Sampul Novel Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta

Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta

7.9 / 10.0
Demi kesembuhan ibunya, Alira Santika terpaksa menikahi Dimas Aditya Wiratama, pewaris ningrat yang butuh keturunan. Gadis 19 tahun ini harus meninggalkan kekasihnya, Raka, demi perjodohan tanpa cinta. Di rumah barunya, Alira menderita akibat kekejaman Cynthia, istri pertama Dimas yang penuh dendam. Tanpa pembelaan sang suami, ia berjuang sendirian melawan intrik keluarga. Akankah Alira mampu bertahan di tengah pengkhianatan dan tekanan demi cinta sejatinya?

Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta Bab 1

Hujan deras mengguyur kota Jakarta malam itu. Setiap tetesnya seolah menambah kesedihan yang menempel di hati Alira Santika. Ia duduk di sisi ranjang ibunya, menatap wajah yang semakin lemah dan pucat. Mesin infus yang berdetak monoton mengisi keheningan kamar rumah sakit.

"Bu... ibu pasti bisa sembuh," ucap Alira pelan, menahan air matanya. Tangannya menggenggam jemari ibunya yang dingin. Namun ia tahu, kata-kata itu hanyalah penghiburan semu. Biaya pengobatan yang semakin menumpuk membuat Alira merasa tak berdaya. Setiap kali ia menoleh ke wajah ibunya, Alira seperti melihat masa depan yang semakin suram, seolah ada jurang yang siap menelan seluruh harapan mereka.

Pintu kamar terbuka pelan. Sosok pria paruh baya muncul, wajahnya dingin dan tak tersenyum. Pamannya, Gatot, membawa kantong hitam yang tebal. "Alira," suaranya terdengar tegas, tanpa emosi, "kamu harus membuat keputusan. Pengobatan ibu tidak akan diteruskan jika kamu menolak."

Alira menatap pamannya, matanya membara. "Keputusan apa, Pak?" tanyanya, suaranya bergetar.

Gatot meletakkan kantong itu di meja samping, lalu duduk di kursi. "Dimas Aditya Wiratama. Kamu harus menikah dengannya. Keluarga itu bersedia membiayai seluruh pengobatan ibumu, tapi syaratnya hanya satu. Kamu harus menjadi bagian dari mereka, sekarang juga."

Alira menelan ludah. Jantungnya terasa sesak. "Tapi... aku... aku sudah punya Raka. Kami... kami saling mencintai," suaranya hampir tak terdengar, seperti bisikan yang tercekat di tenggorokannya.

Pamannya menatapnya dingin. "Cinta itu tidak ada artinya saat nyawa ibumu terancam. Jika kamu menolak, jangan harap ada bantuan dari keluargamu sendiri. Kamu tahu sendiri biaya pengobatan itu bukan murah, dan ibu tak bisa menunggu."

Alira menunduk, air mata menetes di pipinya. Ia tahu pamannya tak akan mengalah. Ia tahu ia tak punya pilihan lain. Tapi hatinya menolak, seakan seluruh dunia sedang menghancurkan mimpinya yang sederhana: bisa hidup bersama Raka dan melihat ibunya sembuh tanpa harus menyerahkan dirinya pada orang yang bahkan belum ia kenal.

Pikiran itu masih bergelayut ketika teleponnya berdering. Suaranya yang lembut terdengar, namun di balik nada itu ada ketegangan yang sulit disembunyikan.

"Alira... ini Raka," suara pria di ujung telepon terdengar tegas namun lembut, "Aku dengar semuanya... apa yang terjadi?"

Alira menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis. "Aku... aku tak tahu harus bagaimana, Ka. Pamanku... dia memaksa aku menikah dengan Dimas Wiratama. Kalau tidak, pengobatan ibu berhenti."

Raka terdiam sejenak. "Kamu... kamu serius?" Suaranya terdengar berat. "Alira... jangan lakukan itu. Kita bisa cari jalan lain. Aku akan menanggung semuanya. Jangan menyerah."

Alira tersenyum pahit. "Raka... aku ingin begitu, tapi... biaya itu terlalu besar. Aku tak ingin ibuku menderita hanya karena keegoisan kita."

Ada keheningan panjang di ujung telepon. Alira menutup matanya, menahan sakit di hatinya. "Maafkan aku..." bisiknya.

Hari berikutnya, Alira menemukan dirinya berada di mobil mewah, berjalan menuju rumah keluarga Wiratama yang megah di kawasan elit Jakarta. Gedung tinggi dan gerbang besarnya tampak mengintimidasi, seolah menegaskan siapa yang berkuasa di sana.

Saat pintu terbuka, sosok tinggi dan tegas menyambutnya. Dimas Aditya Wiratama, pewaris tunggal keluarga besar, berdiri dengan wajah dingin yang sulit ditebak. Rambut hitamnya rapi, mata cokelatnya tajam, memancarkan otoritas sejak pandangan pertama.

"Kamu Alira Santika?" Suaranya lembut, tapi nada formalnya membuat Alira merasa kecil di hadapannya.

"Ya, Pak," jawabnya pelan, menunduk hormat. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang, campuran takut dan gelisah.

Dimas menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. "Pamanku sudah memberitahuku. Jadi ini keputusanmu. Kamu akan tinggal di sini mulai sekarang. Semua akan diatur sesuai kehendak keluarga."

Alira mengangguk, meski hatinya bergolak. Setiap langkahnya di rumah itu terasa berat. Ia disambut oleh istri pertama Dimas, Cynthia, seorang wanita anggun tapi dengan tatapan tajam yang membuat Alira merasa terancam sejak pertama kali mereka bertemu.

"Selamat datang, Alira," Cynthia menyapa dengan senyum tipis, namun ada nada dingin yang tak bisa disembunyikan. "Semoga kamu betah tinggal di sini... setidaknya sampai peranmu selesai."

Alira menelan ludah, merasakan hawa permusuhan yang begitu pekat. Ia tahu, tantangan yang ia hadapi bukan hanya menahan rasa rindu pada Raka dan menjaga ibunya, tapi juga harus menghadapi Cynthia, yang tampaknya tidak berniat menyambutnya dengan hangat.

Hari-hari berikutnya di rumah itu terasa menyesakkan. Cynthia selalu menemukan cara untuk membuatnya merasa tidak diinginkan. Mulai dari komentar sinis tentang cara Alira berpakaian, hingga menyinggung kemampuan dan latar belakang keluarganya.

Suatu sore, Alira duduk di balkon rumah, menatap langit Jakarta yang mulai gelap. Hujan tipis mulai turun, dan setiap tetesnya seperti mengingatkan Alira akan keadaan ibunya di rumah sakit. Ia merindukan Raka. Ia merindukan kehidupan yang sederhana, di mana cinta dan keluarga menjadi alasan untuk tersenyum, bukan untuk merasa terjebak dalam ikatan yang dipaksakan.

"Alira," suara Dimas terdengar dari belakang, membuat Alira terkejut. Ia menoleh, melihat pria itu berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana, menatapnya tanpa ekspresi.

"Ada apa, Pak?" tanyanya, mencoba terdengar tegas meski hatinya bergetar.

Dimas berjalan mendekat, duduk di kursi di sampingnya. "Aku tahu ini sulit untukmu. Aku juga... tidak meminta ini. Tapi keluargaku menuntutku, dan aku harus menuruti mereka. Namun..." ia menunduk, menatap jauh ke luar balkon, "aku tidak akan menyakitimu tanpa alasan. Kamu... kamu akan baik-baik saja, asalkan kita saling menghormati."

Alira menelan ludah. Kata-katanya terdengar ringan, tapi ada kehangatan kecil yang ia rasakan untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah itu. Meski Dimas tampak dingin di luar, ada sisi manusia yang mungkin bisa ia percaya.

Namun, Cynthia selalu menjadi bayangan gelap yang mengintai setiap langkahnya. Beberapa hari kemudian, saat Alira menyiapkan minuman teh di dapur, Cynthia masuk tiba-tiba. "Alira, jangan sampai kau membuat kesalahan. Aku sudah melihatmu menatap Dimas terlalu lama. Jangan berharap ia akan peduli padamu. Rumah ini... rumahku juga, dan aku akan memastikan kamu tahu itu."

Alira menahan emosi, menegakkan tubuhnya. "Aku hanya... ingin tinggal di sini tanpa menimbulkan masalah, Bu Cynthia. Aku tidak ingin mengganggu siapa pun."

Cynthia menatapnya, senyum tipis muncul tapi matanya tetap tajam. "Kau pikir itu akan cukup? Dunia ini... dunia keluargaku... tidak pernah cukup bagi orang yang lemah, Alira."

Hari-hari itu berjalan lambat, dengan tekanan yang menumpuk. Alira sering terjaga hingga larut malam, menatap langit-langit kamar mewahnya yang terasa asing, dan memikirkan Raka yang jauh di sana. Ia tahu, cinta yang ia miliki bukan hal yang bisa ia biarkan mati, namun situasi memaksanya untuk bertahan.

Suatu malam, Alira menulis surat untuk Raka. Dengan air mata yang menetes, ia menuangkan semua isi hatinya: penyesalan, ketakutan, tapi juga tekad. Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa meski dunia menentangnya, ia tidak akan menyerah sepenuhnya. Ia akan menjaga ibunya, bertahan di rumah itu, dan mencari kesempatan untuk kembali pada Raka suatu hari nanti.

Di sisi lain, Dimas Aditya mulai memperhatikan sikap Alira yang berbeda. Ada keberanian yang tersembunyi di balik kelemahan dan kesedihan yang ia tunjukkan. Tanpa disadari, hatinya sedikit tergelitik oleh ketegaran itu, meski ia sendiri tidak mau mengakuinya. Ia tahu, pernikahan ini awalnya hanyalah kewajiban, tapi manusia tidak pernah bisa sepenuhnya mengendalikan hati mereka sendiri.

Dan begitulah, malam demi malam berlalu. Alira, gadis 19 tahun yang dipaksa menikah demi pengobatan ibunya, mulai menyadari bahwa hidupnya kini terikat oleh rantai-rantai keluarga yang besar dan penuh intrik. Setiap langkahnya akan diuji - oleh suami yang dingin, istri pertama yang penuh permusuhan, dan rasa cintanya sendiri yang tak bisa ia lepaskan.

Di luar jendela, hujan terus turun, seolah menandakan bahwa badai dalam hidup Alira baru saja dimulai.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil yang polos menemukan sebuah patung beruang di jalanan dan memutuskan untuk membawanya pulang. Ia merawat benda itu dengan penuh kasih sayang tanpa menyadari identitas aslinya. Tak disangka, patung tersebut merupakan inkarnasi sosok pria muda yang perkasa. Hingga Melinda tumbuh menjadi gadis cantik, wujud beruang itu tetap bertahan sampai muncul ketegangan yang mengubah segalanya. Akankah hubungan unik antara manusia dan dewa ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Dunia Ratih Apsari runtuh usai memergoki pengkhianatan suaminya. Di tengah kesedihan pasca perceraian, sebuah kesalahan fatal membawanya masuk ke mobil Derryl Dariawan hingga mereka menghabiskan malam bersama. Ternyata, Derryl adalah CEO baru di kantornya. Meski sempat menuduh Derryl menjebaknya, kedekatan mereka justru menumbuhkan rasa cinta. Ratih bimbang karena perbedaan status dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Akankah ia membuka hati atau kembali pada sang mantan?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Nada menyadari bahwa menjerat Ivander ke dalam pernikahan paksa adalah langkah yang keliru. Namun, baginya ini satu-satunya jalan untuk tetap berada di sisi pria yang hidupnya pernah ia hancurkan. Didorong rasa bersalah yang mendalam, Nada bertekad menebus dosa masa lalunya melalui pengabdian ini. Akankah segala pengorbanan Nada mampu mencairkan kebencian di hati Ivander, ataukah usahanya untuk mendapatkan maaf justru akan berakhir sia-sia?
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
William, putra mafia kejam, rela menempuh cara apa pun demi ambisinya. Namun, pengkhianatan fatal merenggut nyawa ayahnya, Ferdinand, dalam insiden tragis. Rosemary yang selama ini tidak tahu sisi gelap suaminya mulai menyadari rahasia tersembunyi. William kini bertekad membalas dendam dan membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah keji. Meski seorang polisi wanita terus menghalangi langkahnya, William takkan berhenti hingga peluru terakhir menentukan segalanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan