Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Demi Wanita Itu, Kau Ceraikan Aku

Demi Wanita Itu, Kau Ceraikan Aku

Kebahagiaan Aleandra hancur saat mengetahui Raffael berselingkuh. Padahal, ia telah berkorban segalanya demi pernikahan yang semula dikira sempurna itu. Setelah diceraikan demi wanita lain, Aleandra bangkit sebagai janda tangguh. Demi sang putra, ia bertekad membuktikan kepada mantan suami dan mertuanya bahwa dia bisa sukses secara mandiri. Mampukah Aleandra meraih mimpinya, atau justru terpuruk dan membenarkan hinaan Raffael bahwa ia bukan siapa-siapa?
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, setelah pintu apartemen menutup di balik punggung Raffael, keheningan yang sebelumnya menyesakkan kini terasa dingin dan hampa. Aleandra berdiri terpaku di ruang tamu, napasnya tersengal, dan seluruh tubuhnya bergetar. Dia sudah mengusirnya. Pria yang selama ini menjadi poros hidupnya, ayah dari putranya, kini tidak ada lagi di sisinya. Sebuah kekosongan yang menganga lebar tiba-tiba mengambil alih tempat di mana kebahagiaan palsu itu pernah bersemayam.

Air mata yang tertahan selama percakapan sengit itu akhirnya tumpah ruah. Aleandra tidak lagi menahannya. Dia jatuh berlutut di atas karpet Persia yang lembut, isakan-isakan pilu mengoyak dada. Ini bukan hanya tentang pengkhianatan Raffael; ini tentang kehilangan ilusi, tentang hancurnya mimpi yang telah dia bangun dengan hati-hati selama bertahun-tahun. Kenangan-kenangan manis, sentuhan lembut, janji-janji yang diucapkan di bawah rembulan, semuanya kini terasa seperti debu, menodai setiap sudut ingatannya.

"Aku bodoh!" bisiknya di antara isakan, tangannya mencengkeram erat gaun tidurnya. "Bagaimana aku bisa sebodoh ini?" Rasa sakit itu begitu intens, membakar dari dalam, seolah ada bara api yang melahap setiap sel di tubuhnya. Dia tidak tahu berapa lama dia menangis di sana, meringkuk dalam kegelapan dan kesepian yang baru. Waktu terasa berhenti, terlarut dalam kesedihan yang tak berujung.

Pikiran tentang Arya adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak sepenuhnya tenggelam. Putranya. Masih polos, masih tidur pulas di kamarnya, tidak tahu bahwa dunianya baru saja berubah drastis. Aleandra tahu dia harus kuat demi Arya. Dia harus bangkit. Tidak peduli seberapa hancur perasaannya, dia harus menunjukkan bahwa dia bisa bertahan, bahkan tanpa Raffael. Perkataan Raffael yang menusuk telinga-"Kau bukan apa-apa tanpaku"-terus terngiang, memicu api kemarahan di tengah puing-puing hatinya. Api itu, betapapun kecilnya, adalah satu-satunya yang memberinya kekuatan untuk bergerak.

Perlahan, dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Aleandra bangkit. Dia menyeret langkahnya ke kamar mandi, membasuh wajahnya yang sembap dengan air dingin. Memandang pantulan dirinya di cermin, dia melihat seorang wanita dengan mata merah bengkak dan wajah pucat pasi. Tapi di balik kesedihan itu, ada kilatan tekad yang mulai menyala. Dia tidak akan menjadi korban. Dia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam. Dia akan membalas semua ini, dengan caranya sendiri.

Malam itu adalah malam tanpa tidur bagi Aleandra. Dia duduk di sofa ruang tamu, matanya terpaku pada kegelapan di luar jendela, otaknya berputar memikirkan langkah-langkah selanjutnya. Pertama, Arya. Dia harus melindungi Arya dari kehancuran ini. Putra kecilnya tidak boleh melihat ibunya rapuh, apalagi membenci ayahnya. Kedua, perceraian. Ini harus diselesaikan secepat mungkin. Ketiga, dan yang paling penting, dirinya sendiri. Dia harus membangun kembali kehidupannya, lebih kuat, lebih sukses, sehingga Raffael akan menyesal telah membuangnya.

Pagi menjelang. Matahari mengintip dari celah tirai, membawa cahaya baru yang terasa ironis dengan kegelapan di hati Aleandra. Dia menyiapkan sarapan untuk Arya seperti biasa, berusaha keras untuk tampil normal. Saat Arya muncul dengan rambut acak-acakan dan senyum ceria, jantung Aleandra terasa sakit, tetapi juga dipenuhi cinta yang melimpah. Arya adalah alasannya. Arya adalah kekuatannya.

"Mama, Papa mana?" tanya Arya polos, celotehan paginya yang biasa kini terasa seperti tusukan jarum.

Aleandra tersenyum paksa. "Papa sedang ada pekerjaan mendadak di luar kota, Sayang. Mungkin beberapa hari baru pulang." Itu adalah kebohongan pertama yang harus dia ucapkan demi melindungi putranya. Dia membenci dirinya sendiri karena itu, tetapi dia tahu ini adalah yang terbaik untuk saat ini.

Selama beberapa hari berikutnya, Aleandra bergerak seperti robot. Dia mengurus Arya, pergi bekerja, dan mencoba menjalani rutinitasnya. Namun, setiap momen terasa berat. Kantin kantor yang biasanya ramai terasa sunyi. Proyek-proyek yang dulu memicu semangatnya kini terasa hambar. Rasa kehilangan dan pengkhianatan terus menggerogotinya. Beberapa teman kerjanya, terutama Bianca, sahabat karibnya sejak kuliah, menyadari ada yang salah.

"Aleandra, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," Bianca mendekat di sela-sela jam makan siang. Bianca, dengan rambut ikal dan senyum hangatnya, selalu menjadi tempat Aleandra bersandar.

Aleandra hanya menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, Bianca. Hanya sedikit lelah."

Bianca memegang tangannya. "Aleandra, aku kenal kamu. Kamu bisa bercerita padaku."

Melihat tatapan tulus di mata Bianca, bendungan air mata Aleandra kembali nyaris jebol. Dia tahu dia tidak bisa menyembunyikannya lebih lama. Sore itu, setelah jam kerja usai, Aleandra meminta Bianca untuk menemaninya ke sebuah kafe sepi. Di sana, di antara hiruk pikuk kota yang mulai mereda, Aleandra menceritakan semuanya: dari kecurigaan awal, penemuan pesan di ponsel Raffael, panggilan ke Nayla, hingga konfrontasinya dengan Raffael dan pengusirannya.

Bianca mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya berubah dari prihatin menjadi marah. Saat Aleandra selesai bercerita, Bianca membanting cangkir kopinya ke meja, nyaris membuatnya tumpah.

"Kurang ajar! Bajingan itu! Beraninya dia melakukan itu padamu?" seru Bianca, suaranya tertahan agar tidak menarik perhatian. "Aku tidak pernah menyangka Raffael sebrengsek itu. Aku selalu berpikir dia adalah pria yang sempurna."

"Aku juga," bisik Aleandra, air mata kembali membasahi pipinya. "Aku merasa seperti orang bodoh. Aku menghabiskan tujuh tahun hidupku untuknya, untuk membangun keluarga ini. Dan dia menghancurkannya dalam sekejap."

"Aleandra, dengarkan aku," Bianca meraih tangan Aleandra, menggenggamnya erat. "Kamu bukan orang bodoh. Kamu adalah korban dari kebohongan dan pengkhianatan. Dan pria itu, Raffael, dia akan menyesal. Aku bersumpah. Kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik."

Dukungan Bianca terasa seperti embun di padang gersang. Aleandra tidak tahu betapa dia membutuhkan seseorang untuk berada di sisinya, untuk mengatakan bahwa dia tidak sendirian.

"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Bianca.

"Aku akan menceraikannya," jawab Aleandra dengan suara penuh tekad. "Dan aku akan memastikan dia membayar mahal untuk semua ini. Aku akan bangkit, Bianca. Aku akan menunjukkan padanya bahwa aku lebih dari cukup tanpa dia. Dia bilang aku bukan apa-apa tanpanya? Dia akan melihat."

Kilatan di mata Aleandra membuat Bianca tersenyum. "Itu Aleandra yang aku kenal! Wanita tangguh yang tidak pernah menyerah. Aku akan mendukungmu. Apa pun yang terjadi."

Langkah pertama adalah mencari pengacara. Dengan bantuan Bianca, Aleandra menghubungi seorang pengacara perceraian terkenal, Bapak Suryo, yang dikenal dengan ketegasannya dalam membela klien wanita. Pertemuan pertama mereka di kantor Bapak Suryo terasa berat. Aleandra harus mengulang kembali semua detail pengkhianatan Raffael, setiap kebohongan, setiap luka. Bapak Suryo mendengarkan dengan tenang, mencatat setiap poin dengan cermat.

"Jadi, Bu Aleandra, bukti yang Anda miliki adalah pesan dan foto di ponsel suami Anda, serta pengakuan dari wanita selingkuhan itu?" tanya Bapak Suryo, kacamatanya melorot di hidung.

"Ya, dan saya bersedia bersaksi di pengadilan jika diperlukan. Nayla juga, saya yakin dia akan bersaksi jika ditekan," jawab Aleandra, suaranya mantap.

"Baik. Bukti ini cukup kuat untuk mengajukan gugatan cerai dengan alasan perselingkuhan, yang akan memperkuat posisi Anda dalam pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak," jelas Bapak Suryo. "Namun, kita harus bersiap untuk perlawanan dari pihak suami Anda. Biasanya, dalam kasus seperti ini, mereka akan mencoba menyangkal atau membalikkan fakta."

Aleandra mengangguk. Dia sudah siap untuk itu. "Saya tidak peduli. Saya hanya ingin ini cepat selesai. Dan saya ingin hak asuh Arya sepenuhnya. Saya tidak ingin Arya tumbuh di lingkungan yang tidak sehat."

Bapak Suryo mengangguk setuju. "Itu wajar. Untuk sementara ini, sebaiknya Anda tetap di apartemen. Kita akan segera mengirimkan surat panggilan mediasi."

Proses perceraian dimulai. Beberapa hari kemudian, surat panggilan mediasi tiba di alamat Raffael. Reaksinya, seperti yang diprediksi, adalah kemarahan. Dia menelepon Aleandra berkali-kali, memaki, mengancam, dan memohon secara bergantian.

"Aleandra, apa-apaan ini? Gugatan cerai? Kau gila? Jangan mempermalukan kita!" teriak Raffael melalui telepon.

"Kau yang mempermalukan kita, Raffael. Sejak kau tidur dengan wanita lain," balas Aleandra dingin. "Aku sudah bilang, aku tidak akan mundur. Temui pengacaraku. Kita selesaikan ini baik-baik atau buruk."

Raffael terus mengancam akan mengambil Arya, akan menyulitkan hidup Aleandra, akan menyebarkan berita buruk tentangnya. Tetapi Aleandra sudah terlalu sakit untuk takut. Ancaman Raffael hanya memperkuat tekadnya. Dia menutup telepon, dadanya bergemuruh. Ini baru permulaan.

Ibu mertua Aleandra, Nyonya Karina, juga tidak tinggal diam. Nyonya Karina adalah wanita tua yang angkuh dan selalu meremehkan Aleandra. Sejak awal pernikahan, Nyonya Karina tidak pernah menyukai Aleandra, menganggapnya tidak cukup pantas untuk putranya yang "sempurna" itu. Dia seringkali melontarkan komentar sinis tentang latar belakang keluarga Aleandra yang tidak sekaya mereka, atau tentang karier Aleandra yang dianggapnya "tidak seprestisius" pekerjaan Raffael.

Beberapa hari setelah gugatan cerai dilayangkan, Nyonya Karina menelepon Aleandra.

"Aleandra! Apa yang kau lakukan pada putraku? Beraninya kau menggugat cerai Raffael? Kau tahu betapa malu keluarga kami?" suara Nyonya Karina melengking tinggi, penuh amarah.

"Putra Anda berselingkuh, Nyonya Karina. Dia menghancurkan rumah tangga ini," jawab Aleandra tenang, meskipun hatinya bergemuruh.

"Omong kosong! Raffael tidak mungkin melakukan itu! Dia anak baik-baik. Pasti kau yang memancingnya, kau yang tidak becus melayani suami! Kau pikir kau siapa? Kau itu bukan apa-apa tanpa Raffael!" Kata-kata Nyonya Karina menusuk, persis seperti yang dikatakan Raffael.

Mendengar itu, api kemarahan Aleandra menyala semakin terang. Dia sudah muak diremehkan. Dia sudah muak dituduh.

"Dengar, Nyonya Karina," kata Aleandra, suaranya kini penuh ketegasan yang dingin. "Saya tidak peduli apa pendapat Anda tentang saya. Yang jelas, putra Anda adalah seorang pengkhianat. Dan saya tidak akan menoleransi itu. Saya akan menceraikannya. Dan saya akan mendapatkan hak asuh Arya. Anda bisa terus membelanya, tetapi kebenaran akan terungkap."

"Beraninya kau bicara seperti itu pada ibu mertuamu? Kau akan menyesal, Aleandra! Aku akan memastikan kau tidak mendapatkan sepeser pun dari harta Raffael! Dan Arya akan ikut dengan ayahnya! Kau akan menjadi janda miskin yang kesepian!" ancam Nyonya Karina, tertawa mengejek.

"Kita lihat saja nanti, Nyonya Karina. Kita lihat siapa yang akan menjadi janda miskin. Dan saya bersumpah, saya akan memastikan Anda dan putra Anda melihat saya sukses, jauh di atas kalian. Kalian akan menjadi penonton kesuksesan saya." Aleandra menutup telepon tanpa menunggu balasan Nyonya Karina. Tangannya mengepal erat, matanya memancarkan tekad membara.

Ancaman dan penghinaan dari Raffael serta ibunya justru menjadi bahan bakar bagi Aleandra. Dia menyadari bahwa kesedihan tidak akan membawanya ke mana-mana. Yang dia butuhkan adalah kekuatan, strategi, dan rencana balas dendam. Bukan balas dendam yang merusak diri sendiri, tetapi balas dendam yang membangun dirinya menjadi versi yang lebih baik, lebih kuat, dan tak terjangkau oleh mereka.

Dia mulai mengubah dirinya, sedikit demi sedikit. Dia kembali berolahraga rutin, makan lebih sehat, dan tidur lebih awal-meskipun tidur nyenyak masih menjadi barang mewah baginya. Dia mulai fokus sepenuhnya pada pekerjaannya, melampaui ekspektasi klien, dan mengambil proyek-proyek yang lebih menantang. Dia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri, dan kepada dunia, bahwa dia bukan hanya "istri Raffael" atau "mantan istri Raffael", tetapi Aleandra, seorang arsitek lanskap berbakat yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Suatu hari, Aleandra memberanikan diri membuka kembali laptop lamanya. Laptop yang berisi semua ide, sketsa, dan rencana bisnisnya untuk mendirikan firma arsitektur lanskapnya sendiri. Dulu, dia menunda semua itu demi Raffael, demi "keluarga". Kini, tidak ada lagi alasan untuk menunda.

Dia menghabiskan malam-malamnya setelah Arya tidur untuk meninjau kembali proposal bisnisnya. Dia memperbarui riset pasar, menyempurnakan portofolio desainnya, dan mulai mencari tahu tentang legalitas mendirikan perusahaan. Tekadnya membara. Dia akan membangun kerajaan kecilnya sendiri.

Tentu saja, perjalanan ini tidak mudah. Ada hari-hari di mana dia merasa lelah hingga ke tulang, hari-hari di mana keraguan merayapi hatinya, dan hari-hari di mana kesedihan atas kehancuran rumah tangganya kembali menghantamnya seperti ombak. Namun, setiap kali dia melihat wajah polos Arya yang sedang tidur, atau mengingat perkataan Raffael dan Nyonya Karina yang meremehkan, semangatnya kembali bangkit.

Bianca adalah pilar dukungan utamanya. Dia sering datang untuk membantu Aleandra mengurus Arya, menemaninya saat dia sedang menggarap proyek, atau hanya sekadar mendengarkan keluh kesah Aleandra. Bianca bahkan membantu Aleandra dalam riset pasar untuk bisnis barunya, memberikan ide-ide segar dan semangat yang tak terbatas.

"Aleandra, kamu harus percaya pada dirimu sendiri," kata Bianca suatu malam, saat mereka sedang merencanakan logo untuk firma baru Aleandra. "Desainmu itu luar biasa. Klien-klienmu selalu memujimu. Ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada mereka semua siapa Aleandra yang sebenarnya."

Perkataan Bianca semakin membakar semangat Aleandra. Dia tahu ini akan menjadi jalan yang panjang dan penuh rintangan. Perceraiannya dengan Raffael akan menjadi sorotan di kalangan sosial mereka, dan Nyonya Karina pasti akan menyebarkan cerita versi mereka sendiri. Tapi Aleandra tidak peduli. Dia akan menghadapi semua itu.

Dia mulai membangun jaringan profesionalnya kembali. Menghadiri acara-acara industri, menghubungi kolega lama, dan bahkan mengambil kursus singkat tentang manajemen bisnis. Dia belajar tentang pajak, pemasaran, dan cara mengelola tim. Setiap pengetahuan baru adalah senjata baginya, setiap koneksi baru adalah peluang.

Aleandra juga mulai memperhatikan penampilannya lagi. Dulu, dia berdandan untuk Raffael, untuk membuatnya bangga. Sekarang, dia berdandan untuk dirinya sendiri. Dia membeli beberapa pakaian baru yang lebih modern dan profesional, memotong rambutnya dengan gaya yang lebih segar, dan mulai memakai riasan tipis yang menonjolkan fitur terbaiknya. Dia ingin terlihat kuat, percaya diri, dan tak tergoyahkan.

Setiap kali dia melewati cermin, dia tidak lagi melihat wanita yang hancur dan rapuh. Dia melihat seorang wanita yang sedang dalam proses transformasi. Seorang wanita yang, meskipun terluka parah, memiliki tekad baja untuk bangkit dari abu.

Persiapan untuk sidang perceraian pun terus berlanjut. Bapak Suryo mengumpulkan semua bukti, termasuk riwayat panggilan telepon dari Raffael yang berisi ancaman, dan bahkan mengutus tim investigator untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang Nayla dan hubungan mereka. Aleandra tahu bahwa Raffael akan mencoba untuk memutarbalikkan fakta, mungkin menuduhnya selingkuh balik, atau mengatakan bahwa dia adalah istri yang tidak peduli. Tapi Aleandra sudah siap. Dia tidak akan membiarkan kebohongan Raffael menang.

Momen tersulit adalah ketika Arya mulai bertanya tentang ayahnya yang tidak kunjung pulang. "Mama, Papa kapan pulang? Arya kangen Papa," kata Arya suatu malam, matanya berkaca-kaca.

Jantung Aleandra serasa diremas. Dia berlutut di hadapan putranya, memeluknya erat. "Papa... Papa ada pekerjaan yang sangat-sangat penting, Sayang. Tapi Papa pasti akan selalu mencintai Arya. Dan Mama juga akan selalu di sini untuk Arya."

Itu adalah kebohongan yang menyakitkan, tetapi Aleandra tahu itu demi kebaikan Arya untuk saat ini. Dia tidak ingin Arya melihat kebenciannya terhadap Raffael. Dia ingin Arya tumbuh dengan cinta dari kedua orang tuanya, meskipun mereka tidak lagi bersama. Aleandra memutuskan bahwa dia akan mencari psikolog anak untuk Arya ketika waktunya tiba, untuk membantu putranya melewati masa sulit ini.

Di tengah semua persiapan dan pergolakan emosional ini, ada satu hal yang terus menguatkan Aleandra: visi yang jelas tentang masa depannya. Dia membayangkan dirinya berdiri kokoh di puncak kesuksesan, dengan Arya di sisinya, dan Raffael-bersama Nyonya Karina-hanya bisa menatapnya dari kejauhan, menyesali keputusan mereka. Ini bukan hanya tentang uang atau status; ini tentang harga diri, tentang membuktikan bahwa dia adalah seorang wanita yang tangguh, mandiri, dan berhak mendapatkan kebahagiaan sejati.

Dia mulai mencari lokasi kantor kecil untuk firma barunya. Dia bahkan sudah punya nama: "Aleandra Greenworks". Nama itu bukan hanya merepresentasikan pekerjaannya sebagai arsitek lanskap, tetapi juga harapannya untuk menumbuhkan sesuatu yang baru dan indah dari kehancuran.

Meskipun hatinya masih berdarah, meskipun prosesnya akan sangat menyakitkan, Aleandra tahu dia berada di jalur yang benar. Setiap langkah kecil yang dia ambil, setiap air mata yang dia keringkan, setiap penghinaan yang dia terima, hanya semakin memperkuat tekadnya. Dia adalah phoenix yang bangkit dari abu, dan dia akan menunjukkan kepada dunia bahwa dia tidak akan pernah menyerah. Pertarungan belum usai, tetapi Aleandra sudah siap untuk menghadapi apa pun yang datang. Dia tidak lagi takut. Dia hanya merasa lapar akan keadilan dan kesuksesan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Kau, Aku & Papimu
9.1
Elena tak menyangka hubungan cintanya dengan Erlangga, pemuda kaya, akan berujung tragis. Meski Tiara, mami Erlangga, menentang mereka, sebuah jebakan zat perangsang justru salah sasaran. Elena malah terjebak dalam pelukan Herlambang, ayah tiri kekasihnya. Saat Elena hamil, Erlangga dan Herlambang sama-sama merasa sebagai ayahnya. Di tengah konflik harga diri dan dendam, Elena terjepit di antara dua pria dalam satu keluarga. Akankah rahasia gelap ini menghancurkan segalanya?
Sampul Novel bukan Wanita SIMPANAN
8.7
Cashe terjebak dalam malam penuh gairah yang tak terduga dengan seorang pria asing yang sangat menawan. Di bawah pengaruh alkohol, ia melupakan statusnya sebagai keturunan bangsawan yang terhormat. Padahal, Cashe telah dijanjikan untuk menikah dengan pria dari kalangan elit serupa. Kini, reputasi keluarganya terancam hancur akibat satu kesalahan fatal. Siapakah sosok pria misterius tersebut, dan bagaimana Cashe akan menghadapi konsekuensi dari pengkhianatan ini?
Sampul Novel Kembalilah Cintaku
8.2
Pernikahan Intan dan Baskoro terjadi saat sang ayah sedang koma. Begitu tersadar, pria itu langsung menentang hubungan mereka hingga keduanya terpisah. Meski didera rasa lelah dan kecewa dalam pencarian panjang, Intan tetap bertahan menghadapi kebencian Baskoro. Rahasia besar akhirnya terungkap saat Baskoro menyadari kehadiran seorang anak yang sangat mirip dengannya. Ternyata, bocah tersebut adalah darah dagingnya sendiri yang selama ini tidak ia ketahui.
Sampul Novel Mencintai Adik Angkatku
9.2
Sebastian Sachdev Rendra memendam rasa cinta terlarang kepada adiknya, Elvina. Tanpa diketahui siapapun, mereka sebenarnya tidak memiliki ikatan darah. Rahasia besar ini terungkap saat Luna, sang mama, membaca buku harian Bastian. Meski Bastian merasa lega mengetahui Elvina hanyalah adik angkat, konflik batin muncul karena Elvina hanya menganggapnya sebagai pelindung. Kini, kebenaran itu harus disembunyikan hingga saat yang tepat bagi Elvina untuk memilih.
Sampul Novel Mencintai dia
8.6
Dalam mencari pasangan hidup, ketampanan atau kecantikan fisik bukanlah segalanya. Kisah ini mengingatkan kita bahwa paras menawan tidak menjamin kebahagiaan masa depan keluarga. Seorang pria harus menyadari bahwa anak-anaknya kelak tidak sekadar butuh ibu yang elok dipandang, namun sosok pendidik yang bijak. Fokus utama dalam hubungan ini adalah menemukan wanita yang mampu membimbing generasi penerus dengan nilai moral dan kasih sayang yang tulus.
Sampul Novel Pelaminan Tanpa Mempelai
9.3
Melanjutkan kisah Enam Tahun Tanpa Malam Pertama, sekuel ini menyoroti penderitaan seorang wanita yang menanggung beban dosa masa lalu orang tuanya. Ia harus menelan pil pahit saat ditinggal pergi kekasihnya tepat di hari pernikahan. Takdir justru membawanya terikat dalam rumah tangga bersama putra dari musuh bebuyutan keluarganya sendiri. Bagaimanakah ia akan menghadapi kehidupan pernikahan penuh konflik dan dilema batin yang tak terduga ini?