
Dendam Membara CEO Mesum
Bab 2
Aku kembali keluar, dan mengembalikan seragam losmen kepada petugas sapu yang tadi. Lalu aku masuk ke resepsionis, dan memesan satu kamar disebelah kamar Adi dan istriku. Saat aku memasuki kamar, aku mendengar bahwa istriku sedang tertawa cekikikan bersama Adi.
"Hihihi. Temen kamu tuh ya Di, masuk kamar langsung ga tahan. Sampe mendesah-desah gitu," kata istriku samar-samar.
"Tau tuh Bu. Langsung horny aja, lagi bersetubuh tuh kayanya," balas Adi samar-samar.
Aku mengetuk-ngetuk langit-langit ruanganku ini. Yak, persis seperti bayanganku. Ada bagian yang hanya triplek saja, dan ada bagian yang solid, sepertinya untuk pijakan jika harus naik ke atap.
Aku membuka bagian yang triplek itu, dan naik keatap. Lalu aku berjalan kearah kamar istriku dan Adi di atap, dan aku menemukan... triplek yang bisa dibuka. Maka, kubuka sedikit triplek itu, sehingga bisa melihat kebawah.
Saat aku melihat kebawah, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Adi sedang merangkul pinggang istriku di tepi kasur, sementara istriku duduk dipangkuannya, dan mulut mereka sedang... berciuman. Adi tampak bernafsu menciumi bibir istriku. Amarahku membara sekali, sebelum akhirnya tiba-tiba istriku mendorong tubuh Adi, sehingga Adi melepaskan ciumannya di bibir istriku.
"Jangan Di, ini gak pantas kita lakukan," kata istriku dengan terbata-bata.
Bagus istriku, lawan terus.
"Emang gak pantas? Toh suami ibu gak bisa muasin ibu. Aku akan muasin Bu Erna, aku janji." Kata Adi dengan nafas yang mulai terdengar memburu.
Hah? Oohh, jadi kamu menceritakan tentang hubungan kita di ranjang toh Erna? Padahal aku berusaha keras untuk menutupi kekurangan kamu, aku selalu membangga-banggakan kamu di depan teman-teman kantorku.
Lalu, si Adi kurang ajar itu kembali mendaratkan ciuman-ciuman, kali ini ke seluruh wajah istriku, sampai ke daun telinga dan lehernya. Aku melihat bahwa birahi istriku mulai naik. Istriku mulai mendesis-desis mendapatkan rangsangan yang diberikan si Adi bangsat itu.
Oh iya, aku melupakan sesuatu. Adegan ini harus kurekam untuk menjadi bukti. Maka aku kembali ke kamarku melalui atap, untuk mengambil HP-ku. Aku segera men-silent hp-ku dan mengatur mode untuk rekaman.
Setelah selesai, aku kembali naik ke atap, dan berjalan ke kamar kedua bangsat itu. Terlebih dahulu aku memposisikan HP-ku di lantai atap, agar aku tidak perlu memegangi HP-ku, aku melihat di layar HP-ku gambar sudah terpancar kearah mereka, dan Astagaaa... aku melihat di layar HP-ku, istriku sudah terlentang di kasur dengan telanjang dada, ya tanpa terlindungi apapun sehingga aku bisa melihat dengan jelas buah dadanya yang indah dan putih. Sementara, si Adi bangsat itu sedang mengulum dan meremas-remas buah dada istriku.
"Buu... da... dadamu puutihh dan... indaah se.. sekalii... a... akuu makiin ga tahaan, sayaang," kata Adi dengan terputus-putus.
HP-ku sudah terpasang dengan sempurna, posisi zoom nya pun sudah pas, sehingga wajah dan seluruh tubuh mereka terlihat jelas. Sekarang tinggal menunggu mereka selesai, dan bukti rekaman pun akan kudapatkan.
Setelah puas dengan buah dada istriku, Adi bangsat itu mulai menuruni kepalanya, menuju perut dan pusar istriku untuk menciuminya, sementara kedua tangannya masih meremas-remas buah dada istriku.
Istriku yang mendapat rangsangan di perut dan pusarnya, langsung kembali mendesis-desis. Aku tahu, bahwa perut itu adalah salah satu titik rangsang hebat pada istriku. Kalau boleh jujur, lama-lama aku ikut terangsang juga. Wajar saja, sebetulnya aku ingin sekali turun dan membunuh si Adi bangsat itu.
Tetapi, aku itu orangnya memang licik, aku selalu berpura-pura bodoh dan polos di depan siapapun, sehingga seluruh kawan dan lawanku akan lengah. Kalau aku keluar sekarang, mungkin masalah yang ini akan selesai, tetapi istriku akan lebih hati-hati lain kali.
Kita bisa lihat sih daritadi istriku juga memberikan perlawanan, tapi dari awal mula istriku saja sudah membohongiku dengan mengatakan bahwa ia mau menyelesaikan lemburan, eh malah pergi ke tempat ini bersama para bedebah itu. Apalagi itu namanya kalau bukan mau tapi malu-malu?
Karena alamiku seperti itu, mau tidak mau aku hanya bisa menonton mereka sampai selesai. Karena hanya bisa menonton, lama-lama aku pun mulai terangsang, yah semoga birahiku yang mulai naik ini bisa mengalahkan amarah yang sedang naik juga ini, sehingga aku tidak berbuat bodoh karena didorong amarah.
Si Adi bangsat itu kemudian menarik celana dan celana dalam istriku dalam satu tarikan, sehingga sekarang tubuh istriku benar-benar tanpa pelindung sama sekali di hadapan si brengsek itu.
Aku pun juga ikut melihat tubuh istriku, yang memang kuakui sangat indah. Buah dadanya yang putih dan bulat padat, dilengkapi dengan puting merah muda yang tidak kecil, namun tidak oversize juga. Perut dan pusarnya yang menawan dan ramping, pahanya yang menggoda, dan rambut kemaluannya yang tidak tipis, sedikit lebat namun tidak acak-acakan, dan gundukan miss V yang indah. Sialnya, saat ini yang paling menikmati pemandangan itu adalah si bangsat itu. Tanpa kuduga, istriku langsung meringkuk diatas kasur untuk menutupi buah dada dan kemaluannya.
"Cukup Di, aku tidak ingin merusak keutuhan perkawinanku." Kata istriku dengan terbata-bata.
Hmmm, rupanya dia masih memikirkan perkawinanku. Aku cukup salut dengan hal ini. Akan kupertimbangkan nanti untuk meringankan hukumanmu, istriku sayang.
"Bu, apa Ibu nggak kasihan padaku sayang? Aku udah terlanjur terbakar nih. Pleasee... kumohon sayang." Kata Adi bangsat dengan memelas.
Si Adi bangsat kembali menggarap tubuh istriku, dan istriku menurut saja. Ya ampun, baru saja aku pikir bahwa dia memang memikirkan perkawinan kita, tapi ternyata dia luluh semudah itu oleh permintaan Adi bangsat yang memelas itu. Haah, itu sih istriku hanya berusaha terlihat baik saja, padahal sebenarnya mau juga. Dasar munafik!
Si Adi bangsat itu kembali mengulum dan meremas-remas kedua buah dada istriku, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus paha dan selangkangan istriku. Istriku mulai mendesah, matanya mulai merem-melek. Bukan main syurnya adegan yang sedang kulihat ini.
Tidak lama kemudian, si Adi bangsat itu melepaskan istriku dan berdiri di tempat tidur, dan melepaskan seluruh pakaiannya. Kini mereka sama-sama telanjang. Aku melihat istriku begitu terpesona oleh tubuh si bangsat itu. Memang tubuhnya kuakui lebih kekar daripada aku, dan barangnya pun juga lebih panjang dan lebih besar daripada aku. Tapi please, akankah istriku terbuai hanya karena itu saja? Come on, man...
Setelah itu, si bangsat itu mendekap tubuh istriku, meremas-remas kedua buah dada istriku, dan menciumi sekujur tubuh istriku, dari leher, menuju dada, perut, dan paha. Badanku betul-betul panas melihat adegan itu, entah karena birahi atau amarah, semoga saja karena birahi ya. Si Adi bangsat itu mulai memasukkan jari tangannya ke dalam kemaluan istriku. Istriku hanya bisa megap-megap, dan menggoyang pantatnya.
"Cu... cukupp Di... jangan sampai dimasukkan jarinya... cukup diluaran sajaa ..." kata istriku sambil terengah-engah.
Heh? Kalau diluaran aja boleh gitu maksudnya? Sialan!
Anda Mungkin Juga Suka





