
Es Batu
Bab 2
"Lebih baik pergi dengan rasa sakit. Tapi, bisa sembuh nantinya, daripada masih bertahan. Tapi, semakin sakit."
Relva terus berjalan tanpa mendengarkan celotehan dari para siswa yang berbisik-bisik. Baru saja Relva ingin masuk ke kelas, tapi tiba-tiba saja ada tangan yang menyeretnya dengan sangat kasar. Hal itu pun tak luput dari pengelihatan siswa-siswi.
"Lepasin gue, Bangsat!" teriak Relva ke orang yang telah membuat tangannya sakit dan hatinya.
"Gue, mau ngomong sama lo."
"Mau lo apa sih, Vin."
Setelah sampai di taman belakang sekolah, Relva mendorong laki-laki itu hingga terhuyung ke belakang. Dia sudah sangat jengkel dengan sikap laki-laki itu. Rasanya ingin sekali menonjok muka sok gantenya, walau memang ganteng sih.
"Jangan pernah, sentuh gue," ucap Relva sinis.
"Oke, gue ngggak akan sentuh lo, tapi jawab. Kenapa lo benci sama gue sekarang."
"Alvin Pratama. Asal lo tahu, kesalahan lo yang buat gue benci!" Relva memandang dengan sinis, dengan mata yang memancarkan kebencian.
"Gue tau, gue salah, tapi kasih gue buat jelasin ini, Rel," bujuk Alvin memohon.
"Gue cabut." Dengan terburu-buru Relva pergi dari hadapan Alvin.
Alvin Pratama, cowok yang notabane-nya mantan Relva, dia kapten futsal sekaligus most wanted sekolah SMA MELATI. Kulitnya yang putih dan memiliki badan yang tinggi, agak sedikit kurus. Membuat dia semakin digila-gilai oleh kaum wanita.
Tapi tidak dengan Relva, gadis itu sangat sulit dijinakkan, butuh waktu dua tahun bagi Alvin untuk mendapatkan gadis itu. Ya, dua tahun. Relva bukanlah gadis yang gampang untuk didapatkan, walaupun gadis itu sangat cerewet dan gampang berbaur dengan siapa pun.
Alvin menatap punggung perempuan yang dicintainya itu, ada rasa menyesal di hatinya, karena memilih jalan yang membuat orang, yang amat dicintainya itu, merasakan sakit hati yang siapa pun tidak ingin merasakannya. Termasuk orang yang lagi baca.
***
Olivia terus menggoyangkan lengan Relva. Tapi, Relva tidak terusik sama sekali. "Rel. Lo ngomong dong, masa kacangin sepupu lo yang cantik ini," ucap Olivia.
"Cantik dari hongkong," ucap Relva dan tersenyum.
"Nah gitu dong. Masa lo galau mulu sih," kata Olivia yang mendapat hadiah jitakan dari adik sepupunya itu.
"Dasar, sepupu kurang asem."
"Bodo amat," ucap Relva dan pergi meninggalkan Olivia sendiri di sana.
"Kebiasaan, bodmat juga deh," ucap Olivia dan mengejar sepupunya.
Sekarang Relva dan Olivia berada di gerbang sekolah, menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Bukan sekali ini saja mereka di posisi seperti sekarang ini, rasa bosan akan menunggu selalu bersarang di hati mereka. Letih, rasa ingin mencaci maki. Namun, tidak baik mencaci orang.
"Ck! Ini nih, gue benci nunggu," keluh Olivia.
"Nunggu doi peka aja lo sabar," sindir Relva.
"Eh, Rel Kereta api! Denger baik-baik, yah. Gue nunggu doi peka juga atas saran lo," celetuk Olivia kesal. Adiknya itu memang kacang lupa kulitnya, dia sendiri yang menyarankan hal itu. Tapi, sekarang malah begini.
"Bodmat. Tuh, jemputan udah dateng," ucap Relva, dan masuk ke dalam mobil yang baru saja terparkir di gerbang sekolah.
"Sabar Oliv, adik sepupu lo itu emang gitu, sabar aja." Olivia mengelus dada, lalu menyusul Relva masuk. Mobil mereka menghilang di antara mobil yang lainnya.
***
Angin berhembus dengan kian kencang, menerpa kulit wajah. Merasakan dinginya malam saat ini. Mencoba untuk tetap tegar dalam kehidupan, berharap semua cobaan sirna.
Menatap langit-langit, untuk melihat betapa indahnya bintang di atas. Membayangkan semua masalah yang terjadi, entah apa yang akan dilakukan. Rasanya sangat sulit dengan kehidupan ini.
Olivia menatap nanar gadis yang sedari tadi terus meraung di bawahnya hujan. Hatinya merasakan sakit yang amat luar biasa, melihat gadis itu seperti kehilangan arah. Ingin memeluk tubuh mungil itu. Akan tetapi, jika dia melakukan itu akan semakin menjadi.
"Non, apa gak kasihan lihat Non Relva seperti itu?"
"Gak papa, dia butuh waktu sendiri. Kalau dilarang akan semakin menjadi," kata Oliv.
Sekitar 30 menitan sudah Relva duduk sambil menangis di bawah guyuran hujan. Jika terus dibiarkan seperti itu, gadis itu akan sakit. Dan, jika Mahendra tahu putrinya seperti itu entah apa yang akan terjadi. Membayangkan nya saja, sudah tidak sanggup.
"Masih ingin nangis, sampai papa pulang?"
"Kak, gue capek."
"Oke, mandi air hangat, terus istirahat."
"Hm."
Relva berjalan sempoyongan, rasanya hati dan tubuhnya ikutan remuk. Kenangan itu masih membekas dengan jelas, bukan karena laki-laki kemarin. Namun, laki-laki yang mengubah hidupnya, laki-laki yang selalu ada saat dia rapuh mau pun bahagia, laki-laki yang selalu menomor satukan dirinya dari apa pun, laki-laki yang tidak pernah mengeluh akan sifatnya, laki-laki yang amat luar biasa dalam hidupnya.
Entah kesalahan apa yang dibuat dulu, sehingga Tuhan menghukumnya dengan mengambil laki-laki itu dari sisinya.
"Kenapa ... kenapa dia malah ngambil kamu?"
"Relva di sini butuh kamu, sangat butuh," lirih Relva, sambil terus memeluk bingkai foto yang tidak pernah bisa dihilanglkan itu. Hanya itu kenangan satu-satunya tentang laki-laki itu, hanya sebingkai foto itu yang mengobati rasa rindunya.
Mau sekeras apa pun dia ingin laki-laki itu kembali. Tetap saja tidak akan pernah terwujud. Sebab, laki-laki itu sudah berada di tempat yang jauh dan indah. Yang tidak bisa dirinya gapai, kecuali memang waktunya. Tuhan kadang terlalu menguji dirinya, buktinya selalu mengambil orang-orang yang amat disayangnya.
Memilih tidur adalah hal yang baik, dari pada menangis seperti ini. Hari esok cukup sulit untuk dilalui, harus cukup banyak tenaga untuk melawan hari esok, bukan. Tidak ada yang tahu hari esok seperti apa, setidaknya dirinya menyiapkan diri, sewaktu-waktu bisa saja semesta tidak adil lagi.
***
Pagi yang cukup cerah, tidak terlalu buruk untuk sekedar tersenyum. Agar terlihat baik-baik saja, memang harus berpura-pura dulu bukan.
" Non, mau sarapan apa?"
"Apa aja, Bi. Kak Oliv masih tidur?"
"Non Oliv dia pagi-pagi buta udah pergi, Non."
Relva mengernyit bingung, tidak biasanya sodaranya pergi sepagi itu tanpa dirinya. Ada apa lagi ini. Tidak ingin pusing dengan semua yang terjadi, Relva lebih memilih mengabiskan sarapannya. Karena hari ini, dia harus buru-buru untuk mencari album suaminya. Siapa lagi jika bukan suami halunya.
"Pagi!" Relva menatap malas orang itu, dia yakin gadis itu baru saja mendapat kupon yang sangat luar biasa pastinya. Sampai balik-balik membawa senyum paling menjengkelkan.
"Kenapa baliknya senyum gitu?"
"Biasalah baru ketemuan," kata Oliv tersenyum menampilkan deretan gigi-giginya.
"Oh."
"Oh doang? Emang gak ada enaknya ngasih tahu." Jengkel Oliv, pergi meninggalkan Relva sendiri.
Relva hanya acuh tak acuh, baginya tidak ada pentingnya mendengar cerita kakaknya yang hanya cinta sebelah pihak itu. Walau begitu entah kenapa gadis itu selalu bahagia. Padahal laki-laki itu hanya main-main.
Lebih tepatnya tidak punya rasa. Ingin memberi tahu kan hal itu kepada kakaknya, namun takut gadis itu akan bersedih. Walau dia tahu gadis itu sangat pandai menyembunyikan kesedihan, tidak seperti dirinya.
"Mau ikut ke toko buku?"
"Gak, mau nonton konser gue mah." Oliv memutar mata malas, lagi-lagi konser para suami halunya.
"Yaudah, gue berangkat dulu. Lo pulang sebelum zuhur, entar papa tiba-tiba pulang."
"It's okay, hati-hati lo. Jangan sampai ketemu dia sama cewek lain," ledek Relva.
"Bjir lo." Puas rasanya melihat muka kesal kakaknya, itu adalah sebagian hobinya.
Hari yang cerah, senyum yang cerah juga. Hari ini dia akan menonton dengan tenang. Semoga saja tidak ada gangguan. Semoga.
"Mbak, konsernya belum di mulai, 'kan?"
"Belum. Tapi, konsernya dibatalkan, karena ada beberapa kendala, Mbak."
Why? Jadi, dia gagal menonton konser 23 bujang. Kenapa, bukankah semuanya sudah fiks kemarin. "Kok bisa gitu, Mbak? Gimana sama tiket konsernya?"
"Oh itu, sebagai gantinya Mbak bisa makan sepuasnya di sini dan nonton konser idol lain," kata wanita itu tersenyum manis.
Bagaimana bisa begitu konsepnya? Jika begini, dia tidak akan mau jauh-jauh pergi hanya untuk menonton hal yang tidak diinginkan. Tapi, jika tidak diambil, mubazir tiket konsernya.
"Haish, terpaksa."
Relva dengan kesal melangkah menuju tempat konser, bukan tidak suka. Tapi, niatnya ingin menonton konser NCT sudah dari lama. Dan, baru bisa kesampaian. Eh, ternyata semesta tidak mengizinkan untuk dia melihat suami-suami bujangnya. Sungguh menyesakkan.
Selama acara dimulai, Relva hanya diam. Sesekali tersenyum, sambil melihat sekeliling. Mereka berteriak dengan kencang, seakan itu adalah hal yang luar biasa. Bagi dirinya, itu hanyalah biasa. Ya, karena itu bukan 23 bujangnya. Lupakan tentang mereka, memilih menikmati alunan musik dan suara-suara para penggemar. Setidaknya tiket itu tidak sia-sia.
Di tempat lain Oliv segera melangkah menjauh dari buku-buku itu. Entah mengapa perkataan Relva selalu benar terjadi. Laki-laki itu bersama cewek lain. Ingin bertanya, namun status mereka tidak jelas. Jadi, di sini dia yang terlalu berharap atau orang itu sangat pintar membuat hatinya seperti sekarang ini.
Memilih untuk pergi dari tempat itu. Dan, tidak ingin lagi berurusan dengan laki-laki itu. Memilih untuk membuang rasa ini, berharap ke manusia memang tidak baik. Jadi, sekarang dia harus benar-benar bisa melupakan laki-laki itu.
"Lupakan dia, lupakan," ucap Oliv sambil menyeka air matanya yang lolos jatuh.
Hari ini, hari yang tidak akan pernah dia ingat. Sebab, itu terlalu menyakitkan. Laki-laki itu memang tidak pernah menaruh rasa untuknya, hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Dia saja yang terlalu berharap.
Olivia berjalan sambil sesekali mengumpat, mengeluarkan sumpah serapah. Mengapa hatinya begitu bodoh. Benar-benar sangat bodoh.
"Woy! Kak Oliv!" Suara cempreng itu seperti tidak asing. Oliv mencari suara tadi, sambil celingak-celinguk. Dan, terlihat seorang gadis dengan permen gulali yang begitu banyak dipeluknya.
Mengembuskan nafas letih, sambil mengusap sisa air matanya. Konyol sekali, dia menangis karena laki-laki seperti itu. Jika Relva tahu, bisa dibuly pastinya. Jadi, sebisa mungkin adik durhakanya itu tidak boleh mengetahui hal ini.
"Lo ngapain bawa gulali sebanyak itu? Mau jualan?"
"Enak aja, ini nih. Karena gue gagal nonton konser NCT. Makanya gue dikasih permen gulali, sayang kalau gak diambil," ujar Relva, dengan muka kesalnya.
"Gue juga lagi kesel, cowok itu ternyata punya cewek lain," ucap Oliv, detik berikutnya dia merutuki ucapannya. Baru saja dia was-was agar tidak diketahui oleh gadis itu. Sekarang, malah dirinya yang membocorkannya.
"Apa gue bilang, udahlah. Cowok gitu gak usah dipikirkan. Nih, gue bagi permen satu. Biar galaunya hilang." Di luar dugaan, ternyata adik durhakanya tidak membully nya, atau mentertawakannya. Ada apa dengan otak gadis itu, apa konslet.
"Kenapa? Makan, cinta tak selamanya indah, Kak," ucap Relva, berhasil membuat Oliv kesal.
"Ingin berkata kasar."
Mereka berdua tertawa bersama. Untuk hari ini, mereka sama-sama tidak beruntung. Terutama tentang cinta, mereka sama-sama dikecewakan oleh laki-laki. Memang benar, cinta tidak selamanya indah. Hanya omong kosong.
Dua bersodara itu lebih memilih menikmati permen gulali, dari pada berlarut-larut dengan perasaan. Toh jika sudah waktunya, Tuhan akan mengirimkan orang yang tepat untuknya. Tidak harus pusing dengan urusan seperti itu lagi, biarkan semuanya mengalir dengan semestinya. Biarkan semesta mengambil peran, dan nikmati hidup ini dengan sekenarionya.
Yakin hari esok akan indah, semua hanya butuh kesabaran. Tidak harus terburu-buru, karena yang instan itu tidak selamanya awet. Jadi, jalani hidup dengan semestinya. Passion to live.
Anda Mungkin Juga Suka





