Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dosa Terindah

Dosa Terindah

Andika, putra konglomerat, rela melepas segalanya demi Lisna meski ditentang keras oleh orang tuanya. Pengorbanannya berujung getir saat takdir memisahkan mereka. Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu kembali dalam situasi yang menyakitkan: Lisna telah menjadi milik pria lain. Meski begitu, Andika tidak menyerah dan terus memperjuangkan cintanya. Akankah takdir menyatukan mereka dalam ikatan sejati, ataukah mereka memang tidak ditakdirkan bersama?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab 3. Kegelisahan Lisna

"Hah! Kamu? Ngapain disini?” Tanya Lisna pada gadis muda yang tak lain adalah Aini adik iparnya sendiri.

"Beli mie ayam lah. Masa iya beli paku. Tuh suami di rumah kelaparan. Sudah pagi nggak dimasakin, pergi tanpa pamit, ini sudah jam pulang kantor bukannya langsung pulang malah cari makan sendiri." ia menghakimi Lisna dengan asumsinya sendiri.

Lisna mengacuhkan gadis itu, ia melanjutkan menyantap mie ayam yang sudah tersedia di meja yang ia pilih bersama rahmah tadi. Rahmah yg bingung dan mempunyai banyak pertanyaan untuk sahabatnya itu hanya sanggup menatap datar.

Karena Aini adalah teman sekelas Rahmah kala SMP dulu, jadi ia paham betul bagaimana watak adik ipar sahabatnya itu. Sangat judes dan sombong, karena itu Rahmah pernah melarang Lisna untuk berhubungan dengan Danar. Namun Lisna yang memang rindu akan perhatian dan kasih sayang, yang saat itu didapatkan dari Danar sudah dibutakan hatinya oleh rayuan Danar.

"Mba Lisna ada masalah sama mas Danar?" Rahmah yg penasaran akhirnya bertanya juga dengan sedikit berbisik. Karena si Aini masih ada di depan gerobak mie ayam sedang menunggu pesanannya selesai dibuat oleh tukang mie ayam.

"Terima kasih ya bang, yang bayar itu yg pakai kerudung hitam ya." Suara Aini lantang ke Abang mie ayam, sambil menunjuk Lisna yang sedang asik menikmati mi di mangkuknya.

"Eh, kok?" Abang mie ayam bingung menatap Lisna meminta penjelasan. Sementara Ainu sudah berlalu menjauh.

"Dasar gak ada akhlak. Ketemu bukan nyapa baik-baik, main maki-maki orang seenaknya sendiri. Eh masih minta dibayarin mie ayam". Gerutu Lisna kesal.

"Iya bang gak apa-apa. Biar nanti sekalian saya yang bayar." Jelas Lisna ke Abang mie ayam.

"Ah syukurlah, lha empat mangkok mba. Main bawa saja Nggak bilang dari awal kalo ada orang yang bayarin. Sampean mbaknya mba?" Abang mie ayam bertanya pada Lisna.

"Eh iya bang, ipar tepatnya. Baru jadi ipar padahal." Lisna menjawab dengan malas. Enggan rasanya mengakuinya sebagai saudara ipar. Tapi kenyataannya memang dia adalah adik ipar Lisna kini.

"Banyak betul empat mangkuk. Satu rumah dong mba?" Rahmah menyela.

"Iya kali, entahlah mah? Jawab Lisna lagi.

Rasanya hilang sudah nafsu makan Lisna kini, ia mengaduk-aduk isi mangkuknya. Rahmah melirik sahabatnya itu.

“Kasihan itu mie di putar-putar begitu, masukkan mulut kenapa. Biar cacing yang di perut bahagia.” Sela Rahmah mencoba meledek untuk membuat sahabatnya tersenyum. Namun Lisna tetap diam, Rahmah paham apa yang sedang berkecamuk dalam hati sahabatnya itu. Ia pun menyudahi kegiatannya makan mie ayam

Setelah selesai makan mie ayam dan membayarnya kami pun melanjutkan jalan. Lisna minta diturunkan di gang masuk rumah yang ditinggali, Gubuk lebih tepatnya. Rumah kecil berdinding geribik bambu dan berlantai tanah.

"Aku anterin sampe depan pintu ya mba?" Kata Rahmah.

"Tidak usah mah, sini saja." Pinta Lisna yang turun dari boncengan motor Rahmah. Setelah menyerahkan helm Rahmah melanjutkan perjalanannya pulang.

"Makasih ya mah, Nggak usah mampir lah. Tidak ada apa-apa jg dirumah. Adanya cucian kotor kayaknya deh. Tadi pagi nggak nyuci aku. Sama cucian piring kemarin. Kalo mau nyuci gak papa deh mah yuk mampir." Kata Lisna ke Rahmah yang sudah berlalu dari hadapannya.

"Diih, tadi nggak boleh mampir. Diantar sampai depan pintu nggak mau. Giliran inget cucian kotor aja nawarin. Ogah ya. Wek." Ramah tertawa.

"Ya udah mbak, aku langsung ya. Makasih mie ayam baksonya. Gajian besok aku yg traktir ya. Gantian kita. Rahmah tersenyum sangat manis dengan mengedipkan matanya sebelah.

"Hahaha. Boleh boleeeeh... Yesss... Bakal makan mie ayam bakso gratis bulan depan. Aduh gak sabar nunggu bulan depan nih." kata Lisna sambil tertawa.

"Hahahaha, baru tanggal 15 ini mbaaa. Masih lamaaaa Wek." Jawab Rahmah menjulurkan lidah meledek Lisna.

"Dah mbak Lisna... See you next time ya. Tak tunggu ceritamu besok. Wajibun!" Rahmah sedikit berteriak karena motornya sudah melaju menjauh dariku.

Lisna tersenyum getir, rasanya enggan melangkah. Ia menatap jalan hitam itu. Kelam, sekelam hidupnya kini. Akhirnya ia ayunkan langkah kakinya malas. Sampai di depan gubuk ia mengetuk pintu.

"Assalamualaikum." Tak ada jawaban.

"Mas. Mamas? Mas? Kok sepi. Hm, Lupa kalo lagi makan mie ayam di rumah emaknya." Lisna bermonolog sendiri.

Ia membuka pintu yang ternyata tak terkunci. Ia menyisir isi ruangan yang tidak begitu luas, hanya ruangan kecil berukuran dua setengah meter kali tiga meter yang di sekat geribik bambu tanpa pintu hanya tertutup dengan sehelai tirai dari kain jarik, yang ia tempati untuk tempat tidur yang di dalamnya ada sebuah dipan kecil terbuat dari kayu yang beralas pipihan bambu beralas tikar.

Dan ruangan kosong di sebelahnya ia gunakan untuk memasak dan makan. Ada meja kecil yang ia gunakan untuk meletakkan makanan yang ia masak dan menutupinya dengan tudung saji yang terbuat dari rotan.

"Bismillah, assalamualaikum." Lisna masuk rumah dan langsung menuju bilik. Mengambil handuk dan membersihkan diri di kamar mandi.

Selepas mandi ia bersantai melepaskan penat yang ia simpan sendiri. Lisna duduk di balai depan rumah yang memang disiapkan untuk bersantai. Ia menikmati cemilan yang ia bawa menggunakan toples kecil dari dalam. Camilan kesukaan Lisna, yaitu klanting.

"Subhanallah, Alhamdulillah untuk segala nikmat ya Rabb." Lisna menghempaskan bobotnya di atas balai. Membuka toples dan mulai menikmatinya.

Baru kunyahan pertama ada suara deru motor memasuki gang ke arah gubuk Lisna.

"Siapa ya?" bathin Lisna bertanya-tanya. "Semoga mas Danar".

"Mbak, kata mas Danar minta duit buat beli sate lima puluh ribu." Kata Irul masih diatas motornya dan tanpa mematikan mesin motornya.

"Hah!? Kok bisa? Enggak ada lah. Kan mas Danar Yang punya uangnya. Kemarin kan liat sendiri mas Danar Yang simpan semua uang dia." Jawab Lisna tegas.

"Itu tadi mba bisa bayarin mie ayam buat kami. Berarti kan mbak punya uang. Kami mau makan mbak, cuma ada nasi dirumah mama. Pingin makan pake sate. Cepet Lho mba. Laper ini!" Dengan nada yg sedikit meninggi.

"Astaghfirullah. Lha itu tadi udah buat bayar mie ayam. Makanya nggak ada lagi Rul" jawab Lisna lagi.

"Nggak mungkin mbak, jangan bohong deh, mau duit mba Lisna ilang beneran?" Irul tersenyum picik.

"Hih!! Apaan si ini. Udah laki gajian gak dikasih, kok bisa-bisanya minta duit buat beli-beli makanan. Keluarga Aneh. Kok ada si keluarga kayak gitu. Nih! Nggak ikhlas aku!" seru Lisna menyerahkan lembaran berwarna biru ke adik iparnya. Dengan sigap ia meraih uang itu dan melajukan motornya kencang tanpa permisi.

"Apaan sih ini! Awal saja sudah begini. Ya Allah, Keluarga macam apa ini?"

Gerutu Lisna kesal, ia menatap punggung adik iparnya yang kian menghilang dari pandangannya. Lalu ia menyeret langkahnya kembali ke gubuk kecilnya. Dadanya berkecamuk, ada banyak hal yang ia pikirkan kali ini. Ada sesal yang tak mampu ia urai, namun sakralnya hubungan pernikahan tak ingin ia nodai.

Ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Ujung netranya menghangat, ia mengusapnya cepat. Ia menghela nafasnya panjang, lalu melirik ke arah jalanan setapak. Berharap sosok lelakinya datang untuk menenangkan hatinya.

"Haruskah aku bertahan? Pernikahan apa seperti ini? Menyakitkan?"

Gumamnya lirih, dilema menyelimuti hatinya yang kian terasa begitu perih.

💦❤️bersambung❤💦

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PHY" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PHY
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Kembar Milik Hot CEO
8.8
Kehidupan Amber sebagai putri konglomerat runtuh seketika hingga ia terpuruk. Di tengah keputusasaan, sebuah kesalahan fatal terjadi saat ia mabuk dan tak sengaja masuk ke kamar hotel Julian Kingston, pria berkuasa yang dikenal sangat kejam. Empat tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Amber kini memiliki anak kembar yang merupakan darah daging Julian. Terjebak dalam situasi rumit, mampukah Amber menghadapi tuntutan sang CEO dingin tersebut?
Sampul Novel Bukan Aku Yang Menjebakmu
8.8
Nadira Almeira, sekretaris bersahaja di Mahardika Corp, mendadak dituduh menjebak CEO Elvano Mahardika demi kekuasaan. Tanpa bukti, Elvano memecat dan mempermalukannya di depan publik dengan lemparan uang yang menghina harga dirinya. Padahal, Nadira hanyalah korban yang tidak tahu apa-apa. Situasi kian rumit saat ia menyadari dirinya tengah mengandung anak Elvano. Kini, Nadira harus memilih antara pergi selamanya atau kembali menghadapi pria yang telah menghancurkannya.
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan
9.4
Serayu terpaksa mengikat janji suci dengan Abra, seorang dokter angkuh yang juga ahli waris rumah sakit besar. Meski awalnya pernikahan ini hanyalah sandiwara tanpa rasa, benih asmara perlahan tumbuh di antara mereka. Namun, kebahagiaan ini segera diuji oleh intervensi orang tua serta kembalinya mantan kekasih Abra. Kini, mereka terjebak dalam pilihan sulit antara mempertahankan rumah tangga atau berpisah, di mana kedua keputusan tersebut sama-sama menorehkan luka mendalam.
Sampul Novel Dendam Putri Liar Sang CEO
9.3
Dijual oleh ayahnya sendiri kepada Fahreza Murni, seorang CEO dingin, sang putri liar mengira ia dicintai hingga pengkhianatan menyakitkan terjadi. Fahreza justru memberikan pusaka ibunya kepada Elok, wanita manipulatif yang ia bela meski telah menghina warisan tersebut. Setelah diseret ke rehabilitasi, cinta berubah menjadi dendam membara. Saat Fahreza kembali memohon maaf, ia menerimanya hanya untuk menghancurkan Murni Group dari dalam sebagai pembalasan yang setimpal.
Sampul Novel Fitnah Pelakor Membuatku Babak Belur
8.7
Akibat unggahan media sosial suaminya, seorang wanita dituduh sebagai pelakor oleh selingkuhan sang suami. Tuduhan sepihak ini memicu aksi pengeroyokan brutal yang membuatnya babak belur, gegar otak, hingga patah tulang. Enggan tinggal diam, korban segera melaporkan para pelaku ke polisi dan menuntut mereka secara hukum. Di saat yang sama, ia menyiapkan surat cerai untuk suaminya yang tidak tahu diri, siap merebut kembali semua kekayaannya dan mendepak pria itu kembali menjadi pengemis.
Sampul Novel Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya
9.4
Ella terjebak dalam dilema rasa terhadap William, sahabat masa kecilnya yang kini menjadi pewaris tunggal kaya raya. Meski William menganggap Ella sosok terpenting, ia justru jatuh hati pada Camelia. Posisi Ella kian sulit saat ia dituduh sebagai penghambat asmara mereka, sementara William tidak peka atas penderitaan batin sahabatnya itu. Akankah William tetap memprioritaskan Ella, atau justru Camelia akan memutus ikatan lama mereka selamanya?