
DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
Bab 2
Saat ini Rachel sedang menggerutu tidak jelas di dalam kamarnya. Bagaimana dia tidak kesal? Dirinya di suruh mengerjakan tiga buku paket matematika dan harus di kumpulkan besok pagi. Pedahal, kan otak Rachel itu sangat minim tentang pelajaran tersebut.
Rachel meregangkan tangan nya saat terasa pegal. Matanya menatap horor ke arah tumpukan buku paket itu. "Lo kapan selesainya, sih? Tangan gue udah pegel banget," keluh Rachel memarahi kertas yang tak bersalah.
"Anak mama kenapa marah - marah terus sih?" Ujar Renata Dirgantara, istri dari Arman Dirgantara.
"Ini, mah, masa aku di suruh ngerjain matematika tiga paket, dan harus selesai besok pagi juga," rajuk Rachel mengerucutkan bibirnya.
Renata pun terkekeh melihat tingkah putrinya yang begitu menggemaskan. "Udah nanti lagi aja kerjain nya, sekarang mending kamu siap - siap."
"Siap - siap ke mana, ma?" tanya Rachel mengernyitkan dahinya bingung. Bahkan Rachel baru menyadari bahwa mama nya itu Kini sudah berpenampilan rapi. Dengan dress berwarna cream yang membalut tubuhnya.
"Loh, kan mama udah bilang, kalau malam ini tuh ada acara makan malam bareng kolega papa," jawab Renata.
"Astaga. Aku bahkan sampai melupakan nya karena mengerjakan tugas yang tidak pernah selesai," Rachel sampai menepuk dahinya.
"Ya udah, sekarang kamu siap - siap ya, dandan yang cantik, oke?" Renata menuntun tubuh Rachel ke arah kamar mandi.
Saat hendak memasuki pintu kamar mandi, Aurel menatap ke arah Renata dengan mata yang memicing. "Tapi gak ada udang di balik batu kan, ma?"
"Udah gak usah nethink, mending sekarang mandi. Kayanya tiga puluh menitan lagi tamu nya bakal sampe," Renata mendorong tubuh Rachel agar memasuki kamar mandi.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Rachel tidak langsung mandi. Dia duduk dulu di toilet. Sebenarnya tamu penting siapa, sih? Kenapa mama nya itu terlihat bahagia sekali.
Karena teriakan Renata sudah terdengar, Rachel segera mandi dengan mengguyur tubuhnya pakai shower.
Setelah 15 menit mandi, Rachel berjalan ke arah lemari untuk milih dress yang menurutnya cocok di kenakan malam ini. Tatapan Rachel jatuh pada sebuah dress berwarna biru dongker, dress ini memang tidak terlalu bagus. Tapi entah kenapa Rachel ingin mengenakan yang ini.
Setelah selesai memakai baju, Rachel berjalan ke arah meja rias untuk memoleskan sedikit liptint pada bibir nya yang pucat, tidak lupa juga Rachel menaburkan sedikit bedak bayi pada wajahnya.
"Perfect," gumam Rachel menatap pantulan nya sendiri di cermin.
Setelah merasa sudah rapi, Rachel pun keluar menuruni undakan tangga dengan hati - hati.
"Ma, pa," panggil Rachel saat kedua orang tuanya mengobrol di sofa ruang tamu.
"Wah, putri papa cantik sekali," ujar Arman Dirgantara, dia mengecup puncak kepala Rachel dengan lembut.
Tin... Tin... tin
Suara klakson mobil yang berbunyi mengalihkan perhatian mereka. "Itu pasti tamunya," Renata segera berjalan ke arah pintu untuk menyambut ke datangan sang tamu.
"Ya ampun, jeng, udah lama banget kita gak ketemu," Renata bercipika cipiki dengan Anita Satyawidjaya. Yah, ternyata keluarga pak vino lah yang bertamu, tapi tentu saja Rachel belum mengetahui itu.
Adrian Satyawidjaya dan Arman langsung berjabat tangan. Ah, rasanya mereka sudah lama sekali tidak bertemu.
"Oh, iya. Perkenalkan, ini putri kami," ujar Renata memperkenalkan Rachel
"Rachel, Tan, om," Rachel menyalami tangan Anita dan Adrian dengan sopan.
"Ternyata kamu cantik banget, ya," puji Anita yang membuat pipi Rachel bersemu merah.
"Oh iya, anak kalian di mana?" tanya Renata saat tidak mendapati putra Anita dan Adrian.
"Kebetulan tadi kami berangkat nya terpisah,
mungkin dia masih terjebak macet di jalan," jelas Adrian.
Renata dan Arman hanya menganggukan kepalanya. Sedangkan Rachel mengernyitkan kening nya bingung. Siapa yang di maksud oleh kedua orang tuanya? Bukan kah tamu nya hanya om Adrian dan Tante Anita? tanya Rachel dalam hati.
Sambil menunggu orang yang mereka tunggu, Renata dan Anita mengobrol bernostalgia tentang masa SMA. Ya memang, Renata dan Anita adalah sahabat satu sekolah. Sedangkan Arman dan Adrian, kedua pria itu nampak membahas tentang bisnis. Rachel yang merasa bosan pun memainkan ponselnya.
"Maaf, saya terlambat," ujar seorang pria yang baru saja datang.
Rachel yang tadinya fokus pada ponsel pun kini teralihkan pada pria yang memakai jas warna senada dengan dress yang di kenakan nya. Sontak Rachel langsung bangkit dari duduknya dengan mata yang melotot ke arah pria itu.
"PAK VINO!" teriak Rachel.
Vino yang di tatap sedemikian rupa oleh Rachel hanya mampu menampilkan senyum. Dia pun segera menghampiri kedua orang tua Rachel untuk bersalaman.
Tangan Rachel mengucek matanya beberapa kali, apakah yang baru datang itu benar pak Vino gurunya yang killer, dan judes itu?
Ternyata memang benar, Rachel sungguh - sungguh tidak berkhayal ataupun salah lihat. Pria itu adalah guru yang tadi pagi menghukumnya. Rachel berpikir, kenapa gurunya bisa ada di sini?
"Rachel, duduk," tegur Renata.
Rachel pun segera mendudukan tubuhnya di kursi yang tadi. Dia menatap heran ke arah Iima orang dewasa yang satu ruangan dengan dirinya.
'pak Vino ngapain sih, ke rumah gue, pake bawa keluarga nya segala,' batin Rachel bertanya - tanya.
Adrian, papa nya Vino berdehem, sebelum memulai pembicaraan yang serius.
"Kedatangan saya, bersama keluarga saya kemari adalah untuk melamar Rachelia Amora Dirgantara, putri dari bapak Arman Dirgantara. Untuk di jadikan istri bagi putra kami yang bernama, Vino Rakha Satyawidjaya," jelas Adrian yang tentu saja membuat Rachel kaget seketika.
"APA?" teriak Rachel.
Anda Mungkin Juga Suka





