
ENIGMA: When We Are
Bab 2
"Heh cowo sinting! Rapihin baju lo dulu, tadi gue udah bilang kan? Gausah mempersalahkan hidup orang nanti lo!" omel Sabiru pada Elang yang berada dilapangan untuk upacara bendera.
Elang Albimanyu, pemuda yang tidak suka kerapihan dalam berpakaian, membuat Sabiru terheran-heran, bahkan bingung karna setiap seninnya mengulang kesalahan yang sama. Baju yang tidak dimasukkan, memakai topi dengan benar, memakai dasi tidak rapih, padahal dirumah setau Sabiru, Elang mempunyai adek perempuan dan kakak perempuan, apa tidak dinasehati atau bagaimana?
Elang mendengar hal itu memindah tempat jadi dibelakang, seolah-olah malas mendengar ocehan dari Sabiru. Sabiru melihat gerak-geriknya seperti itu pun kemudian menghampirinya, "lang, lo kenapa si? Setiap hari senin kelakuan lo sama!"
"Lo itu osis, Lang.. Seharusnya lo bisa menjadi patokan buat murid-murid yang lain." lanjutnya.
Pemuda itu memutarkan bola matanya malas, "gua ga peduli." jawabnya dengan dingin.
"Ga peduli gimana? Sehar-"
"ANAK-ANAK HARI INI ADA UPACARA TOLONG SEGERA DILAPANGAN UNTUK MELAKSANAKAN UPACARA BENDERA HARI INI! JIKA KETAHUAN MASIH ADA YANG DIKELAS KARENA BERALASAN TIDAK JELAS AKAN DIHUKUM, MAKA ITU SETIAP KELAS AKAN DI CEK SATU-SATU." tegas ibu kepala sekolah membuat Sabiru menoleh kearah sumber suara, sampai membuat para murid langsung berdatangan. Elang menatap datar pada sumber suara, baginya pelaksanaan hari ini adalah sebuah amanat yang sia-sia pada akhirnya.
"Awas aja lo." peringat Sabiru pada Elang.
Setelah itu, Sabiru pergi untuk menata barisan dengan Bian, kemudian setelah selesai Sabiru dengan Bian pun kembali pada barisan kelasnya karna Sabiru dan Bian adalah sekelas.
Sabiru menoleh kearah barisan sebelahnya, karna itu barisan kelas Elang, namun ia memperhatikan setiap barisan yang berpasangan, ada satu yang tidak berpasangan, membuat Sabiru menghelakan nafasnya kasar.
"Dia kemana si!?" desis Sabiru. Ia memegang handpone untuk mengirim pesan pada Elang, lagian ia benar-benar greget pada pemuda satu ini, dikenal sebagai OSIS namun tidak dengan kelakuannya.
"Kenapa kamu Sa?" tanya gadis dengan ramput kepang dua. Gadis cupu, dan juga lugu, nama lengkapnya adalah Asri Kasih yang merupakan teman sekelasnya yang sangat manis jika tersenyum tak kalah dengannya.
Sabiru menoleh kearahnya, kemudian ia meletakkan handpone didalam satu atas baju OSIS-Nya, "sri, lo liat eh maksudnya aku.. Kamu liat Elang ga?"
"Elang? Elang yang seharusnya berpasangan dengan cowo yang dari tadi sendirian?" tujuk Asri membuat Sabiru melotot tak percaya. "Dari tadi sendirian? Ar-artinya.. Elang ga ikut upacara hari ini?"
Dengan lugunya, Asri menggelengkan kepalanya cepat. "Ga atuh, kan Asri udah bilang, dari tadi cowo itu sendirian."
"Cari mati dia." monolog didengar oleh Asri yang membuat Asri merinding mendengar hal itu.
"Mat-mati?" ucapnya berbata-bata menatap Sabiru yang menundukkan kepalanya, wajahnya sedikit kesal.
"Ha? Kamu salah dengar kali. Bukannya mati, tap-"
"BAIK ANAK-ANAK MUNGKIN ITU SAJA YANG BISA SAYA SAMPAIKAN UNTUK AMANAT PAGI INI. MOHON MAAF JIKA ADA TUTUR KATA YANG KURANG BERKENAN, MOHON MAAF KARENA JUGA NAMANYA MANUSIA BIASA HAHA!"
Bian diam-diam mendengar semuanya, karena barisannya di depan Sabiru. "Cari hukuman dia."
"Gua harap, Elang ga pernah suka sama Sabi dan akan terus benci sama dia. Gua ga suka kalo Sabi deket sama Elang,"
🍃
"Kamu ngapain Lang disini! Main ngerorok segala begitu, emang kamu bagus begitu ha!? Sok-sok'an kamu! Kamu itu osis, Elang!"
Elang hanya menoleh sejenak, lalu menatap di depan dengan mengisap rokok yang berada dijarinya itu.
"Lang! Dengerin bapak, kamu itu masih sekolah. Kamu ngapain begitu? Kamu mau merusak diri?" tanya guru bk padanya. Guru yang dikenal asik, gaul, suka becanda, guru favorite.
Elang kekeh, "mau rusak atau mati sekali pun ga ada yang peduli sama gua, ngapain bapak susah-susah ngatur-ngatur gua?"
"Karna bapak peduli sama kamu, Lang."
Elang menggelengkan kepalanya cepat. "Gausah sok peduli sama gua, gua ga suka. Pergi aja pak, kalo ujung-ujungnya mau nasehati saya mending gausah."
"Tap-"
"ELANG!" teriak Sabiru memotong membicaran Ibnu-guru bk.
Sabiru menghampirinya, ia melihat ada guru yang tengah duduk disampingnya pun mencium punggung tangannya, kemudian tersenyum.
"Ada apa datang kemari, Sa? Lari-lari."
Sabiru menyengir. "Iya, ada keperluan sama Elang pak, soalnya dia ga ikut upacara tadi." adunya.
Mendengar itu, Ibnu langsung menoleh dan mendapatkan deham dari Elang. "Kamu ngapain lakuin hal itu, Lang?"
"Buang-buang waktu aja disana,"
"LANG!" tegas Sabiru sambil melotot kearahnya. Murid apa seperti itu, apa lagi bicara tepatnya disebelah gurunya sendiri.
Murid edan.
Ibnu menatap jam tangannya, kemudian menatap Sabiru. Setelahnya, ia berdiri. Tangannya berada dibahu kiri Sabiru. "Tolong, ya, Sa."
Sabiru menganggukkan kepalanya paham. "Siap pak! Tenang aja masalah Elang." ujarnya sambil tersenyum.
Setelah Ibnu pergi karena ada urusan, Sabiru duduk disampingnya kakinya menguncang-uncang. Elang menatap Sabiru, kemudian berkata padanya, "bisa diem ga?"
Sabiru menggelengkan kepalanya. "Bisa, kalo lo masuk kelas sekarang."
"Ga." jawabnya, padat, singkat, dan juga jelas.
Sabiru memutarkan bola matanya malas, ia menghelakan nafasnya kasar. "Lo tuh ya, beda banget sama Bian."
"Memang, jangan samain."
Sabiru menatap Elang, "lo ada masalah apasi, Lang sama Bian?"
Elang mengangkat satu alis kirinya. "Gausah kepo, lo itu masi bocah. Gausah ikut campur masalah orang dewasa! Mau sok jagoan lo!?"
Sabiru berdesak kesal. "GAUSAH NGATAIN GUE! IHHHHH COWO EDAN LO."
Bibir pemuda itu melengkung keatasnya, melihat tingkah Sabiru yang kekanak-kanakkan jika kesal. Entah mengapa, ia senang jika meledek gadis itu hingga ia tersenyum namun sejenak.
Dia unik,
"Lang, lo bener-bener nyeselin ya! Gimana nanti kalo istri lo hadapin sikap nyeselin begini!"
Elang tersenyum smirk, "jauh amat mikirnya. Kalo ga sanggup cerai aja, selesai. Cari yang baru. Ngapain susah-susah?"
"Cowo edan lo. Main cari yang baru aja lo, lo ga tau perasaan wanita ya!?" Sabiru benar-benar tak percaya apa yang diucapkan oleh Elang, cowo edan!
"Wanita aja ga ngeriin gue, jadi lo gausah sok peduli sama gue, gausah cariin gue, hidup ini gue yang jalanin, lo gausah ikut campur!"
***
🥀🥀
"Sabiii!"
Gadis itu yang merasa terpanggil pun menjadi terhenti alangkahnya, kemudian tanpa berpikir panjang, ia menoleh.
Bibir cowo itupun melengkung keatas, terukir sebuah senyuman, membuat gadis yang bernama Sabiru itu ikut tersenyum.
Senyuman dibibir cowo itu tak lepas, sesampainya ia menyusul gadis itu. Tepatnya di sampingnya sambil merangkul gadis itu pun satu alisnya terangkat.
"Hm? Mau ke mana?" tanya lembut pada Sabiru.
"Nyusul Elang, kenapa emangnya?" tanya balik Sabiru.
Senyuman yang tadi terukir dibibir menjadi memasang datar wajahnya itu. "Ngapain cari dia? Ga penting banget," katanya.
Sabiru tersenyum smirk, "caelah pak ketos, cemburu?" Sabiru kekeh serayu menatap wajah ketua osis-Bian.
Bian memutarkan bola matanya malas, seolah-olah memang benar ia cemburu pada Elang yang selalu dicari-cari oleh Sabiru. Tetapi, kenapa perasaan ini muncul lagi? Pikir Bian.
"Dih apa banget gua cemburu." pituturnya.
Sabiru menganggukkan kepalanya. "Baiklah-baiklah. Gue lanjut aja cari, ya?" godanya. Ia langsung melangkah, namun dicegah oleh Bian, lengan Sabiru dipegang olehnya, membuat Sabiru menoleh kearahnya.
"Ga heran kalo gerak-gerik Bian beda sama gua, sama anak-anak yang lain." monolog cowo yang tengah melihat moment yang sangat tak percaya olehnya. Namun, ia senang ketika melihatnya.
"Heh! Ngapain lo?" tanya gadis yang berada dibelakangnya serayu menepuk bahu cowo itu membuat sontak kaget, kemudian menoleh kearah gadis itu.
Cowo itu memutarkan bola matanya malas. "Ngapain lo dateng-dateng, bikin gua kaget aja, lo." ketusnya sambil menatap ke depan.
"Lo yang ngapain, lihat apa si lo? Ga her-"
"Dia abang gue kan, iyakan!?" tanya gadis itu serayu kaget melihat cowo yang tengah memegang lengan gadis yang bernama Sabiru itu sambil menatapnya, meskipun tatapanya masih datar.
"Ya lo lihatnya gimana dodol!" jawabnya malas.
"Ya bener, dia abang gue! Abang Ian!"
"Lepas Ian," perintah Sabiru menatap lengannya.
Bian menggelengkan kepalanya. "Gua gamau lepasin tangan lo, kalo lo mau nyusul Elang, gua ga setuju."
"Kenapa gitu? Ada hal yang mau gue tanyain sama Elang, Bian." bantah Sabiru. Gadis itu tidak mau berurusan dengan Elang, namun, ada hal yang ia bicarakan padanya.
"Gua bisa sampein. Jadi lo gausah ke sana. Lo mau nanya apa, bilang!"
"Gue harus ke sana, Bian. Lepasinn!" Sabiru berusaha memberontak dan melepaskan tangannya itu, namun sia-sia, Bian memegang lengannya dengan kuat.
"Dia bener abang gue bukan si, Ta? Kok jadi begitu?"
Attaya menganggukkan kepalanya. "Dia abang lo, tapi lo ngerasa aneh juga gasi, hubungan Sabiru sama Bian itu kaya ada sesuatu?"
"Perasaan lo kali. Setahu gue, hubungan mereka ya, sebatas ketos dan wakilnya aja, ga lebih. Kalopun ada sesuatu ya, paling temenanlah." Gadis itu berusaha menyakinkan Attaya untuk berpikir positif pada abangnya itu, meskipun dirinyapun tidak percaya bahkan abangnya itu juga deket dengan seorang cewe, padahal setiap ditanya ia tidak mau dekat dengan cewe manapun, namun kali ini? Tidak!
Gadis yang bernama Violet Anasta itu menggigit bibir bawahnya sambil menatap ke arah depannya. "Tapi, menurut gue, lo ada benernya jug, soalnya abang gue ga pernah sedeket itu sama cewe, apa lagi sama Sabiru." pendapat Violet dianggukkan oleh Attaya.
"Kita buat mereka deket gimana?"
"Maksudnya?"
"Gua gamau apa-apain lo, Sabi. Udah, gua anter lo ke kelas aja, gimana?" tawar Bian padanya. Modus dikit ga ngaruhlah, ya. Pikir Bian.
Tanpa menunggu jawaban dari Sabiru, Bian langsung menariknya begitu saja, membuat Sabiru pasrah saja.
Setelah ini, gue harus bisa ngomong sama Elang, dia kenapa? Dia ga pernah abaikan gue gitu aja, apa, dia ada masalah sama Bian? Batin Sabiru sambil memandang wajah Bian.
****
Sebelum matapelajaran dimulai. Elang melihat Sabiru bersama Bian, ada rasa aneh bagi Elang, ia sangat gelisah melihat kejadian tadi, sambil dipikirkan.
Elang menghelakan nafasnya sejenak, lalu membuangkan lewat mulutnya. Teman sebangkunya yang tadinya mencatat baru sebagian yang sudah dicatat dipapan tulis, menjadi menoleh kearah Elang. "Ada masalah apa si, bro? Jangan stres mikirin hal yang ga penting," tegurnya.
"Gua ga mikirin apa-apa, Jak." jawabnya.
Jaksa Akarsa itu nama lengkapnya. Kerap dipanggil Jaksa, cowo cool, asik jika kenal dengannya, sensitif jika punya masalah dengannya. Ia merupakan teman Elang sendari kecil yang sudah Elang anggap menjadi keluarga.
"Bohong banget lo, ga pro kalo lo mau bohongin gua, gua tau banget lo. Lo ada masalah sama bocah ingusan itu?" tanya Jaksa.
"Gausah panggil dia kaya gitu, Jak. Dia ga salah apa-apa," kata Elang padanya.
"Ga salah gimana maksud lo? Dia itu selalu ngatur-ngatur lo, Elang! Kaya emak lo aja dia, sementara bunda lo? Ga! Dia bukan siapa-siapa lo, Lang. Jangan sampai lo suka sama cewe modelan kaya dia, udah kaya anak tk, suaranya cementeng, brisik, ngatur-ngatur. Aduh, pokoknya ga baik buat lo."
Elang tersenyum tipis mendengar semua hal itu menjadi ingat ketika Sabiru memarahinya. "Dia ga kaya gitu. Dia baik, tapi, dia punya caranya sendiri, Jak." belanya.
"Jangan anggap dia peduli sama lo, Elang. Gua peringatin sama lo, gausah deket-deket sama dia, lo pikir gua ga denger semua membicarakan lo sama Bian tadi? Gua denger, Lang. Mulai sekarang, lo gausah deket-deket sama dia, kaya ga ada cewe lain aja. Kalo ga suka sama cewe, gausah suka sama dia sekalian." omel Jaksa. Bagaimanapun, ia tak mau jika yang dia anggap saudara terluka gara-gara masalah cewe, apa lagi dia sudah banyak masalah keluarganya.
"Lo paham kan apa yang gua bilang?"
"Hm,"
****
"Gimana pelajaran hari ini, Sab?"
Seperti biasa, cowo satu ini memang sudah biasa mempertanyakan pertanyaan itu pada Sabiru.
"Menarik, karena mapel jam pertama tadi, itu, mapel yang gue suka." jawab Sabiru senang.
Bian menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sudah tau semua tentang Sabiru, mulai dari matapelajaran yang gadis itu sukai, makanannya, dan semua hal yang Sabiru suka.
"Mau pesen nasgor?" tawar Bian pada Sabiru. Dan Sabiru menganggukkan kepalanya setuju.
"Lo mau makan apa hari ini, Ian?" tanya Sabiru padanya.
"Samain aja deh. Gapapa kan?"
"Ya gapapa lah, Ian. Dan lo yang mau, aneh banget deh lo." Sabiru menggelengkan kepalanya heran sambil tersenyum.
"Jadi, masalah yang kemarin lo mau gimana, Bian? Lo mau terima Elang sebagai saudara lo. Tapi ..." jeda Sabiru.
Bian menghelaka nafasnya kasar sekaligus malas membahas ini yang bertentangan Elang. "Gua males mbahas ini, Sabi." ungkapnya.
"Tapi Bian ..." Melihat Bian menggelengkan kepalanya membuat Sabiru tidak melanjutkan ucapan itu lagi. Sabiru mengerti, tapi ia juga ingin meluruskannya.
"Woi!" teriak Attaya membuat dua orang itu menoleh secara bersamaan. Attaya melihat itupun tersenyum kekeh dan berakhir berlarian untuk menyusulnya.
Bian berdecak sebal. "Ganggu aja lo,"
Attaya yang sudah sampai di sana pun, menyengir. "Maaf, tapi emang gua ganggu lo Bir?"
Sabiru menggelangkan kepalanya. "Ga tuh, santai aja kenapa, kak, duduk," pintanya dan Attaya pun menurut sambil menggoda Bian.
"Males banget," gerutu Bian.
"Tuh, calon pacar lo aja baik sama gua, lah lo? Boro-boro." bisik Attaya.
Mendengar bisikkan itupun Bian melotot. Sahabat macam apa seperti Attaya?
"Cepet, katanya lo mau bilang sesuatu sama dia."
"Hm, Sabi."
"Ya?"
"Gua mau bilang sesuatu, boleh?" izin Bian. Attaya melihat itu tak bisa menahan senyumannya itu.
Sabiru yang sudah mempunyai feelingpun menjadi tak enak, ia bingung harus mengatakan apa padanya. "Hm, ya, silakan."
Duh lampu ijo, ayo gass Bian! Batin Attaya terasa ingin teriak.
"The point aja, ya? Gua sebenarnya ...
Ayooo gausah lamaa, gua greget cok, batin Attaya.
"... Sebenarnya ... Suk-suka sama lo!" ungkapnya pada Sabiru membuat lega.
Tuhkan, bener. Batin Sabiru.
Asikkkk, Bian udah confess, nanti tinggal gua! Batin Attaya.
"Hm, Bir. Lo terima apa ga? Ga mungkin ga kan? Gua tau banget lo, jadi, lo terima?"
Sabiru menundukkan kepalanya. Ia terasa bingung dengan semua ini, ia ingin menerimanya sebab, ia memang suka, tetapi ... Ada hal yang membuatnya ingin menolaknya.
Sendari tadi, Elang yang mendengar semua itu karena tempat duduk dikantin lumayan dekat. Bahkan, terasa hatinya benar-benar sakit. Sabiru terima pastinya. Tapi kenapa perasaan gua jadi begini?
"Elang!"
Anda Mungkin Juga Suka





