
Dinodai keluarga suami
Bab 2
Aku bangun di pagi hari dengan kondisi tubuhku yang terasa remuk. Ingin pergi kekamar mandi pun rasanya susah sekali untuk berdiri. Mas Seno yang melihat itu pun merasa prihatin. Karena, itu sebab nya sendiri, dia pun berinisiatif bertanggung jawab untuk menggendong ku kekamar mandi. Sampai dikamar mandi dia langsung ingin memandikan ku. Tentu saja aku menolak. Sebab, aku bisa mandi sendiri. Tapi, dia memaksa untuk memandikan ku. Aku tak kuasa menolaknya walau pun aku malu.
Saat dia memandikan aku cuma bisa menunduk malu. Sambil membiarkan dia menggosok badanku dengan sabun. Tapi, kok aku merasa ada sesuatu yang aneh dari sentuhan tangannya. Dan benar saja ada yang menegang dengan kokoh dibawah sana. Alhasil jadi lah bathtub menjadi pengganti ranjang.
Dia melumat bibirku yang ranum, begitu lembut caranya memperlakukan aku, aku jadi terbuai dengan itu. Aku terus menikmati apa yang dia lakukan hingga ciumannya itu turun ke bagian tubuhku semakin turun ke bagian tengah pahaku. Aku menggelinjang liar karena nafsuku jadi tersulut saat dia melakukannya sampai milikkumenjadi terasa basah Dia membuka kedua pahaku, mendorongku untuk membelakanginya lalu memasukkan miliknya ke dalam milikku. Aku merasakan sensasi panas yang mengalir dalam tubuhku.
Akhirnya aku sudah selesai berpakaian dan berdandan. Setelah dua jam terjebak dikamar mandi bersama mas Seno dan badan yang sudah sakit tambah jadi sakit akibat ulahnya. Itu pun, dia pengen tambah lagi. Tentu saja, aku menolak. Karena, aku takut tidak bisa berangkat ke makan siang keluarga mas Seno.
Sebenarnya aku tidak ingin pergi. Karena, tubuhku sakit sekali. Akan tetapi, aku tetap berusaha untuk bisa pergi. Karena, menghormati keluarga mas Seno. Siangnya kami berangkat menuju kerestoran yang menjadi tempat mengadakan pertemuan. Katanya, pertemuan ini dirancang khusus untukku, supaya bisa mengenal keluarga inti Baskara.
Sebenarnya kami datang lebih awal. Karena, mas Seno ingin menenangkanku yang mulai gugup. Sebab ini pertemuan yang membuat kami supaya semakin akrab. Setelah sejam berlalu, akhirnya datang lah adik pertama mas Seno, yang bernama Purnama Bagaskara beserta anaknya Cantika Bagaskara dan suami nya Suryanata.
Purnama ini memiliki tubuh yang kata para lelaki, seperti gitar spanyol. Yang menurut ku sendiri tubuh nya itu montok berisi. Dia memiliki paras yang cantik dan gaya berpakaiannya yang membuat kesannya menjadi elegan. Sangat serasi dengan suami nya yang sangat tampan. Dan, tentu saja anaknya pun memiliki paras yang cantik sekaligus manis.
Diurutan kedua, datang lah adik kedua yang bernama Karina Bagaskara. Dia datang berdua bersama suaminya Tio Nurcahyo. Mereka, belum mempunyai anak. Karena, kata mas Seno dia belum dikaruniai sang buah hatinya walau pun mereka sangat menginginkan. Jadi, usahakan jangan berbincang masalah itu, takut dia tersinggung. Karina memiliki paras yang manis. Tapi, penampilan sangat sederhana tidak seperti Purnama semua yang dipakainya adalah brand ternama. Yang ku tahu harganya bisa sampai ratusan juta. Tio berbanding terbalik dengan istrinya. Penampilan sangat mewah. Karena dia adalah salah satu pemimpin diperusahaan yang dikelola istri nya. Yah, karena istri nya tidak ingin menjadi wanita karir seperti Purnama. Dia, hanya ingin fokus untuk menjadi istri yang baik dan berbakti pada ibu yang sedang sakit.
Yang terakhir Aditya Bagaskara berserta istrinya Citra Amelia yang sedang hamil muda. Tidak lupa berserta mama mertua dan ayah mertua. Sebenarnya keluarga ku juga turut diundang. Tapi, mereka tidak bisa hadir. Karena, mereka masih sibuk pindahan rumah dan belajar mengelola restoran yang kami berikan. Tentu saja keluarga mas Seno tidak keberataan dengan itu. Mereka memaklumi saja dengan ketidak hadiran mereka, masalah itu bisa diadakan ulang nanti. Yang penting kehadiran ku. Supaya aku tidak canggung untuk tinggal bersama nanti.
Mereka sangat baik dan ramah kepadaku. Jadi, membuat perasaan ku yang tidak menentu tadi sudah hilang menjadi nyaman. Mereka berkata kalau kamu sudah selesai berbulan madu. Baru pulang kerumah, walau bulan madu nya sebulan penuh.Karena katanya kalau dirumah takut terganggu. Sebab pengantin baru juga butuh privasi.
"Kak Nisa mau honeymoon kemana?" Tanya Purnama
"Mm... aku belum tau mau kemana," jawabku bingung. Karena, kami belum memutuskan untuk pergi kemana.
"Gimana, kalau Paris?" Saran nya Citra dengan antusias
"Itu kan, tempat honeymoon kita dulu, sayang," ujar Aditya
"Soalnya aku sangat suka disana. Kotanya sangat romantis menurut aku" kekeh Citra
"Gimana kalau kita kesana lagi?" ucap Citra kepada Aditya.
"Beneran, boleh?"
"Apa sih yang enggak buat kesayangan aku." Sambil memeluk istrinya dengan manja
"Ehm." Ayah mertua sambil melotot tajam kearah Aditya
"Dit, kamu gak ingat kehamilan Citra yang pertama? Kan kandungan Citra itu lemah. Kata dokter dia gak bisa capek. Ini malah mau pergi ke Paris yang perjalanan nya memakan waktu beberapa jam. Kamu gak takut terjadi sesuatu sama Citra?" Karina mengingatkan dengan lembut. Mungkin supaya mereka mengerti.
"Bener tuh kata Karina. Hamil tu harus dijaga, jangan disia-siakan. Coba lihat Karina yang bertahun-tahun pengen hamil tapi gak bisa. Tapi dia tetap berusaha walau pun gak bisa sampai sekarang. Ups" cerocos Purnama yang membuat suasana jadi hening
"Sudah sudah, jangan diteruskan. Ini hak Nisa sama Seno mau kemana. Kalian gak usah ikut campur dengan keputusan mereka. Dan untuk Purnama minta maaf kepada Karina. Entah omongan mu sengaja atau tidak, kamu tetap harus minta maaf," ujar mama mertua dengan tegas.
"Baik, ma" jawab Purnama sambil menunduk
"Dan kamu Aditya. Jaga baik-baik istrimu. Karena kandungan nya sangat lemah, jadi dia tidak boleh capek atau perjalanan jauh. Nanti kalau dia sudah lahiran dan kalau anak mu sudah besar, kamu mau keliling dunia pun kami tidak melarang. Tapi, untuk saat ini jangan!"
" Baik, Ma," Aditya pun menjawab dengan menunduk
Sepertinya mereka takut dengan ketegasan mama mertua. Aku pun makin kagum dengan cara beliau mendidik anak. Setelah Purnama minta maaf kepada Karina. Pembicaraan ini pun berlanjut ke masalah bisnis. Tidak terasa hari sudah sore. Mereka pun bergegas pamit untuk pulang kerumah dan kami pulang ke hotel.
Sesampai nya dihotel, aku ingin mandi membersihkan diriku yang mulai terasa lengket. Setelahku keluar dari kamar mandi, mas Seno langsung memelukku dari belakang dan membantu memijit semua badanku yang terasa pegal. Aku menolak karena ini bukan tugasnya. Tapi, dia bersikukuh untuk memijatku. Jadi, dengan sangat berat hati aku menerima pijatan yang dilakukan mas Seno.
"Aaakkkhh!" Aku teriak saat dia memijit pinggangku, sungguh rasanya sakit saat dia memijat bagian pinggangku.
"Sakit yah?" tanyanya dengan wajah yang polos.
"Iya sakit," jawabku dengan setengah meringis.
"Padahal aku cukup pelan lo," ujarnya merasa heran
"Mas, menurut kamu pelan. Tapi, kalau menurut aku kencang! Tenaga wanita sama lelaki beda lo!" sungutku
"Ya, sudah. Aku tidak jadi mijit," ujarnya dengan wajah ditekuk.
"Ciyee, yang ngambek," godaku
"Abisi ngeselin, sudah dipijetin malah kayak gitu!"
Anda Mungkin Juga Suka





