Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DERITA PERNIKAHAN PAKSA

DERITA PERNIKAHAN PAKSA

Hidup Vivian hancur setelah terikat pernikahan paksa dengan Maximilian Windsor. Setiap hari ia harus menanggung siksaan fisik dan batin yang meninggalkan trauma mendalam. Di tengah penderitaan tersebut, muncul River, pria lembut yang menjadi pelindung sekaligus penyemangat hidupnya. Namun, obsesi Max yang kian gila memicu insiden tak terduga hingga Vivian mengandung anak dari pria yang paling ia benci. Kini ia terjebak di antara cinta tulus River atau Max yang merupakan ayah dari bayinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan hari, di sebuah hotel ternama, Max terbangun akibat cahaya yang memancar dari celah tirai jendela kamar.

Tring!!!

Dering ponsel tiba-tiba berbunyi. Max meraba-raba meja untuk meraih ponsel dengan segera.

"Halo," ucap Max dengan suara serak, bahkan matanya masih tertutup tak mau terbuka.

"Papa tunggu di kafe Dellie jam 8, tak ada alasan untuk kau telat," ucap dari seberang sana.

Max langsung menutup panggilan tersebut, tak ada yang penting dari perintah pria tua itu. Dia menjatuhkan kepalanya lagi, melanjutkan kembali tidur paginya dengan tenang.

Ting...

Sebuah bunyi pesan tiba-tiba muncul. Seperti biasa mungkin Laura telah mengirimi foto cantik kepadanya, lantas Max mengambil ponsel lagi untuk membuka pesan tersebut.

Matanya memicing, namun saat dilihat tak ada satupun pesan yang dapat diterima dari sang kekasih. Berlainan dengan sang ayah, puluhan pesan berjejer di layar ponsel. Dengan asal Max menggulir pesan tersebut sampai tiba matanya menangkap satu pesan yang berhasil membuatnya terduduk dengan cepat.

"Dia bersama papa, cepat temui Papa di kafe Dellie, Papa tidak akan berbuat apa-apa padanya," dengan di sertai sebuah kiriman foto wanita berbaju hitam dengan rambut lurus, tengah duduk sambil meminum kopi.

Melihat wanita yang dicintai berada bersama sang ayah, Max dengan cepat menyingkap selimut, berlari memakai kaos dengan di balut jaket hitam. Tak lupa topi serta masker hitam dia kenakan sebagai alat penyamaran.

...

Tak membutuhkan waktu lama, Max telah tiba.

"Hosh...hosh..."

Ketika sampai di pintu masuk sebuah lambaian tangan dari seorang pria tua tiba-tiba menyambutnya dengan gembira. Begitu pun gadis di sampingnya senantiasa tersenyum hangat, ikut menyambut kehadirannya.

Max cukup tersentak saat melihat siapa tamu di depan sang ayah, ada rasa tidak nyaman saat melihat wajah tersebut. Namun Max mengabaikan sejenak pikiran itu, lalu dengan cepat menghampiri Jun.

"Di mana dia?" tanya Max pada intinya.

"Duduk, jika kau menurut, Papa akan memberitahu di mana wanita itu," bisik Jun, matanya seakan menyuruh Max untuk patuh.

Dengan malas pria itu duduk tepat di hadapan wanita yang akan menjadi calon istrinya sebagaimana yang telah sang ayah beritahukan padanya. Dia melipat kaki dan kedua tangan, hingga terasa aura mendominasi yang sangat kuat dari sosok dirinya.

Berbeda dengan Vivian, wanita itu tetap memberikan senyum ramah, menyambut hangat kedatangan Max.

"Ayo, kalian berkenalan lah." William membuka obrolan.

"Benar, Willi bukankah kita harus mendiskusikan proyek produk kita yang baru, bagaimana kalau kita pergi saja, biarkan mereka berkenalan tanpa kita?"

William melirik putrinya. Seakan mengerti, Vivian membalas dengan anggukan kepala.

"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu, nikmati waktu kalian berdua."

Dalam waktu singkat William dan Jun hilang dari pandangan. Max menatap intens wanita didepannya. Tidak terlihat ada yang menarik, wajah pasaran, rambut coklat bergelombang, pakaian tertutup dan sederhana. Tak ada satu pun yang dapat menarik perhatiannya.

Berlainan dengan Vivian, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ada rencana yang harus dia tuntaskan.

"Aku..."

"Tolak pernikahan ini, kau bisa melakukannya kan?" Belum sempat Vivian berbicara, Max langsung menyela.

Tiba-tiba alis Vivian menaik "kenapa?" Wanita itu bertanya dengan spontan.

"Kenapa? Kau masih belum mengerti situasinya ya." Max merubah posisi kaki menjadi sejajar, tampak tawa remeh terdengar sampai tiba saat dimana mata biru berkilau milik Max menatapnya begitu dalam.

"Kau pikir kau pantas menikah denganku?" tanya Max meremehkan.

Deg!

Mendengar pertanyaan tersebut seketika jantung Vivian berhenti sejenak. Walaupun sejak awal dia sadar ada yang aneh dengan sikap pria didepannya kini, namun Vivian tak pernah tahu percakapan pertama mereka akan berlangsung seburuk ini.

Vivian melihat wajah Max yang hanya memperlihatkan bagian mata, tampak tajam lekat dengan keangkuhan.

"Ini tidak akan mudah," batin Vivian.

Mereka menghabiskan waktu dalam diam cukup lama. Rencana menjalin kerjasama seketika urung untuk sementara.

"Akh...aku ingin segera pulang," gerutu Vivian, kesal karena tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Setelah William dan Jun tiba, kedua orang tua itu tampak senang setelah berbincang, terutama masalah pekerjaan. Namun berbeda dengan Vivian, gadis itu ingin segera pergi sejak Max melontarkan kata-kata yang menyakitkan padanya.

"Pa ayo pulang," bisik Vivian menarik kain lengan William kala pria itu datang.

"Baiklah, sekarang kita pulang ya," balas Willi sembari mengusap rambut Vivian.

"Jangan lupa, seminggu lagi pernikahan akan dimulai, siapkan diri kalian baik-baik." Jun mengingatkan.

"Apa?" Vivian terkejut, matanya membulat tak percaya. Sementara Max tampak biasa, diam bagai patung tak bernyawa.

"Bukankah begitu Willi?" Jun melemparkan pertanyaan seakan meminta persetujuan.

"Ya, memang begitu." William pasrah.

Pertemuan berakhir singkat. Vivian membungkuk hormat untuk berpamitan. Sementara Jun tak lelah memandang putri temannya itu dengan pandangan bangga.

"Dia sudah tumbuh dewasa sekarang," gumam Jun.

Setelah William dan Vivian pergi, Jun merapikan jas hendak pergi mengisi jadwal pertemuannya lagi. Ketika langkah kaki Jun kian menjauh, tiba-tiba Max menahan sang ayah dengan lontaran pertanyaan singkat.

"Di mana dia?" tanya Max pada sang ayah.

Langkah Jun terhenti, terdengar sebuah helaan nafas berembus berat dari hidungnya.

"Dia tidak di sini."

"Papa!" bentak Max, dia langsung membalikkan badan menatap sang ayah yang hendak pergi.

"Dia akan baik-baik saja, selama kau mematuhi perintah papa," jawab Jun tanpa peduli, lalu melanjutkan langkahnya.

Mendengar jawaban tersebut, Max langsung terdiam dan tertunduk. Bola matanya kian menampakkan guratan merah di sekelilingnya. Tangannya yang indah mulai mengerucut membentuk kepalan kuat hingga samar-samar terlihat guratan hijau membentang di punggung tangannya.

"Aku? Harus patuh?" pekiknya.

Bak!

Meja ditampar hingga menimbulkan suara menggelegar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BOS! JATUH CINTA LAGI
7.8
Nayana Previtha dan Regan Maxwell dipertemukan oleh pengkhianatan menyakitkan dari pasangan masing-masing. Terikat nasib serupa, Regan mengajak Nayana menjalin kerja sama demi membalas dendam kepada para mantan kekasih. Namun, rencana tersebut justru memicu benih asmara yang tak terduga di antara mereka. Seiring berjalannya waktu, keduanya terjebak dalam rasa cinta dan ketergantungan. Akankah hubungan mereka berakhir bahagia atau justru luka baru?
Sampul Novel Dinodai Calon Kakak Ipar
8.1
Hidupku hancur setelah calon kakak iparku sendiri menodai kesucianku tepat sebelum hari pernikahan. Alih-alih dibela, aku justru difitnah sebagai penggoda dan diusir dari keluarga. Demi bertahan hidup, aku terpaksa menjual diri kepada pria kaya raya. Bertahun-tahun berlalu, tak disangka pria brengsek itu muncul kembali sebagai pelangganku. Ia bahkan menyewaku secara eksklusif selama sebulan penuh. Apa sebenarnya rencana licik yang ia siapkan kali ini?
Sampul Novel Ex-Husband Or Mr. Ceo
9.4
Pasca kegagalan rumah tangganya, Leira bertekad bangkit demi masa depan sang putra. Ia memutuskan kembali ke Chicago untuk mengejar karier di sebuah perusahaan penerbitan. Namun, situasi menjadi rumit saat ia harus bekerja di tempat yang sama dengan mantan suaminya. Di sisi lain, Leira terjebak dalam kesalahpahaman dengan sang CEO. Akankah ia mampu menjaga hatinya tetap tegar, atau justru menemukan cinta yang baru di tengah konflik ini?
Sampul Novel I Love You
8.7
Selama dua dekade, seorang CEO muda yang rupawan menghabiskan hidupnya demi mencari sosok cinta sejati yang ia idamkan. Penantian panjang tersebut akhirnya menemui titik terang saat takdir mempertemukannya dengan orang yang dicari melalui sebuah peristiwa yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di tengah kemewahan dunianya, ia harus menghadapi momen tak terduga yang akan mengubah seluruh perjalanan asmara serta masa depan hidupnya.
Sampul Novel Kau Ceraikan Aku, Tetapi Anakku Akan Menjadi Pewaris
9.3
Lara terpaksa menceraikan Elara akibat tekanan sang ibu mertua yang memandang rendah statusnya sebagai putri sopir. Elara yang dulu hangat berubah menjadi dingin dan membiarkan pernikahan rahasia mereka hancur. Setelah malam tak terduga yang dianggap Elara sebagai momen bersama Elena, ia resmi bertunangan dengan wanita itu. Lara yang patah hati memilih mengasingkan diri ke desa untuk membuat sabun organik, tanpa menyadari bahwa dirinya tengah mengandung pewaris suaminya.
Sampul Novel LILYA - Gadis yang Digadaikan Keluarga
8.2
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Lilya terpaksa menggantikan kakaknya, Kenanga, untuk menikahi pria dari keluarga Gunawan yang dirumorkan sebagai pak tua mesum. Namun, saat pernikahan berlangsung, sosok misterius bernama Evan itu ternyata masih muda dan tampan. Evan membantah semua tuduhan buruk yang selama ini Lilya dengar. Akankah Lilya menemukan kebahagiaan bersama Evan, ataukah obsesi Kenanga akan menghancurkan rumah tangga mereka?