
GADIS TAWANAN SANG MAFIA
Bab 3
Bola mata Jeno membeliak lebar. Dia terkejut dengan sikap Selena yang langsung menghardiknya dengan kasar. Bahkan, Selena menampik gelas minum hingga jatuh pecah ke lantai gelasnya.
Ekor mata Jeno langsung menatap tajam Selena. Dia memegangi kedua pergelangan tangan Vania dengan erat.
“Argh! Sakit!” desis Selena.
“Kalau kamu tahu kamu sakit, tidak seharusnya kamu bersikap kasar seperti ini padaku,” Jeno menatap galak Selena.
Tatapan Jeno benar-benar tajam. Jantung Selena langsung terhenti saat mendapatkan tatapan itu. Tubuhnya gemetar ketakutan dengan sendirinya. Matanya langsung terpejam rapat.
Selena takut jika Jeno akan memperkosanya lagi. Apalagi, Jeno mencengkeram pergelangan tangannya dengan begitu kuat. Tenaga lemah Selena yang sedang sakit tak bisa membalas perilaku kasar Jeno yang penuh dengan kekuatan. Selena hanya bisa pasrah pada Jeno.
Hati Jeno kasihan pada Selena. Dia teringat pada adik perempuannya. Cengkeraman tangannya mengendur.
“Sekarang diam saja dan makan apa yang kusuapkan ke mulutmu!” bentak Jeno.
Selena masih menciut takut hatinya. Matanya masih tertutup rapat.
Sementara itu, tangan Jeno mengambil piring berisi nasi dan lauk. Dia menyuapi Selena dengan tangannya sendiri.
Selena hanya membuka mulut ketika permukaan bibirnya disentuh oleh sendok. Dia tak berani membuka mata karena hatinya ketakutan hanya karena tatapan tajam mata Jeno.
Pria itu menyeramkan. Selena menyembunyikan rasa takutnya dengan menggenggam erat selimut. Itulah cara Selena untuk menyalurkan rasa takutnya agar tidak meledak-ledak seperti amarahnya pada Jeno tadi.
Namun, pandangan Jeno tajam. Pria itu tahu bahwa Selena takut padanya. Pandangannya langsung melihat jemari tangan Selena yang gemetaran dan mencengkeram ujung atas selimut.
Jeno memutuskan mengabaikan hal itu. Meski dia tahu Selena ketakutan, dia tetap menyuapkan makanan hingga habis. Yang dia pikirkan adalah Selena makan dan minum obat. Setelah itu, dia bisa sedikit tenang dan membiarkan Selena tidur hingga malam nanti.
Selena akhirnya menghabiskan makanan itu dengan susah payah. Dia juga sudah minum obat.
“Tidurlah!” suruh Jeno dengan nada memerintah tegas.
Selena langsung berbaring dan menaikkan selimutnya hingga menutupi wajahnya. Dia bahkan berbaring miring memunggungi Jeno.
Jeno bisa melihat Selena memilih diam dan menghindarinya. Namun, dia tak peduli. Yang terpenting baginya adalah Selena tak mati.
Keberadaan Selena sangat penting bagi Jeno. Dia bisa mengancam ayah Selena dan membuatnya muncul. Dia tak akan pernah melepaskan Selena hingga ayah Selena muncul di hadapannya dan mengiba.
Jeno bangkit dari duduknya. Dia memanggil pembantu muda untuk mengurusi Selena.
“Kamu pekerja baru kan di sini?” tanya Jeno. Dia memandangi pembantu mudanya di kediamannya.
Perempuan itu memiliki mata sedikit sipit. Wajah dan badannya gemuk. Setidaknya ukuran tubuhnya tiga kali lipat dari ukuran tubuh Selena.
“Iya, Tuan. Saya baru lulus dari seleksi yang diselenggarakan di sini,” jawab si perempuan yang berusia sepantaran dengan Selena itu.
“Rawat dia sampai sembuh. Jangan berperilaku kasar seperti Dewi. Aku akan memotong tanganmu kalau kamu tidak bisa bekerja dengan baik,” ancam Jeno tegas.
“Ba-baik, Tuan,” sahut si pembantu lugu itu.
Selena pun ikut bergidik ngeri mendengar ancaman Jeno. Hatinya kembali berdebar keras. Dia takut jika Jeno mengatakan ancaman serupa padanya.
Selena tak takut mati. Namun, dia takut dibiarkan hidup dalam kondisi cacat.
Selena masih muda. Dia memiliki banyak cita-cita. Meski sudah kehilangan keperawanan, Selena masih berharap bisa tetap hidup dan mewujudkan cita-citanya yang lainnya.
Tadi pun dia berteriak ingin mati pada Jeno hanya karena rasa frustasi yang impulsif keluar begitu saja akibat ledakan amarah. Dia sungguh tak mau mati.
Selena memejamkan matanya lebih rapat. Dia berusaha keras agar bisa tidur.
Untungnya efek obat benar-benar cepat muncul. Selena bisa tertidur pulas sampai malam.
Butuh tiga hari bagi Selena untuk sembuh. Dia bersyukur karena pembantu baru yang ditugaskan untuk merawatnya sangat baik dan sopan.
Namanya Ratna. Gadis gemuk itu berusia setahun lebih muda dibanding Selena. Sesekali Ratna kikuk di hadapan Selena. Namun, Selena tetap nyaman dan bisa akrab dengan mudah.
“Kamu tahu Bu Dewi?” tanya Selena saat membersihkan kasur bersama dengan Ratna.
“Non, biar saya aja yang bersihkan. Nanti Tuan Jeno marah. Takut banget saya,” ujar Ratna. Dia menarik selimut dari tangan Selena. “Non, duduk aja ya?”
“Aku hanya mengambil selimut kotor dan mau menata sprei saja,” tutur Selena.
“Non, Tuan Jeno menakutkan. Saya nggak berani,” Ratna menggelengkan kepala ketakutan.
Selena kasihan pada Ratna. Dia pun menyerahkan selimut dan membiarkan Ratna membersihkan kamar.
Selena duduk di kursi. Dia menikmati camilan yang disediakan untuknya.
“Bu Dewi sudah bekerja seperti biasanya, Non,” terang Ratna. “Non, nggak perlu cemas.”
Selena mengangguk paham. Dia sebenarnya tidak cemas pada perempuan tua yang bersikap kasar padanya. Dia justru berharap Dewi mendapatkan hukuman.
Sayangnya, posisi Dewi sangatlah strategis. Dia adalah pimpinan para pembantu di kediaman Jeno. Meski Dewi membuat kesalahan, Jeno tak akan langsung memecatnya. Kecuali, kesalahan yang dibuat Dewi sangatlah besar.
“Ratna, aku mau jalan-jalan. Apa boleh?” tanya Selena. Dia sudah lama terkurung dalam kamar. Dia ingin melihat-lihat kondisi di luar.
“Iya, Non. Tapi, aku ke tempat cucian dulu buat masukin semua pakaian kotor ini,” Ratna menunjukkan keranjang berisi pakaian kotor.
Selena mengangguk setuju. Dia tersenyum senang karena akhirnya bisa jalan-jalan keluar kamar.
Langkah Selena mengekori Ratna. Dia hanya mencoba menghafal ruang di kediaman Jeno yang besar. Namun, dia belum memiliki rencana untuk kabur.
Kabur bukanlah hal yang bisa dilakukan secara impulsif. Jika ingin kabur, Selena harus tahu seluruh ruang di kediaman Jeno dan menentukan ruang kosong yang bisa menjadi celah baginya untuk kabur.
Selena menganggap jalan-jalan bersama Ratna ini adalah bagian dari persiapan awal baginya untuk bisa kabur dari kediaman Jeno yang menakutkan. Dia tetap berpikir kediaman dengan arsitektur barat dan barang-barang mewah itu menakutkan. Semuanya karena sifat Jeno yang seperti seorang kriminal tiap kali berada di hadapan Selena.
“Ratna, sepertinya aku harus kembali ke kamar,” Selena merasa takut karena pikirannya terus mengingat Jeno.
“Kenapa, Non?”
“Aku takut Tuan Jeno pulang dan nggak suka lihat aku berkeliaran,” terang Selena. Dia tetap tahu diri bahwa di rumah megah itu dia hanyalah budak penghibur untuk Jeno.
“Iya udah, Non. Ayo saya antar,” ucap Ratna.
Selena menggelengkan kepala. “Nggak usah. Aku langsung ke kamar. Kamu siapkan makan siang dan camilan untukku aja,” balas Selena.
Langkah Selena berlari kecil menaiki tangga. Dia mengendap-endap dan sesekali mengecek ruang sekitar.
Selena berhenti melangkah saat dia melihat pintu kamar Jeno terbuka. Dia mengintip dan melihat Dewi sedang membuka lemari Jeno.
Pandangan Selena membeliak lebar saat dia melihat Dewi mengambil satu gepok uang seratus ribu rupiah. Dewi memasukkan satu gepok uang itu ke dalam saku bajunya dan buru-buru mengunci pintu lemari seperti sedia kala.
Anda Mungkin Juga Suka





