
DOSEN ITU SUAMIKU
Bab 2
🏵️🏵️🏵️
"Kenapa ngajarnya harus di kampusku, Mas?" tanyaku kepada Mas Ezza, suamiku.
"Aku ada alasan memilih kampus itu, Dek."
"Alasannya apa? Supaya aku kaget melihat kamu berdiri di depanku?"
"Aku tidak bisa mengatakan alasan itu sekarang. Kalau waktunya tiba, kamu pasti mendengarnya keluar dari mulutku."
"Terserah kamu, deh, tapi jangan sampai ada yang tahu kalau kamu itu suamiku."
"Kenapa harus ada aturan seperti itu, Dek? Seharusnya kamu bangga, dong, dengan suamimu yang ganteng ini." Mas Ezza menunjukkan senyuman nakalnya sambil menggerak-gerakkan alis.
"Aku bilang jangan, yah, jangan. Titik."
"Ya, udah, terserah kamu aja."
"Satu lagi, jangan genit-genit sama mahasiswi. Aku nggak suka!"
"Cie, cemburu, yah? Ketahuan, nih."
"Aku nggak cemburu, tapi aku nggak suka lihat cowok yang sudah beristri genit sama cewek lain."
"Ngaku aja, deh, bilang aja memang cemburu. Aku seneng, nih, dicemburuin."
"Udah, ah. Kamu, mah, baperan," ucapku lalu berjalan memasuki kamar.
🏵️🏵️🏵️
Mas Ezza sama sekali tidak menolak pernikahan dan perjodohan kami. Dia bahkan selalu bersikap lembut kepadaku dan dia tidak pernah memaksakan kehendak, juga keinginannya. Dia sudah seperti kakak bagiku, beda usia kami hanya terpaut enam tahun.
Dia selalu memanjakanku dan bersikap seolah-olah mampu bertindak sebagai orang tua. Namun, dengan semua perhatian dan kasih sayang yang dia berikan, tetap belum mampu menembus dinding hatiku untuk membalas semua perlakuannya.
Dia memilih menjadi dosen untuk mewujudkan impiannya sebagai pecinta mata kuliah Akuntansi. Dosen merupakan kegiatan sampingan baginya karena dia harus membantu papanya mengurus perusahaan.
Aku sama sekali tidak peduli dengan niat dan tujuannya menjadi dosen. Namun, yang membuat aku tidak habis pikir, kenapa harus di kampusku? Kenapa dia tidak mau memberitahukan apa alasan dan tujuannya sebagai dosen di kampus itu? Ada apa sebenarnya?
🏵️🏵️🏵️
"Parkirnya jauh dari pagar, yah. Aku nggak mau kalau sampai ada yang lihat kamu yang ngantar aku. Nanti mereka curiga!" pintaku saat Mas Ezza mengantarkan aku pagi ini ke kampus.
"Okeh, deh, Nyonya Ezza. Perintah dilaksanakan."
"Gitu, dong. Jadi suami itu harus nurut dan bisa ngertiin istri."
"Apa, sih, yang enggak untuk istriku, nih." Dia memegang daguku.
"Nggak usah lebay. Sana, gih, ngantor ... ntar Papa nyariin, tuh!"
"Baik, Bos ... aku berangkat, yah. Bye."
"Hati-hati, bye." Mobil Mas Ezza pun berlalu dari hadapanku lalu aku segera memasuki kampus.
Kehidupan rumah tangga yang kami jalani sangat unik, mungkin karena usiaku masih sangat muda menjalani hidup sebagai istri. Aku sering bersikap seolah-olah kami bukan pasangan. Kapan hati ini terbuka untuk menerima dia sepenuhnya?
🏵️🏵️🏵️
"Hari ini jadwal kamu ngajar di kelasku, yah, Mas?" tanyaku sambil menyantap sarapan bersama Mas Ezza di meja makan.
"Iya, dong. Suka, yah?" Mulai, deh, bapernya.
"Aku cuma mau ngingatin aja, jangan genit-genit!"
"Takut, yah, kalau ada cewek lain yang deketin aku?" Tingkah Mas Ezza selalu membuatku kesal. Dia sambil mengedipkan mata kanannya.
"Hm! Dikit-dikit baper."
"Jujur aja kenapa, sih? Nggak ada yang marah, kok."
"Intinya, aku nggak suka aja."
"Tuh, kan ... kelihatan banget, deh, cemburunya."
"Susah ngomong sama kamu, Mas. Dikit-dikit bilangnya cemburu. Sepertinya kamu berharap banget, yah, digodain mahasiswi-mahasiswi di kampus. Terserah kamu aja, deh. Bomat."
"Ada yang ngambek, nih."
"Udah belum sarapannya? Cepetan, ntar telat!" Aku beranjak dari tempat duduk lalu segera menyambar tas yang sudah aku siapkan di meja ruang keluarga.
"Iya, iya. Baik, Tuan Putri." Mas Ezza segera menghampiriku, kemudian kami bergegas memasuki mobil.
🏵️🏵️🏵️
"Hari ini kita akan membahas tentang harta. Dalam Akuntansi, biasa disebut dengan istilah 'aktiva'. Ada aktiva yang dapat disusutkan dan ada juga aktiva yang tidak dapat disusutkan." Mas Ezza mulai memberikan materi di kelasku.
"Boleh nanya, nggak, Pak?" Seorang mahasiswi mengacungkan tangannya.
"Iya, silakan," balas Mas Ezza.
"Kalau aktiva yang paling berharga untuk Bapak ... apa, yah?" Pertanyaan konyol yang pernah aku dengar.
"Hhhuuu!" Terdengar sorakan mahasiswa dan mahasiswi lain.
"Kamu, yang di sana." Mas Ezza menunjuk ke arahku.
"Saya, Pak?" tanyaku kaget dan tidak percaya.
"Iya, kamu. Coba kamu sebutkan dua aktiva yang dapat disusutkan!" titah Mas Ezza.
"Mesin dan gedung, Pak," jawabku dengan cepat. Aku yakin pasti benar.
"Bagus. Nama kamu siapa?" Pertanyaan itu membuatku ingin mengacak-acak rambutnya. Dia sangat tega bertingkah seolah-olah tidak mengenaliku.
Awas nanti di rumah, aku jitak.
"Saya Bunga, Pak," jawabku sambil berusaha tersenyum.
"Nama yang indah." Sepertinya dia sengaja mengobrak-abrik mood-ku hari ini.
"Terima kasih, Pak," jawabku.
"Kenapa, sih, Pak Ezza nanya dia aja? Pilih kasih, nih." Aku mendengar gerutu mahasiswi di belakangku.
"Iya, tuh. Kita-kita juga mau, kok, ditanyain," sambung teman di sampingnya.
Awas, yah, jangan coba-coba deketin suamiku.
"Oke, sampai di sini pertemuan hari ini, kita lanjutkan lagi pada pertemuan berikutnya. Terima kasih dan selamat pagi." Mas Ezza mengakhiri mata kuliah hari ini.
"Selamat pagi, Pak." Terdengar suara sahutan serentak di kelasku.
=============
Anda Mungkin Juga Suka





