
Dendam Membara CEO Mesum
Bab 3
Adi sialan itu tampak tidak menggubris permintaan istriku, dan terus saja memainkan jarinya di dalam lubang kemaluan istriku. Istriku makin lama makin terengah-engah. Setelah itu, si Adi itu melepaskan jarinya dan menelusupkan kepalanya ke selangkangan istriku.
Tidak terlihat jelas karena aku melihat dari atas, tapi aku tahu bahwa si kampret itu mengulum dan menjilati kemaluan istriku, tampak dari istriku yang kejang-kejang lumayan hebat dan mulai menjambaki rambut si bangsat itu.
Badanku semakin panas saja melihat adegan itu, aku menduganya karena birahi karena kejantananku sekarang tegang sekali.
Cukup lama mereka pada posisi itu, sampai akhirnya aku melihat istriku semakin kejang hebat, dan sepertinya akan mendapatkan orgasme nya. Akan tetapi, disaat istriku selangkah lagi mendapatkan orgasme nya, si Adi sialan itu langsung berdiri dan mengocok-ngocok miliknya.
"Bu... udah hampir setengah jam nih, dari tadi aku terus yang aktif. Gantian dong Bu Erna yang aktif sekarang." Kata si Adi itu.
Anjrriiittt! Pintar sekali si bangsat itu menghentikan istriku yang hampir orgasme, sehingga istriku akan lebih bernafsu pastinya.
"Aku ga bisa Di, aku masih takut." Jawab istriku.
Masih punya kesadaran toh istriku, tapi maaf, kamu bukannya punya kesadaran, tapi memang sudah bernafsu, karena kalau kamu masih punya kesadaran, kamu pasti akan menghentikan semua itu. Siapapun bisa melihat permainanmu, Erna istriku.
"Yaudah, pegang iniku saja sayang," kata si bangsat itu sambil berbaring disebelah istriku dan menunjuk miliknya.
Istriku pun bangun dari posisi telentangnya dan duduk disamping paha si kurang ajar itu. Tangan kanannya mulai menggenggam kamaluan si bangsat itu.
"Besaran mana sama punya suami ibu?" tanya si bangsat itu.
Sialan! Bangsat! Berani-raninya si brengsek itu menggoda istriku dengan cara seperti itu.
Istriku tidak menjawab pertanyaannya.
"Diapain nih Di? Sumpah ibu gak bisa apa-apa," kata istriku.
Udahlah, gak usah pura-pura, Erna. Kamu sebetulnya ingin mengocok punyanya kan, tapi malu-malu aja.
"Yaudah. Dikocok aja sayang, bisa kan?" Kata si bangsat.
Istriku perlahan-lahan mulai mengocok kemaluan si bangsat itu. Si bangsat itu cuma bisa merem keenakan. Iyalah, kocokan istriku itu memang mantap, aku akui itu. Lama-kelamaan, kocokan istriku semakin kencang, sementara si bangsat itu mulai membuka mulutnya sedikit karena keenakan.
Lalu, si bangsat itu memutar tubuhnya, dan mengatur tubuh istriku sedemikian rupa sehingga istriku sedang berlutut menghadap alat vital si bangsat, sedangkan si bangsat itu ada diantara kedua kaki istriku menghadap kemaluan istriku. Dengan posisi mereka itu, aku bisa melihat si bangsat itu melumat kemaluan istriku dengan lahap. Cukup lama mereka ada dalam posisi itu. Aku bisa mendengar dengusan istriku semakin lama semakin hebat, dan kocokannya pada kemaluan si bangsat itu juga makin hebat.
Setelah sekian lama mereka saling bermain-main dengan kemaluan lawan mereka masing-masing, si Adi itu melepaskan istriku dan membaringkannya di tempat tidur. Si bangsat itu pun langsung menindih tubuh istriku, sedangkan kepalanya menutupi kepala istriku.
Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan karena aku melihat mereka dari atas. Akan tetapi, aku mendengar suara yang cukup familiar, seperti suara mulut yang sedang mengecap-ngecap. Akhirnya aku menyadari bahwa mereka sedang berciuman satu sama lain.
Ya, istriku pun juga ikut membalas ciuman si bangsat itu, karena jika hanya satu yang berciuman, suaranya tidak mungkin seperti ini.
Bangsat! Rupanya istriku pun sudah jatuh dalam birahinya sendiri. Badanku semakin panas, pikiranku semakin kabur, dan kemaluanku juga semakin mengeras. Aku bisa melihat sekujur tubuh belakang si bangsat itu mulai mengkilap karena berkeringat, begitu juga dengan tubuh istriku yang sedikit terlihat. Di tengah hebatnya mereka berciuman, aku melihat si bangsat itu menggerakan pantatnya melewati perut istriku, hingga akhirnya posisi pantatnya sudah berada di selangkangan istriku.
"Dii... jangaann dimasukkaann ..." Desah istriku.
"Yaudah... ka.. kalaau nggak boleh dimasukkiin... aku gesek-gesekkan di bibirnya aja yaa sayaangg ..." Desah Adi.
Istriku diam saja, tanda setuju. Aku tidak bisa melihat bagaimana posisi kejantanan dan kemaluan si bangsat dan istriku, tapi aku melihat pantat si bangsat itu melakukan gerakan-gerakan kecil.
Entahlah apa yang dilakukan si bangsat itu, sampai akhirnya ada reaksi kaget dari tubuh istriku. Sekarang, pantat si bangsat itu berubah menjadi maju-mundur dengan kecil. Aku tahu bahwa milik si bangsat itu sedang menggesek-gesek bibir kemaluan istriku, karena jika sudah masuk, gerakan maju mundurnya tidak mungkin sependek itu. Pantat si bangsat itu terus melakukan gerakan maju mundur kecil, sedangkan aku bisa melihat lidah istriku dan si bangsat itu sedang bermain-main, karena posisi kepala mereka sekarang menyamping.
"Ayyooohh... ngomooongg sayaangg... gi... gimanaa rasaanyaahhh ..." Desah si bangsat.
"Teruss Dii... teruussss ..." Desah istriku.
Kalau begini, sudah tidak mungkin bagi istriku untuk menghentikan semuanya. Mungkin sebentar lagi istriku akan meminta digenjot sepenuhnya. Dan tiba-tiba, pantat si bangsat itu maju dengan keras dan dalam. Aku yakin bahwa miliknya sudah masuk sepenuhnya ke dalam kemaluan istriku.
"Loohh Diii... dimasukkan semuaa yaaahh ..." Desah istriku.
Benar saja kan?
"Tanggung sayaangg.. aku gak tahaannn ..." Desah si bangsat sambil memaju-mundurkan perlahan pantatnya.
Aku mendengar istriku dan si bangsat semakin mendesah-desah, sementara pantat si bangsat itu makin kencang maju-mundurnya. Aku melihat tubuh istriku terkadang timbul tenggelam dibawah gencetan si bangsat itu, tanda bahwa istriku sedang menggoyang-goyang pantatnya untuk mengimbangi genjotan si bangsat.
"Teruuss Diii... Akuu gaakk kuaaattt ..." Erang istriku.
Si bangsat itu menggoyang pantat dan menusuk-nusukkannya dengan semakin kuat.
"Terruusss Diii... Akuu gaakk kuaaattt ..." Istriku kembali mengerang.
Diminta terus, si bangsat itu makin cepat lagi.
Tidak lama kemudian, aku melihat kedua tangan istriku muncul dari bawah gencetan tubuh si bangsat, kemudian memeluk punggung si bangsat itu dengan cukup kuat. Sementara paha nya menggoyang-goyang semakin kuat, akibat goyangan dari pantatnya, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Dii... aku hampiirr keluar ..." erang istriku.
Melihat istriku hampir sampai pada titik puncanya, si bangsat itu semakin hebat menusuk-nusukkan pantatnya ke kemaluan istriku.
"Kalauu udaah keluar ngomooongg sayaanngg, biar aakkuu ikutt puasss ..." Desah si bangsat.
"Oooohhh... oooohhhh... aku keluar Diii ..." Erang istriku, sambil menjambak rambut si bangsat dan menaikkan pantatnya sekuat tenaga.
Aku melihat bagian kasur di area tempat selangkangan mereka bertemu menjadi sedikit basah. Ya ampun, istriku sebegitu menikmatinya sampai orgasme pipis begitu, denganku saja tidak pernah.
Istriku tampak kelelahan sekali, dan mukanya tampak sangat puas dengan genjotan si bangsat itu. Si bangsat itu pun juga menghentikan genjotannya.
"Aku belum keluar sayang ... Aku lanjutin dulu, tahan sebentar ya sayaang." Kata si bangsat sambil mencium pipi istriku.
Kemudian, si bangsat itu kembali menggenjot kemaluan istriku dengan cukup perlahan. Kali ini, tubuh istriku benar-benar tenggelam dibawah gencetan si bangsat, hanya kepalanya dan wajahnya saja yang terlihat, karena posisi kepala istriku dan si bangsat itu menyamping. Ekspresi wajah istriku tampak kesakitan, tetapi si bangsat itu tetap saja menggenjot kemaluan istriku.
Lama-kelamaan, genjotannya semakin kencang. Bibir si bangsat pun mulai menciumi pipi dan bibir istriku. Akhirnya, tubuh istriku mulai timbul dari bawah gencetan si bangsat itu, tanda pantatnya mulai bergoyang lagi, sementara bibir istriku mulai membalas ciuman si bangsat itu.
Anda Mungkin Juga Suka





