Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Disusui Madu

Disusui Madu

Wafa terpaksa menumpang di kediaman Cindy atas ajakan Dika, suaminya. Namun, kehidupan Wafa berubah drastis menjadi pelayan di sana. Konflik memuncak saat mertuanya lebih memihak Cindy, ditambah duka mendalam atas kematian putra sulungnya, Delon. Keadaan kian misterius ketika Cindy mendadak hamil sementara ia terus mendominasi rumah tangga Wafa. Di tengah lilitan utang biaya medis dan pengkhianatan, mampukah Wafa bertahan atau memilih pergi demi kedamaiannya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab 3: Kalian berdua mandi bareng?

Dadaku memanas, menyaksikan bagaimana Mas Dika dan Cindy begitu akrab, sarapan berdua. Dan, sejak kapan mereka berdua bangun? terutama suamiku.

Biasanya, Mas Dika jam segini belum bangun. Tapi, kali ini mengapa tumben ya, bisa bangun sepagi ini, bahkan bersarapan ria dengan teman wanitanya tersebut.

Dengan perasaan yang pernah penasaran, aku pun menyiapkan makanan, dan piring-piring, menata di meja makan, lalu dengan perasaan sedikit sabar aku mendekati keduanya.

"Mas udah bangun ya," sapaku basa-basi.

"Iya, tapi belum lama kok, kamu ngapain?"

Ia balik bertanya.

"Lagi bantuin Bibi masak di dapur," jawabku.

"Loh, Mbak ngapain bantuin Bibi, nggak usah Mbak, nanti Mbak repot lho. Mbak di sini tuh tamu, aku jadi nggak enak,"

Cindy menyahut jawabanku.

"Gapapa Cindy. Mbak kok, yang inisiatif bantuin bibi di dapur, bukan bibi yang minta bantuan Mbak,"

Ku jelaskan pada Cindy, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Oh, kirain, ya udah deh, terserah Mbak aja, kalau mau bantu-bantu bibi juga nggak masalah, yang penting bukan aku yang nyuruh ya Mbak,"

Ucapnya bijak. Akupun mengangguk.

"Mas hari ini kita jalan-jalan yuk! Mumpung libur," Ajakku ceria. Senang bisa berkumpul bersama keluarga kecil kami.

"Boleh,"

Suamiku membalas seraya menyeruput kopinya.

"Ya udah, yuk Mas mandi dulu, biar lebih awal pergi jalan-jalannya!"

Ajakku basa-basi, karena sesungguhnya aku tak suka melihat Mas Dika yang kurasa terlalu akrab dengan Cindy.

"Oke! Cindy, aku pamit diri dulu ya,"

Suamiku pamit pada Cindy.

"Oke Mas, nggak papa, silakan. Bentar lagi juga aku mau mau ke kamar kok, mau siap-siap ke suatu tempat," balas Cindy santai.

Aku pun mengekori langkah Mas Dika yang memasuki kamar kami.

"Tumben, pagi-pagi banget Mas bangun, bahkan langsung sarapan,"

Ucapku saat kami sampai di kamar, meluapkan perasaan sedikit sebal padanya, melihat bagaimana Mas Dika yang pagi-pagi begitu ceria bersama wanita lain, padahal biasanya dia begitu susah bangun pagi.

"Iya, Mas tadi sengaja bangun, walau malas, kan nggak mungkin Mas bangun siang di rumah orang,"

Mas Dika beralasan.

"Bagus deh kalau mikirnya gitu. Oh ya Mas, kira-kira kita akan berapa hari tinggal di sini?"

tanyaku.

Aku sungguh tak betah, meskipun belum sehari, bahkan sedari awal pun, aku merasa tak nyaman tinggal di rumah orang, meskipun yang bersangkutan katanya tulus membantu kami.

"Kamu tuh kenapa sih, kita baru aja sehari di sini, Mas juga nggak punya uang untuk pindah dari sini."

Mas Dika seolah enggan membahas tentang perpindahan kami dari rumah ini, padahal ini bukan rumah orangtuanya yang bisa seenaknya ia tempati.

"Aku malu Mas, kalau harus berlama-lama numpang di rumah orang."

Ku keluhkan isi perasaanku padanya, barangkali iya paham.

Mas Dika pun mencopot bajunya, "iya, Mas tau. Tapi, Mas nggak ada pilihan lain Wafa. Mas juga bingung, kecuali kalau kamu siap tinggal sama ibu,"

Lagi-lagi, pria itu membahas tentang ibunya, pembahasan yang paling membuat mood ku hancur, karena dulu aku pernah tinggal bersama ibu mertuaku, dan yang terjadi adalah pengaturan besar-besaran pada rumah tanggaku, seolah-olah aku adalah istri yang tak becus mengurus suamiku.

Dan sikap ibu benar-benar menguasai rumah tanggaku. Bukan aku tak terima ia menguasai keadaan rumahku. Namun, semua yang kulakukan seolah salah dimata ibu mertuaku. Masakanku, cucianku, beres-beres rumah, semuanya di komentari, bahkan ketika aku yang ketiduran bersama putraku pun, ibu pasti mengomel, menganggap aku, seorang ibu yang tidak kompeten dalam mengurusi rumah tangga.

Dan hal itu membuat aku semakin kesal.

"Gimana kalau kita pindah dari rumah ini setelah gajian?"

Usulku kepada suami.

Sesaat Mas Dika pun menghentikan aktivitas mencopot pakaiannya, yang sebentar lagi bergegas untuk mandi.

"Mas setuju kan?" Tanyaku penuh harap.

Aku mau minta jawaban pasti padanya.

"Enggak apa-apa kalau dikontrakkan, yang biasa juga gapapa, atau pun kos-kosan,"

Timpalku meyakinkan Mas Dika.

Pria itu pun menatapku nyalang.

"Emang gak betah banget ya tinggal di rumah ini?"

Suamiku malah balik bertanya.

Aku mengangguk, "ini rumah orang, senyaman apapun, bukan wilayah aku, bukan daerahku, Mas."

Ku utarakan isi hati dengan ekspresi lemas.

"Ya udah, seminggu lagi kita akan gajian, kamu cari saja tempat yang nyaman untuk kita tinggali,"

Akhirnya suamiku pun mengizinkan untuk kami pindah rumah.

Karena senang dan gembira detik itu juga aku pun memeluk tubuh Mas Dika.

"Makasih ya Mas, aku senang dengan jawaban kamu," sumringah kukatakan rasa gembiraku.

Mas Dika pun mengangguk pasrah.

"Ya udah, Mas mau mandi dulu ya," ucapnya.

Akupun mengangguk seraya melepaskan pelukan darinya.

"Mau nemenin Mas mandi nggak?"

Mas Dika menggoda, menaik-turunkan kedua alisnya. Akupun mencubit perutnya.

"Manja,"

Tolakku pura-pura malu.

"Ayo!"

Mas Mas Dika menyeret tanganku kamar mandi.

Dan berakhir dengan aktivitas pasutri.

***

Usai mandi, aku dan Mas Dika menghampiri meja makan di dapur di dapur.

Terlihat Cindy yang telah melahap sarapan pagi, sekilas matanya melirik ku, juga melirik kearah Mas Dika.

Bisa kulihat raut wajahnya yang berubah, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan dalam pikirannya, entah apa itu.

"Kalian habis mandi bareng, ya!" tebak Cindy dengan wajahnya yang serius.

Aku dan Mas Dika pun saling menatap, saling menoleh satu sama lain, ada perasaan yang tak nyaman dengan ucapan wanita itu.

Pertanyaan yang menurutku tak sopan.

"Kami suami istri, ya ... mesra-mesraan itu adalah suatu hal yang lumrah."

Ku jawab dengan jawaban yang mungkin tak enak didengar olehnya. Masa bodo. Toh ia sendiri yang bertanya sesuatu yang tak layak dipertanyakan, karena dia bukan anak kecil.

"Oh."

Cindy menjawab singkat, entah apa dari maksud jawaban tersebut. Cemburu kah?

Sedangkan Mas Dika terlihat seperti malu-malu, lalu dengan perlahan melahap makanannya.

Suara seluler Cindy pun berbunyi lalu dengan tergesa-gesa wanita itu pun keluar dan beranjak dari meja makan kami.

"Bentar ya, aku angkat telepon dulu," ucapnya serius, lalu melangkah pergi menjauhi meja makan kami.

Mumpung wanita itu tak ada disisi kami, aku menoleh ke arah Mas Dika.

"Kok malu banget ya Mas, saat ditanyain barusan? kita mandi bareng, kan kita suami istri,"

Ku ungkapkan rasa tak nyamanku pada Mas Dika.

Mas Dika tak bergeming hanya menunduk tanpa kata.

"Aku mohon Mas, kita harus secepatnya pergi dari rumah ini, kita cari kontrakan, atau kostan. Terserah. Yang terpenting kita nggak numpang lagi di rumah orang "

Ku tekankan alasan dan kalimat pada Mas Dika, agar ia memahami bagaimana rasa tak nyaman dan risihnya aku, yang tinggal di rumah temannya tersebut.

Pria itu pun mengangguk, mungkin dia setuju dengan apa yang kau pikirkan, terlihat bagaimana dari cara ia yang malu saat ditanyai teman dekatnya tersebut.

Lalu beberapa saat kemudian selularnya pun menyala, terpampang sebuah panggilan dari ibu mertuaku.

Dan detik itu juga raut wajah Mas Dika menegang.

"Ini ibu!"

Suamiku terlihat panik, dan aku langsung tak enak hati. Entah drama apa yang akan terjadi di antara kami.

Aku yakin, masalah baru akan datang lagi.

"Halo Dika! kamu di mana? kok pagi-pagi rumah kamu sudah disegel!"

"Jemput ibu saat ini! ibu sedang ada di depan rumah kamu!" cerocosnya.

Wanita itu memerintahkan suamiku tanpa mempertanyakan apa dan bagaimana saat ini keadaan suamiku.

Lucu memang.

Sedangkan Mas Dika terlihat semakin tegang wajahnya.

"Dika! kok gak menjawab!"

Protes suara dari seberang sana, mengagetkan Mas Dika yang tengah kebingungan.

"Kita harus gimana?"

Mas Dika bertanya padaku. Aku sendiri pun bingung harus bagaimana?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Meninggalkan Tunanganku di Pesta Pernikahan
9.0
Jake berpaling pada Elsie, gadis yang ia sponsori, hingga merusak hubungan kami. Meski Jake sempat memilihku dan mengusir Elsie, insiden tenggelamnya gadis itu di hari pertunangan kami mengubah segalanya. Jake panik dan menyalahkanku, bahkan menyebut Elsie sebagai masa depannya. Saat dia melepaskan tanganku demi mengejar wanita itu, aku menyadari cinta ini telah usai. Tak ada alasan bagiku untuk tetap bertahan di pesta pernikahan yang hampa ini.
Sampul Novel Hasrat Liar Sang Ustadzah
9.7
Kehidupan seorang pemuda berubah drastis setelah menyaksikan rahasia di balik hijab syar'i Ustadzah Ika. Pemandangan tak terduga saat sang guru melepas pakaiannya meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan. Meski telah memiliki anak, kecantikan fisik Ustadzah Ika tetap mempesona dan memicu kekaguman yang berlebihan. Kini, bayangan tubuh molek sang ustadzah terus menghantui pikiran dan mengganggu tidur malamnya, menciptakan hasrat yang semakin liar setiap hari.
Sampul Novel Istriku Janda Kaya
8.4
Dicampakkan sang istri karena kemiskinan, Dimas terpuruk dalam kesulitan ekonomi hingga ditinggalkan tanpa belas kasihan. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Luna di kelab malam yang menawarkan pernikahan kontrak dengan tiga syarat khusus. Namun, saat Dimas mulai menata hidup barunya, sang mantan istri mendadak muncul kembali untuk mengusik kebahagiaannya. Akankah kehadiran masa lalu tersebut berhasil menghancurkan rumah tangga barunya bersama Luna?
Sampul Novel Jerat Cinta Lelaki Muda
8.6
Rafka Mahendra, playboy kampus yang gemar menaklukkan wanita, menerima tantangan teman-temannya untuk memacari dosen baru yang dingin dan tegas, Sarah Adisty Mahira, dalam sebulan. Meski terus diabaikan, Rafka nekat melakukan segala cara, termasuk menyewa mata-mata demi menyelidiki rahasia masa lalu Sarah. Saat menemukan titik lemah sang dosen, Rafka memanfaatkannya sebagai ancaman. Akankah intrik ini memaksa Sarah tunduk, ataukah permainan cinta Rafka justru berujung di luar kendali?
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Hanna sangat membenci Will Greyson, pria angkuh yang langsung meminta kontak fisik saat pertama kali mereka bertemu. Kegilaan Will berlanjut ketika ia tiba-tiba melamar Hanna demi menjadikannya sarana terapi pribadi. Meski ditolak mentah-mentah, miliarder sombong ini tak mau menyerah begitu saja. Hanna yang geram berniat memberi pelajaran keras pada pria asing itu, sementara Will bertekad menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya tersebut.
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan secara tradisional di desa meski kehamilannya sangat berisiko. Saat aku memaksanya ke rumah sakit demi keselamatan, dia justru menuduhku sebagai penyebab bayinya lahir prematur dan lemah. Kebenciannya memuncak hingga dia meracuniku. Namun, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu tepat saat dia meminta saran. Kali ini, aku memilih diam dan tidak akan ikut campur. Aku ingin melihat nasibnya tanpa campur tanganku.