Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Seorang Adik

Dendam Seorang Adik

Duka mendalam Amara atas kematian tragis kakaknya, Danisa, berubah menjadi ambisi balas dendam yang membara. Ia bertekad menghancurkan keluarga Pramudya yang telah mengkhianati Danisa hingga sang kakak mengakhiri hidupnya. Dengan pesonanya, Amara menyusup dan mulai menjerat mantan suami, mertua, serta ipar Danisa dalam rencana penghancuran reputasi dan harta mereka. Namun, mampukah ia tetap dingin saat perasaan tak terduga mulai mengancam misi utamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Acara amal yang diadakan di sebuah ballroom mewah hotel bintang lima itu gemerlap dengan cahaya kristal dan tawa renyah para tamu penting. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi bunga segar, menciptakan atmosfir kemewahan yang menyesakkan. Amara, dengan gaun malam berwarna zamrud yang memeluk tubuhnya dengan anggun, berjalan di samping Bram Pramudya. Ia melangkah dengan percaya diri, seperti seorang ratu yang baru saja merebut singgasananya.

Tangan Bram sesekali menyentuh punggung Amara, sebuah sentuhan posesif yang tak luput dari perhatian banyak mata. Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu, menanyakan siapa wanita misterius yang kini mendampingi kepala keluarga Pramudya itu. Amara mendengar desas-desus itu, namun ia membiarkan senyum tipis terukir di bibirnya. Ini adalah bagian dari rencananya. Semakin banyak perhatian yang ia dapatkan, semakin mudah ia menembus benteng pertahanan klan Pramudya.

Malam itu, Bram memperkenalkan Amara kepada banyak kolega bisnisnya, para pengusaha besar dan pejabat tinggi. Amara memukau mereka dengan kecerdasan dan pesonanya. Ia bisa membicarakan pasar saham dengan seorang bankir, membahas koleksi anggur langka dengan seorang kolektor, dan bahkan menyisipkan lelucon cerdas yang membuat para pria paruh baya itu tertawa rebah. Tidak ada yang menduga bahwa di balik senyum memikat itu, tersembunyi niat menghancurkan.

Di tengah keramaian, pandangan Amara tak sengaja berpapasan dengan sepasang mata tajam yang dikenalnya. Reno Pramudya. Mantan suami Danisa. Pria itu berdiri di kerumunan, memegang gelas champagne, sedang berbicara dengan seorang wanita muda berambut pirang yang tampak menempel padanya. Reno tampak lebih tua dari terakhir kali Amara melihatnya, garis-garis kelelahan samar terlihat di sudut matanya, namun pesonanya masih tak terbantahkan. Sebuah pesona yang dulu memikat Danisa, dan kini memikat wanita-wanita lainnya.

Hati Amara mencelos sejenak, bukan karena emosi lama, melainkan karena gambaran Danisa yang muncul di benaknya. Danisa yang dulu begitu mencintai pria itu, yang begitu hancur saat mengetahui pengkhianatannya. Amara merasakan gejolak kemarahan, namun ia menahannya dengan sekuat tenaga. Wajahnya tetap tenang, senyumnya tak goyah.

Reno memalingkan wajah, mungkin tidak menyadari Amara di antara kerumunan, atau mungkin terlalu sibuk dengan wanita barunya. Amara menghela napas lega. Belum saatnya. Reno adalah target selanjutnya, namun ia harus menyelesaikan tahap Bram terlebih dahulu.

Bram menarik lengan Amara dengan lembut, membuyarkan lamunannya. "Amara, ada seseorang yang ingin sekali kau temui."

Amara menoleh, dan pandangannya jatuh pada seorang wanita yang baru saja mendekati mereka. Wanita itu memiliki rambut hitam yang di-blow sempurna, wajahnya terlapisi riasan tebal, dan matanya memancarkan kesombongan. Vina Pramudya. Adik Reno. Wanita yang gemar menyebarkan fitnah tentang Danisa.

Vina tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya. "Jadi ini Nona Amara yang sering ayah ceritakan?" Ada nada menginterogasi dalam suaranya.

"Vina, perkenalkan ini Amara. Amara, ini putriku, Vina," Bram memperkenalkan dengan bangga.

Amara mengulurkan tangannya, jabatannya tetap mantap. "Senang bertemu dengan Anda, Nona Vina."

Vina menjabat tangan Amara sekilas, lalu menariknya kembali. Matanya menyusuri penampilan Amara dari atas ke bawah, seolah menilai harga gaun dan perhiasan yang dikenakan Amara.

"Ayah bilang Nona Amara ini seorang kolektor seni?" Vina bertanya, nadanya meremehkan. "Padahal saya baru dengar nama Nona Amara di kalangan itu."

Amara tersenyum tenang. "Saya baru saja memulai koleksi saya, Nona Vina. Masih banyak yang harus dipelajari." Ia menatap lurus ke mata Vina, tanpa gentar. "Saya yakin Anda jauh lebih berpengalaman di dunia ini."

Vina sedikit terkejut dengan jawaban Amara yang santai namun tegas. Ia mungkin berharap Amara akan tersipu atau salah tingkah.

"Tentu saja," Vina menjawab, berusaha menjaga wibawanya. "Saya tumbuh besar di tengah koleksi ayah. Saya tahu seluk-beluknya."

"Amara memiliki selera yang sangat bagus, Vina," Bram menyela, nadanya sedikit protektif. "Dan dia sangat cerdas."

Vina hanya mendengus pelan. Ia tahu bahwa ayahnya sedang mengagumi Amara, dan itu membuat ia merasa terancam. Amara mengamati ekspresi Vina. Rasa cemburu. Ini adalah salah satu kelemahan Vina yang bisa ia manfaatkan. Vina selalu ingin menjadi pusat perhatian dan tak suka ada wanita lain yang menonjol di mata ayahnya.

Sepanjang malam, Amara tak hanya berinteraksi dengan Bram, tapi juga dengan orang-orang lain di lingkaran Pramudya. Ia berbicara dengan kolega bisnis Bram, mendengarkan obrolan mereka tentang proyek-proyek besar, dan secara diam-diam mengumpulkan informasi. Ia adalah seorang pendengar yang baik, membiarkan orang lain berbicara tentang diri mereka sendiri, sementara ia sendiri tetap misterius.

Di tengah hiruk pikuk, Amara melihat Reno lagi. Kali ini ia sendirian, berdiri di balkon, menatap pemandangan kota. Amara tahu ini adalah kesempatannya.

"Permisi, Bram," Amara berbisik. "Saya ingin menyegarkan diri sebentar."

Bram mengangguk, tersenyum. "Baiklah, sayang. Aku akan menunggu di sini."

Amara berjalan menuju balkon, langkahnya anggun dan mantap. Ia sengaja memperlambat langkahnya, memberi kesempatan Reno untuk menyadari kehadirannya.

Reno menoleh saat Amara sudah cukup dekat. Mata mereka bertemu. Sebuah kilasan pengakuan, dan kemudian kebingungan melintas di mata Reno.

"Amara?" Nada suaranya dipenuhi keraguan. "Benarkah ini kau?"

Amara tersenyum, senyum yang diatur sedemikian rupa sehingga terlihat ramah namun menyimpan jarak. "Halo, Reno. Sudah lama sekali."

Reno melangkah mendekat, matanya menyapu Amara dari kepala hingga kaki. Ada kekaguman yang jelas di matanya. "Kau... kau banyak berubah. Aku hampir tidak mengenalimu."

"Waktu mengubah banyak hal, Reno," jawab Amara datar. "Kau juga."

"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Reno, masih dengan nada terkejut. "Bersama ayah."

"Dunia ini kecil," Amara mengangkat bahu ringan. "Aku kebetulan berteman baik dengan Bram." Ia sengaja menyebut nama Bram tanpa embel-embel "Tuan Pramudya", menegaskan kedekatannya.

Reno mengernyit. "Teman baik? Ayah jarang sekali bersikap seramah ini pada orang baru." Ada kecurigaan dalam suaranya.

"Mungkin aku berbeda," Amara menatap lurus ke matanya, bibirnya melengkung sinis. "Atau mungkin kau hanya tidak mengenal ayahmu sebaik yang kau kira."

Ekspresi Reno sedikit menegang. Ia tak suka disindir, terutama oleh Amara, adik iparnya dulu yang dianggap remeh.

"Bagaimana kabarmu?" Reno bertanya, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku dengar... tentang Danisa." Nada suaranya terdengar canggung.

Nama Danisa yang keluar dari mulutnya bagai jarum es yang menusuk hati Amara. Ia merasakan darahnya mendidih, namun ia mengendalikan diri.

"Danisa sudah tenang," jawab Amara dingin. "Dia tidak perlu lagi menderita karena orang-orang yang tidak tahu diri."

Reno terdiam. Wajahnya sedikit memerah. Ia tahu Amara merujuk pada dirinya.

"Aku... aku turut berduka cita, Amara," Reno berkata pelan. "Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi pada Danisa."

Amara hanya menatapnya, tanpa ekspresi. Ia tak percaya sedikit pun pada penyesalan Reno. Penyesalan pria itu hanyalah kepalsuan, topeng untuk menutupi rasa bersalah yang dangkal.

"Penyesalan tidak akan mengembalikan Danisa," kata Amara, suaranya tenang, namun penuh kekuatan. "Tapi takdir akan menemukan jalannya."

Reno merasa tidak nyaman dengan intensitas tatapan Amara. Ia menggaruk tengkuknya. "Aku... aku harus kembali. Senang bertemu denganmu lagi, Amara."

"Sampai jumpa, Reno," Amara berkata, tanpa tersenyum. Ia menyaksikan Reno melangkah pergi, punggungnya terlihat tegang.

Amara tahu ia telah menancapkan duri kecil di benak Reno. Duri kecurigaan dan ketidaknyamanan. Itu sudah cukup untuk saat ini.

Beberapa minggu setelah acara amal itu, hubungan Amara dengan Bram Pramudya semakin dekat. Bram menjadi sangat bergantung pada Amara. Ia sering menelepon Amara untuk meminta pendapat tentang bisnis, mengajaknya makan siang untuk membicarakan pameran seni, bahkan memintanya menemani ke acara-acara sosial lainnya. Amara memainkan perannya dengan sempurna: pendengar yang baik, penasihat yang cerdas, dan wanita yang memesona.

Ia selalu menjaga batas fisik, membiarkan Bram merasa tertarik namun tidak memberinya akses penuh. Ia tahu, pria seperti Bram akan lebih tergila-gila pada apa yang tidak bisa ia miliki dengan mudah. Amara adalah tantangan, dan Bram Pramudya menyukai tantangan.

Melalui kedekatan ini, Amara mulai mendapatkan akses ke informasi lebih dalam tentang keluarga Pramudya. Ia belajar tentang perjanjian bisnis mereka, investasi-investasi rahasia, bahkan perselisihan internal yang mereka sembunyikan dari publik. Ia mencatat semuanya, detail demi detail, membangun peta kekuatan dan kelemahan klan Pramudya.

Ia tahu bahwa bisnis utama keluarga Pramudya adalah properti, dengan beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan manajemen aset. Mereka memiliki banyak proyek besar yang sedang berjalan, dan Amara bertekad untuk menghantam mereka di sana.

Suatu sore, saat Amara sedang makan siang dengan Bram di kantornya, ia "tak sengaja" melihat sebuah dokumen penting tergeletak di meja Bram. Dokumen itu berisi rincian tender proyek besar pembangunan pusat perbelanjaan dan apartemen mewah di pusat kota. Bram telah lama membanggakan proyek ini, menyebutnya sebagai warisan yang akan ia tinggalkan.

"Proyek ini sangat ambisius, Bram," Amara berkomentar, berpura-pura penasaran. "Sepertinya akan menjadi permata mahkota Pramudya Group."

Bram tersenyum bangga. "Memang begitu, Amara. Ini adalah proyek terbesar yang pernah kami tangani. Akan sangat menguntungkan."

"Tentu saja," Amara mengangguk. "Tapi proyek sebesar ini pasti memiliki banyak risiko. Kompetisinya juga pasti sangat ketat, bukan?"

Bram menghela napas. "Ya, memang. Ada beberapa pesaing kuat. Tapi kami punya tim yang solid dan pengalaman bertahun-tahun."

Amara mengamati ekspresi Bram. Ada sedikit kegelisahan di matanya. Amara tahu, di balik kepercayaan dirinya, Bram memiliki kekhawatiran.

"Semoga berhasil," Amara berkata tulus. "Saya yakin Anda bisa menanganinya."

Malam itu, Amara pulang ke apartemennya, otaknya bekerja keras. Proyek itu adalah titik lemah yang ia cari. Jika proyek itu gagal, kerugian yang diderita Pramudya Group akan sangat besar, bahkan bisa menggoyahkan fondasi kerajaan mereka.

Ia mulai meneliti proyek itu dari berbagai sudut. Ia mencari tahu tentang perusahaan-perusahaan yang juga mengikuti tender, siapa kontraktor yang kemungkinan akan mereka gunakan, dan bahkan mencoba mencari tahu siapa saja yang memiliki kepentingan dalam proyek itu.

Amara juga mulai menargetkan Vina Pramudya. Vina adalah wanita ambisius yang bekerja di bagian pemasaran Pramudya Group. Namun, Vina juga dikenal boros dan sangat suka pamer. Amara tahu itu dari gosip-gosip yang ia dengar dari teman-teman Vina di media sosial.

Amara memanfaatkan akun media sosial palsu untuk mengikuti akun Vina dan teman-temannya. Ia mempelajari kebiasaan Vina, tempat-tempat yang sering ia kunjungi, dan lingkaran pertemanannya. Amara menemukan bahwa Vina sering menghabiskan waktu di klub malam eksklusif, menghamburkan uang untuk barang-barang mewah dan pesta-pesta.

Suatu malam, Amara sengaja mengunjungi klub malam yang sama dengan Vina. Ia memakai gaun yang lebih berani dari biasanya, namun tetap elegan. Ia duduk di bar, memesan minuman, dan menunggu. Tak lama kemudian, Vina masuk dengan sekelompok temannya, tertawa keras.

Amara membiarkan dirinya terlihat, namun tidak secara langsung mendekati Vina. Ia membiarkan Vina yang melihatnya terlebih dahulu.

Vina melirik ke arah Amara, alisnya sedikit terangkat. Ia jelas terkejut melihat Amara di tempat seperti itu. Klub malam adalah wilayah kekuasaannya.

Beberapa menit kemudian, Amara pura-pura bangkit untuk pergi ke toilet. Saat melewati meja Vina, ia "tak sengaja" menabrak salah satu pelayan, menyebabkan minuman di nampan pelayan itu tumpah sedikit.

"Oh, ya ampun! Maafkan saya!" Amara berseru, berpura-pura panik.

Vina dan teman-temannya menoleh. Vina mendengus. "Lain kali hati-hati, Nona Amara."

"Tentu saja, Nona Vina," Amara tersenyum minta maaf. "Saya sangat ceroboh malam ini."

"Apa yang kau lakukan di sini?" Vina bertanya, nadanya menyelidik.

"Hanya mencari hiburan," Amara mengangkat bahu ringan. "Terkadang, hidup perlu sedikit sentuhan liar, bukan begitu?"

Vina memandang Amara dengan tatapan curiga. Ia tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran wanita ini.

"Kau terlihat sangat berbeda di sini," Vina berkomentar, nadanya kini sedikit merendah.

"Begitu juga kau, Nona Vina," Amara membalas, senyumnya tetap misterius. "Terkadang, kita harus menunjukkan sisi yang berbeda agar bisa beradaptasi."

Amara tak berlama-lama. Ia pergi ke toilet, meninggalkan Vina dengan segudang pertanyaan di benaknya. Ia ingin Vina mulai memikirkan tentang dirinya, mulai merasa tidak nyaman.

Reno Pramudya. Target yang paling sensitif, sekaligus yang paling penting. Amara tahu, Reno adalah titik lemah Danisa, dan kini, Reno adalah titik lemah Amara untuk melancarkan balas dendam. Reno adalah pria yang mudah tergiur oleh kecantikan dan kemewahan.

Amara mulai secara halus menarik perhatian Reno. Ia tahu Reno sering mengunjungi galeri seni tertentu, tempat ia pertama kali bertemu Bram. Ia sengaja datang ke sana di waktu yang sama dengan Reno, membiarkan mereka "kebetulan" bertemu beberapa kali.

Setiap pertemuan, Amara akan bertingkah acuh tak acuh, hanya menyapa sekilas dan kemudian melanjutkan aktivitasnya. Ia tak menunjukkan minat berlebihan, justru itulah yang membuat Reno semakin penasaran. Ia adalah buah terlarang yang sulit digapai.

Suatu sore, di sebuah kafe rooftop yang populer, Amara sedang menikmati kopi sendirian, membaca buku. Reno tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Kebetulan sekali," Reno berkata, tersenyum menawan. "Boleh aku bergabung?"

Amara menatapnya, lalu ke kursi kosong di depannya. "Silakan."

Reno duduk, matanya tak lepas dari Amara. "Kau sering sekali menghilang. Sulit sekali menemukanmu."

"Aku punya banyak hal yang harus dilakukan," jawab Amara santai, menutup bukunya.

"Bagaimana hubunganmu dengan ayahku?" Reno bertanya, nadanya lebih serius. "Dia sepertinya sangat menyukaimu."

Amara tersenyum tipis. "Bram adalah pria yang baik. Aku menghargai persahabatannya."

"Persahabatan?" Reno terkekeh. "Ayahku tidak pernah menjalin persahabatan dengan wanita secantik dirimu, Amara."

Amara mengangkat alis. "Apa maksudmu?"

"Ayahku adalah pria konservatif," Reno menjelaskan. "Dia tidak sembarangan dekat dengan wanita. Terutama yang semuda dan secantik dirimu."

Amara menatap Reno tajam. "Apakah kau mencoba mengatakan bahwa aku memiliki motif tersembunyi?"

Reno mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Aku hanya penasaran. Tidak ada salahnya, kan?"

"Tentu saja tidak," Amara tersenyum dingin. "Sama seperti tidak ada salahnya bagimu untuk penasaran tentang kehidupan mantan adik iparmu, bukan?"

Reno terdiam. Amara telah berhasil membalikkan keadaan, membuat Reno merasa tidak nyaman.

"Aku... aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu," Reno berkata pelan, mencoba terdengar tulus.

"Aku baik-baik saja," jawab Amara singkat. "Aku punya kehidupanku sendiri sekarang."

Percakapan mengalir canggung setelah itu. Reno mencoba mencari topik lain, tetapi Amara hanya menjawab seperlunya. Ia sengaja membuat Reno merasa tidak nyaman, membiarkannya merenung tentang perubahan dirinya.

Semakin dalam Amara masuk ke lingkaran Pramudya, semakin ia menyadari betapa rumit dan busuknya keluarga itu. Bram Pramudya memang kuat, namun ia juga memiliki banyak musuh bisnis. Reno adalah playboy yang sering terlibat masalah keuangan, dan Vina adalah wanita boros yang tak peduli dengan reputasi keluarga.

Amara mulai melihat celah-celah yang bisa ia manfaatkan. Ia menemukan bahwa proyek besar Pramudya yang dibanggakan Bram memiliki beberapa masalah tersembunyi. Kontraktor yang mereka pilih memiliki rekam jejak yang kurang baik, dan ada isu korupsi yang melingkupi perizinan proyek tersebut. Informasi ini ia dapatkan dari kenalan-kenalan baru yang ia jalin di dunia bisnis.

Ia juga mengetahui bahwa Reno memiliki hutang judi yang cukup besar, yang selalu ditutupi oleh Bram. Dan Vina, ternyata memiliki kebiasaan belanja yang di luar kendali, bahkan sampai berhutang pada rentenir.

Semua informasi ini adalah senjata bagi Amara. Senjata yang akan ia gunakan untuk menghancurkan mereka satu per satu. Ia tak akan terburu-buru. Ia akan merajut jaringnya dengan sabar, menanti saat yang tepat untuk menjatuhkan pukulannya.

Suatu sore, saat Amara sedang mengamati sebuah lukisan di galeri seni, Bram Pramudya datang menghampirinya. Ekspresinya tampak murung.

"Ada apa, Bram?" Amara bertanya, pura-pura khawatir.

Bram menghela napas. "Proyek pusat perbelanjaan... ada sedikit masalah. Ada beberapa izin yang tertunda, dan kontraktor tampaknya... kurang efisien."

Amara mengerutkan kening, seolah berpikir keras. "Itu pasti membuat Anda pusing. Proyek sebesar itu."

"Sangat," Bram mengakui. "Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jika ini terus tertunda, kerugiannya akan sangat besar."

Amara menyadari ini adalah kesempatannya. Kesempatan untuk menancapkan dirinya lebih dalam lagi, sekaligus mengarahkan Bram ke jurang kehancuran.

"Mungkin Anda perlu mencari konsultan baru, Bram," Amara berkata, nadanya tenang namun penuh keyakinan. "Seseorang yang bisa melihat masalah dari sudut pandang berbeda, dan memberikan solusi yang tidak biasa."

Bram menatapnya. "Kau punya rekomendasi?"

Amara tersenyum, senyum penuh makna. "Saya mungkin bisa membantu Anda, Bram."

Bram tampak terkejut. "Kau? Tapi kau bukan..."

"Saya tidak memiliki latar belakang di bidang properti, itu benar," Amara menyela. "Tapi saya memiliki kemampuan untuk menganalisis masalah, dan menemukan solusi yang efisien. Dan saya sangat tertarik dengan proyek Anda."

Bram menatap Amara lama, seolah menimbang-nimbang. Ada keraguan di matanya, namun juga rasa putus asa.

"Bagaimana jika kita bicarakan ini lebih lanjut, Bram?" Amara melanjutkan, nadanya membujuk. "Mungkin saya bisa memberikan beberapa ide yang tidak terpikirkan oleh tim Anda."

Akhirnya, Bram mengangguk. "Baiklah, Amara. Mari kita coba. Besok datanglah ke kantorku. Kita akan bicarakan ini lebih detail."

Amara merasa kemenangan kecil. Ia tahu ini adalah pintu masuk menuju inti masalah Pramudya Group. Ia akan menjadi bagian dari tim yang mengelola proyek itu, dan dari sana, ia akan memegang kendali atas kehancuran mereka.

Ia pulang ke apartemennya dengan hati yang penuh kepuasan. Langkahnya ringan, seolah beban di pundaknya telah berkurang. Aroma parfum mahal dan kemewahan acara amal tadi malam kini digantikan oleh aroma tanah basah dan hujan yang pernah menemaninya di makam Danisa. Janji yang ia ucapkan di sana, kini semakin mendekati kenyataan.

Amara meraih sebuah foto Danisa yang ia simpan di nakas, membelai wajah kakaknya yang tersenyum.

"Tunggu aku, Kak," bisiknya, suaranya dipenuhi tekad yang membara. "Permainan ini baru saja dimulai, dan aku akan memastikan mereka semua membayar atas apa yang telah mereka lakukan padamu."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dihapus oleh Kebohongan dan Cintanya
9.8
Sepuluh tahun berkorban demi Baskara, Aria justru dibuang saat sang suami sukses. Demi Aurora, investor barunya, Baskara menghapus eksistensi Aria dan mengurungnya di gudang gelap meski tahu fobia yang dideritanya. Puncaknya, Baskara membiarkan Aria disiksa penculik demi menyelamatkan Aurora. Dalam kehancuran, Aria menghubungi Tante Evelyn, pengacara tangguh yang siap menjemputnya dengan jet pribadi untuk menuntut balas atas segala pengkhianatan ini.
Sampul Novel Direktur Iblis Takut Kehilangan
8.4
Hidup Lia Adelia hancur seketika saat ia kehilangan suami dan diusir dari rumahnya sendiri. Sebagai janda dengan dua anak, ia berjuang mencari kerja meski terus diremehkan karena status dan fisiknya. Takdir mempertemukannya dengan Bagas Samudra, direktur bank yang dingin dan menyebalkan. Meski Lia bersumpah tidak akan menikah lagi demi mendiang suaminya, sikap Bagas perlahan berubah menjadi penuh perhatian. Apa sebenarnya rencana sang direktur terhadap Lia?
Sampul Novel Hamili saya, tuan !
8.3
Chereena Kayona Albern dikenal sebagai putri sempurna yang tumbuh dalam perlindungan ketat ayahnya, Bobby Albern, sejak sang ibu wafat. Meski dibesarkan dengan penuh kasih dan pengawasan berlebih, Chereena tumbuh menjadi gadis pintar yang sangat dicintai. Namun, sebuah keputusan mengejutkan muncul saat ia justru mendekati Chaiden Barnard. Mengapa Chereena nekat meminta pengusaha CEO asal Rusia itu untuk menghamilinya di luar dugaan semua orang?
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah arsitek brilian dengan Adrian Wijaya hancur seketika saat kecelakaan menghapus ingatan sang taipan. Adrian berubah menjadi monster kejam di bawah kendali Helena yang licik. Ia membunuh adikku, melumpuhkan kakiku, hingga merampas pita suaraku untuk diberikan pada Helena. Pengkhianatan ini mengubah cinta menjadi dendam membara. Aku memalsukan kematian dan siap menghancurkan kerajaannya. Saatnya sang monster membayar segalanya.
Sampul Novel Kecanduan Ciumanmu
8.6
Midori, gadis blasteran berusia 18 tahun bermata biru, tak sengaja berciuman dengan Kenzo Watanabe saat berlibur di pemandian air panas Jepang. Insiden itu memicu obsesi mendalam di hati Kenzo, meski ia telah dijodohkan dengan bangsawan bernama Ayumi Tokugawa. Hubungan mereka pun terbentur tembok tradisi serta jarak antara Tokyo dan Perth yang memisahkan. Akankah takdir menyatukan Midori dan Kenzo di tengah segala rintangan? Sebuah sekuel emosional dari kisah cinta miliarder.
Sampul Novel My Fair Lady
9.0
Pasca gugur di luar angkasa, Alex sang pangeran kandidat kaisar bereinkarnasi ke Bumi abad ke-21. Namun, jiwanya kini terjebak dalam raga Alexandra, gadis malang yang dibenci keluarga Klein. Demi menyelamatkan bisnis, ia dipaksa menikah dengan Master Dietritch yang dingin. Meski dianggap hanya sekadar pengganti oleh orang sekitar, Alex yang berjiwa tangguh tidak tinggal diam. Dimulailah kisah ratu pemberani di tengah dekapan sang presiden tiran yang posesif.