
(Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan
(Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan Bab 1
Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Serayu terpaksa menikah dengan Abra, dokter arogan sekaligus pewaris rumah sakit ternama. Pernikahan yang semula tanpa cinta dan penuh sandiwara itu perlahan berubah, berlayar menuju dermaga cinta. Namun, campur tangan mertua serta hadirnya mantan kekasih Abra menjelma badai yang mengguncang rumah tangga mereka. Bertahan ataupun berpisah, keduanya tetap meninggalkan luka.
1. Tidak Diinginkan
“Gimana, Abra, enak nggak sup iganya?” suara Riani mengisi ruang makan.
Serayu melirik suaminya yang menjawab singkat, “Enak,” sambil tetap makan.
Senyum puas muncul di wajah sang mertua, senyum yang sudah sering Serayu lihat, tapi tak pernah terasa hangat.
Abra merangkul bahu Serayu dengan santai. Sentuhan itu membuatnya kaku, bukan karena tidak nyaman, tapi karena ia tahu mata Riani sudah memperhatikan.
Dan benar saja, tatapan tajam itu langsung menusuk, seolah menilai bahwa Serayu tak pantas berada di sana.
“Ini masakan Aileen,” ucap Riani tiba-tiba.
Nama itu menghantam Serayu lebih kuat daripada nada suara yang mengatakannya.
Abra tersedak spontan, dan saat Serayu hendak memberinya air, Riani menepis tangannya seolah ia hanya gangguan. Sang mertua yang kemudian menyodorkan gelas pada Abra, membuat batas antara mereka semakin jelas, bahwa Serayu tetap orang luar.
“Aileen mampir tadi. Sekarang dia pindah tugas ke sini,” lanjut Riani. “Tambah cantik, pintar, karirnya bagus… Harusnya dulu kamu sabar nunggu dia S2.”
Ucapan itu menusuk, bukan karena Serayu cemburu, tetapi karena ia sudah terlalu sering dibandingkan dengan perempuan yang bahkan belum pernah ia temui.
Abra menahan ibunya dengan satu kata, “Mama.”
Saat itu juga Serayu tahu makan siang itu sudah berakhir untuknya.
“Kenapa, Abra? Nyatanya, sampai detik ini Mama memang tidak pernah merestui pernikahan kalian,” ujar Riani tanpa ragu. Ia menatap Serayu dengan tajam, seperti bagaimana ia selalu menatap menantunya itu.
“Ma, sudahlah.” Abra mulai kesal, tapi masih menahan diri.
Sementara Serayu, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu, ia hanyalah koas dari keluarga sederhana yang masuk rumah sakit itu lewat beasiswa.
Hidupnya berubah sejak kecelakaan kecil dengan mobil milik Abra, dokter bedah muda yang arogan dan pewaris rumah sakit. Berniat bertanggung jawab, Serayu menyadari jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki mobil itu cukup besar.
Hingga akhirnya, tawaran pernikahan kontrak muncul dari Abra sebagai jalan keluar. Serayu sudah menolaknya, tapi keadaan keluarganya yang serba kekurangan memaksanya menerima.
Tak ada yang tahu perjanjian itu, termasuk Riani, yang sejak awal menolaknya. Serayu terlalu “biasa” untuk keluarga besar itu.
Apa pun yang Serayu lakukan selalu tampak salah di mata Riani. Bahkan hal sekecil menaruh gelas pun bisa menjadi alasan untuk merendahkannya.
“Abra, sampai kapan kamu mau dibutakan oleh istri kecilmu itu? Dia ini hanya mengincar hartamu, memanfaatkan popularitasmu di dunia kedokteran!” seru Riani tak tahan lagi. Tatapannya kembali terarah pada Serayu. “Kamu ini dari keluarga miskin, modal beasiswa, harusnya kamu sadar diri.”
Serayu kembali menunduk, tak tahu harus merespon dengan kalimat apa. Ia tahu, pernikahan ini hanya di atas kertas, tapi apa yang ibu mertuanya katakan tentang latar belakang keluarganya benar-benar meluikai hatinya.
“Ibu Riani, saya memang dari keluarga miskin, tapi saya nggak pernah punya niatan buruk pada Mas Abra dan keluarga,” lirih Serayu berusaha membela diri.
Awalnya, ketika menerima perlakuan buruk dari sang ibu mertua, Serayu tak ingin ambil pusing. Ia hanya perlu bertahan hingga kontrak pernikahannya dengan Abra berakhir. Namun lama-kelamaan, ibu mertuanya semakin keterlaluan.
“Di dunia ini tidak ada maling yang mengaku, Serayu! Saya nggak tahu, apa yang sudah kamu perbuat sampai bisa mencuci otak anak saya dan berani melawan ibunya sendiri,” cibir Riani tanpa perasaan.
Serayu meremas ujung bajunya di bawah meja. Tatapannya terarah ke arah Riani dengan penuh rasa tidak terima.
Abra yang melihat ekspresi Serayu langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya di bawah meja. Seolah memberi instruksi untuk tidak lagi membalas ucapan ibunya agar suasana tidak semakin keruh.
“Sejak awal semua sudah berjalan lancar. Abra hanya tinggal menunggu waktu untuk menikah dengan Aileen, tapi tiba-tiba kamu muncul dan mengacaukan semuanya. Seharusnya kamu nggak usah menampakkan diri di hidup anak saya,” lanjut Riani seolah masih belum puas menyudutkan sang menantu.
“Ma, dari awal Abra memang nggak ingin menikah dengan Alieen,” sahut Abra menyanggah.
“Iya karena perempuan ini lebih dulu mencuci otakmu, Abra!” seru Riani makin kesal.
Serayu makin merasa kesal. Ia tahu, tiap kali kejadian seperti ini datang, Abra memang berusaha membelanya. Entah apa motif sebenarnya, setidaknya Serayu sedikit merasa terbantu meskipun rasanya juga percuma karena ibu mertuanya itu sama sekali tak bisa dibantah.
Jika saja Abra bersikap abai, mungkin hidup Serayu akan semakin terasa terperosok. Sudah terjebak dalam pernikahan kontrak, masih juga ditindas di keluarga suaminya tanpa pembelaan sedikitpun.
“Sudahlah, Abra antar Mama pulang,” kata Abra pasrah. Ia berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang makan.
“Kamu benar-benar berubah semenjak menikah dengannya,” tuduh Riani dengan nada dingin.
Abra tidak menanggapi, hanya menghela napas lalu menoleh pada istrinya.
“Masuklah dulu, Saya akan antar Mama pulang,” titahnya berbisik, meminta Serayu masuk ke dalam kamar.
Serayu menurut, tapi belum genap langkahnya tiba-tiba suara Riani membelah keheningan.
“Ceraikan Serayu, Abra!”
2. Bayangan Masa Lalu
Serayu menghentikan langkahnya, menunggu bagaimana Abra menanggapi titah ibunya. Ia takut jika ibu mertuanya benar-benar memaksa, situasinya akan semakin menekan sampai ia sendiri menyerah. Dan jika ia sampai minta cerai sebelum masa kontrak berakhir, Serayu tahu dialah yang harus menanggung dendanya.
“Cukup, Ma. Abra antar pulang sekarang,” sahut Abra tegas.
“Mama benar-benar nggak akan tinggal diam sama kalian ya,” ancam Riani.
Setelah mendengar itu, Serayu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia tak ingin lagi mendengar ucapan menusuk ibu mertuanya.
Bohong jika Serayu tidak sakit hati atas semua ucapan ibu mertuanya. Namun, karena masih harus bertahan dalam pernikahan ini, juga tidak ingin dicap lebih tidak menghormati mertua, Serayu terpaksa menahan diri. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan dan amarah.
Serayu melangkah masuk ke arah kamarnya. Ya, selama pernikahan ini, ia dan Abra memang tidur di kamar terpisah dan itu membuatnya kembali merasa sedikit bersyukur karena tak harus menahan canggung tidur satu ranjang dengan atasannya.
Serayu langsung mengalihkan perhatiannya pada tumpukan buku dan catatan selama koas. Esok pagi, ia harus kembali ke rumah sakit karena jadwalnya yang begitu padat.
Di tengah kesibukannya itu, beberapa kali ponselnya berbunyi. Sejenak Serayu membuka ponselnya dan mendapati pesan-pesan di grup kampusnya. Senyum getir pun tersungging, disertai tanya yang bahkan enggan ia akui.
Apa yang sebenarnya ia tunggu? Apakah diam-diam ia berharap ada pesan untuknya dari Abra?
Tubuh dan pikirannya lelah, kepala Serayu tertunduk di meja hingga akhirnya tertidur.
Saat terbangun, ruangan kamar sudah temaram. Serayu mengucek mata, lalu melirik jam di ponsel, pukul sepuluh malam. Ia refleks melangkah keluar kamar.
Apartemen itu gelap, hanya cahaya lampu dari balik jendela yang masuk, menorehkan bayangan panjang di lantai.
“Mas Abra… belum pulangkah?” bisiknya sendiri, sepi menjawab.
Sunyi menemani Serayu saat ia menyantap makan malam seorang diri, jemarinya sibuk membalas riuh ramai pesan di grup kampus, tapi tidak mengusir sepi.
Hingga detik berikutnya, layar ponsel menampilkan notifikasi baru, sebuah pesan dari Abra. Serayu terpaku menatap kalimat singkat yang suaminya tuliskan.
Ruangan yang sunyi semakin terasa mencekam membuat matanya memanas.
[Saya tidak pulang malam ini.]
Serayu hanya bisa menghela napas, lalu menyudahi makan malamnya dan pergi ke kamarnya untuk istirahat.
___
Pagi itu Serayu sudah tiba di rumah sakit sebelum matahari naik. Begitu masuk IGD, ia langsung tenggelam dalam tugas yang datang tanpa henti. Ponselnya berkali-kali bergetar, tapi ia tak sempat mengecek satu pun.
Hari berlalu cepat tanpa jeda, dan ia bahkan lupa ponsel itu ada di sakunya.
Baru malam hari, ketika Serayu tiba di apartemen hampir pukul delapan, ia akhirnya membuka tas dan meraih ponsel. Puluhan notifikasi menumpuk. Di antara semuanya, nama mertuanya langsung membuatnya berhenti.
Ia membuka ruang obrolan itu yang langsung menampilkan sebuah foto.
Abra terlihat menggenggam tangan seorang wanita di halaman rumah mertuanya. Dari siluetnya saja, Serayu bisa menebak siapa perempuan itu.
[Sampai rumah jam berapa Abra semalam?] tulis mertuanya.
Perut Serayu langsung mengeras. Sekarang ia tahu kenapa Abra tidak pulang semalam.
Serayu menutup ponsel, menarik napas yang rasanya berat, dan belum sempat duduk ketika suara pintu terbuka.
Abra baru pulang dari rumah sakit. Langkahnya terhenti saat melihat wajah Serayu.
Serayu menatap suami kontraknya sejenak, lalu bergumam lirih dengan ekspresi getir, “Jadi, itu ya orangnya?”
Abra mengernyitkan dahinya, “Apa yang kamu bicarakan, Serayu?”
Serayu menggelengkan kepalanya, tak ingin memancing keributan karena tubuhnya juga terlampau lelah. Sampai akhirnya, ia bersuara, “Kenapa semalam kamu nggak pulang?”
Gerakan Abra sempat terhenti sesaat. Namun, ia kembali meneguk habis isi gelas sebelum meletakkannya di atas meja.
“Ada panggilan dari rumah sakit. Tindakan berlangsung sampai larut malam,” jawabnya tenang, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Serayu.
‘Bohong,’ tuduh Serayu dalam hati, meski bibirnya terkatup rapat.
“Bagaimana dengan hari ini? Sibuk juga?” tanya Serayu lagi, berusaha terdengar biasa.
Abra mengerutkan kening, menoleh. Tatapan Serayu terasa berbeda malam ini—terlalu dalam dan penuh selidik.
“Tentu saja. Saya lelah, ingin segera beristirahat,” jawab Abra singkat, lalu melangkah menuju kamar.
“Oh, ya? Lelah? Kamu baru saja bersenang-senang bersama wanita itu?” tanya Serayu semakin lancang.
Langkah Abra terhenti. Ia berbalik, menatap Serayu lurus tanpa berkedip. Sorot mata keduanya beradu, sarat ketegangan.
Perlahan Abra mendekat, suaranya dingin. “Apa maksudmu?”
Serayu menggigit bibir. Kata-kata yang awalnya ingin ia simpan rapat, kini meluncur tanpa bisa ditahan. Melihat wajah Abra tanpa rasa bersalah itu, Serayu ingin sekali melemparkan ponselnya, memperlihatkan bukti foto kiriman mertuanya. Tapi… untuk apa?
Akhirnya ia hanya mengedikkan bahu, memilih bersikap acuh dan melangkah pergi meninggalkan Abra dengan tatapan penuh tanya. Namun, tangan Serayu tiba-tiba ditahan.
“Ada apa dengan kamu?” suara Abra terdengar tegas.
“Ada apa dengan saya? Apa tidak salah pertanyaannya? Kamu yang kenapa, kenapa kamu berbohong saat menemui wanita itu?”
Itu adalah kalimat terpanjang yang meluncur begitu saja dari bibir Serayu membuat Abra kian mengernyit.
“Kamu mengikuti saya?” tuduh Abra dingin. “Kamu tidak dibenarkan ikut campur dalam urusan saya.”
Abra menekan kalimat terakhirnya, tatapannya menusuk ke arah Serayu.
Serayu terdiam. Ia tertampar kenyataan bahwa ia tidak boleh menuntut apa pun. Bukankah sejak awal mereka sepakat, pernikahan ini hanya kontrak?
Abra benar, tak seorang pun dari mereka berhak menuntut atau mengurusi urusan pribadi masing-masing.
“Kenapa diam?” tanya Abra pada Serayu.
Serayu masih diam.
“Jangan lupa, Serayu,” suara Abra rendah, tapi tegas dan menusuk. “Pernikahan kita ada batasannya. Sebagaimana dalam pasal perjanjian kita. Saya tidak akan menjelaskan apa-apa.”
Serayu membeku. Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada apa pun. Dan di titik itu, ia baru sadar bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh.
“Well, kalau begitu, jangan lupakan pula pasal bahwa dalam pernikahan ini tidak boleh ada skandal orang ketiga. Bukankah dokter Abra Wijaya Utomo yang terhormat tidak ingin personal branding-nya rusak?” ujarnya, mendekat lalu mengusap pundak Abra seolah membersihkan sesuatu, sebelum berlalu meninggalkan lelaki itu yang terpaku di tempatnya.
3. Terusik
“Kamu tidak diizinkan mengintervensi saya, Serayu!” pekik Abra, egonya tersentil.
Serayu tidak menanggapi lagi, ia langsung berjalan ke arah kamarnya. Sesampainya di kamar, ia bersandar pada pintu dengan jantung yang berdegup tak karuan. Ia akui, dirinya lancang kali ini.
Namun bukankah ia juga manusia yang memiliki hati?
Tidak bisakah, setidaknya sekali saja, ibu dan anak itu berhenti menekannya?
Ia menanggung beban dan tuntutan, lantas siapa yang menanggung hatinya?
Lagipula, dalam kontrak pernikahannya juga jelas tidak diperbolehkan adanya orang ketiga.
___
Pagi itu, Serayu mengintip ke dapur. Abra sibuk menyiapkan sarapan dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa.
Serayu hanya bisa diam melihatnya. Sejak kecil ia jarang masuk dapur. Ia hanya sibuk belajar dan bekerja membantu orang tuanya, dan saat kuliah waktunya habis untuk tugas serta freelance.
Masak tidak pernah benar-benar menjadi bagian hidup Serayu. Pernah sekali mencoba memasak untuk Abra ketika mereka baru menikah, tapi gagal total. Sejak itu ia tak diperbolehkan lagi menyentuh dapur oleh Abra.
Serayu menarik napas, lalu keluar kamar.
Abra menoleh, sedikit terkejut melihat Serayu sudah rapi. “Duduk. Saya siapkan—”
“Saya tidak sarapan,” potong Serayu. “Permisi.”
Serayu berjalan pergi tanpa menoleh, pintu tertutup sedikit keras.
Abra terdiam.
“Marah?” gumam Abra bingung. Padahal menurutnya, ia yang seharusnya marah karena Serayu semalam terlalu ikut campur.
Di balik pintu, Serayu menahan napas panjang. Ia lega sudah menghindar. Setelah pertengkaran semalam, wajah Abra saja sulit ia hadapi.
Ini hanya pernikahan kontrak, tapi kenapa ia merasa seperti menuntut lebih?
Ketika sudah berada di rumah sakit, Serayu juga berusaha keras menghindari Abra.
Saat jam istirahat, dari kejauhan ia melihat lelaki itu berjalan ke arahnya. Jantungnya langsung melonjak.
Refleks, ia meraih lengan Sedanu, dokter residen yang sedang lewat. Sedanu terkejut, hampir kehilangan keseimbangan.
“Dok, anak-anak ngajak makan di kantin. Let’s go!” ucap Serayu terburu-buru, menyeretnya tanpa penjelasan.
Abra melihatnya sekilas dari kejauhan, lalu mengernyit. Sikap Serayu jelas berbeda hari ini. Ya meskipun memang tidak ada yang tahu bahwa mereka suami istri karena pernikahan mereka terlalu tertutup. Bahkan desas-desus sekalipun tidak pernah jelas.
Serayu terus menarik Sedanu hingga memastikan Abra tak lagi terlihat. Begitu yakin aman, ia melepas pegangan sambil menghela napas lega.
Namun detik berikutnya, Sedanu justru merangkul lengannya balik, membuat Serayu menegang.
“Kenapa berhenti? Ayo jalan,” ajak Sedanu santai.
“Eh… itu, Dok. Hmm… kayaknya nggak jadi deh. Lihat, kantinnya sepi,” alasan Serayu, menunjuk kantin yang memang tampak lengang. “Mungkin mereka makan di ruangan.”
Sedanu mengikuti arah pandangnya, lalu menatap Serayu. “Kalau begitu kita saja yang makan berdua. Saya sudah lapar,” ujarnya tenang sambil menuntun Serayu ke arah kantin.
“Eh?” Serayu tersentak, terseok-seok menyeimbangkan langkahnya mengikuti Sedanu.
Sedanu sendiri adalah seorang dokter residen yang sedang menjalani pendidikan dokter spesialis. Ia dikenal murah hati dan sering membantu para koas.
Kepopuleran Sedanu di kalangan mereka membuatnya kerap dicocok-cocokkan dengan Serayu, apalagi nama mereka terdengar hampir serupa. Namun, Serayu selalu menanggapi hal itu dengan profesional, tak pernah memberi celah gosip.
“Tapi, Dok—”
“Tapi apa? Ayo, makan siang.”
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata tajam tengah mengawasi langkah mereka dari kejauhan. Rahang lelaki itu mengeras, menyimpan sesuatu yang tak terucap.
Hari ini Serayu memang mendapat jadwal jaga malam. Tapi anehnya, ia justru merasa lega karena dengan shift panjang berarti ia bisa menghindari Abra lebih lama.
IGD dipenuhi pasien sejak awal malam. Serayu mondar-mandir membantu perawat dan mencatat status, hampir tanpa waktu bernapas.
Di tengah kesibukan itu, seorang pasien wanita yang baru siuman tiba-tiba bertindak agresif. Usai berteriak keras, pasien itu langsung meraih pisau kecil di meja insturmen dan menodongkannya ke arah Serayu yang kebetulan berada paling dekat darinya.
Serayu terjepit, tubuhnya kaku.
“Bu, tolong tenang… lepaskan saya …” suaranya nyaris tidak keluar.
Situasi kacau, tetapi sebelum Serayu benar-benar terseret lebih jauh, Sedanu muncul pertama dengan suara pelan dan sikap menenangkan, ia maju mengambil alih.
Hanya beberapa detik, namun cukup untuk membuat pasien itu goyah. Dalam celah itu, Sedanu menarik Serayu ke belakang, merengkuhnya agar menjauh dari jarak berbahaya.
“Ambil napas dulu,” gumam Sedanu, matanya memeriksa Serayu yang ada dalam dekapannya. “Kamu nggak apa-apa?”
Serayu mencoba tersenyum, padahal tangannya masih gemetar. “Saya baik-baik aja, Dok.”
Sedanu baru melepaskan pelukannya ketika ia yakin Serayu benar-benar aman. Ia langsung menuntun Serayu duduk di kursi terdekat. Ia berjongkok di hadapannya sambil menyerahkan segelas air.
“Minum dulu,” ucapnya pelan.
Serayu mengambilnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
“Kamu mau ganti jadwal jaga? Saya bisa minta anak lain tukar,” lanjut Sedanu, nada suaranya penuh perhatian.
Serayu menggeleng cepat. “Tidak perlu, Dok. Saya benar-benar baik.”
“Yakin?” Sedanu menatapnya cukup lama, seolah ingin memastikan sendiri.
Serayu mengangguk sambil berusaha tersenyum meski napasnya masih belum stabil. Saat ia menurunkan gelas, matanya tak sengaja menangkap sosok yang baru saja berbalik meninggalkan IGD.
Abra.
Serayu mematung sepersekian detik. Jadi… dia melihat semuanya barusan?
“Saya tinggal dulu ya, panggil kalau kamu butuh apa-apa,” ucap Sedanu sebelum berdiri.
Serayu hanya mengangguk. Beberapa rekan menghampirinya menanyakan keadaan, dan ia membalas dengan senyum singkat.
Ketika IGD mulai tenang kembali, Serayu keluar menuju lorong. Ia ingin menghirup udara sebentar, tapi langkahnya justru terhenti melihat seseorang berdiri di ujung koridor.
Abra tampak bersiap pulang, jas dokter sudah terlipat di tangan. Serayu spontan memberi salam kecil.
“Permisi, Dok,” sapanya pelan.
Abra hanya menoleh singkat. Sebelum ia sempat membalas, ponselnya berdering.
Abra melirik layar. Ia tidak menjawab, tapi wajahnya sedikit berubah. Sekilas, Serayu sempat melihat layar itu: sebuah panggilan video masuk. Meski nomor si penelpon tidak tersimpan, tapi wajah wanita itu terpampang jelas.
Serayu menelan ludah. Wajah wanita itu… tampak tidak asing baginya.
4. Bersandiwara
Abra melangkah pergi tanpa satu kata pun. Meninggalkan Serayu berdiri sendiri, dengan hati yang kembali bergetar entah karena rasa takut atas kejadian tadi atau kecewa melihat langkah lelaki tersebut.
Hari demi hari berlalu dengan canggung. Serayu masih berusaha menjaga jarak dari Abra, juga Abra yang merasa aneh dengan sikap Serayu, tapi tak bisa berbuat banyak.
“Katanya dokter Meta mau resign dan penggantinya sudah ada,” ujar salah seorang rekan saat mereka beriringan menuju lobi rumah sakit hari itu.
Serayu mengangguk pelan. Ia baru saja menuntaskan stase Ilmu Kesehatan Anak, sehingga kabar itu membuatnya ikut merasa kehilangan dokter spesialis anak yang selama ini membimbingnya.
“Katanya juga … dokter barunya cantik,” lanjut rekannya, membuat Serayu terkekeh kecil. Tentu saja, karena yang bicara adalah rekan lelaki. Beberapa teman lain ikut bersorak menggoda.
“Cewek cantik aja cepat banget tanggapannya, ya!” candaan itu mengundang tawa singkat sebelum akhirnya mereka terpisah di depan pintu utama.
Serayu menghentikan langkahnya. Sebenarnya ia malas pulang. Sekilas ia berpikir, apa sebaiknya ia sukarela mengambil jaga tambahan saja supaya tidak perlu kembali ke apartemen malam ini?
Larut dalam lamunannya, Serayu tersentak ketika suara tegas menyapanya.
“Pulang dengan saya,” titah Abra, berlalu tanpa menoleh.
Serayu ingin menolak, tapi lelaki itu sudah berjalan menjauh. Terpaksa, ia mempercepat langkah dan masuk ke mobil Abra setelah memastikan sekitar cukup sepi.
Begitu duduk di dalam, hawa dingin di mobil itu menusuk hingga membuatnya merapatkan tubuh. Bukan karena AC mobil, melainkan pembawaan lelaki di sampingnya. Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah sakit, keheningan menutup rapat keduanya sampai kendaraan berhenti di lampu merah.
“Mama mengundang kita makan malam di rumah malam ini,” ucap Abra datar tanpa menoleh sedikit pun.
Serayu terdiam. Drama apa lagi yang menantinya kali ini?
____
Ruang makan keluarga besar itu hangat, tapi dada Serayu tetap sesak. Ia duduk di samping Abra, berusaha tersenyum setiap kali ada yang menatapnya. Suara tawa dan piring beradu justru membuatnya merasa makin asing.
Saat ia baru saja duduk, salah satu bibi mencondongkan tubuh. “Serayu, kamu cantik sekali malam ini. Cocok dampingi Abra.”
Serayu tersenyum kecil. “Terima kasih, Bi. Saya—”
“Cantik sih cantik,” potong Riani cepat, nadanya kering. “Tapi lain kali pilih warna yang lebih formal. Acara keluarga besar itu bukan tempat eksperimen gaya.”
Ujung senyum Serayu merosot sedikit, tapi ia hanya mengangguk. “Baik, Bu.”
Riani sudah memalingkan wajah, seakan ucapannya tidak penting dibalas.
Tatapan Serayu lalu terhenti ketika seseorang masuk—dokter Sedanu. Ia menyapa para tetua, kemudian menoleh padanya sambil tersenyum tenang. Jantung Serayu mencelos.
‘Kenapa dia ada di sini?’ bisik hati Serayu.
Sedanu masih menatapnya, seolah membaca kegugupannya. Serayu meremas serbet di pangkuan, menunduk cepat.
“Tak lama lagi, Abra akan dilantik menjadi pemilik rumah sakit. Proud of you,” ujar salah satu paman. Seketika semua menoleh pada Abra dengan bangga.
Abra tersenyum tipis. Dari dekat, Serayu melihat rahangnya mengeras—ekspresi yang ia kenal betul.
Serayu menatap piringnya supaya tidak perlu melihat reaksi Riani. Ia bisa merasakan pandangan wanita itu menusuknya sejak tadi.
Sebagai balasan pada tatapan keluarga lain, Abra meraih tangannya. Hangat tapi hampa. Hanya bagian dari sandiwara.
Setelah beberapa saat, Serayu pamit mengambil minum. Ia butuh napas. Saat berjalan, ia melihat Riani tertawa akrab bersama para wanita lain—semua tampak begitu menyatu. Tidak seperti dirinya.
Langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja bertemu pandang dengan Sedanu dari seberang ruangan. Tatapan pria itu tenang namun terasa menembus façade yang ia tahan. Serayu buru-buru menunduk, tenggorokannya mengering.
Serayu mempercepat langkah menuju meja prasmanan, berharap tidak ada yang memperhatikan betapa kecil dirinya terasa di tengah keluarga yang tidak pernah benar-benar menerimanya.
Hingga suara yang familiar membuat jantungnya nyaris meloncat.
“Kenapa muka kamu seperti itu? Seolah kita tidak saling mengenal saja,” goda Sedanu sambil tersenyum. Ia lebih dulu meraih gelas yang hendak disentuh Serayu, lalu menyodorkannya pada wanita itu.
Serayu kaku. Ia takut sekali. Tidak seorang pun di rumah sakit tempat mereka bertugas tahu kalau dirinya adalah istri sah Abra. Perjanjian pernikahan mereka melarangnya bicara jika tidak diperlukan.
Sedanu seolah membaca kebisuannya, lalu berkata, “Saya akan anggap alasan kalian menyembunyikan pernikahan ini demi profesionalitas di rumah sakit, benar begitu?”
Serayu menelan ludah, lalu cepat mengangguk membenarkan. Bibirnya kaku, tapi setidaknya kalimat itu sedikit melegakan.
Sedanu tertawa kecil, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. “Tenang saja, rahasia kamu aman di saya. Buktinya, meski saya sudah tahu sejak awal, tetap saya simpan rapat-rapat.” Tatapannya hangat, seolah memberi jaminan.
Mata Serayu sedikit membulat. “Se—sejak awal?”
Sedanu mengangguk seraya tersenyum.
Sedanu meminta Serayu melakukan hal yang sama, tidak membongkar identitasnya sebagai sepupu Abra. Tentu saja Serayu langsung setuju.
“Kamu harus traktir saya karena sudah menjaga rahasia besar ini dengan baik,” ujar Sedanu sambil mengedipkan mata dengan senyum jahil.
Keduanya sempat tertawa kecil, tanpa menyadari sepasang mata di kejauhan tengah menatap tajam ke arah mereka, diliputi kesal karena tak bisa mendengar percakapan itu.
Suasana makan malam yang awalnya tegang mendadak menjadi sedikit lebih ringan bagi Serayu. Setidaknya, ada satu orang yang ia kenal dan diam-diam membantunya lebih nyaman di tengah keluarga besar Wijaya.
Usai makan malam di rumah keluarga besar, dalam perjalanan pulang suasana hati Serayu masih penuh kikuk. Ia duduk di kursi penumpang, menatap jalanan malam yang remang, sementara Abra fokus mengemudi tanpa banyak bicara.
“Selamat atas jabatan barunya,” lirih Serayu, berusaha memecah keheningan.
Abra yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri hanya menoleh sekilas, tatapannya dingin.
“Belum dilantik,” balasnya singkat, membuat suasana kembali kikuk.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sama seperti kemarin, nomor tak tersimpan muncul di layar. Serayu tercekat, wajahnya panas ketika melihat foto kontak yang kini tampak lebih jelas dari sebelumnya.
Cantik. Wanita di balik panggilan itu benar-benar cantik.
Abra melirik sekilas, lalu dengan santai menekan tombol merah. Tanpa sepatah kata pun, ia melanjutkan laju mobil.
Serayu menunduk, menahan sesak yang perlahan merayap di dadanya. Namun, tidak lama kemudian, ponsel itu kembali berdering.
Kali ini, belum sempat serayu menoleh, Abra langsung meraih ponselnya, mengangkat panggilan tanpa ragu. Nada bicaranya singkat, datar, dan dingin. “Saya segera datang.”
Beberapa detik kemudian, mobil menepi di halte yang sepi. Abra menoleh sebentar pada Serayu.
“Saya ada urusan penting. Turunlah di sini,” ucapnya tergesa, tanpa memberi ruang untuk menjelaskan.
Serayu membeku.
“Eh?” tanyanya pelan, tak percaya, matanya menatap sekitar yang asing.
“Kamu bisa pesan taksi dan langsung pulang,” titah Abra dingin.
Serayu tercengang, tidak menyangka diperlakukan begitu. “Tapi ….”
Namun, tatapan tegas Abra membuat Seratu tak punya pilihan. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan, Serayu akhirnya membuka pintu dan melangkah turun ke trotoar.
Mobil Abra pun melaju pergi meninggalkannya begitu saja.
Serayu berdiri kaku sejenak, tertawa getir, lalu membuang pandangannya kesal.
Tak lama setelah itu, butiran hujan mulai jatuh, deras, menghantam aspal dan pundaknya yang rapuh.
Serayu berdiri di halte, merangkul kesepian di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Jemarinya cekatan membuka aplikasi, berulang kali mencoba memesan taksi online. Namun, layar ponsel hanya menampilkan status mencari driver tanpa hasil.
Tidak ada satu pun yang menerima orderannya, seakan malam itu pun ikut bersekongkol menambah sepinya.
Hingga sebuah mobil berhenti di depannya. Dari balik pintu yang terbuka, Sedanu keluar dengan payung di tangannya dan tatapan penuh khawatir.
“Kenapa sendirian di sini?” tanyanya lembut, sambil mengangkat payung untuk melindungi Serayu.
5. Terlalu Lancang
“S–saya …” Serayu bingung harus berkata apa.
Semua orang tahu Serayu pulang bersama Abra, termasuk Sedanu. Jadi, sekarang Serayu tak tahu harus beralasan apa.
“Ayo, saya antar kamu,” ujar Sedanu tanpa basa-basi, seolah memahami kebingungan Serayu.
Pada akhirnya, Serayu mengikuti ajakan Sedanu sebab sejak tadi tak kunjung mendapat taksi. Beruntung, selama perjalanan menuju apartemen, Sedanu tak banyak bertanya.
___
Pagi itu Serayu tertegun. Abra sudah duduk di meja makan dengan seragam kerjanya, lebih pagi dari biasanya. Ia ragu mendekat, terlebih hidangan di meja jelas hanya untuk dua orang.
Abra mengangkat wajah, memberi isyarat singkat agar ia duduk. Serayu tak punya ruang untuk menolak, jadi ia menarik kursi perlahan.
Sejenak mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Hingga akhirnya, tanpa bicara Abra meletakkan ponselnya di meja dan mendorongnya ke arah Serayu.
Serayu menahan napas. Di layar, terlihat jelas dirinya masuk ke mobil Sedanu. Bibirnya terbuka, tapi Abra sudah berbicara lebih dulu.
“Sedekat apa kalian?”
“Ha–hanya sebatas dokter residen yang bantu koas,” jawab Serayu pelan.
Abra mengambil lagi ponselnya.
“Kalau begitu, ini terakhir kalian berinteraksi di luar RS.” Abra berdiri, menatap Serayu singkat. “Jangan buat skandal. Aku tidak mau personal branding-ku rusak.”
Serayu terdiam di tempat. Setiap kata yang keluar dari mulut Abra selalu berupa perintah yang tak bisa dibantah, meninggalkan perih tersendiri di hatinya.
Tanpa menunggu respon Serayu, Abra langsung meninggalkan Serayu.
Tak lama kemudian, Serayu ikut bangkit dan pergi ke rumah sakit menggunakan taksi online. Hari ini, ia ada beberapa jadwal visit sebelum menerima pengumuman rotasi.
Begitu tiba di rumah sakit, Serayu langsung disibukkan dengan semua kegiatannya. Pikiran tentang ucapan Abra pagi tadi seketika lenyap. Hingga menjelang sore, salah satu rekannya memberi tahu bahwa daftar rotasi telah diumumkan.
Sebagai koas, rotasi stase selalu jadi momen penting. Setiap beberapa minggu, mereka dipindahkan ke departemen berbeda agar pengalaman klinisnya lengkap.
Artinya pembimbing baru, ritme kerja baru, dan aturan baru yang harus disesuaikan lagi.
Serayu menarik napas pelan, rotasi mungkin satu-satunya hal hari ini yang benar-benar bisa ia kendalikan. Tanpa menunda, ia melangkah menuju papan pengumuman.
Namun, begitu tiba di papan pengumuman, Serayu menelan ludah saat melihat daftar rotasi. Namanya tercantum di stase Bedah di bawah konsulen dr. Abra Wijaya Utomo, Sp.BTKV.
Lututnya hampir goyah. Rasa lega yang tadi ia punya hilang seketika.
“Eh, kenapa wajahmu pucat begitu?” bisik rekannya.
“Enggak apa-apa,” jawab Serayu pelan.
Beberapa teman lain ikut mendekat, membaca daftar yang sama.
“Wah, Serayu! Kamu di bawah dokter Abra? Gila, enak banget. Konsulen paling ganteng satu RS!”
“Iri banget sumpah.”
Serayu hanya tersenyum pasrah, padahal dadanya seperti dicekik. Jadwal stase menunjukkan mereka akan sering bertemu.
Map di tangannya bergetar halus.
‘Habislah kau, Serayu,’ batin Serayu pasrah.
Serayu keluar dari depan papan pengumuman dengan langkah lemas, kepala masih penuh bayangan tentang stase bedah. Pandangannya menerawang jauh hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang. Tubuhnya hampir jatuh, tapi dua tangan kuat menahannya.
Serayu mendongak, dan pandangannya langsung bertemu dengan wajah Abra.
“Ma—maaf, Dok,” ucap Serayu cepat, lalu buru-buru memperbaiki posisinya.
Abra hanya menatap sebentar tanpa ekspresi, sebelum melepaskannya dan berjalan pergi begitu saja.
Serayu tetap menunduk, membisikkan maaf sekali lagi meski pria itu sudah jauh.
Rekannya yang melihat adegan itu langsung mendekat.
“Serayu! Kamu ngelamunin apa sih? Untung ada dokter Abra yang nolongin. Gimana tuh rasanya dipegang dokter Abra?” godanya sambil menyenggol lengan.
Serayu hanya menjeling, wajahnya panas. Sementara rekannya terkikik, jelas menikmati momen itu.
Tidak heran, Abra memang sering jadi bahan obrolan. Ia dokter bedah paling dingin, paling sulit didekati… dan paling banyak digandrungi.
Serayu akhirnya melanjutkan langkahnya, tapi belum sempat benar-benar melangkah, ponselnya berdenting menampilkan satu pesan dari Abra.
[Kita pulang bersama, saya tunggu di halte.]
Serayu mengernyitkan dahinya sejenak, lalu menghela napas pasrah. Belakangan, mereka memang beberapa kali pulang bersama, dan itu cukup membuat Serayu bingung dengan sikap pria itu.
Menahan rasa bingung itu, Serayu buru-buru melangkah ke ruangan koas untuk bersiap pulang. Setelah itu, ia buru-buru berjalan menuju halte yang tak jauh dari rumah sakit.
Lama menunggu, akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan Serayu. Begitu jendela turun dan wajah dingin Abra muncul, ia langsung masuk tanpa banyak pikir.
Suasana di dalam mobil sunyi seperti biasa. Hanya suara mesin yang menemani. Serayu menatap keluar jendela, mencoba merapikan napasnya yang selalu kacau jika berada di dekat pria itu.
Tiba-tiba ponsel Abra berdering, tersambung ke layar mobil. Nama Mama muncul. Abra mengangkat panggilan dengan satu sentuhan.
“Iya, Ma?”
Serayu tetap diam, tapi telinganya tak bisa mengabaikan suara Riani yang lantang, namun terdengar lembut dari speaker.
“Kamu sudah selesai di rumah sakit?”
Serayu mengatupkan rahang. Suara itu yang selalu membuat dadanya mengeras.
“Ya. Baru selesai,” jawab Abra datar.
“Perfect! Kamu ke sini ya. Sekarang lagi di mana?”
“Di jalan pulang dengan—” Abra terhenti. Sesaat ia menoleh ke arah Serayu dan refleks Serayu pun ikut menatapnya. Ada hening sekejap di antara mereka.
“Langsung ke sini aja ya,” potong Riani cepat. “Mama tunggu. Sendiri saja. Jangan bawa istrimu itu. Mood Mama lagi bagus, jangan sampai rusak karena keberadaannya.”
Serayu menegang. Pandangannya tetap lurus menatap jalanan, tapi hatinya tercekat mendengar dirinya begitu terang-terangan tidak diharapkan. Rasanya seperti ditampar tanpa pernah bisa membela diri.
“Mama buat acara makan malam untuk ulang tahun adikmu malam ini, sekalian ada yang ingin bertemu denganmu” lanjut Riani dengan nada penuh rahasia.
“Baik, Ma,” balas Abra datar.
Jawaban itu membuat dada Serayu seperti dicubit. Ada perih yang merembes pelan, membuat napasnya tak beraturan.
Pertanyaan-pertanyaan buruk bermunculan. Siapa yang ingin bertemu Abra? Dan juga, kenapa ia tak diperbolehkan datang di acara ulang tahun adik Abra?
Tapi, tidak satupun bisa ia suarakan.
Panggilan berakhir tanpa penjelasan. Hening kembali menelan mereka.
Serayu menggenggam tas di pangkuannya kuat-kuat. Ia tidak berharap apa-apa lagi, yang ada hanya persiapan batin. Dalam pikirannya, Abra bisa saja menurunkannya di pinggir jalan, seperti malam itu. Rasa pasrah itu sulit diusir.
Namun mobil terus melaju, melewati titik di mana ia biasanya disuruh turun. Serayu semakin tegang, jantungnya memukul-mukul dada. Hingga akhirnya mobil berhenti tepat di depan apartemen.
Serayu buru-buru membuka pintu, tidak ingin menunggu aba-aba seperti orang yang terus berharap.
“Turunlah, saya harus—Serayu!” suara Abra meninggi karena ia sudah keburu keluar. Serayu tetap melangkah, muak dengan semuanya.
Pintu mobil terbuka lebih lebar, lalu suara dingin itu kembali menyambar. “Saya belum selesai bicara!”
Serayu berbalik, rahangnya mengeras. Tatapannya menembus ke arah Abra, penuh gejolak yang tak bisa ditahan lagi.
“Ada apa dengan kamu?” tanya Abra, heran dengan sikap Serayu yang sulit ditebak belakangan ini dan justru membuatnya resah.
Serayu menarik napas, mengumpulkan keberanian hingga suaranya lirih terdengar. “Kalau saya minta, Mas, untuk tidak pergi… apa Mas Abra mau mendengarkan saya?”
6. Apa Kamu Senang?
Abra terdiam sejenak, tatapannya datar ke arah Serayu.
“Sudahlah, Mas Abra pergi saja. Ibu Riani sudah menunggu, kan? Aku titip salam saja untuk Vera, katakan selamat ulang tahun,” kata Serayu akhirnya, lalu bersiap untuk keluar dari mobil.
Namun, Abra justru berkata, “Kamu ikut saya.”
Gerakan tangan Serayu seketika berhenti. Namun, belum sempat Serayu bereaksi lagi, Abra telah mengunci pintu mobil dan kembali melajukan mobilnya.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar selama perjalanan. Serayu bingung dengan isi kepalanya sendiri. Sempat merutuki permintaannya pada Abra untuk tidak pergi ke makan malam ulang tahun adiknya sendiri.
Selama ini, memang bukan hanya Riani yang tak setuju dengan pernikahan Serayu dengan Abra, tetapi Vera, adik Abra, pun sama.
Begitu tiba di rumah keluarga Abra, suasana sudah cukup ramai. Banyak keluarga yang sudah hadir dengan pakaian rapi dan sedana untuk acara makan malam keluarga. Sementara Serayu dan Abra justru memakai pakaian kerja biasa.
“Mas, mereka semua pakai pakaian rapi. Seharusnya kita ganti baju dulu,” gumam Serayu rendah, ia merasa mungkin kemunculannya dengan pakaian seperti ini akan menambah cercaan dari ibu mertuanya.
“Peduli apa. Yang penting kita pakai baju,” jawabnya datar, seolah tak terusik.
Namun, baru berjalan beberapa langkah ke arah meja makan, Serayu langsung mendapat tatapan tajam dari Riani. Pandangannya menusuk penuh kebencian.
“Ah kalian datang juga akhirnya,” ujar Jay, ayah Abra, dengan senyum mengembang.
Abra hanya mengangguk singkat, sementara Serayu tersenyum ramah dan berkata, “Maaf kami terlambat dan pakai pakaian seperti ini.”
“Tidak apa, Serayu. Kalian pasti sibuk di rumah sakit seharian, kan,” jawab Jay penuh pengertian.
Makan malam itu akhirnya berlangsung dengan hangat. Serayu duduk bersebelahan dengan Abra, tepat di seberang Jay, Riani, dan Vera.
Tentu saja semua tak luput dari obrolan bisnis dan rumah sakit. Serayu lebih banyak mendengarkan, sesekali menjawab ketika Jay bertanya pendapatnya. Di sisi lain, Riani hanya menatap tanpa banyak bicara, tatapannya tetap keras setiap kali mata mereka berpapasan.
Setelah makan selesai, mereka pindah ke ruang tengah untuk memotong kue ulang tahun Vera. Suasananya lebih santai, Vera tertawa ketika lilin ditiup, dan semua orang ikut mengucapkan selamat. Serayu tersenyum, berusaha menikmati momen itu meski tetap merasa seperti tamu.
Ketika obrolan berlanjut dan semua orang sudah tidak lagi duduk di meja makan, Serayu berdiri untuk mengambil minum di meja kecil dekat jendela. Ia meraih pitcher jus, berniat menuang ke gelasnya sendiri.
Riani tiba-tiba ikut mendekat. Langkahnya cepat, geraknya terlalu dekat.
Dalam satu sentuhan, pitcher itu tersenggol.
Jus tumpah ke arah Serayu, membasahi bagian depan bajunya.
“Oh, maaf, Serayu,” ucap Riani datar, tanpa sedikit pun ekspresi menyesal.
Abra langsung bangkit, kursinya terseret pelan saat ia bergerak mendekati Serayu yang refleks meraih bagian bajunya yang basah. Wajahnya pucat, lebih karena malu daripada terkejut.
“Mama,” tegur Abra, nadanya tajam dan jelas tidak suka.
“Tidak sengaja,” sahut Riani lagi, ringan dan sama sekali tanpa penyesalan. Tatapannya hanya menelusuri Serayu sekilas sebelum ia pergi begitu saja, membawa gelas seolah kejadian barusan tak berarti apa-apa.
Sekitar mereka langsung hening. Serayu menunduk, mencoba menutupi noda basah itu dengan tangannya. Ia bisa merasakan pipinya panas, menahan rasa malu yang menggerogoti.
“Kita pulang,” ucap Abra tegas, rahangnya mengeras.
Tapi Serayu buru-buru menggeleng. Acara belum selesai, dan ia tidak ingin menambah masalah.
“Aku… ke kamar mandi dulu. Aku keringkan sebentar,” ucap Serayu pelan.
Abra hanya mengangguk dan mengantar sampai pintu kamar mandi. Tangannya membuka pintu, seolah akan ikut masuk memastikan kondisi Serayu.
“Mas,” bisik Serayu cepat, menahan lengannya. Wajahnya memerah karena situasi canggung itu. “Tunggu di luar saja.”
Abra akhirnya mengangguk pelan dan pergi meninggalkan Serayu di sana.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Serayu menghembus napas panjang. Ia bergerak cepat untuk mengelap noda, lalu menyalakan hair dryer, mencoba membuat bajunya layak dipakai lagi. Meski warnanya gelap, rasa lengket itu tetap membuatnya tidak tenang.
Baru setengah kering, tiba-tiba pintu dibuka keras. Jantung Serayu melonjak. Ia buru-buru membuka, mengira Abra sudah gelisah menunggu.
Namun yang muncul justru Riani.
Wanita itu langsung mendorong Serayu ke dalam, membuat Serayu hampir kehilangan keseimbangan.
“Kamu bilang apa ke Abra sampai dia berani meninggikan suara pada ibunya sendiri?” desis Riani, matanya penuh kemarahan.
“Saya… tidak bilang apa-apa—”
Kalimatnya terputus ketika rahangnya dijepit kasar. Serayu mengerjap, tubuhnya menegang.
“Jangan pura-pura suci. Kamu memang tidak pantas berdiri di samping Abra,” tukas Riani tajam.
“Mama… mohon, lepas,” lirih Serayu, suaranya bergetar.
“Diam!” bentak Riani. “Apa maumu? Uang? Status? Sebutkan saja. Saya bayar berapa pun, asal kamu tinggalkan dia. Ceraikan Abra.”
Serayu menggeleng cepat, panik merayap hingga ke dadanya. “Saya tidak pernah mengharapkan uang Mas Abra, Ma. Saya—”
Dorongan keras memotong ucapannya. Riani mendorongnya hingga ia mundur beberapa langkah, punggungnya membentur wastafel. Napas Serayu memburu, separuh takut, separuh tidak percaya ini benar terjadi.
Tiba-tiba Riani meraih jet shower. Sebelum Serayu sempat menutup wajahnya, semburan dingin menghantam langsung ke kulitnya.
“A—ah!” Serayu refleks menunduk, kedua tangannya terangkat, mencoba melindungi wajahnya.
“Hei! Lihat dirimu!” seru Riani, menyemprotnya lebih kuat. “Perempuan tidak tahu diri! Kamu pikir kamu bisa bertahan di keluarga ini?”
Air terus menghantam wajah dan rambut Serayu, membuat penglihatannya blur. Napasnya tersengal, tubuhnya bergetar hebat, bukan hanya karena dingin, tapi karena rasa terhina yang menyesakkan.
“Berhenti… tolong…” suaranya pecah, hampir tidak terdengar.
Namun Riani tidak mengindahkan. Semprotan itu justru semakin brutal, dan Serayu hanya bisa menahan diri, memeluk tubuh sendiri, menelan rasa takut dan sakit hati yang menumpuk di dadanya.
Hingga akhirnya sebuah tangan kuat menarik lengan Riani dari belakang.
Suara Abra meledak, dingin dan tajam, “Mama, ini sudah keterlaluan!”
“Apa? Kamu membela dia lagi?” balas Riani sengit. “Dia menuduh Mama sengaja menyiramnya! Mama datang mau membantu, malah dibentak. Mana Mama terima!”
Serayu hanya menggeleng kecil saat Abra menoleh padanya. Tubuhnya gemetar, wajahnya basah, dadanya naik turun menahan sisa syok.
Abra langsung meraih handuk, menepuk lembut wajahnya, lalu menyampirkan jasnya di bahu Serayu.
“Istri kamu ini tidak punya sopan santun, berbeda dengan Aileen—”
“Mama, cukup. Kami pamit pulang,” final Abra tegas.
“Pulang? Ini ulang tahun adikmu!” bentak Riani. “Kalau dia mau pulang, suruh saja naik taksi!”
Abra tetap membungkuk singkat. Sikap itu justru membuat Riani meledak, “Kamu keterlaluan! Memilih perempuan itu daripada keluargamu sendiri! Abra!”
Serayu menunduk dalam. Setiap kata itu menusuk, tapi ia terlalu takut untuk bicara, apalagi melihat rahang suaminya mengeras menahan amarah.
Di parkiran, mereka berpapasan dengan Sedanu. Lelaki itu langsung terkejut melihat keadaan Serayu yang kusut.
“Serayu—” panggil Sedanu yang tak mendapat tanggapan.
Abra menarik istrinya lebih dekat dan terus berjalan tanpa menoleh.
Mobil melaju cepat dari rumah keluarga besar itu. Kabin hening, kecuali detak jantung Serayu yang masih berantakan.
“Maafkan saya, Mas…” bisiknya pelan.
Tidak ada jawaban. Abra hanya fokus ke jalan. Sesampainya di apartemen, Serayu kembali mencoba, “Saya sungguh tidak bermaksud membuat masalah.”
“Cukup, Serayu,” potongnya, suara rendah tapi menusuk.
“Saya tidak menuduh Bu Riani,” lirih Serayu.
Abra menatapnya, dingin tapi penuh tekanan. “Kenapa kamu diam saja saat Mama memperlakukan kamu begitu?”
Serayu tersenyum getir, hampir seperti menyerah. “Saya sudah biasa tidak dianggap. Dan… sebentar lagi kita juga akan berpisah. Bu Riani pasti senang.”
Tatapan Abra menajam, membuat napas Serayu tercekat. Ia mendekat langkah demi langkah, sementara Serayu mundur hingga punggungnya menempel pada pintu kamarnya.
“Bagaimana dengan kamu?” suara Abra turun, berat. “Apa kamu juga senang kalau kita berpisah?”
7. Siap Berpisah?
Serayu menunduk, matanya gugup menatap tajamnya manik milik Abra. Tatapan itu selalu saja membuatnya sesak.
“Lihat saya, Serayu.” Serayu perlahan mengangkat pandangannya, ragu dan gugup menatap mata Abra. “Sekarang, jawab pertanyaan saya.”
“Te—tentu saja,” ucapnya lirih, meski bibirnya bergetar menahan getir.
Jawaban Serayu membuat Abra mengernyit tipis, keningnya berkerut seolah tengah mencari kebenaran dari sorot mata Serayu.
“Mas juga senang, kan?” Serayu menambahkan, suaranya bergetar namun dipaksakan terdengar tenang. “Hutang saya lunas dan Mas Abra mendapatkan jabatan yang Mas impikan.”
Sekilas ada perubahan di wajah Abra, tetapi segera ditutupi kembali oleh tatapan dinginnya. Rahangnya mengeras.
Serayu menelan ludahnya, tatapannya seakan terkunci pada sorot mata Abra. Ya, Serayu sudah tahu apa tujuan Abra sebenarnya dalam pernikahan kontrak ini.
“Benar. Saya akan sangat senang sekali, sama seperti kamu,” jawab Abra dengan menekan kata ‘kamu’.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bersuara. Abra akhirnya berpaling, melangkah pergi menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.
Serayu menahan napasnya. Belum sampai punggung Abra benar-benar menghilang, ia sudah buru-buru masuk ke kamar, menutup pintu rapat, lalu memutar kunci dengan tangan gemetar. Bersandar pada pintu, ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya tak karuan.
Seolah ada gumpalan emosi menyesaki yang tidak ia mengerti. Perasaan lega?
Serayu sempat termenung, berusaha meyakinkan dirinya bahwa jawabannya tadi sudah tepat.
Serayu terpaku beberapa detik. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa jawaban tadi memang yang paling benar. Semua orang menginginkannya. Riani. Keluarga besar. Bahkan dirinya… kan?
Tapi dadanya justru terasa makin sesak.
Serayu menggeleng cepat, menepuk pipinya pelan untuk membuang pikiran aneh itu, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Saat melewati cermin, ia berhenti. Bayangan dirinya tampak kusut dengan rambut berantakan, kemeja putih kebesaran milik Abra menjuntai longgar di tubuh mungilnya.
Serayu meremas ujung kemeja itu. Seketika ingatan itu menyelinap masuk.
Mobil tiba-tiba berhenti di pinggir jalan.
“Mas, kenapa berhenti?” tanya Serayu panik.
Abra hanya menunjuk ke belakang. “Ganti pakaian. Baju kamu basah.”
“Di… sini?” tanya Serayu ragu.
“Di belakang,” jawab Abra datar. “Atau kamu mau saya biarkan masuk angin dan bikin repot?”
Serayu sempat terdiam kaku. Ia tidak berani membantah. Perlahan ia berpindah ke kursi belakang, berusaha melepaskan dress lengket itu. Namun sebelum sempat menurunkannya, matanya naik ke spion tengah dan bertemu manik mata Abra yang jelas menatap ke arahnya.
“Mas… jangan lihat ke sini,” desisnya panik.
Abra hanya menjawab lirih, tenang tapi menusuk, “Sekalipun lihat, saya tidak nafsu.”
Ingatan itu terputus.
Serayu kembali encar di depan cermin, jemarinya meremas kemeja itu lebih kuat karena kesal, malu, dan entah kenapa sedikit… perih.
Ia menarik napas panjang.
“Tidak, saya seharusnya tidak merasakan apa-apa,” gumam Serayu pelan.
Tapi dada Serayu tetap terasa penuh, seolah kemeja itu sendiri mengingatkan bahwa ia masih sangat terpengaruh oleh lelaki yang seharusnya segera ia tinggalkan.
___
Pagi itu, Serayu bangun lebih awal. Pandangannya langsung jatuh pada kemeja putih kebesaran yang semalam ia pakai. Ia mendesah, menendang selimut.
Hari ini stase bedah dimulai, dua sampai tiga bulan harus berada di satu ruangan dengan Abra, dibimbing oleh Abra. Jelas ini bukan masa yang mudah bagi Serayu.
Serayu bangkit, meraih kemeja itu, meremasnya pelan.
“Mohon kerjasamanya, dr. Abra…” gumamnya pasrah.
Setelah bersiap, Serayu keluar kamar dan hampir tersentak melihat Abra sudah duduk rapi menikmati sarapan. Serayu mendekat pelan.
“Mas…” panggilnya hati-hati. “Kemeja semalam saya cuci dulu—”
Abra menjawab tanpa menoleh, dingin. “Buang saja.”
Ucapan itu menghantam lebih keras dari yang seharusnya. Jemari Serayu langsung saling meremas.
‘Ya, tentu. Memangnya aku berharap apa?’ gumam Serayu pada dirinya sendiri.
Semalam Abra membelanya, tapi pagi ini… tetap sama. Abra selalu kembali ke dinginnya.
“Duduk,” perintahnya sambil mendorong piring untuk Serayu.
“Terima kasih,” lirih Serayu, mencoba bersikap biasa. Tapi tiap detik ia rasakan jarak itu seperti jurang yang tidak pernah benar-benar menutup.
Saat Serayu mulai makan, kursi Abra bergeser. Lelaki itu menatapnya datar.
“Siap untuk stase bedah?” tanyanya tenang.
Serayu cepat mengangguk, memaksakan senyum. “Siap, Mas. Saya… bahkan sangat bersemangat.”
Jantungnya berdebar keras. Tentu saja yang ia katakan barusan itu kebohongan besar!
Abra menatapnya sejenak seolah tahu kebohongan itu, tapi ia mengangguk saja. “Bagus.”
Hening. Sampai akhirnya Abra bersuara lagi, “Kamu tahu dokter baru yang menggantikan dr. Meta?”
Serayu mengerutkan kening kecil. Ia memang belum mendapat nama siapa penggantinya. “Belum, Mas. Siapa?”
Abra menatapnya lurus. Wajahnya tegang. “Dalam waktu dekat dia akan mulai masuk. Apapun yang terjadi, jauhi saja dia.”
Serayu nyaris tertawa karena bingung, tapi ia tahan. “Memangnya kenapa, Mas?”
Abra menghempaskan napas kasar, nada suaranya meruncing. “Serayu, jangan banyak bertanya. Ikut saja.”
Serayu membeku. Namun, belum sempat ia bereaksi lagi, Abra kembali bersuara, “Soal obrolan semalam, jangan terlalu dipikirkan dulu. Kontrak kita masih ada setengah tahun lagi.”
Tanpa menunggu respon Serayu, Abra langsung bangkit dan meninggalkannya.
Daftar Isi (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan
Novel Rilisan Terbaru

















