Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Derita Penantian Cinta

Derita Penantian Cinta

Almira adalah sarjana asal desa yang bekerja di perusahaan swasta. Tekanan muncul saat ayahnya mendesak Almira segera menikah karena sang adik sudah bertunangan. Sang ayah takut Almira akan sulit mendapat jodoh jika dilangkahi adiknya, yang dianggap sebagai aib keluarga. Meski dipaksa melalui berbagai perjodohan, Almira menolak semua pria itu karena merasa tidak cocok. Sikapnya memicu kemarahan ayah yang kini melabeli Almira sebagai gadis sombong dan pemilih.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku berada di kamar ku, aku menyimpan buku novelku yang baru saja ku baca di nakas. Suara jangkrik seakan ingin mengantarkanku untuk tidur. Namun baru saja aku menarik selimut, pintu kamarku tiba-tiba diketuk.

Tok tok tok.

“Mir..!” terdengar suara Bapak memanggil.

“Iya, Pak?” sahutku lalu membuka pintu.

“Mir, itu ada Om Ridwan di depan,” ucap Bapak bersemangat.

“Om Ridwan, datang ke sini Pak?” tanyaku mengeryit.

“Iya. Itu Om Ridwan bawa laki-laki yang mau dikenalin ke kamu. Sekarang orangnya ada di depan, kamu samperin sana,” perintah Bapak.

“Hah? Tapi ini kan udah malem Pak, ini udah jam berapa,” seruku.

“Udah, kamu jangan kebanyakan alesan, pokoknya kamu siap-siap, samperin ke depan. Orangnya udah datang kesini, masa mau dianggurin,” decak Bapak kesal

Aku menghela nafasku dulu, entah apa yang aku rasakan, hatiku merasa tak enak. Aku sama sekali tidak pernah menyukai situasi seperti ini. Aku lalu terpaksa bersiap, memakai kerudung lalu menemui pemuda itu.

“Om,” ucapku lalu menyelami tangan adik dari Bapak itu.

“Mir,”

Aku lalu tersenyum kecil pada pemuda yang dibawa oleh Om Ridwan.

“Mir, kenalin, ini namanya Aris. Aris, ini Mira, keponakan Om. Kalian ngobrol aja yah, Om mau ngobrol sama Bapak soalnya,” tutur Om Ridwan.

Bapak dan Om Ridwan lalu meninggalkanku dengan pemuda itu. Pemuda yang menurutku lumayan sedikit gemuk dengan tinggi badan sekitar 165 cm lalu berat badan sekitar 85 kg. Memakai kaos berwarna putih, terlihat ketat dan sempit dibagian lengan dan perutnya, serta terlihat seperti kaos dalam. Perutnya yang terlihat buncit menonjol, dan memakai celana jeans model pensil yang juga ketat ke bawah serta wajahnya yang tampak berkeringat.

“Silahkan, duduk Mas,” ucapku.

Aku dan pemuda itu duduk di teras depan rumah.

"Mira yah, namanya?" tanyanya.

"Iya,” jawabku.

"Oh iya, manggilnya jangan pake Mas dong. Kalo langsung nama aja gimana? Biar lebih akrab," ujarnya.

Aku menghela nafasku pelan.

"Maaf Mas, saya ga terbiasa manggil orang dengan sebutan nama langsung," balasku.

"Oh gitu, ya udah lah," ucapnya seakan setuju.

"Oh iya, Masnya mau minum apa?" tanyaku.

“Emm, ga usah repot-repot,” jawabnya sungkan.

"Ga apa-apa. Mau kopi, teh?" tanyaku lagi. Meskipun aku tidak menyukai kedatangannya, tapi ia tetaplah tamu di rumahku. Sudah sewajarnya aku menawarkan hidangan meskipun hanya berupa minuman.

“Kopi boleh deh,” sahutnya.

"Sebentar,”

Aku pergi ke dapur untuk membuatkan kopi, setelah itu membawakannya untuk pemuda itu.

"Ini kopinya, silahkan,” aku meletakkan secangkir kopi di atas meja yang menjadi jarak antaraku dan dia.

"Makasih yah," ucapnya lalu langsung menengguknya.

“Masnya kenal di mana sama Om Ridwan?” tanyaku membuka topik.

Aku memang pendiam, tak banyak yang aku lakukan selain bekerja dan bersih-bersih rumah. Tapi aku cukup tau bagaimana menghargai orang yang tengah mengobrol denganku.

"Oh itu. Kebetulan Om aku itu temennya Om Ridwan. Waktu itu aku nganterin Om aku ke rumah Om Ridwan, terus ketemulah sama Om Ridwan, ya kita jadi ngobrol-ngobrol gitu. Terus Om Ridwan bilang katanya ada keponakan dia yang lagi nyari calon suami," jawab Aris.

Aku langsung mengeryit.

"Om Ridwan bilang gitu?" tanyaku sedikit terkejut. Karena aku merasa tidak pernah meminta bantuan Om Ridwan untuk mencarikanku jodoh. Mungkin ini permintaan Bapak, karena Bapak kerap kali bercerita pada adiknya itu.

"Iya, ternyata orang itu kamu? Jadi kamu belum punya pacar? Terus sekarang kamu mau nyari calon suami?" tanyanya. Sontak membuatku langsung menoleh padanya.

Aku hanya bisa diam, berpikir seraya sesekali menghela napas.

"Jadi bener kamu belum punya pacar? Tapi kalo pacaran, kamu pasti udah pernah kan?" lontar Aris.

"Apa?" tanyaku heran. Aku tidak mengerti apa maksud pertanyaannya.

"Iya, kamu udah pernah pacaran kan?" Aris seakan memperjelas pertanyaannya.

"Memangnya kenapa?" sungutku.

"Ya ga apa apa. Soalnya yang aku liat, kamu keliatan kaku banget, terlalu formal, padahal lagi ngobrol sama cowok," tuturnya.

Aku mengernyitkan dahiku dulu, mencoba mencerna ucapan Aris.

"Udah, kita ngobrolnya santai aja. Di sini udaranya enak yah ternyata, aku jadi lebih seger ga kepanasan lagi," ujarnya seraya menatap ke atas.

"Kepanasan kenapa?"

"Iya, tadi itu pas pulang kerja tiba-tiba motor aku mogok di jalan, jadi terpaksa aku dorong. Untungnya di depan jalan sana ada bengkel, jadi tadi aku ke sini jalan kaki, soalnya kan motornya di bengkel. Ya, sekalian nyari angin, lumayan capek juga ngedorong motor, sampe keringatan," tuturnya sambil menyeka keringat di lehernya.

"Jadi Mas Aris ini, habis pulang kerja langsung ke sini?" tanyaku.

"Iya, tadi itu aku kebagian shift siang jadi pulangnya malem. Ya daripada bolak balik ke kontrakan, takut kemalaman juga kan, mending langsung aja pulang kerja ke sini. Lagian kata Om Ridwan, kamu udah nungguin aku,” jawabnya.

“Apa?” tanyaku terkejut.

Sementara Aris dengan santai menghirup kopinya lagi. Aku membuang wajahku seraya menghela nafas.

"Terus motornya kenapa bisa mogok?" sungutku lagi.

"Ga tau, kayaknya harus ganti aki. Tapi ganti aki itu kan lumayan mahal yah, aku juga belum gajian. Lagian aku sih maunya ganti motor bukan ganti aki, tapi ganti motor juga lebih mahal lagi," jawabnya mengeluh.

Aris lalu mengambil sesuatu di saku celananya, dan ternyata itu adalah sebungkus rokok. Aris menyalakan korek dan membakar ujung rokok itu, dan dengan santainya ia merokok di depan ku. Sungguh pemandangan yang sangat aku benci.

"Kamu katanya kerja di kantoran yah?" tanyanya seraya meniup asap rokok dari dalam mulutnya.

“Iya,”

"Udah lama?"

“3 tahun,"

Aku menjawab dengan ketus dan singkat seraya menahan nafas karena asap rokok Aris yang menyebar.

"Uhuk.. Uhuk… uhuk!” aku batuk karena menghirup asap rokok.

Namun Aris masih saja asyik merokok tanpa memperdulikan aku yang tengah batuk karena asap rokoknya.

"Lumayan udah lama juga yah. Umur kamu sekarang berapa? Kalo aku 27 tahun," tanyanya lagi, seakan tidak terbesit rasa bersalah sedikit pun.

"26 tahun," jawabku singkat seraya memalingkan wajahku.

"Wah lumayan udah dewasa yah, untuk ukuran cewek," ujarnya.

"Maksudnya?" tanyaku mengeryit.

"Ya, udah sepantasnya menikah. Kan katanya idealnya cewek itu paling lambat nikah di umur 25 tahun. Kamu kan sekarang udah 26 tahun, ya berarti udah termasuk telat nikah itungannya" jawabnya.

Aku sedikit tercengang, dan semakin tidak nyaman mengobrol dengan laki-laki ini. Aku pun menghela nafasku lagi dan menelan salivaku.

"Menurut saya, masalah jodoh itu tidak ditentukan sama umur. Di luar sana juga ga sedikit perempuan yang nikah di umur 30 tahun, dan mereka bahagia," ujarku.

"Itu kan keliatannya aja. Aslinya kita mana tau. Lagian kalo menurut aku sih, ga pantes lah cewek nikah di umur yang udah lewat seperempat abad. Apalagi di umur 30 tahun, itu sih jatohnya udah kadaluarsa," sahutnya dan membuatku terkejut.

"Kadaluarsa? Emangnya makanan?" sungutku dengan sedikit emosi.

"Ya kayak makanan aja, kalo kelamaan kan jadi kadaluarsa," sahut Aris dengan enteng.

Aku tercengang dan sedikit menggeleng. Sungguh, aku tidak mengerti lagi dengan pemuda sedang duduk bersamaku ini

"Memangnya kamu mau, nikah di umur 30 tahun? Aku sih ogah yah, nikah sama cewek umur 30 tahun. Kamu tuh seharusnya bersyukur, sekarang umur kamu masih 26 tahun, jadi belum terlambat. Ya jangan sampe lah nanti kamu nikah di umur 30 tahun," sambungnya.

Aku lagi-lagi tercengang dengan ucapan Aris. Entah apa yang ada dipikiran dia, aku sudah muak dan ingin masuk saja ke dalam kamar dan menyudahi pembicaraanku bersama dia.

"Emangnya kenapa kalo perempuan nikah di umur 30 tahun? Ada yang salah? Kan ga dosa juga, lagian menikah itu tujuannya untuk ibadah, kalo jodohnya dateng di umur segitu, ya mau bagaimana lagi," sungutku dengan nada yang masih sedikit meninggi.

Aku benar-benar tidak terima dengan ucapannya.

"Nah itu, karena menikah itu adalah ibadah, kan mending lebih cepat. Makanya kalo jadi cewek itu jangan terlalu pemilih, itu rata-rata yang telat nikah itu sampe umur 30 tahun, biasanya ceweknya pemilih. Pengen yang kayak gini lah, kayak gitu lah. Padahal cewek itu ada masanya, beda kalo sama cowok, kalo cowok nikah umur 30, 40 tahun ya ga ada masalah," cibirnya.

"Memangnya kenapa? Menurut saya sah-sah saja, jika perempuan mau menikah di umur berapapun, itu hak mereka. Lagipula jodoh itu Allah yang menentukan kapan waktunya datang,” geramku.

Aku tidak tau lagi harus bersikap seperti apa pada pemuda ini. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, rasanya selalu mengundang emosiku.

"Tapi kan cewek itu ada masanya, kalo cewek nikah umur 30 tahun itu, kata orang rasanya udah ga enak. Kamu tau, di tempat kerja aku itu cewek-ceweknya pilih-pilih semua, pengen yang kayak gini lah, yang ganteng lah, yang kaya lah. Dia sendiri ga nyadar kalo umurnya udah mau 30 tahun, mukanya juga biasa aja. Lagian cowok juga mikir-mikir kalo nikah sama cewek yang udah umur segitu, karena cowok kan pasti maunya nikah sama cewek yang masih muda, masih seger. Makanya kamu jangan pemilih, nanti susah dapet jodohnya, ujung-ujungnya malah nikah tua. Apalagi kamu ini jarang banget kan ngobrol sama cowok? Gimana kalo pacaran, kamu tuh seharusnya bersyukur kalo ada cowok yang mau deket sama kamu. Terus yang aku denger juga adik kamu malah udah tunangan kan? Jangan sampe kamu dilangkahin, nanti makin jauh jodohnya. Emangnya kamu mau nikah di umur 40 tahun? Atau sampe ga nikah-nikah karena ga ada yang deketin kamu?" cibirnya lagi.

Sungguh aku sudah kehabisan kata-kata, aku bukannya hanya tercengang mendengarnya, rasanya emosiku sudah memuncak diujung kepalaku. Namun rasanya percuma saja, bicara dengan orang yang sukanya merendahkan orang lain.

"Maaf Mas, ini sudah malam. Saya juga sudah mengantuk, besok saya harus bangun pagi,” ujarku langsung berdiri.

Aku memang terbiasa bangun pagi, meskipun itu hari libur.

“Oh sama, aku juga. Kebetulan besok aku juga masuk kerja, terus masuk shift pagi lagi,” balasnya.

Aku hanya bisa menghela napas seraya memejamkan mata. Entah dia tidak mengerti maksudku atau sedang berpura-pura tidak mengerti.

“Ya sudah, kalo gitu saya masuk dulu yah. Saya mau istirahat,” sahutku hampir melangkah.

“Eh tunggu. Aku boleh minta nomor Hp kamu? Ya supaya kita bisa chattingan, biar bisa lebih deket lagi kan?” lontarnya.

Entah harus bagaimana lagi, apa pemuda yang ada di depanku ini sengaja mau memancing emosiku.

“Maaf Mas, Hp saya mati, saya lupa ngecharger. Saya juga baru ganti nomor, dan saya belum hafal nomor saya,” jawabku dengan cepat dan padat. Aku terpaksa berbohong demi tidak ingin bertemu dia lagi.

“Yaudah lah, nanti paling aku minta nomor kamu ke Om Ridwan,” ucapnya.

Aku sedikit mengeryit.

“Ya udah aku pulang yah, salamin aja sama bilangin ke Bapak terus Om Ridwan juga, bilang kalo aku udah pulang. Aku harus ngambil motor aku juga di bengkel,” tutur Aris lalu pergi.

Akhirnya aku bisa bernapas lega. Pemuda itu bahkan sama sekali tidak ingin bertemu Bapak untuk sekedar berpamitan apalagi pada Om Ridwan yang telah mengantarkannya, dia lebih memilih menitipkan pesan padaku.

Aku masuk ke dalam rumah dan ingin kembali ke kamar ku. Namun tiba-tiba langkahku terhenti ketika akan membuka pintu.

“Mir,” panggil Bapak yang tengah duduk bersama Om Ridwan di ruang tengah.

Bapak dan Om Ridwan lalu menghampiriku.

“Loh, kok kamu masuk? Aris mana?” tanya Bapak seraya melihat ke arah luar.

“Udah pulang, Pak,” jawabku.

“Pulang? Kok ga pamitan dulu Mir?” tanya Om Ridwan yang terlihat sedikit heran.

“Katanya dia harus buru-buru ngambil motornya di bengkel,” jawabku.

Tidak bisa kupungkuri, aku menyimpan kekesalan juga pada Om Ridwan karena sudah membawa pemuda itu. Sungguh, energiku sepertinya sudah habis terkuras mengobrol dengan laki-laki yang katanya ingin dikenalkan denganku.

“Oh iya, motornya kan masih di bengkel,” sahut Om Ridwan.

“Ya udah, Mira mau tidur yah, Pak, Om,” ucapku dan langsung melengos masuk ke kamar. Di dalam kamarku, aku menarik napasku dalam-dalam, rasanya tubuhku lelah sekali.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adikku Seorang Pelakor
9.1
Hidup Ayu Wulansari hancur seketika akibat pengkhianatan keji dari Rangga, suaminya, dan Nindi, adik kandungnya sendiri. Hubungan terlarang mereka menciptakan cinta segitiga yang menyiksa batin Wulan. Luka semakin dalam saat ia terpaksa menyaksikan pernikahan Rangga dengan Nindi yang telah hamil. Di tengah pedihnya kenyataan yang tak seindah drama, Wulan harus menelan pil pahit kehidupan yang penuh air mata, di mana kebahagiaan sejati terasa begitu jauh.
Sampul Novel Cinta Gadis Tanpa Nasab
9.8
Anna Lee, gadis blasteran yang besar di Korea, menghadapi cobaan saat cintanya pada Emran ditentang keluarga karena status kelahirannya. Namun, Shaka yang merupakan adik tiri Emran justru hadir mendekati Anna. Segalanya berubah ketika orang tua Emran menyadari bahwa Anna adalah putri donatur terbesar pesantren mereka. Meski kini mereka berusaha mempersatukan kembali Anna dan Emran, akankah Anna bersedia kembali di saat keadaan dan hatinya telah jauh berubah?
Sampul Novel Dive In You
9.2
Maryam dan Alaska terjebak dalam dilema cinta beda agama yang menguras emosi. Meski perasaan mereka begitu kuat, perbedaan iman menjadi penghalang besar yang menyesakkan dada. Saat dipaksa menuruti perjodohan pilihan orang tua masing-masing, mereka mencoba patuh pada takdir. Namun, simbol keyakinan mereka tak mampu menghapus rasa yang tetap hidup. Di tengah konflik batin dan kepatuhan, mungkinkah ada jalan bagi cinta mereka untuk bersatu kembali?
Sampul Novel Jika Cinta Jangan Bercerai
9.0
Keyra, gadis mualaf berusia 20 tahun, memenuhi wasiat ayahnya untuk menikahi Afnan Noor Malik. Meski awalnya skeptis, pesona Afnan sebagai pemilik pesantren dan pria dermawan perlahan memikat hatinya. Namun, kebahagiaan mereka diusik oleh Samuel, mantan kekasih Keyra yang berniat menghancurkan rumah tangga tersebut. Ujian semakin berat saat Afnan terpaksa berpoligami dengan Lathisa. Keyra pun harus berjuang mempertahankan cintanya di tengah badai masa lalu dan takdir baru.
Sampul Novel Menikahi Asistenku
8.4
Anton Pratama dikenal sebagai pengusaha sukses yang sangat tegas serta cerdas di kota besar. Namun, di balik kegemilangan kariernya, tersimpan sebuah kisah rahasia yang jarang diketahui publik. Sementara itu, Alya baru saja bergabung sebagai asisten di perusahaan Anton dengan perasaan yang campur aduk. Meski merasa sangat gugup, ia tetap antusias menghadapi peluang langka ini. Dari kejauhan, Alya menatap meja kerja sang bos sambil merasakan ketegangan yang nyata.
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.