Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Seorang Adik

Dendam Seorang Adik

Duka mendalam Amara atas kematian tragis kakaknya, Danisa, berubah menjadi ambisi balas dendam yang membara. Ia bertekad menghancurkan keluarga Pramudya yang telah mengkhianati Danisa hingga sang kakak mengakhiri hidupnya. Dengan pesonanya, Amara menyusup dan mulai menjerat mantan suami, mertua, serta ipar Danisa dalam rencana penghancuran reputasi dan harta mereka. Namun, mampukah ia tetap dingin saat perasaan tak terduga mulai mengancam misi utamanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, Amara tiba di kantor pusat Pramudya Group dengan aura tenang yang kontras dengan hiruk pikuk karyawan yang sibuk. Gedung pencakar langit yang menjulang di jantung kota Jakarta itu adalah simbol kekuasaan dan kekayaan klan Pramudya. Amara melangkah masuk, membiarkan tatapan penasaran para resepsionis dan karyawan beradu dengan senyum tipisnya.

Di lantai atas, ruang kerja Bram Pramudya sangat luas dan mewah, didominasi warna gelap dan furnitur kayu jati yang berat. Jendela-jendela besar menampilkan panorama kota Jakarta yang sibuk. Bram menyambut Amara dengan senyum lebar, kontras dengan kegelisahan yang ia tunjukkan semalam.

"Selamat pagi, Amara," sapanya, mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah datang. Aku sangat membutuhkan pandangan baru."

"Selamat pagi, Bram," Amara membalas, menjabat tangannya dengan mantap. "Saya harap saya bisa membantu."

Bram menjelaskan masalah yang sedang dihadapi proyek "Grand City Walk" – pusat perbelanjaan dan apartemen mewah yang menjadi kebanggaan Pramudya. Ada kendala dalam perizinan yang tak kunjung selesai, dan kontraktor utama, PT. Adhi Perkasa, menunjukkan kinerja yang jauh dari harapan. Dana proyek mulai membengkak, dan tenggat waktu semakin dekat.

"Mereka selalu bilang akan beres, tapi nyatanya nol," Bram menggerutu, menunjuk tumpukan dokumen di mejanya. "Kita sudah rugi miliaran karena penundaan ini."

Amara mendengarkan dengan saksama, sesekali mengajukan pertanyaan yang tajam dan tepat sasaran. Ia tahu persis apa yang ingin ia dengar. Ia telah melakukan riset mendalam tentang PT. Adhi Perkasa dan menemukan reputasi buruk mereka di balik proyek-proyek mangkrak. Ia juga tahu tentang birokrasi perizinan yang rumit di Indonesia, dan bagaimana beberapa oknum bisa memperlambat proses demi keuntungan pribadi.

"Bram, izinkan saya mempelajari semua dokumen ini, dan mungkin berbicara langsung dengan beberapa pihak terkait," Amara mengusulkan. "Saya perlu melihat gambaran beseluruhnya."

Bram menatapnya terkejut. "Kau yakin? Ini pekerjaan yang sangat rumit dan membutuhkan banyak waktu."

"Saya punya waktu," Amara tersenyum penuh keyakinan. "Dan saya suka tantangan."

Sejak hari itu, Amara resmi menjadi "konsultan strategis" untuk proyek Grand City Walk. Tidak ada kontrak resmi, tidak ada jabatan resmi, hanya sebuah kepercayaan yang diberikan Bram padanya. Itu sudah cukup. Ini adalah pintu gerbangnya.

Amara mulai menghabiskan hari-harinya di kantor Pramudya Group. Ia berpakaian profesional, namun tetap memancarkan pesona khasnya. Ia berinteraksi dengan para manajer proyek, kepala departemen, dan bahkan karyawan-karyawan biasa. Ia mendengarkan keluhan mereka, mengamati dinamika internal perusahaan, dan mengumpulkan lebih banyak informasi.

Ia menemukan bahwa ada perpecahan di dalam tubuh Pramudya Group. Beberapa manajer senior tidak setuju dengan keputusan Bram yang terlalu mengandalkan PT. Adhi Perkasa, namun tak berani menyuarakan pendapat mereka. Ada juga desas-desus tentang suap yang diberikan kepada pejabat terkait perizinan, namun tidak ada bukti konkret.

Amara menggunakan kecerdikannya untuk mendapatkan akses ke informasi sensitif. Ia akan pura-pura meminta bantuan seorang staf junior untuk mencari dokumen tertentu, atau "tak sengaja" mendengar percakapan penting di lorong. Ia selalu tersenyum, ramah, dan rendah hati, sehingga tak ada yang merasa curiga padanya.

Suatu sore, saat Amara sedang mempelajari laporan keuangan proyek, Vina Pramudya masuk ke ruang kerja Bram tanpa mengetuk, ekspresinya kesal.

"Ayah, kau harus melihat ini!" Vina berseru, melempar sebuah majalah gosip ke meja.

Amara melirik majalah itu. Sebuah foto Reno Pramudya terpampang di halaman tengah, sedang berciuman dengan seorang model di sebuah klub malam.

Bram Pramudya menghela napas panjang. "Reno lagi-lagi membuat masalah."

"Ini akan merusak citra perusahaan, Yah!" Vina merengek. "Bagaimana bisa dia bersikap begitu ceroboh?"

Amara hanya diam, pura-pura fokus pada laporan di tangannya. Namun, dalam hati ia mencibir. Vina hanya peduli pada citra, bukan pada kehancuran hati Danisa yang disebabkan oleh perselingkuhan Reno.

"Aku akan bicara dengannya," Bram berkata, suaranya lelah. "Kau tidak perlu khawatir."

"Tidak perlu khawatir? Ayah selalu bilang begitu, tapi dia tidak pernah berubah!" Vina frustrasi. "Aku sudah bilang, beri dia pelajaran! Jangan selalu menutupi kesalahannya!"

Amara merasakan secercah ide. Celah di antara Bram dan anak-anaknya. Vina membenci kebiasaan Reno, dan ia ingin melihat saudaranya dihukum.

"Mungkin Nona Vina benar, Bram," Amara menyela dengan suara lembut. "Terkadang, hukuman yang tegas diperlukan untuk mengubah perilaku seseorang."

Vina menoleh, terkejut Amara ikut campur. "Kau setuju denganku?"

"Saya hanya berpikir tentang reputasi perusahaan," Amara tersenyum tipis. "Skandal sekecil apa pun bisa merusak kepercayaan investor, apalagi saat proyek besar sedang berjalan."

Bram menatap Amara, seolah mempertimbangkan. "Lalu, menurutmu apa yang harus kulakukan?"

"Mungkin ini saatnya Bram membiarkan Reno merasakan konsekuensi dari perbuatannya," Amara menyarankan, nadanya penuh perhitungan. "Tidak perlu menutupi hutang-hutangnya lagi, misalnya. Biarkan dia belajar dari kesalahannya sendiri."

Vina tampak terkejut, namun kemudian senyum sinis muncul di bibirnya. "Itu ide yang bagus, Yah! Biarkan dia menderita sedikit! Dia selalu hidup enak karena Ayah selalu melindunginya."

Bram terdiam, ekspresinya rumit. Ia mencintai putranya, namun ia juga lelah dengan ulah Reno. Amara tahu, ia telah menanam benih perpecahan.

"Aku akan memikirkannya," Bram berkata, mengusap pelipisnya.

Amara tahu, Bram akan memikirkannya dengan serius. Tekanan dari Vina dan pandangan "objektif" dari Amara akan sangat memengaruhi keputusannya.

Beberapa hari kemudian, Amara mendengar kabar bahwa Bram Pramudya telah berhenti menanggung hutang judi Reno. Reno Pramudya, yang selalu hidup dalam kemewahan dan tak pernah khawatir soal uang, kini berada dalam kesulitan finansial yang serius. Kabar itu menyebar dengan cepat di kalangan karyawan, diiringi bisik-bisik dan ejekan.

Amara tersenyum puas. Satu langkah berhasil. Reno akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan, meskipun itu hanya sebagian kecil dari apa yang dirasakan Danisa.

Ia kemudian beralih fokus pada proyek Grand City Walk. Amara menemukan bahwa kontraktor PT. Adhi Perkasa sebenarnya adalah perusahaan milik teman dekat Bram Pramudya. Itu menjelaskan mengapa Bram begitu keras kepala mempertahankannya, meskipun kinerjanya buruk.

Amara tahu ia tidak bisa langsung menuduh Bram. Ia harus menemukan bukti yang tak terbantahkan. Ia mulai mendekati beberapa insinyur dan manajer proyek yang tampak tidak puas dengan kinerja PT. Adhi Perkasa. Ia mendengarkan keluhan mereka, menawarkan solusi palsu, dan secara tidak langsung memancing mereka untuk membocorkan informasi lebih lanjut.

Ia juga menemukan celah dalam dokumen perizinan. Ada beberapa persyaratan lingkungan yang tidak dipenuhi, dan beberapa izin yang didapatkan melalui jalur yang tidak biasa. Amara mengumpulkan semua bukti ini, menyusunnya dengan rapi, dan menyembunyikannya di tempat yang aman.

Suatu siang, saat Amara makan siang di kantin karyawan, Reno Pramudya mendekatinya dengan wajah muram. Rambutnya sedikit acak-acakan, dan matanya menunjukkan kelelahan. Jauh berbeda dengan Reno yang selalu tampil rapi dan ceria.

"Amara, bisa kita bicara sebentar?" tanyanya, suaranya sedikit serak.

Amara menatapnya, lalu mengangguk. Mereka berdua berjalan keluar kantin, menuju taman kecil di belakang gedung.

"Kau tahu tentang ini, kan?" Reno bertanya, suaranya bergetar. "Ayah berhenti menutupi hutang-hutangku."

Amara menatapnya datar. "Aku mendengarnya."

"Aku tidak tahu harus berbuat apa," Reno menghela napas, menunduk. "Semua temanku menjauhiku. Aku tidak bisa membayar tagihan-tagihanku."

Ada nada keputusasaan dalam suaranya. Amara merasakan gejolak dalam dirinya. Sebagian dirinya ingin mencibir, mengatakan bahwa itu pantas ia dapatkan. Tapi sebagian lain, yang ia kendalikan, harus menjaga perannya.

"Itu konsekuensi dari tindakanmu, Reno," Amara berkata, nadanya tenang. "Kau selalu hidup boros dan tidak bertanggung jawab."

"Aku tahu, aku tahu!" Reno frustrasi. "Tapi aku tidak menyangka ayah akan melakukan ini padaku. Dia selalu melindungiku."

"Mungkin ini saatnya kau belajar mandiri," Amara menyarankan, menyilangkan tangannya di depan dada. "Hidup tidak selalu tentang uang dan pesta."

Reno menatap Amara, matanya dipenuhi permohonan. "Kau bisa membantuku, Amara. Aku tahu kau dekat dengan ayah. Bicaralah dengannya. Yakinkan dia untuk membantuku lagi."

Amara tersenyum tipis, senyum yang tak menjanjikan apapun. "Kenapa aku harus membantumu, Reno?"

"Karena... karena kita pernah dekat," Reno terbata-bata. "Kita pernah jadi keluarga."

Kata "keluarga" itu bagaikan belati yang menusuk hati Amara. Keluarga yang sama yang telah menghancurkan Danisa.

"Keluarga?" Amara mengulang, nadanya dingin. "Kau ingat bagaimana kau memperlakukan Danisa? Bagaimana kau menghancurkan hatinya? Apa itu yang kau sebut keluarga?"

Reno terdiam. Wajahnya pucat. "Amara, aku... aku tahu aku salah. Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi pada Danisa. Aku... aku memang brengsek."

"Penyesalanmu terlambat, Reno," Amara berkata, suaranya mengeras. "Danisa sudah tidak ada. Dia pergi karena semua penderitaan yang kalian sebabkan padanya."

Reno menunduk, tak mampu menatap mata Amara yang penuh kemarahan. "Aku benar-benar menyesal. Jika aku bisa memutar waktu..."

"Kau tidak bisa," Amara menyela. "Dan tak ada gunanya kau menyesal sekarang. Hidupmu akan baik-baik saja tanpa uang ayahmu. Kau masih punya pekerjaan, kan? Kau bisa mulai dari nol."

Reno mendongak, matanya dipenuhi rasa tak percaya. "Kau tidak akan membantuku?"

Amara menggelengkan kepala. "Tidak. Kau harus menghadapi konsekuensinya sendiri. Itu adalah bagian dari pelajaran."

Reno menatapnya dengan campuran kekecewaan dan kemarahan. Ia tak menyangka Amara akan bersikap sekeras itu. Ia mungkin berharap Amara, si adik ipar yang dulu selalu ramah, akan mengasihani dirinya.

"Kau... kau sangat kejam, Amara," Reno berkata, suaranya pahit.

"Aku hanya bersikap adil," Amara membalas, senyumnya dingin. "Bagaimana rasanya, Reno? Merasakan kehilangan? Merasakan putus asa?"

Reno tak menjawab. Ia berbalik dan pergi, langkahnya gontai. Amara menatap punggungnya yang menjauh, hatinya tak merasakan simpati sedikit pun. Ini hanyalah awal.

Amara terus mendalami proyek Grand City Walk. Ia menghabiskan malam-malamnya menganalisis data, mencari kejanggalan, dan merencanakan langkah selanjutnya. Ia menemukan bahwa Bram Pramudya telah mengambil risiko besar dengan meminjam dana dalam jumlah besar dari bank asing, dengan proyek itu sebagai jaminan utama. Jika proyek gagal, seluruh kekayaan Pramudya Group bisa terancam.

Suatu hari, Amara mengusulkan sebuah pertemuan darurat dengan Bram dan beberapa manajer senior yang terlibat dalam proyek tersebut. Amara datang dengan presentasi yang rapi, berisi semua data dan bukti yang ia kumpulkan.

"Bram, Bapak-bapak, Ibu-ibu," Amara memulai presentasinya dengan tenang dan percaya diri. "Setelah melakukan analisis mendalam, saya menemukan beberapa kelemahan serius dalam proyek Grand City Walk."

Ia memaparkan data tentang keterlambatan izin, masalah lingkungan yang belum terselesaikan, dan yang paling krusial, kinerja buruk PT. Adhi Perkasa yang menyebabkan kerugian besar. Ia menunjukkan foto-foto lapangan yang menunjukkan kualitas pekerjaan yang buruk, laporan keuangan yang tidak transparan dari kontraktor, dan bahkan bukti transfer dana yang mencurigakan.

Beberapa manajer senior tampak terkejut, namun ada juga yang mengangguk setuju, seolah mereka sudah menduga hal ini. Bram Pramudya mendengarkan dengan wajah tegang, sesekali mengernyitkan dahi.

"PT. Adhi Perkasa tidak memenuhi standar kualitas, dan mereka sengaja memperlambat pekerjaan untuk membengkakkan biaya," Amara menjelaskan, suaranya tegas. "Dan yang lebih parah, ada indikasi bahwa beberapa izin diperoleh melalui cara-cara yang tidak legal, yang bisa menjadi bumerang bagi Pramudya Group di masa depan."

Ruangan menjadi hening setelah Amara selesai presentasi. Bram menatap Amara, matanya dipenuhi campuran kemarahan dan kekecewaan.

"Apa maksudmu dengan 'tidak legal'?" Bram bertanya, suaranya rendah.

"Ada beberapa transaksi mencurigakan yang terkait dengan birokrasi perizinan, Bram," Amara menjawab jujur. "Jika ini terungkap ke publik, reputasi Pramudya Group akan hancur, dan Anda bisa menghadapi tuntutan hukum yang serius."

Bram Pramudya, yang selalu percaya diri dan tak tergoyahkan, kini tampak terguncang. Ia tahu bahwa Amara tidak berbohong. Semua bukti yang dipaparkan Amara sangat kuat.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Bram bertanya, suaranya terdengar pasrah.

"Kita harus memutus kontrak dengan PT. Adhi Perkasa segera," Amara menyarankan, tegas. "Meskipun itu akan menimbulkan penalti, itu lebih baik daripada membiarkan proyek ini terus merugi dan merusak reputasi Anda. Dan kita harus mencari kontraktor baru yang lebih profesional dan transparan."

Beberapa manajer senior mulai berbisik-bisik, beberapa bahkan mengangguk setuju. Mereka telah lama menunggu seseorang untuk berani menyuarakan kebenaran ini.

Bram menghela napas panjang. Ia tahu Amara benar. Ia telah mengabaikan peringatan-peringatan dari timnya sendiri karena kesetiaan pada temannya.

"Baiklah," Bram akhirnya memutuskan. "Kita akan memutuskan kontrak dengan PT. Adhi Perkasa. Amara, aku ingin kau yang mengurus semua ini. Cari kontraktor baru yang bisa dipercaya. Aku akan memberikanmu wewenang penuh."

Amara tersenyum tipis. Ini adalah kemenangan besar. Ia kini memiliki kendali penuh atas proyek paling penting Pramudya Group.

Vina Pramudya, yang juga hadir dalam pertemuan itu, menatap Amara dengan tatapan penuh kebencian. Ia tahu bahwa Amara telah mendapatkan kepercayaan penuh ayahnya, dan itu membuatnya merasa terancam.

Setelah pertemuan, Vina langsung menghampiri Amara di lorong.

"Apa yang kau lakukan pada ayahku?" Vina berbisik, suaranya tajam. "Kau memanipulasinya!"

Amara menoleh, menatap Vina dengan tenang. "Saya hanya menunjukkan kebenaran, Nona Vina. Kebenaran yang mungkin tidak ingin Anda dengar."

"Kau tahu apa yang akan terjadi jika kontrak itu diputus? Kita akan rugi besar!" Vina berteriak, tak peduli dengan karyawan lain yang mungkin mendengar.

"Lebih baik rugi di awal daripada hancur total di kemudian hari, Nona Vina," Amara membalas, suaranya tetap tenang. "Pramudya Group akan bertahan. Hanya saja, mungkin dengan sedikit perubahan."

Vina mengepalkan tangannya. "Aku tidak tahu apa maumu, Amara. Tapi aku akan mengawasimu. Jangan harap kau bisa merusak keluarga kami."

"Saya tidak merusak," Amara tersenyum sinis. "Saya hanya membersihkan apa yang sudah busuk."

Amara meninggalkan Vina yang masih berdiri terpaku, kemarahan membara di matanya. Amara tahu, Vina akan menjadi duri dalam daging baginya. Namun, itu tidak akan menghentikannya.

Malam itu, Amara kembali ke apartemennya. Ia tidak langsung beristirahat. Ada banyak hal yang harus ia lakukan. Ia harus mencari kontraktor baru yang benar-benar bisa diandalkan, sekaligus memastikan bahwa semua bukti tentang kecurangan PT. Adhi Perkasa aman di tangannya.

Ia membuka laptopnya, meninjau kembali data-data yang ia miliki. Pikirannya melayang pada Danisa. Kakaknya yang dulu begitu ceria, kini hanya tinggal kenangan. Amara tahu, balas dendam ini bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk keadilan bagi Danisa.

Ia membayangkan saat klan Pramudya akhirnya jatuh. Bram Pramudya yang kehilangan kekuasaannya, Reno yang terpuruk tanpa harta, dan Vina yang kehilangan gaya hidup mewahnya. Saat itulah, Amara akan merasa puas.

Namun, di sudut hatinya, ada sedikit rasa hampa. Apakah ini akan benar-benar memberinya kedamaian? Apakah kehancuran orang lain akan mengembalikan senyum Danisa? Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, ia tak bisa berhenti sekarang. Ia sudah terlalu jauh melangkah.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Bram Pramudya tertera di layar.

"Ya, Bram?"

"Amara, terima kasih," suara Bram terdengar tulus, namun lelah. "Aku tahu aku membuat keputusan yang tepat dengan memutus kontrak itu. Aku harusnya mendengarkanmu dari awal."

Amara tersenyum tipis. "Saya senang bisa membantu, Bram. Kita akan membuat proyek ini berhasil."

"Aku tahu kita akan berhasil," Bram berkata. "Dan aku ingin kau terus membantuku, Amara. Aku ingin kau menjadi bagian dari tim intiku."

Amara menutup matanya sejenak. Ini adalah kunci utamanya. Ia telah berhasil menjadi orang kepercayaan Bram Pramudya, bagian dari inti keluarga yang ia benci.

"Tentu saja, Bram," Amara menjawab, suaranya mantap. "Saya akan membantu Anda semampu saya."

Ketika panggilan berakhir, Amara menatap keluar jendela, ke arah gedung-gedung tinggi di Jakarta yang gemerlap di malam hari. Di salah satu gedung itu, mungkin ada kantor Pramudya Group.

"Permainan semakin menarik, Pramudya," bisiknya, sebuah senyum kemenangan terukir di bibirnya. "Dan aku akan memastikan kalian semua kalah."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dihapus oleh Kebohongan dan Cintanya
9.8
Sepuluh tahun berkorban demi Baskara, Aria justru dibuang saat sang suami sukses. Demi Aurora, investor barunya, Baskara menghapus eksistensi Aria dan mengurungnya di gudang gelap meski tahu fobia yang dideritanya. Puncaknya, Baskara membiarkan Aria disiksa penculik demi menyelamatkan Aurora. Dalam kehancuran, Aria menghubungi Tante Evelyn, pengacara tangguh yang siap menjemputnya dengan jet pribadi untuk menuntut balas atas segala pengkhianatan ini.
Sampul Novel Direktur Iblis Takut Kehilangan
8.4
Hidup Lia Adelia hancur seketika saat ia kehilangan suami dan diusir dari rumahnya sendiri. Sebagai janda dengan dua anak, ia berjuang mencari kerja meski terus diremehkan karena status dan fisiknya. Takdir mempertemukannya dengan Bagas Samudra, direktur bank yang dingin dan menyebalkan. Meski Lia bersumpah tidak akan menikah lagi demi mendiang suaminya, sikap Bagas perlahan berubah menjadi penuh perhatian. Apa sebenarnya rencana sang direktur terhadap Lia?
Sampul Novel Hamili saya, tuan !
8.3
Chereena Kayona Albern dikenal sebagai putri sempurna yang tumbuh dalam perlindungan ketat ayahnya, Bobby Albern, sejak sang ibu wafat. Meski dibesarkan dengan penuh kasih dan pengawasan berlebih, Chereena tumbuh menjadi gadis pintar yang sangat dicintai. Namun, sebuah keputusan mengejutkan muncul saat ia justru mendekati Chaiden Barnard. Mengapa Chereena nekat meminta pengusaha CEO asal Rusia itu untuk menghamilinya di luar dugaan semua orang?
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah arsitek brilian dengan Adrian Wijaya hancur seketika saat kecelakaan menghapus ingatan sang taipan. Adrian berubah menjadi monster kejam di bawah kendali Helena yang licik. Ia membunuh adikku, melumpuhkan kakiku, hingga merampas pita suaraku untuk diberikan pada Helena. Pengkhianatan ini mengubah cinta menjadi dendam membara. Aku memalsukan kematian dan siap menghancurkan kerajaannya. Saatnya sang monster membayar segalanya.
Sampul Novel Kecanduan Ciumanmu
8.6
Midori, gadis blasteran berusia 18 tahun bermata biru, tak sengaja berciuman dengan Kenzo Watanabe saat berlibur di pemandian air panas Jepang. Insiden itu memicu obsesi mendalam di hati Kenzo, meski ia telah dijodohkan dengan bangsawan bernama Ayumi Tokugawa. Hubungan mereka pun terbentur tembok tradisi serta jarak antara Tokyo dan Perth yang memisahkan. Akankah takdir menyatukan Midori dan Kenzo di tengah segala rintangan? Sebuah sekuel emosional dari kisah cinta miliarder.
Sampul Novel My Fair Lady
9.0
Pasca gugur di luar angkasa, Alex sang pangeran kandidat kaisar bereinkarnasi ke Bumi abad ke-21. Namun, jiwanya kini terjebak dalam raga Alexandra, gadis malang yang dibenci keluarga Klein. Demi menyelamatkan bisnis, ia dipaksa menikah dengan Master Dietritch yang dingin. Meski dianggap hanya sekadar pengganti oleh orang sekitar, Alex yang berjiwa tangguh tidak tinggal diam. Dimulailah kisah ratu pemberani di tengah dekapan sang presiden tiran yang posesif.