Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinodai Mantan Majikan

Dinodai Mantan Majikan

Demi biaya operasi ibunya, Anjani Aswari terpaksa menjual kesucian kepada majikannya, Barata Yudha. Konglomerat itu justru terus mengeksploitasi Anjani sebagai pemuas nafsu rekan bisnisnya di bawah ancaman maut. Saat Anjani hamil demi menghidupi adik-adiknya, Barata menolak bertanggung jawab dan menuduh bayi itu milik pria lain. Konflik memuncak ketika istri Barata, Ayudya, mengetahui skandal ini. Anjani yang menderita pun harus mengungkap kebenaran di tengah pengusiran.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tubuh Anjani gemetar. Ia tak berani menatap mata Ayudya yang mulai ada rasa curiga. Terdengar lagi suara Ayudya dengan nada menekan agar Anjani menjawab.

"Anjani! Kenapa kau diam?" tanya tegas Ayudya dengan langkah mendekati Anjani.

"Mm, sa ... Saya ..." gugup Anjani tanpa memandang Ayudya.

Belum Anjani meneruskan kata-kata, terdengar suara Barata memotong pembicaraan Anjani.

"Say, Anjani aku suruh mengganti seprai. Bukankah bibi Suti sedang pulang kampung?" suara lembut Barata menjelaskan, dan melangkah mendekati Ayudya yang terlihat masih tak percaya dengan ucapan Barata. Apalagi Barata tertangkap basah hanya memakai celana kolor tanpa baju. Hal itu tak biasa Barata lakukan di depan orang lain selain Ayudya.

"Anjani, benarkah itu?" tanya Ayudya terlihat tak mempercayai.

Anjani masih menunduk, ia masih tak berani menatap sedikitpun Ayudya. Ia berbohong dengan menganggukkan kepala, menyetujui perkataan Barata.

"Ya nyonya, permisi saya hendak ke kamar nona kecil."

Anjani melangkah hendak meninggalkan kamar. Terdengar suara Barata menenangkan Ayudya yang masih shock melihat pemandangan tadi. Ia berusaha merayu dengan memeluk tubuh Ayudya.

"Say, Anjani bukan level aku, dia wanita kampung yang menjijikkan."

Kata-kata Barata terdengar di telinga Anjani sangat menyakitkan, rasanya sakit luar dalam bagi Anjani. Sudah di tampar, dimaki, dihina. Bahkan direnggut kesuciannya hanya karena uang. Uang bisa membuat seseorang menjadi buta.

Anjani merasa beruntung, tadi Ayudya percaya omongan Barata. Hampir saja Anjani mati berdiri mendapat pertanyaan Ayudya.

Anjani dengan cepat menghampiri kamar Aura dan membuka pintunya. Tampak Aura masih tertidur dengan memeluk guling. Mata Anjani langsung tertuju pada jam yang menempel di dinding kamar Aura.

"Masih jam enam pagi," lirihnya.

Anjani menutup kembali pintu kamar Aura. Ia berpikir masih kurang satu setengah jam lagi ia membangunkan Aura untuk berangkat sekolah sekalian mampir ke bank untuk mengirim uang ke Arini adiknya.

Ingatan Anjani pada Amplop yang ia bungkus seprai kotor pemberian dari Barata. Ia dengan cepat masuk kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar Aura.

Anjani ingin tau berapa banyak uang yang di berikan Barata. Apakah Barata tak mengingkari janjinya. Bila Anjani masih suci ia hendak memberikan uang lebih dari apa yang disepakati.

Anjani mengeluarkan satu per satu uang lembaran berwarna merah bergambar mawar dari dalam Amplop. ternyata Barata memberikan uang lebih. melebihi dari perjanjiannya.

Mata Anjani membulat sempurna, kala menarik sebuah lipatan kertas putih dari amplop itu. Ia dengan cepat membukanya. Dan tertera di atas kertas putih bertulisan tangan.

ANJANI DUA PULUH LIMA JUTA UANG KU BERIKAN PADAMU. ITU BUKAN NOMINAL YANG SEDIKIT. AKU INGIN, SEHABIS MENGANTAR PUTRIKU, KAU HARUS TEMUI AKU. TUNGGU AKU DI DEPAN TAMAN SENOPATI JAM SEBELAS. SEHABIS KAMU TRANSFER.

Anjani terpana menatap tulisan itu. Ia bingung, ia tak menginginkan kejadian semalam terulang lagi. Ia merasa berdosa sudah mengkhianati kebaikan Ayudya. Tapi bagaimana lagi Anjani tak bisa mengelak, ia takut ancaman Barata kalau sampai Anjani menolak kemauan Barata, Barata akan mengatakan pada Ayudya, kalau Anjani yang menggoda Barata. Dan Anjani bakal tak punya pekerjaan.

Disamping itu Anjani butuh uang, uang untuk biaya operasi ibunya secepatnya. Ia lebih mementingkan nyawa ibunya dibanding kesuciannya. Ia tak mau tau bagaimana kedepannya jika suaminya kelak menuntut kesuciannya.

Cepat-cepat Anjani memasukkan amplop ke dalam tas kecilnya. Ia takut kalau sampai Ayudya mengetahui Anjani punya uang banyak. Tentu akan menimbulkan kecurigaan Ayudya.

Bergegas Anjani hendak keluar untuk menyiapkan sarapan pagi dan memandikan Aura. Serta meletakkan seprai di mesin cuci, rencana nanti sepulang dari mengantar Aura ia hendak mencucinya.

Baru saja Anjani melangkah ia dikejutkan suara ponselnya yang tergeletak di tempat tidur berdering.

Ting tung ... Ting tung ... Ting tung ...

Anjani menghentikan langkahnya secepat kilat ia menyambar ponselnya. Dan memperhatikan tulisan yang tertera pada layar ponselnya.

"Arini," gumamnya dengan mengarahkan ponselnya ke telinga.

Anjani baru menyadari kalau lupa menghubungi adiknya, semalam ia tak menyentuh ponselnya dan membiarkan ponselnya berada di kamarnya. Hingga berderet- deret panggilan tak terjawab dari Arini terpampang di layar ponselnya.

"Maaf Arini, semalam aku bingung, bagaimana aku harus mencari uang. Tapi Alhamdulilah nanti aku transfer," ucap Anjani dalam telpon. Yang disambut kemarahan Arini yang merasa kesal, Sebab Anjani tak mengangkat telponnya sejak semalam.

"Aku panik Mbak! Pihak rumah sakit sudah mendesak terus, ya sudah cepat kirim, sama bayaran sekolahku sekalian!" teriak Arini dalam ponsel, serta mematikan ponselnya sebelum Anjani menjawabnya.

Anjani kesal dengan sikap adiknya. Ia belum juga menyampaikan kata-kata, ponsel sudah ditutup.

"Dikira cari uang itu gampang apa?" gerutu Anjani sambil melempar ponselnya ke atas kasur.

Anjani tak habis pikir dengan Arini. Padahal baru sebulan yang lalu Anjani mengirimkan uang sekolah hingga gaji satu bulan bekerja tak tersisa sama sekali.

Memang kebutuhan keluarga Anjani, semua Anjani yang menanggungnya. Dari biaya sekolah kedua adiknya, sampai biaya hidup makan setiap hari keluarganya.

Ia menginginkan adiknya meneruskan sekolahnya hingga lulus. Jangan seperti dirinya, yang putus sekolah sampai kelas dua SMA. Ia ingin menjunjung nama keluarganya dangan mengirim setiap bulan kebutuhan ibunya agar ibunya tidak hutang ke sana ke mari untuk makan. Apalagi keluarga dari ibu maupun bapaknya yang ada di kampung selalu menghina.

Jangankan meminjamkan uang untuk bayar sekolah. Pinjam beras untuk makan saja tak bakal diberi. Yang pasti makian dan omelan yang Anjani dapatkan.

Beruntung setelah Anjani berhenti sekolah langsung mendapat tawaran pekerjaan dari Astuti teman satu kampung yang hendak menikah. Untuk menggantikan pekerjaannya. Yaitu pekerjaan sebagai baby suster di rumah keluarga Barata yang terkenal kaya raya dengan julukan Sultan.

Anjani yang setiap bulan menerima gaji tiga juta dari Ayudya. Itupun ia tak mengambil sepeserpun uang dari gaji itu. Semua ia kirim ke ibunya. Beruntung segala kebutuhan Anjani di rumah Ayudya, semua yang mencukupi Ayudya.

"Bunda Jani ... Bunda Jani ...!" Suara gadis kecil yang bernama Aura, yang membuat Anjani tersentak dan bergegas keluar kamar menemui Aura setelah mengunci lemarinya.

"Ya, Nona!" teriak Anjani setengah berlari menghampiri Aura yang hendak menuruni anak tangga, sambil mengusap-usap kedua matanya.

Cepat-cepat Anjani berlari kecil menaiki anak tangga menghampiri Aura dan memeluk Aura yang baru bangun tidur, serta mengajaknya masuk kamar untuk mandi dan siap-siap berangkat sekolah.

Rasa penat yang dirasakan Anjani pagi ini sangat terasa. Belum juga ia menyiapkan sarapan, Aura sudah keburu bangun. Tubuhnya terasa lelah dengan permainan semalam melayani Barata, dan belum juga nanti Barata meminta bertemu dengan Anjani.

Anjani bingung, ada apa Barata meminta Anjani untuk menemuinya. Adakah hal yang sangat rahasia? Anjani tak bisa berpikir. Kalau toh Barata hendak berbuat sesuatu yang berhubungan dengan kejadian semalam, Anjani pasrah.

***

Jam menunjukkan angka sembilan. Anjani sudah selesai mengantar Aura. Ia pamit sama Andy sopir pribadi Aura, hendak ke bank untuk mengirim uang ibunya. Andy menyetujuinya dengan mengantar Anjani sampai di kantor bank setempat.

Anjani menyuruh Andy meninggalkan dirinya di kantor. Ia akan pulang sendiri.

"Habis ini aku akan kembali ke sekolahan non Aura, Bang! Jemput non Aura jam tiga sore. Dia ada pelajaran tambahan."

Andy mengangguk dan meninggalkan Anjani yang masih berdiri di depan pintu gerbang sebuah kantor bank, Anjani memandang mobil Andy hingga hilang dari pandangan.

Hanya butuh waktu satu setengah jam, selesai transfer Anjani sudah berada di depan taman Senopati.

Anjani berdiri tepat di pinggir trotoar. Dengan sengatan sinar matahari yang membuat wajah Anjani yang putih alami tampak memerah.

Anjani tak menghiraukan semua itu. Hanya pikirannya yang bergejolak. Rasanya ia enggan untuk menemui Barata. Anjani sangat takut, takut kalau sampai Ayudya memergokki dirinya bersama suaminya. Padahal semua itu bukan kehendaknya.

Sesekali Anjani melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam sebelas lewat sepuluh menit. Berarti Anjani sudah menunggu sepuluh menit.

Anjani berpikir, ia akan menunggunya lagi sekitar lima menit, jika Barata tak kunjung datang ia dengan senang hati akan meninggalkan taman. Dan ia punya alasan tersendiri jika Barata marah.

Tin, tin ...

Sebuah sedan warna hitam berhenti tepat di depan Anjani.

Anjani tersentak, ia yakin itu mobil Barata yang setiap hari bertengger di depan rumah. Jendela kaca mobil itu terbuka sendiri.

"Cepat masuk ...!" suara keras Barata yang duduk di belakang kemudi dengan pandangan lurus ke depan tanpa memandang Anjani.

Anjani tanpa pikir panjang membuka pintu mobil dan segera masuk mobil.

Jantung Anjani mulai berdetak kencang. Tubuhnya gemetar, telapak tangannya mulai dingin. Pandangan Anjani lurus ke depan melihat lalu lalang manusia dengan aktivitasnya lewat bentangan kaca mobil di depannya.

Anjani tetap diam, ia tak berani berkata sepatah kata pun. Hanya sesekali ia melihat Barata yang tampak garang duduk di belakang setir lewat sudut matanya.

"Anjani, kau tau kamu akan aku bawa kemana?"

Pertanyaan Barata memecah keheningan dan membuat Anjani tersentak dengan masih diliputi rasa ketakutan.

"Saya tak tau, Tuan. Tapi saya mohon jangan sakiti saya, jangan bunuh saya tuan," mohon Anjani menghiba, dengan menatap Barata.

"Bodoh!" gumam Barata, masih tanpa memandang Anjani.

Tiga puluh menit kemudian, Barata menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah besar berpagar tinggi, yang membuat Anjani tampak panik dan ketakutan.

Ia bertanya pada dirinya sendiri. "Tempat apa ini?"

Seorang laki-laki berpakaian hitam-hitam membuka pintu gerbang pagar setelah mendengar klakson mobil Barata berbunyi. Mobil memasuki halaman rumah, dan berhenti tepat di samping rumah mewah yang bernuansa klasik modern

Anjani semakin panik. Ia tak tau apa yang bakal terjadi pada dirinya. Jangan-jangan Barata hendak menghabisi nyawanya.

Anjani berpikir, kemungkinan besar Ayudya mengetahui dan terjadi pertengkaran tadi pagi dengan Barata. Ayudya tau apa yang dilakukan Barata semalam dengan dirinya.

Dan Barata hendak membunuhnya agar Anjani tidak membuka rahasia pada Ayudya.

"Tidaakkk ...!" tiba -tiba Anjani menjerit dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Bersambung.

Nah, benarkah apa yang ada dalam pikiran Anjani terjadi? dirinya hendak di bunuh Barata? Baca lanjutannya guys.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Jauh di Luar Jangkauanmu
9.5
Sepuluh tahun pengabdian Delia pada mantan suaminya berakhir sia-sia hingga ia memutuskan bercerai. Tiga bulan berlalu, ia muncul kembali sebagai sosok luar biasa: CEO merek ternama, desainer kondang, dan juragan tambang sukses. Saat keluarga mantan suaminya memohon kembali, Delia yang kini dicintai Caius yang berkuasa hanya memandang mereka rendah. Baginya, mereka tak lagi selevel karena kini ia telah berada jauh di luar jangkauan mereka semua.
Sampul Novel Beautiful Secret
8.0
Liam Andreas Ville, miliarder berusia 30 tahun, terjebak dalam pernikahan hambar dengan Rose yang hanya peduli pada kemewahan. Di sisi lain, Emily Alexandra bekerja keras secara sembunyi-sembunyi demi uang, berbeda jauh dari kakaknya yang manja. Suatu malam, rahasia Emily selama dua tahun terendus oleh Liam. Demi melindungi reputasinya dari Rose dan keluarga yang sangat pemilih, Emily terpaksa menjalin kesepakatan rahasia dengan sang kakak ipar agar pekerjaannya tetap tersembunyi.
Sampul Novel Istri Idaman Tuan Ares
8.1
Perjodohan paksa merupakan fenomena klasik yang kerap membebani siapa pun, terutama jika harus bersatu dengan orang asing tanpa landasan cinta. Beban berat inilah yang kini menghimpit hidup Ares dan Anggun. Meski hati menolak, mereka terjebak dalam situasi yang tidak memberikan celah untuk melarikan diri. Keduanya terpaksa menghadapi komitmen yang tak diinginkan, di mana alasan apa pun tidak cukup kuat untuk membatalkan ikatan pernikahan tersebut.
Sampul Novel Menikahi Mayat Palsu CEO
7.8
Angel terjebak dalam situasi mengerikan saat dipaksa menikahi jenazah CEO muda yang rupawan. Demi melunasi hutang budi serta imbalan dua miliar rupiah bagi keluarganya, ia terpaksa menyetujui pernikahan tak lazim ini. Namun, kejutan besar menanti di balik peti mati karena sang mempelai pria ternyata masih bernapas. Bagaimana nasib Angel setelah rahasia besar ini terungkap? Ikuti kisah romansa penuh misteri ini dalam Menikahi Mayat Palsu CEO.
Sampul Novel MILIARDER CANTIK ITU ISTRIKU
8.4
Terdesak kebutuhan hidup, Zio terpaksa setuju melayani seorang wanita dalam satu malam. Ia sempat mengira akan bertemu wanita tua, namun justru sosok muda yang sangat cantik muncul di hadapannya. Secara mengejutkan, wanita itu memintanya untuk menghamili sekaligus menikahinya. Di tengah beban hidupnya yang sangat berat, mampukah Zio memenuhi permintaan gila tersebut dan menjadi pendamping sang miliarder cantik yang misterius itu?
Sampul Novel Pernikahan Dadakan dengan CEO
8.8
Dalam Pernikahan Dadakan dengan CEO, konflik rumah tangga memuncak akibat masalah finansial. Sang suami menuntut agar semua pengeluaran, termasuk biaya hidup, cicilan KPR, dan cicilan mobil, dibagi secara patungan. Situasi semakin tegang karena kehadiran sang adik yang menumpang tinggal. Kontribusi bulanan sebesar empat juta rupiah dinilai tidak cukup dan dianggap setara dengan menumpang gratis, memicu tuntutan agar ia membayar setengah dari biaya hidup mereka.