Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Di Mana Sayap Tumbuh

Di Mana Sayap Tumbuh

Sekuel The Maid and the Young Heir ini mengikuti Amelia, kini seorang ibu yang menjaga rahasia kelam. Saat Luciano berjuang mempertahankan keluarga, masa lalu kembali mengancam. Putra sulung mereka, Gabriel, dipenuhi tanda tanya, sementara Isabelita menghadapi bahaya di perantauan. Di tengah ancaman balas dendam musuh lama, Amelia harus memutuskan apa yang perlu dikorbankan demi keselamatan orang terkasih. Sebuah kisah tentang cinta dan keberanian untuk melepaskan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi menyingsing malu-malu di atas kota, langit masih diselimuti kabut tipis yang memperlambat segalanya, membuatnya lebih introspektif. Amelia melangkah dengan penuh tekad di sepanjang jalan berbatu menuju asrama universitas. Di tangannya, ia menenteng syal yang ia rajut sendiri-untuk Isabelita-dan di dalam hatinya, kegelisahan yang telah menghantuinya bermalam-malam. Ia tak sanggup lagi menahan penantian, keheningan, firasat yang menggerogoti bahwa ada sesuatu yang salah. Seorang ibu merasa. Seorang ibu tahu.

Bel pintu berdering datar, tanpa gema. Selama beberapa detik, tak ada jawaban. Namun Amelia tak berniat pergi.

Ketika pintu akhirnya terbuka, Isabelita muncul, wajahnya setengah mengantuk, rambutnya acak-acakan, jiwanya defensif. Ia mencoba tersenyum, tetapi sorot matanya mengkhianatinya.

"Amelia... Apa yang kau lakukan di sini sepagi ini?"

Amelia mengamatinya lekat-lekat. Wajah adiknya memancarkan kecantikan yang tenang, ditandai oleh kemudaan dan kelelahan. Namun di sana, hampir tersembunyi oleh sejumput rambut, terdapat bekas luka. Kecil. Rapuh. Namun mustahil diabaikan oleh seorang wanita yang telah mengorbankan hidupnya.

"Aku ingin bertemu denganmu," kata Amelia, masuk tanpa menunggu izin. "Dan aku tak akan menutup mata. Aku tahu kau membawa sesuatu sendirian... dan aku tak akan membiarkan itu lagi." Isabelita menutup pintu tanpa suara, menahan napas. Tiba-tiba, seluruh fasadnya bergoyang.

Kilas Balik: Malam Penyerangan

Isabelita berjalan sendirian menyusuri lorong rumah yang remang-remang. Saat itu hampir pukul sebelas malam, dan ia baru saja kembali dari perpustakaan, kepalanya penuh catatan dan bahunya menegang karena seharian beraktivitas. Ia tak pernah menyukai koridor itu. Terlalu sempit. Terlalu sepi.

Ia mendengar langkah kaki. Awalnya, ia ragu-ragu. Lalu ia mempercepat langkahnya.

"Isabelita," bisik sebuah suara parau di belakangnya. Ketika ia berbalik, sudah terlambat. Sebuah bayangan mendorongnya ke dinding. Ia mencoba berteriak, tetapi rasa takut mencengkeramnya bagai sumbatan tak kasat mata. Ia ingin lari, tetapi tubuhnya membeku. Lalu datanglah pukulan itu. Tumpul. Tepat. Dunia berputar, dan dahinya membentur lantai.

Ketika ia terbangun, ia sendirian. Semua itu terjadi dalam hitungan detik. Namun baginya, luka itu bertahan selama berminggu-minggu.

Ia tak ingin melaporkannya. Atau memberi tahu siapa pun. Ia merasa membuka mulut hanya akan mengundang lebih banyak kegelapan. Ia menutupi bekas luka itu dengan rambutnya, dengan berbagai alasan, dengan diam. Dan rasa bersalah... rasa bersalah itu perlahan menggerogotinya.

Reuni

Amelia memandang sekeliling ruangan. Semuanya bersih, rapi, seolah kekacauan batin Isabelita membutuhkan kompensasi eksternal.

Mereka duduk di meja kecil dekat jendela. Amelia meletakkan tangannya di atas meja, terbuka. Menawarkan, bukan menuntut.

"Kau tahu aku datang ke sini bukan untuk menghakimimu, kan?" katanya lembut.

Isabelita mengangguk tanpa menatapnya. Ia memainkan pinggiran cangkir kosong, kukunya tergigit, bibirnya kering.

"Kupikir aku bisa mengatasinya. Bahwa jika aku mengabaikannya, ia akan hilang," bisiknya. Kata-kata itu jatuh seperti pengakuan yang terpatah.

"Apa yang terjadi, sayangku?"

Keheningan. Napas tersengal-sengal. Setetes air mata mengalir di wajah Isabelita. Lalu, dengan suara pelan namun tegas, ia mulai berbicara. Tentang serangan itu. Tentang rasa takut yang melumpuhkan. Tentang bayangan itu. Tentang pukulan itu. Tentang rasa malu. Tentang amarah. Tentang bekas luka itu.

Amelia tidak memotongnya. Ia mendengarkan dengan mata berbinar-binar, menahan rasa sakitnya sendiri agar tidak menutupi rasa sakit adiknya. Ia merasakan darahnya mendidih. Kemarahan-murni, protektif-mulai membuncah dari lubuk hatinya. Bukan terhadap Isabelita. Melainkan terhadap dunia yang masih membiarkan putri-putrinya begitu rentan. Ketika Isabelita selesai berbicara, ia tampak lebih ringan. Lelah, tetapi tak lagi sendirian.

"Kau tak bercerita karena kau pikir kau akan membuatku khawatir," kata Amelia dengan senyum tipis yang sendu. "Tapi tahukah kau? Aku lebih suka khawatir bersamamu daripada merasa tenang tanpamu."

Kebenaran di Balik Kemarahan

"Kau tidak sendirian, Isabelita," lanjut Amelia, menggenggam tangannya. "Kau tak pernah sendirian. Sakit rasanya memikirkan kau menanggung semua ini tanpa dukungan. Tapi lebih sakit lagi karena kau merasa harus melakukannya." Isabelita mengatupkan bibirnya. Rasa bersalah itu masih ada, mengintai.

"Aku merasa seperti mengecewakan mereka. Bahwa aku tak boleh lemah. Bahwa jika aku bercerita pada mereka... semuanya akan berantakan. Seolah mengakuinya akan membuatku tak kuat."

"Kurang kuat?" ulang Amelia lembut. "Sayangku... tak ada kekuatan yang lebih besar daripada yang dibutuhkan untuk melangkah maju setelah kejadian seperti ini. Bekas luka itu bukanlah kekalahan. Itu medalimu." Itu pertanda kau selamat.

Isabelita menangis tersedu-sedu. Tapi kali ini, bukan tangisan yang tertahan. Melainkan sebuah pelepasan. Sebuah "akhirnya." Sebuah "Aku tak perlu menanggung ini sendirian lagi."

Amelia memeluknya. Ia meremas. Ia mendekap. Ia menghibur. Mereka berdua menangis lagi. Lalu mereka bernapas bersama.

Sebuah janji antarsaudara perempuan

Amelia tidak tinggal lama. Ia tahu terkadang penyembuhan dimulai ketika kita menciptakan ruang. Namun sebelum pergi, ia berhenti sejenak di pintu. Isabelita memperhatikannya, masih duduk di tempat tidur, seperti gadis kecil yang dulu takut gelap.

"Aku janji kita akan baik-baik saja," kata Amelia lembut. "Bahwa kisah ini tidak akan membekas di hatimu karena apa yang mereka lakukan padamu... melainkan karena bagaimana kau melewatinya."

Isabelita berdiri. Ia menghampiri adiknya. Ia memeluknya erat.

"Terima kasih sudah datang," gumamnya, dahinya bersandar di bahunya. "Terima kasih karena tidak meninggalkanku sendirian, meskipun aku tidak memintamu."

"Kau tak perlu memintaku untuk mencintaimu. Itu sudah dilakukan."

Ketika Amelia melangkah keluar, matahari mulai menghilangkan kabut. Ia berjalan lebih lambat, bernapas dalam-dalam, kini tak hanya membawa kekhawatirannya, tetapi juga keyakinan bahwa cinta-cinta yang membara itu-lebih kuat daripada rasa takut. Sementara itu, di rumah, Gabriel berguling-guling di tempat tidurnya, gelisah, sementara Tomás menggumamkan omong kosong dalam tidurnya. Mereka masih anak-anak, tetapi Amelia tahu badai yang akan datang juga akan menimpa mereka. Itulah sebabnya, pagi itu, ia berjanji pada dirinya sendiri:

"Untuk setiap luka, aku akan menawarkan kebenaran. Untuk setiap ketakutan, cahaya. Untuk setiap keheningan, sebuah pelukan."

Dan meskipun bekas luka di dahi Isabelita tak kunjung hilang, setidaknya sekarang bekas luka itu akan lebih ringan.

Lebih miliknya.

Lebih bebas.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LKC" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LKC
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DAN PENGORBANAN
9.2
Vanezha Dynazka, atau Nezha, harus berjuang sendirian setelah ditinggal wafat neneknya saat sedang mencari sang ibu. Hidupnya yang kelam berubah ketika kecelakaan mempertemukannya dengan sosok Aretha. Namun, Nezha terjebak dilema memilukan antara mempertahankan perasaan atau melepaskan cintanya demi membalas budi. Saat rahasia besar mulai terkuak, mampukah ia bertahan menghadapi badai takdir yang mengancam kebahagiaannya?
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO
8.5
Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari garis takdir yang tak terelakkan. Sepasang kekasih terjebak dalam dilema besar saat cinta tulus mereka terbentur tembok perbedaan yang nyata. Di tengah tangis dan dekapan erat, sang pria berusaha meyakinkan bahwa perasaan mereka tidaklah salah. Namun, perbedaan keyakinan menjadi ujian berat bagi masa depan mereka. Di dunia di mana jodoh dan maut telah tertulis, mampukah mereka bertahan saat takdir seolah memaksa untuk menjauh?
Sampul Novel Di Jual Suamiku
7.9
Apa yang akan Anda lakukan saat mahligai rumah tangga yang selama ini menjadi impian indah justru berubah menjadi kenyataan yang sangat rumit? Kisah ini mengikuti perjalanan emosional seorang wanita yang harus menghadapi lika-liku kehidupan pernikahan yang tak terduga. Alih-alih menemukan kebahagiaan sejati, ia justru terjebak dalam situasi pelik yang menguji kesabaran serta kesetiaannya sebagai seorang istri dalam menghadapi badai konflik.
Sampul Novel Iparku Ayah Anakku
8.0
Andini memulai babak baru sebagai sekretaris di kantor Rama, kakak iparnya sendiri. Namun, sebuah insiden fatal saat Rama mabuk membuat Andini mengandung darah dagingnya. Rama yang sangat mendambakan keturunan memohon agar Andini bersedia menjadi istri kedua. Terjepit antara rasa bersalah pada Anjani dan tuntutan situasi, Andini harus menghadapi dilema besar. Mampukah rahasia ini terkubur, ataukah pengkhianatan tak sengaja ini akan menghancurkan kebahagiaan kakaknya?
Sampul Novel Kembaran Tunanganku, Muslihat Kejam
8.0
Setahun lamanya Farah ditipu oleh kembaran tunangannya sendiri. Brama, sang kekasih, ternyata sudah menikahi Kirana dan berencana mencuri kornea mata Farah melalui kecelakaan palsu. Penderitaan Farah memuncak saat ia difitnah membunuh kakek Brama hingga dijebloskan ke RSJ. Namun, mereka tidak tahu bahwa Farah adalah Aurora Suryakancana, pewaris takhta bisnis raksasa. Setelah memalsukan kematian, ia bangkit dari kehancuran untuk membalas dendam dan mengambil kembali hidupnya.
Sampul Novel Kurelakan Cintaku untuk Adikku
8.4
Setelah mendapat kesempatan hidup kedua, aku memilih melepas Hans, pria yang di kehidupan lalu mengkhianatiku bersama putra kami demi adikku sendiri. Kali ini, kuatur pernikahan mereka dan kubiarkan adikku memakai gaun serta cincinku. Saat Hans membawanya ke Kota Barga, aku memilih pergi ke Selatan untuk kuliah di Kota Sarna. Fokusku kini hanyalah mengejar kesuksesan pribadi dan hidup mandiri tanpa belenggu asmara masa lalu yang menyakitkan.