
Dinodai keluarga suami
Bab 3
Sungguh rasanya sakit saat dia memijat bagian pinggangku.
"Sakit yah?" tanyanya dengan wajah yang polos.
"Iya sakit," jawabku dengan setengah meringis.
"Padahal aku cukup pelan lo," ujarnya merasa heran
"Mas, menurut kamu pelan. Tapi, kalau menurut aku kencang! Tenaga wanita sama lelaki beda lo!" sungutku
"Ya, sudah. Aku tidak jadi mijit," ujarnya dengan wajah ditekuk.
"Ciyee, yang ngambek," godaku
"Abisi ngeselin, sudah dipijetin malah kayak gitu!"
___
Setelah selesai drama ngambeknya mas Seno. Akhirnya kami makan malam didalam kamar hotel. Sebab, aku yang malas turun kebawah untuk makan direstoran hotel ini. Jadilah, kami makan malam didalam kamar hotel sambil menikmati pemandangan yang indah dimalam hari.
"Nis, kamu mau honeymoon ke mana?"
"Masih bingung mas. Terserah mas aja deh mau kemana, aku nurut aja" jawabku asal
"Gak boleh gitu dong, Nis. Nanti pas mas yang pilih kamu ngambek lagi" ujarnya dengan raut wajah kesal
"Sebenarnya aku ada sih, kepengen liburan kesana. Tapi, gak pernah kesampaian" ujarku dengan mata yang berbinar-binar.
"Emang, mau kemana?"
"Aku pengeen banget ke Bali mas, boleh?"
"Boleh dong sayang. Mau keliling dunia pun boleh." jawab nya sambil mencium bibirku
"Ih mas, nakal deh." pukulku kedada nya yang bidang, kami pun melanjutkan makan malam dengan membincangkan masalah honeymoon, setelah makan kami langsung tertidur pulas.
Di pagi hari, setelah bersih-bersih dan sarapan, kami pergi untuk membeli keperluan untuk berlibur kebali, yang direncakan besok.Aku pun dengan antusias memilih segala keperluan kami selama disana. Disaat mau pulang suamiku malah masuk ke toko pakaian wanita, aku turut mengekor dibelakang.Aku langsung memerah malu. Sebab, yang sedang dipilih suami ku adalah sebuah baju tidur dan sebuah bikini yang sangat seksi.
"Nanti kita pakai saat honeymoon ya," bisik nya lirih ditelingaku. Yang berhasil membuat ku semakin salah tingkah, saking malunya.
Hari keberangkatan pun tiba. Kami berpamitan kepada kedua orang tua ku, baru ketempat mertua. Mereka melepaskan kami dengan senyum bahagia dan tidak lupa mengucapkan doa supaya kami selamat tidak lupa pulang dengan keadaan sehat. Kami pun berangkat kebandara. Karena, dua jam lagi pesawat kami akan berangkat. Kami sengaja berangkat lebih awal, antisipasi kalau terjebak macet dijalan. Dan benar saja kami terjebak macet. Untung saja kami datang tepat waktu. Jadi, tidak ketinggalan pesawat. Aku yang tidak biasa naik pesawat pun mulai takut saat pesawat nya mulai naik keatas, rasanya aku pengen teriak saking takut nya, cuma ingat dengan penumpang yang lain.
Beberapa jam perjalanan, mas Seno langsung memesan taksi menuju ke villa yang sudah kami sewa untuk liburan kami. Sesampai di villa kami disambut ramah oleh pengurus villa. Barang-barang kami pun dia yang membawakan kekamar.VAku dan mas Seno berencana hari ini untuk istirahat dulu. Karena, tubuh kami yang sangat lah lelah. Setelah dirasa lelah hilang, aku pun berinisiatif pergi berkeliling divilla yang besar ini. Sambil mencari makanan yang bisa dimakan. Sebab perut ku yang mulai lapar. Akhirnya setelah mencari sampai lah aku didapur. Yang ternyata disana ada mbok Imah yang sedang memasak. Ku lihat dia seperti tengah kerepotan.
"Ada yang bisaku bantu mbok?"
"Gak usah Non, ini sudah jadi tugas saya,"
"Eh.. non kedapur cari apa? Atau mau minta tolong sesuatu?" Sambungnya, yang tangan nya tetap sibuk memasak makanan.
"Aku lapar mbok, pengen makan," ucapku nyengir.
"Sebentar ya non, sebentar lagi masak." Ucap mbok Imah sambil bergelut dengan perabotan dapur.
Aku pun dengan sabar menunggu dengan sambil memakan camilan yang disuguhkan mbok Imah kepada ku. Katanya biar ganjel perut, walau pun malah bikin tambah lapar. Makanan pun sudah siap dimeja makan. Aku bergegas membangun kan suami yang sedang tidur dikamar, ternyata mas Seno sangat susah untuk dibangun kan. Ya, wajar sih karena mungkin dia sangat kelelahan. Setelah dia berhasilku bangunkan, mas Seno pun bergegas untuk cuci muka. Kami pun berjalan bergandengan dengan mesra ke meja makan
Selesai makan, aku pamit membersihkan diri. Kebetulan hari nya sudah malam. Saat aku keluar dari kamar mandi, mas Seno melemparkan pakaian yang dibeli nya kemarin kepadaku, sambil berkedip nakal dan berlalu kekamar mandi.NDisaat mas Seno sudah selesai mandi, dia terkejut melihat ku yang berbungkus selimut.
"Sayang, kenapa? Kamu sakit?" tanya nya dengan khawatir, tangan nya pun mulai meraba kening ku
"Gak panas, tapi, muka kamu kok merah?"
"Aku malu," jawabku dengan sangat pelan.
"Hah, apa?" ucapnya dengan tertawa
"Kok, kamu malah ketawa?" geramku
"Gak, lucu aja, kok bisa malu sama suami sendiri," cengirnya
Aku pun cuma cemberut tanpa ada niat untuk menjawab. Dia berbaring disampingku, sambil memperlihatkan video didalam smartphone nya. Video itu memuat adegan yang sangat panas dan ganas, tanpa sadar aku pun jadi terangs*ng dengan adegan yang ditampilkan didalam video itu.
"Yank, coba kamu turutin adegan yang ada didalam video ini, aku juga pengen kayak gini." Aku cuma mengangguk dengan masih tetap fokus ke smartphone mas Seno.
Video nya sudah selesai. Kami pun memulai adegan panas seperti divideo itu.Sampai beberapa kali permainan dan segera pergi tidur setelah membersihkan diri.
Hari ini aku bangun agak kesiangan. Tapi, aku tidak melihat mas Seno disamping ku. Mungkin dia sudah turun duluan kebawah. Aku bergegas mengambil handuk yang tergantung digantungan langsung bergegas untuk mandi. Setelah selesai mandi dan berdandan, aku mulai mencari mas Seno disetiap penjuru rumah, sampai halaman belakang villa pun tak luput dari pencarian ku. Nihil, aku tidak menemukan nya dimana pun
Aku bergegas mengambil handuk yang tergantung digantungan langsung bergegas untuk mandi. Setelah selesai mandi dan berdandan, aku mulai mencari mas Seno disetiap penjuru rumah, sampai halaman belakang villa pun tak luput dari pencarian ku. Nihil, aku tidak menemukan nya dimana pun. Alhasil aku berjalan gontai menuju dapur untuk menemui mbok Imah, siapa tahu dia, tahu dimana mas Seno.
"Eh, non Nisa, baru bangun non?" Jawab nya sambil menyiapkan makanan untuk ku.
"Iya mbok, mbok lihat mas Seno gak? Aku cari kemana-mana gak ketemu," tanyaku, sambil menyendokan makanan kemulutku. Kebetulan aku sangat lapar.
"Oh tuan, dia setelah sarapan pagi tadi langsung pergi, gak bilang sih mau kemana. Cuman, pesan nya tadi kalau non Nisa sudah bangun, bilangin dia cuma pergi sebentar aja. Karena, ada keperluan mendadak"
"Oh," jawab ku singkat.
Jujur aku sangat kesal dengan mas Seno. Sebab, dia pergi tanpa pamit kepada ku. Malahan dia pamit kepada orang yang baru dikenal. Dia anggap apa aku ini. Aku mencoba menghubungi mas Seno tapi tidak diangkat pesanku pun tidak dibalas atau sekedar dibuka. Aku semakin kesal dibuatnya. Andaikan bisa aku mau pulang saja kerumah.BalasTeruskan
Anda Mungkin Juga Suka





