anggoro, sangat baik, kesibukan bisnis membuatnya jarang di rumah. Naldo hanya memiliki asisten rumah tangga yang merawatnya sejak bayi. Saat diminta memilih ibu baru, Naldo teringat sosok wanita misterius yang terus muncul dalam mimpinya. Ketika akhirnya bertemu wanita itu di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski perbedaan usia menghalangi mereka.
Sampul Novel MEMBUAT AZAB
9.5
Dalam kisah mencekam ini, rasa iri yang mendalam terhadap pencapaian orang lain terbukti mampu memicu konsekuensi yang sangat fatal. Dendam dan kecemburuan yang tidak terkendali berubah menjadi kekuatan gelap yang mengancam nyawa. Bagaimana sebuah kesuksesan bisa berujung pada teror mematikan? Ungkap misteri di balik kebencian yang melampaui batas logika manusia, di mana setiap keberhasilan seseorang justru menjadi awal dari malapetaka yang mengerikan.
Sampul Novel Pengkhianatan Sang Gamma, Pasangan Pendendam Sang Alpha
8.2
Lima tahun kuberikan segalanya untuk Lucian hingga ia menjadi Gamma, namun ia mengabaikan nyawaku demi saudara tiriku. Setelah disiksa di penjara atas perintahnya, aku menyadari ia hanya haus kekuasaan. Kini, saatnya pembalasan. Lucian hadir di upacara ikatanku dengan harapan palsu, hanya untuk menyaksikan aku bersanding dengan Alpha rival yang menjadi pasangan kedua sejatiku. Ini bukan tentang pengampunan, melainkan awal kehancurannya yang menyakitkan.
Sampul Novel Sup Kecantikan
9.0
Lahir dengan fisik kurus dan berkulit gelap membuatku selalu dibanding-bandingkan dengan ibuku yang berparas menawan dan hidup tanpa beban. Sementara ibu dikagumi seluruh desa, aku justru harus bekerja keras di ladang sembari menghadapi perundungan dari anak-anak sekitar. Mereka menjulukiku pembawa sial yang ditakdirkan mati mengenaskan sebagai pengantin dewa gunung di kuilnya. Menolak pasrah pada nasib mengerikan tersebut, aku mengambil keputusan nekat untuk bertukar posisi secara rahasia dengan ibuku sendiri sebelum hari pernikahan itu tiba.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan