Sampul Novel Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati

Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati

8.5 / 10.0
Dalam Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati, seorang istri terjebak perjodohan dan perselingkuhan suaminya dengan masa lalu. Romance novel ini mengisahkan perjuangannya mundur dari pengkhianatan demi memulai hidup baru bersama Arya Pratama. Baca kisah lengkapnya di web novel modern ini.
Ringkasan Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati
Terikat perjodohan keluarga, pernikahan enam bulan ini terasa bagai neraka. Dito, sang suami, justru terang-terangan menjalin asmara dengan mantan kekasihnya, Luna. Kehadiranku sama sekali tak dianggap, bahkan ia enggan menyentuhku dan selalu bersikap muak. Kesabaran pun mencapai batasnya saat perselingkuhan itu makin menjadi. Karena ia tak mampu adil, aku memilih mundur. Di tengah luka, takdir mempertemukan aku dengan pria dingin, Arya Pratama.
Baca Selengkapnya

Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati Bab 1

Sudah enam bulan lamanya. Enam bulan sejak hari itu, hari di mana pesta mewah itu digelar dengan segala kemegahan yang terasa begitu hampa bagiku. Aku masih ingat, kebaya putih gading yang kukenakan terasa dingin di kulitku, sama dinginnya dengan tatapan Dito-pria yang duduk di sisiku di pelaminan. Dia adalah pilihan keluargaku, bukan pilihanku. Pernikahan ini adalah hasil perjodohan yang rumit, sebuah kesepakatan bisnis berbalut tradisi yang mengikatku dalam sebuah sangkar emas. Selama enam bulan ini, aku telah mencoba. Mencoba menyesuaikan diri, mencoba memahami, mencoba menerima kehidupan yang tidak pernah aku minta. Dan selama itu pula, aku hidup sebagai istri hanya sebatas status, sebuah bayangan di samping pria yang seharusnya menjadi suamiku.

Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya yang terasa tak berujung, aku duduk sendirian di ruang makan yang luas. Meja makan yang besar, terbuat dari kayu jati mahal dengan ukiran rumit, kini dipenuhi hidangan yang masih utuh tak tersentuh. Aroma masakan yang seharusnya menggoda kini terasa basi di hidungku, menambah pahitnya kesendirian. Hanya ada satu piring kecil berisi nasi di hadapanku, kugenggam erat dengan tangan yang gemetar, seolah kehangatan nasi itu bisa sedikit meredakan dinginnya hatiku. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Dito belum juga pulang. Atau mungkin, dia memang sengaja tak pulang.

Tak perlu menjadi peramal ulung untuk tahu di mana dia berada. Ponselnya tak bisa dihubungi, selalu ada alasan klise yang dilontarkan asistennya: "Bapak sedang di luar kota, urusan pekerjaan." Namun, kebohongan itu selalu runtuh di hadanku, dihancurkan oleh unggahan Instagram Story Luna yang begitu terang-terangan. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, ponsel di genggamanku memancarkan cahaya redup, menampilkan dua sosok yang terlalu akrab. Dito dan Luna, makan malam romantis di rooftop hotel mewah, dengan latar belakang pemandangan kota yang berkilauan. Dan caption yang menyayat hati, sebuah tikaman langsung ke ulu hatiku: "Still feels like home, always."

Jari-jariku mengepal di bawah meja, kukuku menusuk telapak tangan. Rasa sakit fisik itu tak seberapa dibandingkan dengan nyeri yang kurasakan di dada. Berkali-kali, beratus-ratus kali mungkin, aku telah mengingatkan diriku untuk sabar. Kata itu, "sabar," telah menjadi mantra yang kuucapkan setiap kali air mata mendesak ingin keluar. Namun, kini kata sabar telah berubah wujud menjadi pisau tumpul, yang perlahan-lahan menusuk batinku, mengikis sedikit demi sedikit sisa harapan dan harga diriku.

Beberapa minggu yang lalu, puncak dari segalanya adalah saat aku memutuskan untuk memberanikan diri menegurnya. Aku masih ingat dengan jelas sore itu. Aku baru saja pulang dari pertemuan amal dan memutuskan untuk menjemput Dito di kantornya. Saat aku melangkah masuk ke lobi hotel, tempat kantornya berada di salah satu lantai atas, pemandangan itu menyapaku. Dito dan Luna, bergandengan tangan, berjalan santai keluar dari lift, tawa mereka terdengar begitu lepas. Seolah aku tidak ada, seolah pernikahan kami tidak pernah ada.

Darahku mendidih. Tanpa peduli tatapan orang-orang di sekitar, tanpa peduli bisikan-bisikan yang mulai terdengar, aku menghampiri mereka. Langkahku mantap, meski jantungku berdebar kencang. Ketika aku berdiri tepat di hadapan mereka, satu kalimat sederhana meluncur dari bibirku, diiringi suara yang berusaha kucegah agar tidak bergetar: "Apa kamu sudah tak malu lagi membawa wanita lain saat kau sudah menikah, Dito?"

Yang kudapat? Hanya tawa sinis dari Luna, sebuah tawa merendahkan yang membuatku merasa kecil dan tak berarti. Dan kemudian, lirikan jijik dari Dito, tatapan yang begitu dingin, seolah aku adalah sampah yang mengotori pemandangannya.

"Kau pikir aku bangga menikah denganmu?" ucapnya dingin waktu itu, suaranya menusuk lebih dalam dari pisau apa pun. "Aku menikah karena paksaan. Jangan berlagak suci. Kita sama-sama korban."

Korban? Tidak. Aku menatapnya, bibirku kelu untuk membalas. Aku bukan korban. Aku adalah tumbal. Tumbal dari ambisi keluarga, tumbal dari perjodohan yang kejam ini. Aku adalah orang yang dikorbankan, sementara dia justru menikmati perannya sebagai 'korban' yang bisa melakukan apa saja sesuka hati.

Dan yang lebih menyakitkan, beberapa hari setelah kejadian itu, aku mendengar kabar yang lebih menusuk dari pembantu rumah tangga. Dengan nada berbisik, dia menceritakan bagaimana Luna sering datang ke rumah saat aku sedang keluar. Katanya mereka hanya membahas proyek Dito, urusan pekerjaan yang penting. Tapi siapa yang bisa percaya? Siapa yang bisa percaya bahwa tawa renyah Luna yang sering terdengar dari ruang kerja Dito, atau aroma parfumnya yang kadang masih tertinggal di bantal sofa, hanya sebatas urusan pekerjaan?

Hari ini, konflik itu kembali pecah, lebih hebat dari sebelumnya.

Dito pulang larut malam, jauh setelah jam makan malam. Aroma parfum wanita lain masih melekat kuat di kemejanya, sebuah bukti tak terbantahkan yang menusuk indraku. Aku mencoba bersikap tenang, mencoba memadamkan api yang berkobar di dadaku. Dengan tangan gemetar, aku menyiapkan segelas teh hangat, aroma melati yang menenangkan, berharap bisa meluluhkan sedikit beku di hatinya.

"Jangan pura-pura jadi istri sempurna. Kau jijikkan," ucapnya datar tanpa menatapku. Ia bahkan tidak melihat ke arahku, seolah aku hanya patung tak bernyawa. Ia langsung duduk di sofa, menyalakan laptopnya, seolah tak terjadi apa-apa, seolah kehadiranku di sana adalah sebuah gangguan kecil yang tak berarti.

Aku menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Air mataku mendesak ingin tumpah, namun aku menahannya. Aku sudah terlalu sering menangis. "Sampai kapan kau akan terus begini, Dito?" suaraku bergetar, lebih dari yang kuinginkan. "Sampai kapan kau mempermalukanku? Aku istrimu!"

Matanya akhirnya menatapku, namun bukan tatapan penyesalan, melainkan tatapan tajam dan dingin yang lebih menusuk dari pisau. "Aku tak pernah menginginkanmu. Harusnya kau sadar sejak awal," balasnya tajam, setiap kata adalah tamparan. "Kalau kau tak tahan, pergi saja. Aku tak akan menahanmu. Lagipula, hatiku bukan untukmu. Tidak akan pernah."

Di saat itu juga, di tengah dinginnya ruangan dan tajamnya ucapan Dito, hatiku runtuh. Hancur berkeping-keping. Aku tidak hanya tidak dicintai, aku dibenci. Sebuah kenyataan pahit yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar tidak dicintai. Aku adalah objek kebenciannya, seseorang yang dia paksa untuk berada di sisinya.

Dan yang lebih menusuk: aku tidak kalah dari Luna. Bagaimana bisa aku kalah jika aku bahkan tidak pernah ikut bermain di arena itu? Dito tidak pernah memberiku kesempatan untuk bertanding, untuk memenangkan hatinya. Aku bahkan tidak pernah dianggap sebagai lawan. Aku hanyalah pion yang bisa dia singkirkan kapan saja.

Malam itu, dengan sisa-sisa kekuatan yang kumiliki, aku mengemasi koper. Bukan karena aku lemah, bukan karena aku menyerah. Tapi karena aku sudah terlalu kuat selama ini. Aku sudah menanggung beban ini terlalu lama. Sudah saatnya untuk melepaskan. Untuk bernapas. Untuk kembali menjadi diriku sendiri.

Lalu, takdir, dengan segala misterinya, membawaku pada Arya Pratama.

Seorang pria asing, dengan tatapan dingin yang justru memberiku ruang untuk bernapas. Tatapannya tidak menghakimi, tidak membenci. Ada sebuah ketenangan dalam sorot matanya yang seolah berkata, "Kau aman di sini." Pertemuan kami singkat, tak sengaja, namun entah mengapa, ada secercah harapan kecil yang mulai tumbuh di dadaku yang hancur. Sebuah harapan bahwa mungkin, hanya mungkin, ada jalan lain untukku.

Namun aku tahu, segalanya takkan mudah. Karena Dito bukan pria yang rela kehilangan miliknya-bahkan saat ia sendiri yang membuangku. Dia adalah pria yang terobsesi pada kontrol, pada kepemilikan. Baginya, aku adalah properti yang tidak boleh lepas dari genggamannya, tidak peduli seberapa besar dia membenciku.

Dan karena Arya... bukan pria biasa. Ada aura misterius di sekelilingnya, sebuah kekuatan tersembunyi yang membuatku penasaran sekaligus merasa takut. Aku tahu, perjalananku masih panjang. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya dalam enam bulan, aku merasa ada secercah cahaya di ujung terowongan.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Adikku Seorang Pelakor
9.1
Hidup Ayu Wulansari hancur seketika akibat pengkhianatan keji dari Rangga, suaminya, dan Nindi, adik kandungnya sendiri. Hubungan terlarang mereka menciptakan cinta segitiga yang menyiksa batin Wulan. Luka semakin dalam saat ia terpaksa menyaksikan pernikahan Rangga dengan Nindi yang telah hamil. Di tengah pedihnya kenyataan yang tak seindah drama, Wulan harus menelan pil pahit kehidupan yang penuh air mata, di mana kebahagiaan sejati terasa begitu jauh.
Sampul Novel Aku Masih Bocil, Om
9.5
Ulang tahun ke-18 yang seharusnya indah berubah menjadi kenyataan pahit bagi seorang gadis muda. Ia terpaksa menikah dengan David, pria dewasa yang asing baginya. Alih-alih romantis, interaksi mereka justru diwarnai perdebatan konyol soal kartu kredit versus uang tunai untuk membeli jajanan. Di tengah ketidakpastian masa depan pernikahannya, sosok Dinar muncul dan terang-terangan menanti status jandanya. Akankah ia menemukan bahagia atau justru terjebak sengsara?
Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
7.9
Alana nyaris tewas setelah diserang tiga pemuda di Gunung Lawu hingga terperosok ke jurang. Beruntung, ia diselamatkan oleh Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan dan bersembunyi di hutan. Di tengah pemulihan luka fisik dan traumanya, Alana terjebak dalam dilema antara keinginan balas dendam atau bangkit kembali. Hubungannya dengan Arga yang keras namun protektif pun kian intens, memicu emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sampul Novel Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
9.5
Di New York, dua pemuda kaya raya—seorang pembalap F1 dan seorang genius finansial—telah bersahabat sejak kecil dan setia mengenakan lencana tembaga buatan Mia selama sepuluh tahun. Namun, persahabatan erat itu goyah saat Ella hadir dan merebut perhatian mereka, membuat keduanya membuang lencana Mia. Menyadari posisinya telah tergantikan, Mia memilih mundur tanpa suara. Dia menghubungi ayahnya di Sisilia untuk menerima pernikahan politik yang selama ini dihindarinya.
Sampul Novel Mengandung Bayi Bos
8.8
Kehidupan normal Marimar, seorang staf hotel, hancur seketika setelah pertemuannya dengan seorang pria mabuk misterius. Insiden itu membuatnya hamil di luar nikah. Saat berusaha mencari pertanggungjawaban, Rimar justru menemukan fakta memilukan bahwa pria tersebut sudah memiliki istri. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara mengungkap kebenaran kepada sang ayah biologis atau melenyapkan janin di rahimnya demi masa depan yang tak pasti.
Sampul Novel Pesona Menantu Eksklusif
9.5
Dalam sebuah kisah romansa dewasa yang ditujukan bagi pembaca berusia 21 tahun ke atas, narasi ini menyoroti momen intens di malam pertama sepasang kekuasaan. Fokus utama cerita terletak pada pengalaman mendalam seorang mempelai wanita yang memiliki gairah seksual sangat tinggi. Suasana malam pengantin yang penuh gejolak emosi dan sensasi fisik tersebut digambarkan secara gamblang melalui jeritan ekspresif yang memenuhi seluruh ruangan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan