Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Disusui Madu

Disusui Madu

Wafa terpaksa menumpang di kediaman Cindy atas ajakan Dika, suaminya. Namun, kehidupan Wafa berubah drastis menjadi pelayan di sana. Konflik memuncak saat mertuanya lebih memihak Cindy, ditambah duka mendalam atas kematian putra sulungnya, Delon. Keadaan kian misterius ketika Cindy mendadak hamil sementara ia terus mendominasi rumah tangga Wafa. Di tengah lilitan utang biaya medis dan pengkhianatan, mampukah Wafa bertahan atau memilih pergi demi kedamaiannya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Bab 2: Apa yang mereka lakukan?

Kupandang punggung Mas Dika dengan perasaan yang tak karuan, pria itu berjalan mendekati mobil mewah berwarna merah. Glamor dan terkesan elegan.

Sesaat kemudian muncul paras seorang wanita yang terlihat glowing, meskipun ia memakai kacamata hitam, namun paras wajahnya tetap terlihat berbeda dari kebanyakan wanita pada umumnya.

Sungguh terlihat menarik dan energik. Aku semakin tak enak hati.

Dari rumah ini bisa kulihat Mas Dika berbasa-basi dengan wanita tersebut.

Nampak keduanya begitu akrab dan dekat.

Sebagai seorang wanita aku bisa merasakan kedekatan yang tak biasa diantara mereka berdua sayangnya orang akan mengatakan bahwa ini adalah cemburu.

Seolah ada getaran dengan tatapan ku yang tak biasa, wanita yang bernama Cindy itu pun menoleh ke arahku. Detik berikutnya ia melambaikan tangannya ke arahku. Sebagai bentuk respon sopan, aku pun menganggukkan kepala padanya.

Beberapa detik selanjutnya wanita itu pun keluar dari mobilnya, lalu perlahan berjalan dengan langkahnya yang gemulai, meninggalkan suamiku yang tengah berdiri di samping mobilnya.

Dan dalam hitungan beberapa detik wanita itu tengah ada hampir di hadapanku.

"Hai Mbak, aku Cindy."

Wanita itu mengulurkan tangannya ke arahku, tak mungkin mengabaikan perkenalan orang lain, kubalas uluran tangan wanita yang bernama Cindy tersebut seraya mengucapkan nama aku.

"Wafa," balasku.

"Aku tahu, Mbak mungkin segan dengan tawaran aku, tapi nggak ada salahnya kan, Mbak mencoba dulu tinggal di rumah aku.

Aku janji kok aku nggak minta imbalan apapun, aku senang bisa bantu Mas Dika."

Wanita itu berupaya pula membujukku, agar aku mau tinggal di rumahnya.

"Maaf Cindy, tapi ... "

"Aku janji kok Mbak, gak akan meminta balasan apapun,"

Wanita itu pun menyela ucapanku dengan sigap.

Aku tersenyum tipis, berusaha untuk tetap menolak pertolongan atau bantuan dari wanita yang bernama Cindy tersebut.

"Mbak please, ikut sama aku ya!"

Cindy meraih tanganku, tempatnya membujukku.

"Ayo dong Wafa! ayo kita pergi ke rumah Cindy! ini sudah larut malam, aku mau istirahat, aku capek, tolong kamu paham pada posisi aku,"

Dari arah belakang Cindy, Mas Dika sama-sama gigih membujukku, yang pada akhirnya akupun mengangguk terpaksa.

Kuharap, secepatnya aku dan keluarga kecilku bisa keluar lagi dari rumah Cindy.

"Nah gitu dong, kan jadi enak,"

Cindy terlihat sumringah dengan persetujuan dariku, begitu juga dengan Mas Dika.

"Yuk!"

Ajak Cindy seraya mengambil alih koper-koper yang berisi pakaian-pakaian keluarga kecilku.

Aku pun segera menggendong bayi kecilku.

Sedangan saat ini, si cikal tengah menikmati kantuk yang menyerangnya, hingga membuat matanya nyalang, dan mengalahkan kelihaian tangannya yang tengah memegangi handphonenya.

"Mas, tunggu bentar ya! masukin aja barang-barangnya dulu, aku mau pesen taksi online,"

Wanita yang bernama Cindy itu begitu sibuk, lebih kesibukan dariku.

"Mau pesan taksi online? untuk apa Cindy?"

Mas Dika keheranan.

"Ini barang-barang banyak banget Mas, gak memungkinkan muat sama mobil aku, mobil aku khusus untuk bawa orang aja,"

Cindy begitu baik, memikirkan kami sekeluarga, kuharap Cindy benar-benar baik. Dan kuharap firasatku salah.

Tak berapa lama, taksi online yang dibesarkan oleh si Cindy pun datang. Dengan sibuk, kedua orang itu memasukkan barang-barang ke dalam taksi online tersebut.

"Yuk masuk!" ajak Cindy padaku, dengan sedikit malas-malasan, kuseret langkah kaki ini untuk memasuki mobil Cindy, mobil mewah yang sangat terlihat elegan. Bisa kutaksir, harganya pasti mencapai miliaran rupiah. Sekaya apa kehidupan Cindy?

***

Mobil pun sampai di sebuah halaman rumah, yang cukup besar dan megah, setelah kami menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Aku bahkan sempat tertidur di dalam mobil Cindy.

"Mbak, Mbak, bangun!"

Goncangan lembut di bahu, menyadarkanku dari kantuk yang menyerangku.

Dengan perlahan, kubuka mata dan kesadaran pikiran, mengumpulkan puing-puing kewarasan.

"Kita sudah sampai ya?"

Tanyaku basa-basi. Cindy tersenyum manis seraya mengangguk.

"Ayo kita masuk Mbak!" ajaknya lagi. Lalu melenggang ke halaman rumah.

"Bi! Bibi!"

Cindy memanggil asisten rumah tangga dengan setengah berteriak.

Tak berapa lama, datang seorang wanita paruh baya dengan sedikit setengah berlari menghampiri kami.

"Iya non," balasan dari ruangan lain.

"Non sudah pulang,"

Wanita yang dipanggil bibi tersebut menyapa Cindy dengan begitu ramah. Cindy pun mengangguk.

"Kenalin Bi, ini Mbak Wafa, temen aku. Dan mulai sekarang, Mbak Wafa bawa akan tinggal dulu untuk sementara di rumah aku. Jadi, Bibi perlakuan Mbak Wafa dengan baik ya."

Cindy berpesan lembut pada asisten rumah tangganya, dan wanita paruh baya itu pun mengangguk patuh.

"Tolong bantuin bawa barang-barang Mbak Wafa ke ruang tamu ya!" titahnya.

Dengan patuh, wanita yang dipanggil bibi tersebut mengambil barang-barang yang diperintahkan untuk dibawa ke kamar tamu.

Mas Dika pun menghampiri kami seraya menggendong putra kami, Delon dalam dekapannya.

"Sekali lagi, aku ucapin makasih ya Cindy.

Bantuan kamu sangat berarti buat aku,"

Mas Dikaa mengucapkan rasa terima kasihnya atas bantuan temannya tersebut.

"Udah, jangan terus-terusan berterima kasih Mas, anggap aja rumah sendiri, jangan sungkan.

Begitu juga dengan Mbak Wafa, anggap aja ini rumah Mbak ya,"

Ia bertutur kata lembut.

Akupun mengangguk pasrah.

"Yuk kita masuk!" ajak Cindy seraya menggandeng diriku, yang menggendong putri kecilku Della.

***

Tubuhku mengitari kamar yang besar dan luas, kamar tamu yang diperuntukkan untuk aku dan Mas Dika, dari Cindy.

Kamar yang sangat megah dan mewah, yang cukup luas untuk disebut kamar.

Sedangkan Mas Dika, saat ini tengah memeluk Delon yang tengah tertidur pulas di ranjang king size.

Aku bahkan belum mengatakan apapun pada Mas Dika, sekedar bertanya kira-kira kapan kami akan kembali hengkang dari rumah ini.

Sayangnya, suamiku sepertinya tengah pergi ke alam mimpi, menyusul si cikal yang terlelap dalam tidurnya, yang sesekali tersenyum, efek dari mimpi indahnya.

Dengan perlahan aku pun menidurkan Della, bayi mungilku, di samping Mas Dika, lalu turut serta tidur di ranjang yang berukuran besar tersebut, untuk melepaskan penat dan lelah. Setelah seharian ini aku dan keluargaku penuh ketegangan karena memikirkan tempat tinggal dan hal lainnya.

***

Aku terbiasa bangun pagi, sehingga mataku terbuka refleks saat pagi menyapa.

Dengan perlahan aku pun bangkit dari tempat tidur, mengumpulkan kewarasan yang sempat tercerai berai karena lelah dan tidur.

Dengan cepat, aku pun pergi ke kamar mandi, untuk melakukan aktivitas pagi.

Usai dari kamar mandi, aku pun turun ke dapur, terlihat di dapur ada bibi yang tengah memasak.

"Selamat pagi Bi."

Aku menyapa asisten rumah tangga tersebut.

"Pagi juga Mbak, sudah bangun jam segini, Mbak?" dia bertanya keheranan.

"Iya Bi, soalnya saya sudah biasa bangun jam segini, kira-kira ada yang bisa saya bantu nggak Bi?"

Aku tawarkan bantuan pada wanita yang bekerja giat tersebut.

"Jangan Mbak. Kan, di sini Mbak tamu, nanti Non Cindy marah, dikiranya Bibi minta bantuan sama Mbak Wafa,"

Wanita itu menolak dan menjelaskan alasannya.

"Gapapa, saya sudah biasa kok, biasanya di rumah saya juga pagi-pagi bakal beraktivitas masak, soalnya saya punya anak kecil dan suami yang harus diurus, jadinya nggak masalah kalau harus bantu-bantu di dapur."

Balasku.

Setengah jam telah berlalu ...

Aku berjibaku di dapur, bersama asisten rumah tangga.

Lalu mengambil piring-piring untuk ditata di meja makan.

Namun, mataku menyipit kala melihat Mas Dika dan Cindy yang tengah sarapan pagi bersama di meja yang sama.

Apa yang sedang mereka lakukan?

Sejak kapan Mas Dika bangun sepagi ini?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Meninggalkan Tunanganku di Pesta Pernikahan
9.0
Jake berpaling pada Elsie, gadis yang ia sponsori, hingga merusak hubungan kami. Meski Jake sempat memilihku dan mengusir Elsie, insiden tenggelamnya gadis itu di hari pertunangan kami mengubah segalanya. Jake panik dan menyalahkanku, bahkan menyebut Elsie sebagai masa depannya. Saat dia melepaskan tanganku demi mengejar wanita itu, aku menyadari cinta ini telah usai. Tak ada alasan bagiku untuk tetap bertahan di pesta pernikahan yang hampa ini.
Sampul Novel Hasrat Liar Sang Ustadzah
9.7
Kehidupan seorang pemuda berubah drastis setelah menyaksikan rahasia di balik hijab syar'i Ustadzah Ika. Pemandangan tak terduga saat sang guru melepas pakaiannya meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan. Meski telah memiliki anak, kecantikan fisik Ustadzah Ika tetap mempesona dan memicu kekaguman yang berlebihan. Kini, bayangan tubuh molek sang ustadzah terus menghantui pikiran dan mengganggu tidur malamnya, menciptakan hasrat yang semakin liar setiap hari.
Sampul Novel Istriku Janda Kaya
8.4
Dicampakkan sang istri karena kemiskinan, Dimas terpuruk dalam kesulitan ekonomi hingga ditinggalkan tanpa belas kasihan. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Luna di kelab malam yang menawarkan pernikahan kontrak dengan tiga syarat khusus. Namun, saat Dimas mulai menata hidup barunya, sang mantan istri mendadak muncul kembali untuk mengusik kebahagiaannya. Akankah kehadiran masa lalu tersebut berhasil menghancurkan rumah tangga barunya bersama Luna?
Sampul Novel Jerat Cinta Lelaki Muda
8.6
Rafka Mahendra, playboy kampus yang gemar menaklukkan wanita, menerima tantangan teman-temannya untuk memacari dosen baru yang dingin dan tegas, Sarah Adisty Mahira, dalam sebulan. Meski terus diabaikan, Rafka nekat melakukan segala cara, termasuk menyewa mata-mata demi menyelidiki rahasia masa lalu Sarah. Saat menemukan titik lemah sang dosen, Rafka memanfaatkannya sebagai ancaman. Akankah intrik ini memaksa Sarah tunduk, ataukah permainan cinta Rafka justru berujung di luar kendali?
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Hanna sangat membenci Will Greyson, pria angkuh yang langsung meminta kontak fisik saat pertama kali mereka bertemu. Kegilaan Will berlanjut ketika ia tiba-tiba melamar Hanna demi menjadikannya sarana terapi pribadi. Meski ditolak mentah-mentah, miliarder sombong ini tak mau menyerah begitu saja. Hanna yang geram berniat memberi pelajaran keras pada pria asing itu, sementara Will bertekad menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya tersebut.
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan secara tradisional di desa meski kehamilannya sangat berisiko. Saat aku memaksanya ke rumah sakit demi keselamatan, dia justru menuduhku sebagai penyebab bayinya lahir prematur dan lemah. Kebenciannya memuncak hingga dia meracuniku. Namun, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu tepat saat dia meminta saran. Kali ini, aku memilih diam dan tidak akan ikut campur. Aku ingin melihat nasibnya tanpa campur tanganku.