Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel ENIGMA: When We Are

ENIGMA: When We Are

Elang Albimanyu adalah pemuda dari keluarga broken home yang mendambakan kehangatan sebuah rumah. Baginya, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan kasih sayang tulus. Di tengah pencariannya, ia jatuh hati pada Sabiru Anantasya, sang wakil ketua OSIS yang masih terjebak bayang masa lalu. Meski sering dibuat kesal oleh sikap judes Sabiru, Elang tetap berjuang. Di antara rumitnya perasaan dan tanggung jawab organisasi, mampukah cinta Elang mengubah segalanya bagi Sabiru?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Sampai dia kembali ke gue lagi. Kalopun tetep gabisa, gue ga terima oranglain lagi. Cukup, dia yang terakhir." -Sabiru Anantasya.

"Hidup itu butuh seseorang, jangan selalu bilang kalo lo itu bisa. Jadi, mau gua temenin sampe mana?" -Bian Gibraka.

"Sampai semesta menjawab semua itu. Keluarga gua udah nyakitin gua, sampai gua kehilangan semua semangat gua. Tapi kali ini, gua selalu punya semangat hidup." -Elang Albimanyu.

                                    🌹🌹🌹

"Ngapain lo cari gua? Pergi lo," usir Elang terus terang.

Sabiru menggelengkan kepalanya. "Gue gamau. Gue mau bicara sama lo, Lang." katanya pelan.

Elang memutarkan bola matanya malas memandang gadis di depannya. "Jangan sekarang, gua lagi males ngomong sama lo. Lebih baik lo balik, tuh, pacar lo cariin." tunjuk Elang pada Bian yang masih diam duduk di sana.

Sabiru memandang apa yang Elang tunjuk, Sabiru menghelakan nafasnya. "Jangan aneh lo, Lang. Lo tuh berdua kenapa si? Gue cuma nanya itu aja, apa sulit buat lo jawab? Gue memang bukan siapa-siapa lo, tapi tolong lo jangan selalu ribut sama Bian. Emang Bian salah apa sama lo?"

"Bagus kalo tau itu. Lo bukan siapa-siapa gua, jadi lo gausah sok perhatian! Mending lo urusin tuh, pacar lo."

Sabiru masih diam berdiri di sana membuat Elang tidak habis pikir dengan gadid di depannya itu, sungguh kepala batu.

"Gue, mau tetap di sini. Gue butuh menjelasan dari lo, Elang! Kapan lo mau berubah Lang? Dari dulu sampai sekarang, lo tetap gini-gini aja. Gue kek gini karena gue peduli sama lo!" sentak Sabiru membuat Elang terdiam diri di sana.

Elang menatap sinis padanya, "gua, ga butuh rasa peduli lo sama gua! Mending lo urusin tuh." katanya. Elang pun pergi setelah mengatakan hal itu pada gadis yang berada dihadapannya.

Sabiru menatap punggung Elang hingga hilang dari hadapannya. Sabiru menghelakan nafas kasar.

"Gausah sok ngatur lo." kata Jaksa pada Sabiru sebelum menunggu respon dari gadis itu. Jaksa menyusul Elang karena sudah benar-benar tidak mood.

"Gue salah ya, peduli sama dia? Padahal gue mau bantu.." monolognya serayu membalikkan tubuhnya, kemudian berjalan menghampiri Bian yang tengah duduk di sana.

"Gausah peduli sama orang yang ga penting, Sabi. Mending lo urusin hidup lo aja dulu, gausah yang lain." nasehat Bian padanya.

"Gue bukannya mau sok ikut campur masalahnya. Tapi, rasanya gue pengen bantu aja dia, emang gue salah? Lagipun ... Sesama manusia juga harus saling menolong, ga salah dong?"

Attaya menganggukkan kepalanya. "Iya, gua tau. Tapi, gimanapun lo jangan berurusan sama dia, Bir."

"Hah!? Kenapa?" tanya Sabiru menaikkan kedua alisnya.

"Bukan waktu yang tepat buat lo tau semua ini, Bir. Tugas lo, cuma satu, yaitu jangan deket-deket sama Elang, ngerti?"

Sabiru menatap wajah kedua remaja di depannya itu secara bergantian. Hm, ada yang aneh dari mereka berdua. Ga semestinya mereka begitu sama gue, gue harus cari tau.

"Ngerti, lo, Bir?" ulang Attaya serayu menatap Sabiru. Attaya sedikit ragu karena tidak bisa mempercayai Sabiru sepenuhnya, karena, ia tau betul bagaimana Sabiru.

"Hm,"

"Bagus, gua mau pesen dulu makanannya. Gua belum pesen." pamit Attaya serayu bangkit dari tempat duduknya itu sambil menyengir.

Gua sengaja biar mereka ada waktu berdua. Semangat bestie gua! Batin Attaya.

Setelah Attaya pergi situasi menjadi hening, Bian yang masih kesal Elang selalu berdekatan dengan Sabiru, sementara Sabiru tidak peka dengan Bian.

"Kenapa?"

Bian menggelengkan kepalanya. "Gua gapapa. Mau sampai kapan?"

"Apanya?"

"Sampai kapan kamu akan menghindar dengan perasaan aku ini? Masih mau anggap aku sebagai mantanmu? Masa lalumu?" ralat Bian.

Sabiru memijat pelipisnya itu. Terasa pusing ketika membahas topik seperti ini. "Jadi, aku-kamu nih?" kekehnya.

"Bian, aku pernah anggap kamu sebagai seseorang yang semesta berikan padaku, itu orang yang akan membuatku bahagia. Nyatanya, memang benar hal itu. Aku lebih banyak bahagia ketika sama kamu, Bian. Tetapi, ada fakta yang membuat bingung, kamu itu sebenarnya siapa?"

"Aku Bian. Bian Gibraka, si ganteng yang diturunkan buat membahagiakan si princess ini." ujarnya sambil tersenyum.

Sabiru tersenyum kecil, "ini-nih. 11-12 an lah mirip sama dia."

"Jadi sampai kapan?"

"Sampai dia kembali ke gue lagi. Kalopun tetep gabisa, gue ga terima oranglain lagi. Cukup, dia yang terakhir."

"Yakin bisa?"

"Bisa. Gue harus bisa, sekalipun gue gagal move on, gue harus bisa!" seruan Sabiru.

"Hidup itu butuh seseorang, jangan selalu bilang kalo lo itu bisa. Jadi, mau gua temenin sampe mana?"

                                    🌹🌹🌹

"Gua udah bilang sama lo, Elang. Gausah deket-deket sama dia! Gua harus ingetin lo gimana lagi, hah!?" desis Jaksa. Ia benar-benar tak habis pikir dengan cowo itu, keras kepala.

"Gua uda usaha, Jak."

"Baru usaha? Kemarin-kemarin lo ngapain aja, Lang? Siapin mental lo gitu?" Jaksa menatap sinis padanya.

"Gua semakin yakin sama lo, Lang. Lo suka sama dia, yakan? Jauhin dia aja susah! Sebenarnya lo kenapa akhir-akhir ini, Lang! Semuanya lo ga bisa fokus."

Elang menaikan kedua bahunya. "Gua juga ga bisa berpikir sekarang, entah gua juga gatau kenapa. Tapi, gua ga suka sama dia."

"Tapi, gua terasa selalu butuh dia. Semenjak kejadian hari senin itu. Gua ga pernah dimarahin sama orang sekalipun masalah kecil, Jak. Lo tau? Sabiru marahin gua di jalan, sampai dilihatin banyak orang, gua ga ada rasa malu sekalipun."

Jaksa tersenyum remeh, "Dia hanya peduli. Gausah diambil hatinya! Lo itu sadar, Lang, dia cuma peduli sama lo, bukan suka sama lo! Lo udah cukup menderita, gua kek gini juga peduli sama lo, karena gua sayang sama lo sebagai sahabat! Tapi lo, lo selalu meremehkan setiap apa yang gua bilang sama lo."

"Mau sampai kapan lo terus-terusan deket sama Sabiru? Lang, Bian suka sama Sabiru. Mereka deket, sementara lo? Lo itu ga pernah kek gini sama cewe manapun!" sambungnya.

"Sampai semesta menjawab semua itu. Keluarga gua udah nyakitin gua, sampai gua kehilangan semua semangat gua. Tapi kali ini, gua selalu punya semangat hidup." jawab Elang.

"Sabiru."

"Cari penyakit mulu lo! Jangan bego sekarang, Elang! Mikirin keputusan lo itu aja lo setahun keknya belum dijawab, malahan lo kena debu cinta-cintaan. Gini, nih. Gua males suka sama cewe!" Jaksa mengacak-acakkan ramputnya menjadi tidak rapih.

"Gua akan berusaha, Jak. Memang gua ga kenal sepenuhnya sama Sabiru, dan gua akan jauhin Sabiru."

***

      Hallo, salam dari cewenya jaehyun🙏🏻

Vote cerita ini biar jaehyun bangga dapet cewe sepertikuuu😎😎

                                   -OooOo-

"Seorang princess itu ga pantas untuk menangis. Apa lagi nangisnya di depan aku, aku terasa gagal jagain kamu, princess."-Bian Gibraka.

                                       🌿🌿🌿

"Atta!!!" teriak Violet saat dirinya ingin menghampirinya, padahal jaraknya juga tidak jauh.

Attaya mendengar teriakkan itu memutarkan bola matanya malas. Ia menghelakan nafasnya kasar. "Ngapain lo teriak-teriak? Hobi banget bikin telinga gua rasanya mau pecah." ketusnya.

Violet menyengir hingga gigitnya terlihat. "Sori bro, jadi, gue mau mempertanyakan gimana Sabiru sama abang gue?"

"Gua gabisa jawab iya atau ngganya, Vi."

"Kenapa?" tanya Violet penasaran, apa lagi wajah Attaya terasa kecewa dengan apa yang dirinya katakan.

"Bian udah confes, tapi ... Seolah-olah Sabiru menghindar. Gua ga tau pasti kenapa, tapi ... Sabiru keknya ada urusan sama Elang, dan lebih deket sama Elang, Vi. Pas confes, Elang di sana soalnya. Lo sendiri kenapa ga ke kantin tadi pagi?" jelas Attaya pada Violet kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya mengerti.

"Gue jadi mau ke sana, tapi gue ada urusan sama temen gue. Emang ada urusan apa Sabiru sama kak Elang? Setahu gue, Sabiru ga akan gitu sama cowo, ah ini, malahan deket. Aneh banget," protes Violet.

"Hm, jadi, rencana selanjutnya apa, Ta?"

Mendengar itu Attaya langsung tersenyum smirk, cowo itu sudah memikirkan ide-ide untuk membuat Sabiru dengan Bian berdekatan.

                                     -OooOo-

"Jak,"

Jaksa yang merasa terpanggil itu, menjadi menoleh dan menatap satu pusat pada nara sumber. Ada dua cowo yang menghampirinya ditaman belakang sekolah.

Jaksa menghelakan nafasnya perlahan. "Kenapa?" tanya Jaksa pelan seolah-olah dirinya malas untuk berbicara pada mereka.

"Elang di mana, Jak?" Cowo yang memakai seragam yang sama itu, namun, memiliki aura semangat hidup jika bersama keempat sahabatnya. Ia lah orang yang paling bobrok diantara keempat anak.

Namanya, Mahesa Alfara. Panggil saja dia, Mahesa, cowo seribu kekeceriaan. Memiliki alis tebal, anggap aja dia anak bontot dari ketiga sahabatnya Elang.

Cowo yang bersebelahan dengan Mahesa ikut menganggukkan kepalanya, kemudian menatap sekeliling taman, tidak ada batang hidung Elang.

"Gua gatau." jawab Jaksa malas. "Kalian berdua ngapain ke sini?"

"Ya kali sahabatnya lagi ada masalah kita pergi ke mana-mana." celetuk Alka serayu melirik kearah Mahesa.

Alksantara Wiratama. Cowo yang paling deket dengan Mahesa sampai dianggap gay karena terlalu dekat dengan Mahesa. Cowo paling pengertian diantara mereka yang egois.

Mahesa menganggukkan kepalanya. "Diem-dieman nih ceritanya? Kaya pacaran aja lo berdua." ucap Mahesa diakhiri tawanya yang renyah.

"Bocat lo pada. Gua lagi frustasi gini malahan dibuat bercanda, kaya lo pada ga ada kerjaan apa selain ganggu gua? Kalian ga berani ganggu Elang?" ralat Jaksa.

Kedua cowo itu menggelengkan kepalanya secara bersamaan.

"Ada masalah apa lagi, si, Jak?" Alka yang peka langsung bertanya serayu duduk di samping Jaksa. Mahesa yang melihat Alka duduk, ia pun ikut duduk membuat Jaksa geram ia harus bergeser.

"Eh, Elang emang punya cewe?" Mahesa memandang kedua sahabatnya itu secara bergantian.

Jaksa menatap datar pada Mahesa serayu memijat pelipisnya. "Ngapain nanya gitu lo?"

"Tapi serius Elang punya cewe, Jak?" Alka mengulang pertanyaan Mahesa membuat Jaksa mengepalkan tangan kirinya.

"Ga."

"Yakin? Lah, Sabiru itu siapanya?" Mahesa benar-benar terbawa penasaran dengan Sabiru. Terakhir dia melihat gadis itu, bersama Elang, karna, jarang sekali Elang berinteraksi dengan seorang cewe. Namun, tidak ada rasa risih ataupun ilfil kepada Sabiru.

"Jangan asal menyimpulkan, Mahesa. Gua ga akan pernah setuju kalo cewenya Elang itu Sabiru. Kaya, ga ada cewe lain aja di dunia ini." ketus Jaksa.

Alka menatap ke arah depan serayu menghirup udara segar. "Sesuatu hal yang ga bisa dipaksain oleh perasaan, kita bisa apa, Jak?"

Jaksa langsung menoleh kearah Alka. "Lo belain bocah ingusan itu, hah!? Jangan anggap dia baik, Ka! Dia tuh bukan siapa-siapanya, Elang. Dia ga ada hak buat ngatur-ngatur Elang, sementaranya nyokapnya? Dia aja ga ada perhatian sekecil apapun sama Elang!"

Alka tersenyum tipis mendengar itu. "Seburuk itu ya, cewe itu dihidup lo? Padahal mungkin ... Cewe itu peduli demi masa depannya. Apa, Elang marah ketika Sabiru marahin dia? Bahkan sampai lancang buat bertanya banyak hal? Itu yang membuat lo benci sama dia, Jak?"

Jaksa diem sejenak, kepalanya menunduk. Sementara Mahesa sibuk dengan dunianya, Mahesa sibuk bermain handpone, karena, baginya, Ia tidak ingin membuat masalah baru ketika Jaksa dan Alka berdebat.

"Hadeh-hadeh. Masalah kecil aja lo besar-besarin, Jak. Ini masalahnya Elang, biar Elang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia bukan anak kecil lagi, pasti kalo ada masalah dia cerita, kita bantu kalo memang kita bisa."

"Tapi kali ini gua gabisa biarin dia nyelesain masalahnya sendiri, Ka." kata Jaka serayu menyalakan handponenya.

"Kenapa, lo takut dia mati, ha? Dia belum mau mati, Jak. Takdir juga ga akan tau, Jak. Masalah itu setiap orang pasti ada, lantas kalo punya sahabat kenapa ga cerita?"

Jujur, bukannya Jaksa tak ingin bercerita dengan kedua sahabatnya itu. Takut membebani saja, cukup hanya Jaksa dan Elang saja yang merasakan.

"Masalahnya ini juga berkaitan sama Bian, Ka. Bian Gibraka."

Detik itu juga, Mahesa yang tengah mengetik jadi berhenti melakukan aktivisnya. Sementara, Alka langsung melirik kearahnya.

"Bi-Bian? Sabiru kenal sama Bian, Jak?" ulang Mahesa memastikan.

Jaksa menganggukkan kepalanya. Ia memasang wajah melas, "Iya. Mereka kenal, bahkan ga cuma saling kenal, tapi deket."

Hati Alka terasa sakit mendengar itu. Pantas saja Jaksa tidak suka dengan Sabiru, bukan masalah Sabiru dekat dengan Elang saja, malainkan dekat dengan Bian, Bian Gibraka.

                                    -OooO-

Kini sudah waktunya pulang di SMK 07 Bangsa. Semua murid bergembira ketika bel pulang berbunyi, rata-rata anak sekolah kalo di sekolah ingin cepat-cepat pulang karena bosan.

Sabiru berada diparkiran bersama dengan Bian, ia memang selalu ditawarkan untuk pulang bersama dengan Bian. Meskipun gadis itu menolak, tetap saja, Bian selalu memaksanya dengan alasan, ia takut gadis itu kenapa-kenapa.

Hal itu membut Sabiru terbuka dengan Bian, ga hanya dia asik, melainkan dia tidak suka menebarkan pesona untuk cewe-cewe di SMK 07 Bangsa.

"Ian, aku mau nanya, boleh?" izin Sabiru sambil kekeh sendiri dengan pertanyaan itu.

Bian yang sudah naik di atas motor itu langsung menatap kearah Sabiru untuk mendengarkannya. "Boleh, mau nanya apa, hm?"

"Kenapa kamu tuh ga mau tebar pesona kaya sahabatmu itu, kak Attaya?" tanya Sabiru. Ia juga rasanya penasaran, dirinya tuh bingung harus apa. Kata anak-anak SMK 07 Bangsa, Bian itu kulkas berjalan. Tetapi, jika bersama Sabiru tidak! Banyak ngomongnya si.

"Dan, kenapa kamu selalu masang muka galak di depan anak-anak yang lain?" lanjutnya.

Bian kekeh mendengar itu. "Yang pertama, aku bukan tipe cowo playboy, Bi. Attaya emang cowo playboy, jadi jangan heran sama tuh cowo. Aku tuh, tipe cowo yang ga mau nyakitin cewe, kalipun kalo aku suka sama cewe, artinya aku harus hargai dia." ucapnya menjeda.

"Yang kedua, kenapa aku selalu masang muka galak? Emang iya, ya? Ya, jawabannya ada yang pertama tadi, aku bukan cowo caper yang ingin jadi pusat perhatian. Mending bikin mereka ilfil sama aku."

Sabiru menggelengkan kepalanya merasa tak puas jika hanya itu jawabannya. Sebenarnya banyak yang Sabiru ingin tanyakan pada Bian, namun, ia merasa tidak enak jika bertanya-tanya terus-menerus.

"Seilfil-ilfilnya orang, kalo udah tau sifat kamu kek gini, mereka ga akan ilfil, Ian."

"Kenapa?"

"Karena kamu termasuk kategori cowo idaman. Ga friendly, setia, perhatian, gampang buat jadi pendengar. Ga modal jadi cowonya dong, tapi bermodal." jawab Sabiru.

Bian mampu tersenyum. Kali ini, dan hari ini, semesta lagi berbaik hati padanya, sebab, cewe itu mampu membuat Bian Gibraka tersenyum. "Ohh ... Kalo cowo idaman kamu gimana? Apakah aku udah termasuk jadi kategori idamanmu, Bi?"

"Bi," panggilnya membuat alis Sabiru terangkat sebelah.

"Hm?"

"Jangan pernah menangis, ya? Seorang princess itu ga pantas untuk menangis. Apa lagi nangisnya di depan aku, aku terasa gagal jagain kamu, princess."

                                        -OooO-

"Makasih udah anter aku pulang dengan selamat." ungkap Sabiru sambil tersenyum.

Bian mengantarkan Sabiru pulang, kini Sabiru sudah di depan gangnya, tadinya Bian ingin mengantarkan sampai rumah, namun Sabiru menolak.

Bian menganggukkan kepalanya. "Iya, princess. Jangan bilang makasih lagi, ya? Ini memang tugas aku buat jagain kamu, Bi."

"Iya-iya. Tapi, kalo ga bilang makasih, jadinya aku ga enak, terasanya kaya ... Ga hargai, dan kaya ga tau terima kasih sama orang."

"Kali ini beda, Bi. Aku bukan oranglain, melaikan sosok orang yang ingin terus membuat Sabiru Anantasya bahagia. Apakah, hari ini kamu bahagia, Bi?"

Sabiru tanpa ragu-ragu menganggukkan kepalanya. "Iya, aku bahagia hari ini, Bian. Ini karena kamu."

Bian tersenyum mendengar jawaban darinya. "Aku juga bahagia kalo kamu bahagia, Bi. Terus bahagia, sampai lupa apa yang namanya menangis." pesannya.

"Hidup tanpa kesedihan bukan hidup namanya, Bian."

"Justru itu, Bi. Aku malahan pengen kamu bahagia, selalu." jawab Bian tak ingin dibantah.

Sabiru menghelakan nafasnya pasrah. "Iya-iya. Ini udah sore, kamu pulang sana."

"Kamu ngusir aku, nih?" goda Bian dramatis.

Lagi-lagi Sabiru menganggukkan kepalanya dengan polosnya. "Anggap aja begitu. Ini udah sore, Bian. Besok juga kita ketemu lagi, yakan?"

"Oke-oke. Tapi inget satu hal. Jangan lupa senyum besok!" perintah Bian padanya.

"Iya, yauda, sana."  Sabiru tersenyum menatap Bian.

Bian menganggukkan kepalanya. Kini, Bian sudah pergi jauh dari sini. Sabiru lagi-lagi menatap dengan sebuah senyuman.

Bian, aku bahagia untuk hari ini. Semoga, semesta juga berbaik hati untukmu besok.

Sabirupun membalikkan tubuhnya untuk berjalan menuju rumahnya. Tiba-tiba, handponenya pun berbunyi membuat handponenya menyala dan ada sebuah notifikasi.

Nomor siapa ini?

+62 ******** : kalo udah punya cowo, gausah centil sama cowo lain. Jadi cewe kok murahan banget, si.

+62 ******** : gua peringatin ya sama lo, gausah deket-deket sama Elang. Sekalipun lo deket dan membuat Elang terluka, lo akan jadi sasaran gue, Sabiru Anantasya.

                                        ***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Miskin, tapi Bohong
8.2
Maya adalah pewaris kaya yang memilih menyembunyikan identitas aslinya, namun ia justru mendapat perlakuan kejam dari mertua dan suaminya sendiri. Dirga, sang suami yang dahulu memohon untuk menikahinya, ternyata hanya mengincar harta tabungan Maya dan meremehkannya. Meski menderita, Maya terpaksa bertahan demi melindungi sosok yang ia cintai. Akankah ia mampu melepaskan diri dari belenggu keluarga Dirga, atau selamanya terjebak menjadi budak mereka?
Sampul Novel  Birahi Janda Binal
9.3
Widya Ayu Ningrum harus menghadapi kenyataan pahit sebagai janda di usia yang sangat muda, yakni 24 tahun. Sejak suaminya, Harjo, meninggal dunia akibat kecelakaan tragis saat pulang merantau tiga tahun lalu, Widya berjuang menjalani perannya sebagai orang tua tunggal. Kini, ia mendedikasikan hidupnya demi membesarkan putra semata wayangnya, Evan Dwi Harjono. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup Widya dalam melewati lika-liku sebagai ibu rumah tangga tanpa pendamping.
Sampul Novel Fatimah Perjuangan TKW Indonesia
8.7
Demi meraih impian kuliah tanpa membebani orang tuanya, Fatimah mengambil langkah berani setelah lulus SMA. Meski merupakan anak tunggal, keterbatasan ekonomi keluarga mendorongnya untuk bekerja ke luar negeri sebagai TKW. Tekadnya yang sangat kuat menjadi bahan bakar utama dalam berjuang mandiri secara finansial. Kisah ini mengikuti pengorbanan Fatimah yang rela merantau jauh demi mengangkat derajat hidup dan masa depan pendidikannya sendiri.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela mengambil risiko besar dengan mengandung anak Jeremy secara rahasia, meski ia tahu dirinya hanya dimanfaatkan. Sadar akan kekejaman Jeremy, Angela sengaja memancing amarah pria itu agar ia dilepaskan. Namun, pelariannya berakhir saat Jeremy berhasil melacak posisinya. Di ambang keputusasaan, Angela memohon kebebasan. Tak disangka, kehadiran sang buah hati justru mengubah segalanya. Jeremy yang dulu dingin kini menawarkan diri untuk melayani Angela dan bayi mereka.
Sampul Novel Miss Lazy
9.3
Aluna Meysha Jovita adalah gadis ceroboh dan pemalas yang penuh kekurangan. Beruntung, ia memiliki Athala Petro Radeyo, sahabat pintar yang selalu setia menjadi sandaran segala keluh kesahnya. Namun, dinamika persahabatan mereka diuji saat Luna mulai merasakan benih cinta pertama yang asing bagi dirinya. Sialnya, perasaan itu tertuju pada Athala. Kini, hubungan mereka berada di ambang perubahan besar yang mengancam status persahabatan demi sebuah rasa rumit.
Sampul Novel PELUKAN UNTUK LANIA
8.4
Amara hanya ingin membahagiakan keluarganya, namun hidup justru menghadirkan luka baru. Kemunculan ayah kandung yang pernah membuangnya kembali membuka trauma masa lalu. Di tengah kepedihan itu, hadir Angkasa, pria memesona yang gigih mendekatinya hingga Amara jatuh hati. Sialnya, Angkasa justru menjadikannya orang ketiga dalam hubungannya. Terjebak sebagai perusak hubungan orang, Amara kini meragukan apakah masih ada secercah cahaya bagi masa depannya.