Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DERITA PERNIKAHAN PAKSA

DERITA PERNIKAHAN PAKSA

Hidup Vivian hancur setelah terikat pernikahan paksa dengan Maximilian Windsor. Setiap hari ia harus menanggung siksaan fisik dan batin yang meninggalkan trauma mendalam. Di tengah penderitaan tersebut, muncul River, pria lembut yang menjadi pelindung sekaligus penyemangat hidupnya. Namun, obsesi Max yang kian gila memicu insiden tak terduga hingga Vivian mengandung anak dari pria yang paling ia benci. Kini ia terjebak di antara cinta tulus River atau Max yang merupakan ayah dari bayinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Keesokan hari, di kediaman Windsor ...

Brak!

Sebuah kendi berhasil dilempar dengan sempurna hingga pecahannya berserakan di mana-mana.

"Pa, bisakah Papa diam saja, jangan urusi kehidupanku!" bentak Max. Nafasnya terengah-engah dengan emosi yang tertahan. Luka akibat pecahan kaca di tangannya bahkan masih meneteskan darah kental, sampai menggenang di lantai.

Jun hanya duduk sembari menyaksikan amukan sang anak.

"Kehidupanmu? Kau tahu, nama Windsor hampir ternodai karena siapa?" Jun mulai berdiri, mendekati sang putra.

"Tck, itu karena Papa yang selalu mencampuri urusanku!" Max tak kalah mengeraskan suaranya.

"Kau pikir Papa begini karena apa? Kau pasti lebih tahu tentang bagaimana keluarga Laura. Seperti ini kah caramu menjatuhkan nama keluarga kita!"

Bola mata yang tampak membara tak lepas tertuju pada Jun, seiring langkah demi langkah yang semakin dekat dengan sang anak.

Tak... Tak...

Langkah tenang terhenti tepat didepan Max. Kedua tangan pria berkepala empat itu dilipat di depan dada sambil melihat mata Max yang kian menunjukkan sorot tajam padanya.

"Dengarkan Papa baik-baik. Nama Windsor ada di belakang namamu, orang-orang mengenalmu sebagai Aktor kebanggan dari keluarga ini. Jadi jika kau kabur esok saat pernikahan berlangsung, jangan salahkan papa jika terjadi sesuatu pada Laura. Kau yang membuat ulah, maka Papa akan pastikan Laura yang akan menanggung akibatnya." Suara Jun begitu kental akan ancaman, bahkan Max yang mendengarkan, berkali-kali menahan diri untuk tidak mendaratkan pukulan pada pria tua itu.

Melihat sorot mata biru itu, Jun sudah tahu kesabaran Max tidak tersisa banyak. Pria tua itu mendaratkan satu tepukan di bahu sang anak lalu dia akhiri pertemuan kali ini dengan satu bisikan singkat.

"Ini perintah."

...

Keesokan harinya, di sebuah vila bernuansa klasik, berlangsung acara pernikahan yang sederhana. Seorang pria bertubuh jangkung dengan bahu yang indah dan rambut tertata rapi, duduk berdampingan dengan sang permaisuri satu malam. Wanita cantik itu, bagai bidadari, ikut duduk di singgasana, menyambut para tamu yang datang dengan wajah yang berseri-seri.

"Terima kasih." Kalimat tersebut diucapkan berulang-ulang oleh kedua mempelai sepanjang hari.

Hingga pukul 15.00, para tamu masih berdatangan, membuat Vivian, wanita cantik yang menjadi tokoh utama hari ini, merasa lelah dan memilih untuk duduk sejenak. Dia merasakan otot-otot kakinya yang mulai menegang dan memutuskan untuk meregangkannya.

"pegal," gumam Vivian.

Vivian melirik pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Wajah tampan itu tersenyum tenang dan ramah, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh Vivian sebelumnya. Terlebih setelah berita tentang kerusuhan besar di kediaman Windsor terjadi, Vivian tidak pernah membayangkan bahwa Max bisa bersikap baik pada hari pernikahan mereka.

"Aku kira dia akan membuat ulah," batin Vivian.

...

Malam menjelang, kedua pihak keluarga memutuskan untuk menginap satu malam. Hal ini membuat Vivian lega, sepertinya malam pertama yang akan dia lewati bersama pasangan politiknya itu akan berlalu begitu saja.

Setelah membersihkan diri, Vivian kini tampak bersih dan rapi dengan setelan pakaian tidur sehari-harinya. Dia berjalan pelan dari lantai atas, menuruni tangga satu per satu mendekati sang ibu yang sedang berada di dapur untuk menyeduh kopi.

Tak... Tak...

Mendengar suara langkah kaki lantas Evelyn menoleh.

"Kamu belum tidur, Nak?" tanya Evelyn.

"Hm.. Ma, aku belum mengantuk," jawab Vivian sambil mendekat.

"Mau kopi? Mama buatkan, ya," tawar Evelyn sambil menyiapkan segelas kopi.

"Ma, aku ingin mengobrol sebentar," pinta Vivian kepada sang ibu dengan wajah ragu.

Namun, sebelum Evelyn sempat menjawab, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat.

"Maaf, Ma. Bolehkah aku mengambil istriku? Aku membutuhkannya malam ini," ucap Max, yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.

"Oh, iya tidak apa-apa. Ambil saja, Mama pergi ke kamar dulu ya. Kalian semangat!" jawab Evelyn sembari mengepalkan kedua tangan untuk menyemangati pengantin baru melewati malam pertama mereka. Setelah itu, Evelyn langsung pergi menuju kamar yang telah disiapkan.

"Akh... Mama..." gerutu Vivian dengan nada kecewa, memandang punggung sang ibunda yang kian menghilang.

Setelah Evelyn benar-benar pergi, kini hanya menyisakan mereka berdua. Suasana menjadi sepi, tidak terdengar sedikit pun suara. Dalam situasi itu, tiba-tiba Max menarik pergelangan tangan istrinya dengan kasar, menarik paksa menuju lantai atas hingga Vivian terseret dengan keras.

"Argh..."

Kepalan tangan Max yang kuat terus menariknya, hingga sampai di kamar pengantin...

Bak!

Max melempar tubuh kecil Vivian dengan kasar hingga terhampar di atas ranjang. Pria itu langsung mencengkeram lengan Vivian dengan sangat keras.

"WANITA MURAHAN!" bentak Max sambil mengimpit Vivian dan mencengkeram lengan wanita itu dengan kuat.

Vivian hanya bisa diam, terimpit kesakitan tanpa bisa melawan.

"Akh..." rintihnya menahan rasa sakit.

Tindakan Max benar-benar diluar sangkaan, seolah-olah sisi lain dari dirinya tiba-tiba muncul. Baru beberapa detik yang lalu, wajah pria itu masih tersenyum. Namun sekarang, bahkan untuk berwajah datar saja sepertinya tidak mungkin terjadi.

"Arghh..." Max melepaskan cengkeraman kasar pada lengan istrinya, terdengar suara rintihan samar yang mengilukan. Seperti tulang yang kokoh tiba-tiba hancur dengan kasar.

Vivian perlahan bangkit, sambil menahan lengan yang sangat sakit. Otaknya tak mampu berfikir namun nalurinya mengatakan apa pun kebencian yang dimiliki pria itu terhadapnya, amarahnya saat ini mungkin reda dengan cepat.

Dengan ketakutan yang melanda, Vivian bergegas meninggalkan kamar. Max terlihat menggerutu kesal, berlalu di belakangnya. Saat Max lengah...

Secepat mungkin, Vivian berlari menuju pintu untuk menyelamatkan diri.

Cklek...

Ketika gadis itu mencoba membuka pintu, sayangnya nasib tidak berpihak padanya. Pintu itu tidak bisa terbuka, semakin dia berusaha, suara yang dihasilkan semakin jelas, dan berhasil membuat Max segera berbalik dan menatap tajam ke arahnya.

Tak... Tak...

Bulu kuduk Vivian berdiri tegak. Dalam keheningan, detak jantung terdengar semakin keras. Napas tersengal-segal seolah berhenti sejenak. Hingga akhirnya, hembusan napas panas terasa di bahunya, barulah Vivian benar-benar kehilangan napas.

"Hah? Mau kabur?" tanya Max, membuat bulu kuduk Vivian berdiri total.

Gadis itu terdiam di tempat, merasakan aura menusuk serta ketakutan yang sangat dalam. Tubuhnya gemetar, dengan keringat yang perlahan mengalir membasahi tubuh.

Sejenak, keheningan menjalar dan...

Bak!

Tangan yang kuat menghantam pintu dengan keras, menimbulkan suara gemuruh hingga terbentuk retakan kecil di sekitarnya. Seketika itu juga, Vivian langsung menciut ketakutan dan memejamkan mata tanpa daya.

"Mau melarikan diri?" bisik Max dari belakang. Di sisi lain, gadis dengan rambut coklat indah itu terdiam membeku, berusaha menahan getaran yang tiba-tiba tak terkendali.

Max semakin mendekat, tersenyum dengan pahit sambil berbisik dengan nada ancaman. "Kau tak akan bisa lolos dariku."

Set...

Max mengangkat tubuh kecil wanita itu, melemparnya ke arah sofa hingga terdengar suara benturan antara tulang dan kayu.

Pria itu seakan kehilangan kendali, dengan sigap, dia mengambil sebuah benda tajam dari salah satu laci, sambil mengusapnya pelan-pelan silih berganti.

Melihat itu, seketika Vivian terkejut. Dalam bayangannya, apakah ini akhir dari kehidupannya? Sesal dirasakannya ketika dia mengabaikan ucapan Max pada pertemuan pertama dahulu.

"Tolak pernikahan ini, kau bisa melakukannya kan?"

Mengapa Vivian tidak mendengarkan perintahnya? Apakah ini bentuk balas dendam atas ketidakpatuhannya terhadap perintahnya?

Kilauan cahaya mulai terlihat samar di kejauhan. Tetesan air mata mengalir membanjiri wajah, membuat wajah cantik itu berubah sembab dan menyedihkan.

Max mendekati wanita yang berlumur keringat dan air mata.

"Jangan!" jerit Vivian kehilangan suara.

Sret...

Bagian bawah baju wanita itu tersayat hingga membentuk sebuah tali.

Vivian tidak bisa berkata-kata lagi, bahkan satu kata pun terasa tersengal dan tidak mampu keluar dengan jelas. Max langsung memaksa istrinya berdiri, mengikat pergelangan tangan Vivian hingga kedua tangannya menggantung pada batang tumpuan tirai. Untungnya, Max masih membiarkan kaki wanita itu menyentuh lantai. Jika tidak, maka malam ini benar-benar akan menjadi malam terakhir wanita itu menghembuskan nafas.

Dalam keadaan yang penuh ketakutan, Max mengangkat dagu istrinya yang begitu menyedihkan.

"Kau, nikmatilah malam ini," ucap Max dengan senyuman miring diujung bibirnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BOS! JATUH CINTA LAGI
7.8
Nayana Previtha dan Regan Maxwell dipertemukan oleh pengkhianatan menyakitkan dari pasangan masing-masing. Terikat nasib serupa, Regan mengajak Nayana menjalin kerja sama demi membalas dendam kepada para mantan kekasih. Namun, rencana tersebut justru memicu benih asmara yang tak terduga di antara mereka. Seiring berjalannya waktu, keduanya terjebak dalam rasa cinta dan ketergantungan. Akankah hubungan mereka berakhir bahagia atau justru luka baru?
Sampul Novel Dinodai Calon Kakak Ipar
8.1
Hidupku hancur setelah calon kakak iparku sendiri menodai kesucianku tepat sebelum hari pernikahan. Alih-alih dibela, aku justru difitnah sebagai penggoda dan diusir dari keluarga. Demi bertahan hidup, aku terpaksa menjual diri kepada pria kaya raya. Bertahun-tahun berlalu, tak disangka pria brengsek itu muncul kembali sebagai pelangganku. Ia bahkan menyewaku secara eksklusif selama sebulan penuh. Apa sebenarnya rencana licik yang ia siapkan kali ini?
Sampul Novel Ex-Husband Or Mr. Ceo
9.4
Pasca kegagalan rumah tangganya, Leira bertekad bangkit demi masa depan sang putra. Ia memutuskan kembali ke Chicago untuk mengejar karier di sebuah perusahaan penerbitan. Namun, situasi menjadi rumit saat ia harus bekerja di tempat yang sama dengan mantan suaminya. Di sisi lain, Leira terjebak dalam kesalahpahaman dengan sang CEO. Akankah ia mampu menjaga hatinya tetap tegar, atau justru menemukan cinta yang baru di tengah konflik ini?
Sampul Novel I Love You
8.7
Selama dua dekade, seorang CEO muda yang rupawan menghabiskan hidupnya demi mencari sosok cinta sejati yang ia idamkan. Penantian panjang tersebut akhirnya menemui titik terang saat takdir mempertemukannya dengan orang yang dicari melalui sebuah peristiwa yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di tengah kemewahan dunianya, ia harus menghadapi momen tak terduga yang akan mengubah seluruh perjalanan asmara serta masa depan hidupnya.
Sampul Novel Kau Ceraikan Aku, Tetapi Anakku Akan Menjadi Pewaris
9.3
Lara terpaksa menceraikan Elara akibat tekanan sang ibu mertua yang memandang rendah statusnya sebagai putri sopir. Elara yang dulu hangat berubah menjadi dingin dan membiarkan pernikahan rahasia mereka hancur. Setelah malam tak terduga yang dianggap Elara sebagai momen bersama Elena, ia resmi bertunangan dengan wanita itu. Lara yang patah hati memilih mengasingkan diri ke desa untuk membuat sabun organik, tanpa menyadari bahwa dirinya tengah mengandung pewaris suaminya.
Sampul Novel LILYA - Gadis yang Digadaikan Keluarga
8.2
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Lilya terpaksa menggantikan kakaknya, Kenanga, untuk menikahi pria dari keluarga Gunawan yang dirumorkan sebagai pak tua mesum. Namun, saat pernikahan berlangsung, sosok misterius bernama Evan itu ternyata masih muda dan tampan. Evan membantah semua tuduhan buruk yang selama ini Lilya dengar. Akankah Lilya menemukan kebahagiaan bersama Evan, ataukah obsesi Kenanga akan menghancurkan rumah tangga mereka?