
DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
Bab 3
"APA?" Rachel berteriak. Dia rasa orang tuanya sudah gila, bagaimana mungkin dia menikah dengan seseorang yang dia benci.
"Rachel, yang sopan," Renata yang berada di samping Rachel pun segera mencubit tangan putrinya itu.
Adrian dan Anita menatap kearah Arman seolah meminta penjelasan. Bukan kah rencana perjodohan ini sudah di bicarakan sejak lama? tapi kenapa Rachel seperti orang yang tidak tahu apa - apa.
"Sebenarnya kami memang belum memberitahu, Rachel, karena kami menunggu waktu yang tepat," jelas Arman.
"Tapi, ma, pa. Bagaimana mungkin aku di jodohin dengan guru Aku sendiri?" tanya Rachel memelas.
"Ya emang apa salahnya? Pak vino itu ganteng, pria yang bertanggung jawab. Kamu pasti akan hidup bahagia jika menikah dengan nya," jawab Renata dengan santai.
Gila. Rachel rasa ini sudah benar - benar gila. Jadi muridnya saja dia sudah di buat pusing tujuh keliling. Apalagi jika harus menjadi istrinya, bisa stres dia lama- lama. Mungkin dia juga akan merasa bosan karena hidup berdua dengan orang yang kaku seperti pak Vino. Di tambah lagi mulutnya yang super pedas seperti di masuki cabai.
Pokonya dia harus membuat perjodohan ini batal, bagaimanpun caranya. Selain dia tidak ingin hidup berdua dengan pak Vino, Rachel juga sudah punya kekasih. Dia tidak ingin jika harus meninggalkan Leo dan menyakiti hatinya.
"Tapi, ma, mama kan, sudah tahu kalau aku sudah punya pacar."
"Baru pacar, kan? Kamu masih bisa putusin dia sekarang," jawab Renata santai.
Rachel di buat menganga, bagaimana mungkin, mamanya bisa dengan gampang menyuruhnya untuk meninggalkan Leo? Apakah dia tidak memikirkan perasaan nya.
"Mama tau gak, dia itu udah tega menghukum aku. Bukan cuman satu kali, tapi dia sampai tiga kali nge hukum aku dalam satu hari," Rachel berusaha menjelekan Vino di depan semua orang. Agar Renata tahu bagaimana kelakuan calon menantunya terhadap dirinya.
"Ya mungkin itu karena kamu nya yang nakal, benar kan, nak Vino?" tanya Renata meminta pendapat pada pak Vino.
"Benar, Tan, saya menghukum Rachel juga karena dia tidak mengerjakan tugas yang saya beri," jawab pak Vino.
Nafas Rachel memburu, kedua tangan nya mengepal erat. Dia menatap benci ke arah Vino yang dengan santainya tersenyum mengejek ke arah dirinya.
"Kenapa sih, mama, sama papa, pake nge jodohin Rachel segala? Lagian Rachel itu baru kelas XII. Masa depan Rachel tuh masih panjang, lagian Rachel juga bisa ko, cari calon suami yang lebih baik dari dia," ujar Aurel menggebu, Kedua matanya juga berkaca.
Arman menghembuskan nafasnya, sebenarnya dia juga tidak tega jika melihat Rachel di usia muda sudah harus menjadi istri. Tapi dia pun terpaksa melakukan ini, demi kebaikan putrinya.
"Papa tau masa depan Rachel itu masih panjang banget, tapi nikah muda juga kan bukan masalahnya. Lagian papanya Vino itu donatur tertinggi di sekolah kamu, jadi para guru juga akan menutup rapat tentang pernikahan kamu," ucap Adrian membelai rambut putrinya.
"Tapi, pa, kenapa harus aku?" tanya Rachel dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
"Karena kan, cuman kamu putri papa satu - satu nya. Masa papa mau nyuruh abang kamu buat nikah sama pak Vino," ujar Adrian terkekeh di ikuti semua orang, kecuali Rachel, dia mengerucutkan bibirnya.
"Papa jodohin aku itu karena papa gak mau ngurus aku lagi, kan?" tanya Rachel dengan suara bergetar.
"Bukan nya papa gak mau ngurus, Rachel. Tapi papa sama mama harus menetap untuk sementara waktu di Jerman."
"Tuh kan, emang papa tuh udah bosen ngurusin aku, mangkanya papa pergi keluar negri," ujar Rachel dengan tangis yang semakin menjadi, dia tidak peduli jika keluarga pak Vino akan meledeknya.
"Bukan begitu, papa harus bantuin abang, kamu. Karena perusahaan di sana sedang bermasalah, " Arman segera mendekap tubuh putrinya.
Rachel baru ingat, bahwa kakak laki - laki nya itu sudah tidak pulang selama lima tahun. Lintang Arya Dirgantara pria yang berusia 25 tahun itu merupakan kakak satu - satunya yang Rachel miliki. Tapi Lintang harus menetap di Jerman, karena dia meneruskan perusahaan Arman yang ada di sana.
Arman merasa bersalah, seharusnya dia memberitahu kabar ini sebelumnya, agar Rachel tidak Shok seperti ini.
"Yaudah, kalau mama, papa mau pergi, ya pergi aja. Gak usah jodohin Rachel segala," Rachel segera mendorong tubuh papanya.
"Bagaimana mungkin papa pergi, dan ninggalin putri papa sendirian? Kalau kamu nikah dengan, nak Vino, kan papa ngerasa tenang. Karena kamu ada yang jagain."
"Rachel bisa jaga diri sendiri ko."
"Gak bisa, papa gak akan tenang, kalau ninggalin kamu tanpa ada yang jagain. Pokonya, mau gak mau kamu harus tetep mau nikah dengan Vino!" tegas Arman.
"Papa egois," Rachel segera berlari keluar rumah dengan berderai air mata.
Arman memijit pelipisnya yang terasa pening, ini salahnya karena terlalu memanjakan Rachel, sehingga kini putrinya itu jadi pembangkang.
"Biar saya susul, om," izin, Vino. Arman pun hanya menganggukan kepalanya.
Vino sudah berkeliling di setiap sudut rumah ini, tapi dia belum juga menemukan Rachel. Sebenarnya ke mana gadis itu pergi. Dia teringat, ada satu tempat lagi yang belum dia kunjungi. Taman belakang rumah.
Langkah kaki Vino berhenti saat sudah berada di taman belakang rumah. Matanya menelisik ke seluruh penjuru taman, manik hitam legam itu memicing saat melihat seorang gadis yang sedang menelungkup kan kepalanya di atas lipatan lutut dengan bahu yang bergetar.
Tungkai Vino berjalan kearah gadis itu, dia menghela nafas saat orang yang sejak tadi di carinya ternyata malah di sini sambil menangis.
Saat merasa ada seseorang yang duduk di sebelahnya, Rachel mendongkakan kepalanya. Dia menatap nyalang ke arah orang itu saat tahu siapa yang duduk di samping nya.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Rachel dengan wajah yang sembab serta mata memerah.
"Mau nyamperin orang yang lagi nangis sendirian di taman," jawab Vino.
Rachel mencebikan bibirnya kesal, kaki yang sejak tadi di lipat kini di turunkan.
"Lo kenapa sih nerima perjodohan ini?" tanya Rachel menatap ke bawah dengan kaki yang di ayunkan.
"Ingin membahagiakan orang tua."
Rachel merasa alasan itu cukup klise, bukan kah Vino sudah mapan, punya pekerjaan yang tetap apakah kedua orang tua nya belum juga cukup bahagia?
"Lo itu kan, udah punya penghasilan sendiri dan juga pekerjaan yang tetap, masa orang tua lo belum juga bahagia sih?"
"Mama dan papa saya ingin melihat saya menikah. Dan saya rasa, tidak ada salah nya saya menerima perjodohan ini jika itu bisa membuat mereka bahagia."
"Tapi kan, lo bisa nikah sama perempuan lain yang seumuran sama lo. Bukan sama gue yang umurnya jauh banget."
"Tapi orang tua saya hanya ingin saya menikah dengan kamu."
Rachel terdiam, bagaimana mungkin dia harus menikah dengan pria yang umurnya jauh sekali. Bahkan Vino lebih cocok menjadi abang nya.
Perbedaan umur Rachel dan Vino memang cukup jauh. Rachel 17 tahun, sedangkan Vino 25 tahun. Rachel pasti akan merasa canggung dengan perbedaan umur itu, di tambah lagi Vino yang berprofesi sebagai guru yang mengajar di sekolahnya.
"Saya tidak akan memaksa kamu untuk menerima perjodohan ini," ujar Vino lalu setelahnya dia meninggalkan Rachel.
Beberapa saat Rachel terdiam, dia berperang dengan hati dan pikiran. Setelah di rasa mendapatkan jawaban yang di rasa pas, Rachel pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana, apakah Kamu mau menikah dengan anak, tante?" tanya Anita saat Rachel kembali mendudukan bokongnya di sofa.
Rachel menarik nafasnya, dia berusaha meyakinkan diri bahwa ini memang jawaban yang pas. Dengan pelan, Rachel menganggukan kepalanya. "Iya, Rachel mau menikah dengan, pak Vino."
"Alhamdulilah," ucap serentak semua orang di dalam ruangan itu.
Sedangkan Rachel hanya tersenyum kecut ketika melihat semua orang menyunggingkan senyum bahagianya. Sedangkan dirinya harus merelakan masa depan nya dengan menikahi gurunya sendiri.
"Kalau begitu, kita langsung tentukan saja tanggal pernikahan nya," ujar Adrian.
"Bagiamana kalau dua minggu lagi?" usul Arman meminta pendapat.
"Bagaimana, Rachel, apakah kamu setuju?" tanya Renata.
"Kalau Rachel sih, terserah kalian. Gimana baiknya aja," jawab Rachel. Rasanya dia sudah lelah dengan semua yang terjadi hari ini.
"Berarti sudah fixs ya, dua minggu lagi," ucap Anita.
"Karena sudah deal, bagaimana kalau kita merayakan nya dengan makan malam, dengan hidangan yang sudah kami siapkan?" ajak Renata.
Mereka semua pun segera berjalan ke arah meja makan. Makan malam kali ini terlihat hangat di penuhi dengan canda tawa di antara kedua keluarga yang sebentar lagi akan menjadi besan.
Sedangkan Rachel hanya mengaduk makanan nya tidak berselera. Dia menyesali ajakan mama nya untuk makan malam bersama, jika saja tadi dia tetap berada di dalam kamar, mungkin perjodohan ini tidak akan terjadi.
Rachel berpikir bagaimana nanti jika dia sudah menjadi istri dari Vino, menjadi guru saja dia sudah bertindak se mena - mena terhadap dirinya. Apalagi jika nanti sudah menjadi suami.
Anda Mungkin Juga Suka





