
Di Mana Sayap Tumbuh
Bab 2
Surat itu terasa seperti kenangan yang tak diinginkan, menyusup ke celah-celah jiwanya, menyelinap pelan di bawah pintu saat Amelia menyiapkan camilan sore Tomás.
Ia teralihkan, mengoleskan selai di atas roti panggang dan mendengarkan tawa putranya di lorong. Di luar, matahari menyaring cahaya hangat melalui tirai, memandikan dapur dengan ketenangan yang menipu. Uap teh mengepul membentuk spiral lembut yang nyaris menghipnotis. Semuanya tampak biasa saja. Hingga matanya tertuju pada amplop kuning itu, usang, berkerut di sudut-sudutnya, seolah-olah telah menempuh perjalanan terlalu jauh atau telah melewati terlalu banyak tangan.
Ia membungkuk hati-hati untuk mengambilnya, merasakan getaran menjalar di tulang punggungnya. Tidak ada alamat pengirim, tidak ada perangko, tidak ada indikasi asal surat itu. Hanya namanya, tertulis dengan tinta hitam dengan tulisan tangan tak beraturan yang tampak lebih seperti ukiran daripada tulisan tangan. Bahkan saat itu, bahkan sebelum ia membukanya, sesuatu di dadanya terasa sesak. Sebuah naluri kuno, mendalam, dan mendalam berbisik padanya bahwa secarik kertas ini mengandung lebih dari sekadar kata-kata.
Ketika ia merobek tepinya dengan jari-jari gemetar, sebuah pesan jatuh, bagaikan sebuah kalimat:
"Kau tak pantas mendapatkan akhir bahagiamu."
Kertas itu terlepas dari tangannya seolah membakarnya. Kertas itu jatuh ke lantai dengan desiran kering, dan bersamanya, sesuatu pecah di udara. Pisau mentega tetap menggantung di tangannya, tetapi Amelia tak lagi memikirkan roti panggang itu. Ia hanya bisa mendengar jantungnya berdebar kencang, berdentuman di dalam dadanya seolah ingin lepas.
Di sekelilingnya, kehidupan terus berjalan. Tomás tertawa sambil berlari dengan mobil-mobilan mainannya, tak menyadari badai yang baru saja melanda dapur. Di ruang tamu, suara Isabelita menggema melalui pengeras suara telepon, dengan antusias menceritakan beberapa anekdot universitas. Dari ruangan lain, Luciano bersenandung tanpa menyadarinya; radio menyala pelan, seperti latar belakang yang lembut untuk sebuah adegan keluarga. Namun bagi Amelia, semuanya terasa menggantung, jauh.
Antisipasi
Gabriel berada di kamarnya, berbaring di atas karpet, sebuah buku cerita di tangannya. Ia sedang membaca kisah seekor rubah yang ingin terbang. Matanya mengamati ilustrasi-ilustrasinya, tetapi pikirannya melayang ke tempat lain. Selama berminggu-minggu, sesuatu telah memberitahunya bahwa ada yang tidak beres. Keheningan di antara orang tuanya semakin lama. Senyum mereka, lebih dipaksakan. Dan Ibu, yang biasa memeluknya setiap kali lewat, kini tampak teralihkan. Seolah pikirannya melayang ke luar jendela.
Suara aneh, hampir seperti gemerisik, membuatnya mendongak. Lalu, suara kertas jatuh. Dan kemudian, keheningan Ibu yang menegangkan. Ia bangkit diam-diam dan mengintip ke luar pintu. Ia melihat amplop di lantai, di samping kaki Amelia, dan wajah ibunya, pucat, matanya terpaku pada kehampaan.
"Bu?" bisiknya. "Kau baik-baik saja?"
Ibunya mendongak terlalu cepat. Ia tersenyum. Atau mencoba tersenyum. Namun senyumnya hancur di sudut mulutnya seperti kertas basah.
"Ya, sayangku. Hanya... selembar kertas tua. Tidak penting."
Tetapi ia tahu Ibunya berbohong. Gabriel memiliki kepekaan yang aneh, seperti anak-anak yang harus tumbuh sedikit lebih cepat. Dan meskipun ia tak bisa membaca surat itu, ia bisa membaca ketakutan di mata Amelia.
Kesedihan
Malam itu, ketika anak-anak terlelap dan rumah menghirup keheningan, Amelia duduk di dekat jendela kamarnya. Di luar, bulan terbit bulat dan waspada, memancarkan cahayanya ke taman. Pohon badam yang mereka tanam ketika mereka tahu mereka akan melahirkan Luna bergoyang tertiup angin, seolah mendengarkan pikiran mereka.
Amelia memeluk lututnya, bertelanjang kaki, jubah katunnya melilitnya seperti perisai rapuh. Surat itu terlipat di pangkuannya. Sulit baginya untuk melihatnya lagi. Itu hanya satu baris teks, tetapi kegelisahan yang ditinggalkannya begitu mendalam, seolah seseorang telah menggali masa lalunya dengan ujung pisau.
Ia teringat ayahnya dan kepergiannya. Pengabaian yang tersamar sebagai ketidakhadiran yang diperlukan. Ia teringat Martina dan rahasia-rahasia yang dibawa perempuan itu ke liang kubur. Ia teringat kesunyiannya sendiri, yang telah ia sembunyikan dengan begitu baik sehingga terkadang ia lupa bahwa semuanya masih menyakitkan. Lalu ia teringat Luna, bayi yang belum lahir, dan janji kebahagiaan yang ia rasakan mengalir deras bagai air di sela-sela jemarinya.
Setetes air mata mengalir di pipinya. Lalu satu lagi. Dan kemudian lebih banyak lagi.
Kilas Balik: Bisikan dari Masa Lalu
Di universitas, Isabelita melangkah cepat menyusuri lorong-lorong fakultas kedokteran. Kepalanya penuh dengan rumus, kasus klinis, dan pengingat terus-menerus bahwa beasiswanya bergantung pada kemampuannya untuk tidak gagal. Pagi itu, seorang profesor menghentikannya saat ia meninggalkan kelas, menatapnya dengan ekspresi yang bercampur antara belas kasih dan peringatan.
"Cárdenas?" "Kuharap kau mengerti bahwa nama keluargamu menyimpan sejarah," tanyanya, nadanya ambigu. "Dan bahwa ada orang-orang yang tidak lupa." Perempuan muda itu tidak mengerti persis apa yang ia maksud, tetapi kata-kata itu menghantuinya sepanjang hari seperti bayangan.
Ia sedang berjalan menuju perpustakaan ketika mendengar gumaman. Seseorang mendekat dari belakang, terlalu dekat. Lalu, sebuah bisikan membuatnya merinding:
"Kami tahu siapa kau."
Ia berbalik, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya para siswa yang berlalu-lalang, tawa yang samar, dan perasaan diawasi. Ia tak berkata apa-apa. Tidak kepada Amelia. Tidak kepada Luciano. Ia tak ingin membuat mereka khawatir. Namun sesuatu memberitahunya bahwa lapisan-lapisan masa lalu mulai terkelupas. Dan apa yang tersembunyi di baliknya tidaklah indah.
Kehidupan Sehari-hari dalam Bayang-Bayang
Amelia menunjukkan surat itu kepada Luciano malam itu juga. Luciano membacanya dengan rahang terkatup, lalu meremasnya dengan marah dan membuangnya ke tempat sampah. Ia memeluknya erat, terlalu erat. Ia berjanji untuk melindunginya. Ia berjanji bahwa tak seorang pun dan tak seorang pun akan menyakiti mereka.
"Kita bersama," katanya. "Apa pun yang terjadi."
Namun Amelia tidak yakin. Tidak sepenuhnya.
Gabriel mendengarkan dari lorong. Ia tidak mengerti semuanya, tetapi ia cukup mengerti. Sejak malam itu, ia mulai mengamati lebih dekat. Ibunya. Ayahnya. Isabelita. Keheningan-keheningan itu. Ia merasa ada dunia paralel di dalam keluarganya, dunia yang penuh rahasia yang hanya bisa ia lihat dalam bayang-bayang.
Namun, Tomás tetap tak menyadarinya. Ia bermain balok, mempelajari kata-kata baru, menari tanpa musik. Ia adalah kemurnian itu sendiri, kepolosan sejati. Dan karena alasan itulah, Amelia melekat padanya bagai jangkar.
Malam Sebelum Badai
Malam itu juga, ketika rumah kembali sepi, Amelia membuka buku hariannya. Buku catatan bersampul biru tempat ia menulis selama bertahun-tahun. Ia membukanya pada halaman kosong dan mulai menulis. Ia tidak mencari jawaban, ia hanya ingin melepaskan rasa takutnya.
"Sepucuk surat tiba hari ini. Tanpa tanda tangan. Atau tersegel. Hanya sebuah ancaman yang berbau masa lalu. Dari bagian diriku yang kukira terkubur."
Pena menggores kertas saat kata-kata mengalir keluar bagai katarsis.
"Kata Luciano kita aman. Tapi aku tahu rasa takut tak selalu butuh pintu untuk masuk. Terkadang kenangan saja sudah cukup."
Ketika ia menutup buku catatannya, ia merasa sedikit lebih ringan. Ia bangkit untuk mematikan lampu, tetapi sebelum itu, ia menatap pohon badam itu sekali lagi dari jendela. Angin menggoyangkannya pelan. Pohon itu seakan berkata sesuatu.
Lalu, dengan suara lirih, ia bertanya-tanya:
"Apa yang harus kulepaskan agar bisa terbang?"
Tak ada jawaban.
Namun pertanyaan itu sudah menjadi awal.
Anda Mungkin Juga Suka





