
Es Batu
Bab 3
"Cinta itu datang dengan sendirinya tanpa kita duga."
Relva sedang asik membaca novel kesukaanya, jangan di tanya dia akan makan atau tidak, jika sudah bersangkutan dengan novel. Maka, tidak ada yang boleh mengusiknya.
Baginya novel itu adalah candu. Tidak bisa dipisahkan lagi. Bahkan, dia mampu menghabiskan satu novel dalam sehari. Relva sedang fokus-fokusnya membaca, malah diganggu dengan suara deringan ponsel.
Drrt ... drrttt ....
"Halo Rel," ucap orang di sebrang.
"Ya, kenapa?" balas Relva malas.
"Boleh minta bantuan, gak?"
"To the point aja," ucap Relva sambil menahan kekesalannya.
"Gue boleh, minta nomer sepupu lo gak?"
"Ya, ntar gue kirimin," ucap Relva dan mematikan secara sepihak.
Mood-nya sudah hancur, gara-gara diganggu oleh orang tadi. Dibukannya aplikasi Whatsapp dan banyak pesan yang tidak dibalasnya. Setelah nomer kakak sepupunya dikirim ke orang yang tadi, Relva berniat mematikan datanya. Tapi, tiba-tiba saja ada satu pesan yang membuatnya penasaran.
Anda telah ditambahkan ke grup ini.
Kira-kira kata itu yang ada di ponsel, Relva. Siapa yang memasukkannya. Pasalnya tidak ada yang dikenal di grup tersebut.
"Siapa yang masukin gue," gumam Relva.
Grup Ramadhan
081539****: Halo, nama saya Maulida, panggil aja kak Maulida.
082341****: Nama saya Steven.
082356****: Kenalin nama saya Mars, save ya.
082356****: Yang belum kenalan, mana nih?
Relva sebenarnya malas dengan grup ini, tapi dia sudah telanjur masuk. Tidak ada salahnya juga kan untuk ikut nimbrung. Agar tidak disangka sombong, atau cuek.
Kenalin nama Saya Relva Arillia, panggil aja Relva.
081539****: Salken Relva, save ya.
082356****: Salken kak Steven, save ya.
Relva tidak tahu mau bicara apa di grup itu, jadi dia lebih memilih mematikan data. Tapi, tidak lupa menyimpan nomer mereka. Siapa tahu dibutuhkan suatu saat nanti. Siapa yang tahu hari esok, bukan. Jadi, untuk jaga-jaga saja.
"Relva!" Suara super toa sepupunya itu benar-benar mengganggu telinganya. Selalu seperti itu, ingin menukar sodaranya itu. Tapi, belum ada yang cocok jadi penggantinya.
Braak!
Suara pintu dibuka paksa, tentu saja Relva murka dengan orang itu. Sudah dikatakan, kalau berhadapan dengan pintu itu. Mohon dengan lembut buka atau tutupnya. Bahkan, Relva sengaja menempel kata-kata peringatan di pintu kamarnya.
Dengan kata-kata, 'Mohon lembut cara membuka pintu atau penutup pintu kamar Relva.' Begitulah tulisan terpampang jelas di pintu kamarnya. Tapi, memang dasar kakaknya itu selalu membuat dirinya kesal. Seperti sekarang ini.
"Olivia!" ketus Relva, saat sudah di depan sepupunya itu. Tolong, untuk hari ini saja. Dia ingin tenang tanpa diganggu.
"Santai dong my sepupu," cengir Olivia.
"Ngapain lo masuk," ucap Relva memberikan tatapan tajam.
"Gue, cuma mau ngajak lo jalan-jalan."
"Males."
"Rel, ayok dong," ucap Olivia memelas.
Ini yang tidak dia suka dari kakaknya, selalu mendesaknya. Sampai dia luluh, lagi pula, jika tidak dituruti gadis itu akan terus merengek sampai benar-benar terpenuhi. Jadi, sesabar-sabarnya saja.
"Oke." Relva hanya tidak ingin berlama-lama meladeni sepupunya itu. Jadi, terpaksa dia menyetujui ajakan Olivia. Ingat! Hanya terpaksa.
"Allhamdulillah," ucap Olivia sambil menyeret Relva keluar. Ya, memang tidak sulit membuat Relva ikut dengannya, karena memang Relva tidak mau adu mulut dengan sepupunya yang tidak waras itu.
***
Di sinilah mereka sekarang. Berdiri sambil melihat orang yang berlalu lalang, Relva sendiri masih bingung tujuan kakaknya itu membawanya ke sini. Yang pasti sekarang ini dia sedang was-was. Ide gila apa lagi yang akan dilakukan oleh gadis disamping nya ini. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Selebihnya dia hanya pasrah dengan hal yang akan terjadi selanjutnya.
"Lo udah siap, Re?" Ini yang tidak disuka dari kakaknya ini, siap apa? Dia bahkan tidak tahu apa isi pikiran kakak kelewat pintarnya itu. Saking pintarnya, ingin sekali dimutilasi.
"Kita mau ngapain?"
"Ck! Lo lihat di depan kita ada apa?" Relva sekali lagi melihat ke depan dan sekeliling. Memutar isi kepala terutamanya, menebak-nebak apa sebenarnya isi kepala sang kakak. Berharap tidak membahayakan dirinya terutama.
"Aku lihat ada masjid," kata Relva sambil sekali lagi melihat ke depan. Berharap tebakannya benar.
"Yap, itu emang benar. Terus apa lagi?" Oke ini sudah membuat Relva jengkel, kenapa berbelit-belit. Langsung pada intinya bisa, kan. Menyebalkan memang.
"Intinya langsung." Relva ingin sekali membuang kakaknya ini.
Oliv terkekeh geli melihat raut wajah kesal Relva. Sebenarnya bisa saja dia langsung pada intinya. Tapi, tidak ada salahnya bukan mengerjai sang adik. Kapan lagi bisa membuat gadis itu kesal.
"Itu ada sandal Andry," bisik Oliv, agar tidak didengar oleh orang.
"Terus?"
"Mau gue sembunyiin, biar dia pulang nyeker. Biar mampus," kata Oliv, melihat sekeliling yang sudah mulai sepi.
"Kak, ini termasuk perbuatan dosa, gak?" Bukan apa-apa. Tapi, ini tempatnya di masjid. Takut ladang dosa-nya semakin bertambah nantinya. Memang sakit hati bisa membuat orang jadi tidak waras.
"Gak. Kan kita ngambil, bukan maling. Lagi pula kita ngambil sandal orang yang kita kenal, jadi gak dosa. Insyaallah." Ada gitu logika macam begitu. Tidak paham dengan jalan pikiran kakaknya ini memang.
"Lo lihat orang-orang. Gue yang ambil sandalnya," perintah Oliv. Relva ikut-ikut saja, dari pada dia jadi adik durhaka. Lagi pula seperti kata kakaknya tadi. Itu milik orang yang dikenal, jadi tidak dosa. Insyaallah.
Saat sandal itu sudah berada di tangan Oliv, tiba-tiba saja pemilik sandalnya berada di hadapan sang kakak. Ingin lari duluan, namun kakaknya masih cengo di sana. Hal hasil, Relva terpaksa menarik tangan Oliv dengan kencang dan berlari. Tanpa mendengar teriakan Andry, laki-laki yang amat disayang kakaknya itu.
"Dasar gadis gila! Bisa-bisanya dia mencuri sandal gue, emang titisan demon," cerca Andry, sekarang dia harus pulang dengan kaki tanpa alas. Sangat menyebalkan. Gadis itu benar-benar sudah gila, bisa-bisanya dia sempat suka dengan gadis seperti itu. Ingatkan dia untuk menagih sandalnya nanti. Kalau sempat.
Sedangkan Relva dan Oliv sedang mengatur nafas mereka. Pasokan oksigen yang mereka miliki sudah hampir habis terkuras, karena mereka terus berlari. Sandal milik Andry pun masih dipegang Oliv. Sungguh hal paling memalukan di dalam hidup.
"Gila lo, sampe segitunya dendam," ucap Relva ngos-ngosan.
"Habis ... gue kesel, sakit tahu," lirih Oliv sambil menatap sandal milik laki-laki yang amat dia sukai.
"Udahlah, besok-besok gue gak mau nemenin lo. Capek, bikin dosa aja, malunya itu loh. Haish!" Keal Relva, berjalan menuju minimarket. Oliv diam memperhatikan sandal itu, baru dia sadar bahwa dia sudah melakukan hal konyol dan memalukan. Mengapa dia punya pikiran seperti itu.
"Argghh! Malu!"
"Udah tahu malu, malah nyuri sandal orang," ledek seorang cowok yang tiba-tiba saja lewat.
"Apa lo! Mau-mau gue dong." Kesal Oliv ke orang itu. Cowok itu hanya acuh tak acuh, tidak ingin berlama-lama meladeni gadis super gila.
"Kenapa lo?" Relva bertanya sambil menyerahkan sebotol minuman yang dibelinya tadi.
"Tuh anak IPA 1, ngeselin banget. Ngatain nyuri."
"Berarti dia lihat dong tadi? Haish, malu banget kak," rengek Relva.
"Yaudahlah, udah terjadi. Ayok pulang," ujar Oliv menyeret Relva menjauh dari tempat itu.
Sudah cukup untuk hari ini, dia sudah sangat malu. Ditambah lagi ada teman sekolahnya yang tahu akan ke jadian itu. Malunya itu loh, berasa ingin lenyap dari bumi ini. Numpang di Mars. Andai waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan ingin menuruti keinginan lagi sang kakak. Sungguh hari ini, hari yang memalukan.
Tidak akan terlupakan sampai kapan pun. Tolong buang saja kakaknya itu ke pelanet lain, dia sudah tidak mampu menopang beban seberat ini, hanya untuk menjadi adik dari gadis gila yang sekarang bersamanya ini.
***
Memulai rutinitas setiap hari, terutama rutinitas sekolah. Sangat malas rasanya dia pergi sekolah, apa lagi ini hari sabtu. Hari mendekati hari minggu, bau-bau libur sudah bersarang dipikira nya. Rasanya ingin cepat-cepat lulus.
"Udah?"
"Hm."
"Non, yang semangat atuh, Neng. Masa mau sekolah lemes begitu," kata supir yang memang selalu mengantar mereka ke sekolah.
"Ya, ini udah semangat kok."
Laki-laki paruh baya itu hanya mengeleng melihat tingkah anak majikannya itu. Lebih baik diam, dan memilih fokus dengan kerjaanya. Dari dulu dia memang sudah dipercaya untuk mengantar jemput keluarga Mahendra, baginya keluarga ini sangat berjasa untuknya. Jadi, walau pun anak-anaknya sudah mempunyai pekerjaan yang cukup di bilang besar. Dia dan istrinya tetap ingin bekerja. Toh, mereka tidak pernah dibedakan oleh keluarga ini. Malah mereka sudah menganggap dia dan istrinya keluarga.
"Non, udah sampai. Jangan lupa belajar yang rajin."
"Siap, Pak!"
Relva memang berangkat sendiri. Oliv sudah terlebih dahulu berangkat. Alasannya, hanya untuk menghindari anak IPA kemarin. Masih ingat adegan sindir-menyindir kemarin? Walau pun itu hanya sepatah kata. Tapi, malunya sampai ke ubun.
"Re! Tumben ke siangan?" tanya Fara heran.
"Ya, lagi mager banget. Btw, bentar lagi ujian kelulusan kan?"
"Yes."
"Kelas yok, oh tadi Alvin ke sini."
"Ngapain?"
"Nyari lo lah, tuh orang kan sekarang lagi berusaha dapet maaf lo," kata Fara, yang hanya diangguki Relva.
"Biarin aja, masuk yok."
Sampainya di kelas, hal yang paling mencolok adalah. Banyak buket bunga dan coklat di sana. Siapa pula yang menaruh hal seperti itu, dia rasa dirinya tidak terlalu terkenal itu. Sampai mendapatkan bunga dan coklat.
"Ini apa, Ol?"
"Dari mantan lo," kata Oliv malas. Relva hanya ber O ria. Baginya itu sama saja membuang waktu.
"Yang mau makan coklat siapa? Nih buat kalian." Relva tidak sejahat itu dia memang membagikan semua coklat itu ke mereka. Tapi, disisakan satu untuk dirinya, sayang kalau tidak dimakan.
"Habis ini kita belajar bareng, ya."
"Oke."
Tidak ada yang memulai pembicaraan atau sekedar mengobrol dengan teman. Mereka diam memperhatikan guru yang sudah mulai mengajar di kelas mereka. Tidak ada adegan mengeluh atau yang lainya. Karena memang kelas mereka jika sudah guru masuk, mereka enteng belajar. Karena itu kelas mereka sangat disukai para guru.
Tidak terasa mereka sudah 1 jam belajar, sekitaran 30 menit mereka membahas materi dilanjutkan dengan mengerjakan soal. Guna untuk memperdalami materi sebelumnya. Mereka sudah kelihatan letih dan bosan.
"Usstt ... ini kapan be---"
Tringg! Tringg!
Tepat sebelum Riki menyelesaikan ucapannya. Bel keluar main sudah berbunyi, menandakan seluruh pelajaran terhenti untuk istirahat. Semua siswa-siswi SMA MELATI, bernafas lega. Waktu yang mereka tunggu-tunggu. Belajar memang penting, tapi lebih penting lagi mengisi perut mereka yang sudah berdemo minta diisi.
"Baiklah, pelajaran hari ini kita cukupkan sampai di sini. Semoga ujian kalian lancar besoknya. Tetap semangat," ujar guru yang baru saja selesai jam pelajarannya. Beliau meninggalkan kelas mereka.
"Akhirnya keluar juga, gila penat. Kayak mau perang aja," keluh Riki.
"Aelah, lo mah ngeluh mulu. Bentar lagi juga selesai, gak kangen apa masa-masa kita ini?" tanya Ilma membalas perkataan Riki.
"Buat apa? Gue malah seneng pisah sama kalian," ujar Riki, yang langsuing mendapat sorakan dari teman yang lain.
Pasti akan sangat rindu dengan mereka nantinya. Kebobrokan mereka sudah mendarah daging, apa lagi keseruan saat di dalam kelas. Rasanya tidak sanggup jika berpisah. Tapi, mereka tidak mungkin terus di posisi ini. Mereka juga harus berjalan sesui yang sudah diatur oleh semesta.
Sekarang mereka hanya bisa menjalani peroses, mengeluh pun tidak ada artinya. Toh, semua sudah punya bagian masing-masing. Hidup jangan dibuat susah, jika tidak. Maka, kamu yang akan susah menjalani hidup. Gitu aja dibuat susah.
"Gimana kalau gue teraktir hari ini, anggep aja kita merayakan kebersamaan," ucap Relva, yang disetujui mereka.
"Asikk, makan-makan. Yok ke kantin!"
"Yok!"
Mereka dengan senyum merekah, sambil sesekali bercanda gurau. Tidak sekarang saja mereka seperti ini. Kadang ketua kelas yang meneraktir mereka. Terus begitu setiap dua kali seminggu. Mereka sepakat untuk selalu membuat kenangan indah semasa SMA. Karena jika sudah selesai masa abu-abu. Maka, semuanya sudah tidak akan sama.
Tidak sedikit kelas-kelas lain iri akan kedekatan mereka. Kelas mereka nyaris tidak pernah jelek di mata mereka. Karena jika ingin berbuat salah, maka mereka kompak untuk dihukum bersama. Bukankah itu adalah persahabatan rasa keluarga. Satu makan nangka, semua kena getah. Tidak ada yang saking menyalahkan, karena mereka selalu bahagia jika bersama. Itu yang membuat orang iri dengan kekompakkan kelas mereka.
Bercanda bersama, menghabiskan waktu bersama adalah hal yang tidak bisa sebagian orang lakukan. Meluangkan waktu bersama tidak banyak orang yang bisa. Jadi, nikmatilah masa sekolahmu, selagi kalian bisa. Kita tidak tahu hari esok seperti apa, hanya bisa mengikuti arus kehidupan.
***
Jika hari esok tak dapat dilalui, maka katakan padanya untuk hari ini selalu tersenyum untuk menikmati hidup ini. Terkadang, butuh kesabaran untuk menjalani hidup yang rumit. Terkadang, butuh kekuatan lebih dalam diri untuk melalui semua rintangan. Terkadang, butuh benteng kokoh untuk terus berdiri tegak. Hanya untuk melawan ke hidupan yang fana ini.
Sosok itu masih terus menghantui setiap pengelihatan. Seakan dia selalu berada di sisi ini, sisi yang tak pernah kuinginkan. Perasaan ini pun begitu runyam, tak bisa utuh seperti semula. Banyak hal yang terjadi dalam hidup, sampai untuk memulai lembaran baru sangatlah sulit.
Hidup itu memang tidaklah mudah. Tapi, jika kamu permudah. Maka, dia akan menjadi muda. Begitu pun sebaliknya, jika kamu persulit. Maka, dia akan menjadi sulit. Itulah hidup.
Relva menatap nanar gundukan tanah itu, pandangannya kosong entah ke mana. Pikirannya sudah tidak bersamanya lagi, jangan ditanya soal air matanya. Jelas air mata itu sudah lolos jatuh beberapa menit yang lalu. Hanya ada kebisuan di sana.
Dua tahun sosok itu pergi, selama itu juga sangat sulit untuk gadis itu memulai hidupnya. Entah karena dorongan dari mana, sampai dia bisa menerima orang lain. Namun, tetap saja itu semua tidak mampu merubah perasaannya untuk orang itu. Entah hatinya sudah mati rasa, atau memang sebagian dirinya dibawa oleh sosok yang amat dia sayangi itu.
Setiap kali dia membuka hati untuk orang lain, selalu terbesit rasa bersalah dalam dirinya. Entah itu sebuah petaka atau tidak. Yang pasti dia tidak pernah menyalahkan laki-laki itu.
"Kamu bahagia udah di sana?"
"Kamu gak kangen sama aku?"
"Aku kangen," kata itu selalu membuat hatinya rapuh.
Meremas rerumputan yang tumbuh di sana, menumpahkan rasa rindu. Membiarkan tangisnya didengar oleh penghuni kubur, dia sudah tidak peduli. Setiap kali dia ke sini, dia tidak pernah bisa mengontrol dirinya untuk tidak menangis. Serapuh itu dirinya.
"Kamu gak usah khawatir sama Relva, sekarang kamu baik-baik di sana."
"Jangan lupa, gadis ceroboh ini masih merindukanmu." Sesekali Relva mengapus air matanya yang menghalangi pengelihatannya.
"Relva belum bisa menemukan sosok lain, maaf."
Hanya kata itu yang mampu diucapkan, selebihnya hanya tangisan. Bahkan, dia tidak pernah bisa berusaha tegar jika sudah berada di tempat ini. Seakan kenangan itu berputar kembali, sampai kapan pun, pemegang tertinggi tetaplah laki-laki dengan senyum lembutnya itu. Entah hari esok apakah dia bisa menemukan orang lain, yang pasti untuk sekarang biarkan rasa ini tetap seperti ini. Setidaknya untuk saat ini, dia sudah lelah mencari seperti sosok itu.
Sedangkan Oliv hanya menatap gadis itu dengan diam, memilih hanya melihat. Membiarkan gadis itu melepas rindunya. Memang sulit untuk mengembalikan pesikis orang yang hampir rusak, butuh waktu untuk memulihkan semuanya. Siapa yang tidak akan rusak pesikisnya, jika kalian berada di posisi Relva. Maka, kalian mungkin akan sama dengan gadis itu.
Melihat dengan mata kepala sendiri, orang yang sangat dikasihi terbaring lemas. Dengan sekujur tubuh berlumuran darah di mana-mana. Siapa yang tidak rusak pesikisnya, sosok yang selalu membuat dirinya berjuang melawan kerasnya hidup, mengembuskan nafas terakhir di depannya. Menyaksikan detik-detik dia akan diambil oleh semesta. Itu hal paling mengerikan yang tidak pernah diinginkan.
"Ayo, Kak, kita pulang."
"Mau mampir beli telur gulung, gak?"
"Boleh," ucap Relva tersenyum, seakan dia tidak pernah bersedih. Sepandai itu dia merubah ekspresi wajahnya. Sedih menjadi bahagia.
"Yoklah!" Semangat Oliv.
Sesampainya mereka di rumah, mereka disambut dengan tatapan elang milik laki-laki paruh baya. Berjalan mendekat ke arah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat dua gadis itu menelan ludah.
"Habis dari mana?"
"Anu, Pa. Anu ...."
"Ngomong itu yang jelas, anu apa? Ambigu banget kosakatanya," tambah tidak bisa berkutik lagi.
"Habis beli telur gulung," ucap Oliv, sambil mengangkat keresek berisikan telur gulung yang mereka beli tadi.
Mahendra diam, meneliti raut wajah anak gadisnya. Mencari kebohongan di mata mereka. Tapi, tidak menemukan sebuah kebohongan, memang mereka tidaklah sepenuhnya bohong.
"Ya sudah, kalian bersihin badan kalian. Habis itu turun ke bawah, papa mau bicara sama kalian."
Relva mengembus kan nafas lega, papa-nya tidak terlalu menyudutkan. Kalau sampai tadi mereka ditanya lagi, bisa dipastikan ke jujuranlah yang akan keluar dari mulut mereka berdua. Semesta masih memihak mereka. Mahendra memang sangat keras, jika menyangkut tentang hal itu. Beliau tidak pernah suka jika putrinya masih mengingat hal itu. Masa lalu, biarlah berlalu. Itu katanya, saat Relva mengalami hal terburuk itu.
Memang tidak sepenuhnya salah. Itu ada benarnya, tapi kembali lagi. Hati seorang perempuan sangatlah lembut dan rapuh. Butuh kekuatan dan dukungan dari sekitarnya, dan beruntungnya dia masih memiliki kakak dan teman yang bisa mengerti dirinya. Bukan papa-nya tidak mengerti, hanya saja beliau tidak ingin dirinya berlarut-larut dalam ke sedihan.
Hiduplah dengan damai dan ikuti alur sekenario alam semesta. Jalani apa yang semestinya, dibalik ke sedihan, pasti ada kebahagiaan. Tuhan tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Anda Mungkin Juga Suka





