
Elegant Revenge
Bab 2
Lama Awan berdiri di stand pameran otomotif yang perusahaannya ikuti. Sebagai Supervisor Branch area, ia harus benar-benar mengawasi dan turun tangan disetiap kegiatan yang diikuti perusahaannya yang berlogo 'Z' itu. Seragam pun ia kenakan, walau berbeda warna dengan para anak buahnya. Gayanya menunjukan bahwa ia seorang yang mapan, baik dari karir maupun rezeki materi. Bisa dilihat dari jam tangan, sepatu, bahkan ponsel yang ia miliki. Siapa pun pasti terkagum menatap sosok Awan.
Ia melirik ke setiap sudut acara pameran otomotif terbesar itu. Sudut matanya menatap ke salah satu stand mobil lain kemudian ia berjalan perlahan menghampiri. Senyumnya mengembang mana kala ia menemukan sosok seseorang di sana. Ia berjalan sambil melihat sekeliling. Lalu, jemari tangannya sengaja menyenggol jemari sang wanita yang berdiri anggun di samping mobil yang sedang dipamerkan.
Awan tak menoleh, ia terus berjalan angkuh. Sedangkan sang wanita tersenyum menunduk mendapati sentuhan di jemarinya. Wanita itu pamit kepada beberapa orang di sana dan berjalan mengikut langkah kaki Awan yang berjalan ketengah-tengah lautan manusia yang ramai.
"Bisa banget kamu mepet-mepetnya." Mereka berbicara sambil terus berjalan. Tak mau menarik perhatian siapa pun di sana. Awan tersenyum.
"Apa kabar," tanya Awan seakan ia ingin buru-buru mengetahui keadaan wanita yang berjalan di sampingnya.
"Baik. Kamu gimana?" Wanita itu sedikit melirik dari ekor matanya. Lalu tersenyum malu.
"Gini aja." Jawab Awan tenang.
"Kemarin-kemarin kenapa nggak balas pesan aku?" Wanita itu memberanikan menoleh ke Awan. Helaan napas Awan terdengar dan sorot matanya menunjukan kesenduan.
"Ada sedikit masalah sama Aira," jawab Awan sembari menoleh ke wanita lawan bicaranya.
Mereka saling melihat ke sekitar, lalu saat dirasa aman dari jangkauan orang yang mereka kenal. Jemari Awan langsung menggenggam jemari wanita itu dan membawanya ke sudut area pameran yang sepi. Tepatnya, ke arah pintu belakang yang terdapat banyak barang. Keduanya lalu tak menunda apa yang sebenarnya sudah mengganjal di hati. Awan mencium buas bibir wanita itu, mengangkat satu kaki jenjang sang wanita sehingga menempel ke miliknya yang mulai bereaksi. Tangan lentik wanita itu mulai mengarah ke pusat Awan, pria itu mengeram, keduanya semakin panas berbuat tindakan tak bermoral itu. Napas memburu, membuat keduanya tak bisa menahan lagi, Awan menarik tangan wanita itu ke arah gudang yang sebelumnya, ia sudah survey dan pastikan tak akan ada yang ke sana. Suasana gelap, tak masalah bagi keduanya untuk menuntaskan permainan panas dan cepat keduanya.
Awan dan wanita itu begitu mendamba, hingga pelepasan keduanya terjadi, napas terengah, dengan tubuh saling memeluk erat walau posisi mereka berdiri. Awan menberikan kecupan dalam dan begitu menuntut pada akhirnya, wanita itu berbisik kalimat sensual yang membuat Awan tersenyum dengan wajah ia sembunyikan diceruk leher sang wanita.
Kemudian, setelah keduanya merapikan pakain, dan berpisah sementara ke toilet, mereka berdiri bersebelahan. Dengan tubuh bersandar pada dinding, wanita itu terus menggenggam jemari Awan, begitu pun sebaliknya.
"Aira belum hamil juga?" tanya wanita itu sambil menoleh dan menatap Awan.
"Hm. Iya, aku nggak tau salah di mana? Kita berdua udah periksa dan sehat, kenapa dia belum hamil juga," jawab Awan sambil menoleh juga dan menatap lekat wanita yang berdiri di sampingnya. Wanita itu tersenyum.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" Wanita itu terkekeh. Awan menarik genggamannya sehingga tubuh mereka berdempetan. Lalu kepala Awan bersandar di kepala wanita tersebut.
"Kangen kamu Manda," lirih Awan. Manda tersenyum.
"Aku pingin peluk kamu yang lama, tapi nggak mungkin di sini, pasti banyak yang curiga aku nggak keliatan di stand," ucap Awan lagi. Manda berdiri tegap dan menatap Awan.
"Tadi kan, udah, lagian, mau sampai kapan kita berdua gini, ngumpet dari pasangan masing-masing?" Amanda tersenyum sambil mengusap wajah Awan.
"Sampai bosen." Awan tak peduli, lalu menarik pinggang Manda dan memeluknya. Manda juga balas pelukan Awan. Hanya sebentar. Tapi begitu berarti bagi mereka.
Keduanya melepaskan pelukan, memutuskan berjalan terpisah. Manda sempat memberi kecupan singkat di pipi Awan sebelum mereka kembali ketempat masing-masing.
Setibanya di stand, Awan dikejutkan dengan ucapan salah satu anak buahnya. "Pak, tadi Ibu ke sini, cari Bapak.” Ia terkejut. Lalu mencari sosok Aira diantara ramainya manusia yang ada di sana.
"Sekarang kemana dia?" tanya Awan.
"Ibu ke toilet, katanya nanti ke sini lagi Pak, tas Ibu juga sama saya nih," tunjuk Mika, salah satu anak buah perempuannya. Awan mengangguk.
Tak lama sosok Aira muncul dan tersenyum ke arah Awan. Dengan seenaknya Awan langsung memeluk Aira dan mengecup pelipis di depan para anak buahnya. Mendapat ledekan dari mereka juga. Membuat Aira tersipu malu.
"Malu Mas Awan," lirik Aira. Awan terkikik.
"Kok nggak bilang mau ke sini?" tanya Awan sambil menangkup wajah Aira.
"Tadi pas aku bilang kalau ada pameran mobil ke temen-temen kantor, mereka semangat minta ke sini, bos aku juga mau lihat-lihat, yaudah, jadi pada kabur maksi ke sini," Aira mengusap rahang Awan lembut.
Awan mengangguk. Lalu kembali memeluk Aira dengan hangat. Ia letakan dagunya di atas kepala Aira. Namun sorot matanya justru menatap Manda yang berdiri di sudut lain sambil tersenyum ke arah Awan.
Aira diam di dalam pelukan suaminya. Kedua alis mata serta keningnya mengkerut.
‘Wangi siapa ini? Bukan parfumeku,’ ucap Aira dalam hati. Ia lalu menggeleng pelan. ‘Jangan mikir aneh-aneh, di sini banyak orang, Mas Awan pasti nggak sengaja beberapa kali berpapasan sama orang, atau perempuan dikerumunan pameran.’ Ia membesarkan hatinya sendiri. Kemudian tangannya memeluk erat suaminya itu.
Aira kembali ke kantor bersama teman-temannya saat jam makan siang akan berakhir. Ia pamit dengan suaminya dan pulang lebih cepat. Awan tak perlu menjemputnya, karena jika pameran pasti Awan akan stand by di lokasi.
Awan mengecup kening Aira saat istrinya itu pamit dan mencium punggung tangannya. "Hati-hati, Sayang," ucap Awan yang mendapat senyuman bahagia dari Aira dan anggukan.
"Aku tunggu di rumah ya, Mas," ucap Aira sambil melambaikan tangan.
Ia berjalan bersama teman-teman kantornya. Kinan merangkul bahu Aira sambil meledek karena melihat sikap Awan dan Aira yang begitu terlihat saling mencintai. Raut wajah Awan berubah saat sosok Aira sudah tak tampak di area pameran. Kedua matanya kembali mencari sosok Manda. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
Manda : "Enakan peluk dia atau peluk aku?"
Awan terkekeh sambil mencari sosok tersebut. Saat ia mendapati Manda sedang berdiri di samping mobil yang dipamerkan. Ia membalas pesan.
"Perlu aku jawab lagi." Lalu Awan tersenyum dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
Anda Mungkin Juga Suka





